CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KIRIMAN ISTIMEWA ENTAH DARI SIAPA


__ADS_3

DAVIS POV


 


Pagi ini adalah pagi yang teramat membahagiakan bagiku. Dia menyalamiku, dia menerima kecupanku, dan dia menjawab salam sekaligus menyematkan doa di akhir kalimatnya.


Ya, Tuhan. Aku benar-benar lega. Setelah lebih dari seminggu dia mendiamkanku, dan aku pun mendiamkannya, kini keadaan sudah sedikit mencair. Mungkinkah ini awal yang baik untuk hubungan kami berdua? Aku harap demikian. Terima kasih ya Allah.


Jujur, saat dia mendiamkanku, aku sangat takut kehilangannya. Aku takut dia akan melepaskanku. Aku takut hubungan kami akan berakhir.


Tapi aku juga tak berani berharap banyak. Aku hanyalah seorang hina yang memiliki masa lalu sangat kelam. Mungkin kalau aku mengatakannya lebih awal, dia tanpa keraguan akan menolak lamaranku.


Pagi, siang, malam aku senantiasa berdoa, agar kami dipersatukan kembali. Tak jarang di saat sepertiga malam aku terbangun untuk menumpahkan permasalahanku di hadapanNya, aku liat dia pun demikian. Dia sholat dengan khusuk di kamar, sedangkan aku lebih memilih di mushola dalam rumah.


Sungguh aku bersyukur.


Tak henti-hentinya aku tersenyum di sepanjang perjalananku menuju kantor.


“Rio, cek instruksiku yang kukirim via wa!”


“Baik, Mr!” jawab Rio singkat lalu segera dia membuka ponselnya.


“Oh ya bagaimana dengan buku nikahku?” tanyaku.


“Baru diproses, Mr. Sepertinya Grandpa Mr, merestui Anda” ucap Rio sedikit menoleh ke belakang.


“Alhamdullillah”


“Kapan kemungkinan selesai?”


“Anda tak perlu khawatir, Mr. Akan aku kawal agar selesai tepat waktu!”


“Tolong kamu pegang surat itu baik-baik, jika kamu belum sempet menyerahkannya padaku. Jangan kamu berikan pada Narita, sebelum buku itu ada di tanganku. Aku nanti yang akan memberikannya pada Istriku!” titahku.


“Baik, Mr.”


“Hufh, aku lega sekali, Rio”


“Akhirnya istriku sudah tak mendiamkanku. Semoga dia mau menerimaku kembali, termasuk dengan masa laluku!”

__ADS_1


“Aamiin. Selamat Mr. Saya turut bersyukur atas perubahan sikap Nyonya muda pagi ini, Mr”


Setelah percakapan itu, aku kembali mengecek beberapa pekerjaan di tabku, dan Rio tengah menelpon florist langganannya dan memesan makan siang yang cukup banyak.


 


NARITA POV


Melihat senyum merekah di wajahnya, aku percaya dia telah memaafkanku. Setelah aku melepas kepergiannya, aku pun segera masuk ke mobil dan mengendarai mobilku menuju ke kantor yang sama.


Sesampainya di lantai dimana ruanganku berada, semua orang yang kulewati tersenyum memandangku dan menyapaku dengan ramah. Aku heran dengan sikap mereka pagi ini. Dan ternyata memang ada kejutan di atas mejaku.


Sebuah bucket bunga mawar sangat besar. Bucket mawar ini mengingatkanku akan seseorang ‘Daniel’. Segera aku meraih kartu ucapan yang menempel di salah satu tangkainya, tertulis:


~~Aku berjanji untuk menjadi seseorang yang lebih baik setiap harinya. I love You more than anything ~~


Sejenak aku berpikir. Daviskah? Atau Danielkah? Kalau dari bunganya, ini seperti pemberian Daniel tempo hari, tapi kalau dilihat dari ucapannya, ini dari Davis.


“Ehem,,,ehem,,,bunga lagi nie!” Abel mengejutkanku, lalu dia mendekat dan meraih kartu ucapan dan membacanya.


"Aku berjanji untuk menjadi seseorang yang lebih baik setiap harinya. I love You more than anything. Ini dari tunanganmu?” tanyanya dengan menatapku tajam.


“Ahh kenapa sie, cowok-cowok itu sukanya kirim bunga, kirim makanan kek, minuman kek, atau transferan kek, jadi kan gak sia-sia uangnya ya?”


“Bunga mah gak mengenyangkan, hanya bisa dipandangi, kalaupun layu, yaa langsung dibuang!” aku kembali tersenyum mendengar gerutuan Abel.


“Bilang sama tunanganmu, bawakan kami makan siang!”


“Iya” jawabku singkat.


Kami pun kembali sibuk berkutat dengan kesibukan masing-masing.


Tepat pukul 11.00 siang, seorang teman mencariku dan berkata “Kak Na, ada yang nyariin kamu tuh di luar!”


“Siapa?” tanyaku menoleh padanya.


“Sepertinya pengantar makanan, kamu pesen makanan banyak ya?”


“Aku gak pesen makan”

__ADS_1


“Udah sono buruan temuin! Barangkali itu makan siang dari tunanganmu!” sahut Abel.


Segera aku keluar dan menemui seseorang yang dibilang itu.


“Bapak cari Narita?” dengan ragu-ragu dan nada bicara cukup pelan aku menanyakannya pada tiga orang lelaki yang tengah kerepotan membawa sesuatu.


“Ibu Narita?” tanyanya mengamatiku.


“Iya, saya sendiri pak!”


“Ini ada pesanan makan siang sebanyak 50 untuk ibu!” ucapannya membuat mataku melotot.


“Hah??? 50? Siapa yang pesan pak?” tanyaku heran.


“Ini bu!” dia menyerahkan sebuah kertas bertuliskan:


~~Aku berjanji untuk menjadi seseorang yang lebih baik setiap harinya. I love You more than anything ~~


Aku menghela nafas panjang. Dari siapakah bunga dan makan siang ini? Siapakah yang akan aku kirimi ucapan terima kasih? Aku takut salah mengirimkan pesan.


“Ini makanannya mau diletakkan di mana bu?” karena menunggu responku yang cukup lama, akhirnya dia menanyakan hal itu.


“Owhh, maaf maaf Pak. Silahkan dibawa masuk ke sini saja pak!” aku membuka pintu dan mengarahkannya untuk meletakkan makanan 50 box itu di meja rapat di sisi paling dekat dengan pintu masuk.


Beberapa orang yang melihatnya, nampak terheran-heran. Apalagi kiriman nasi box ini adalah masakan dari sebuah restaurant terkenal, dengan harga yang terkenal fantastis, dan ini juga jumlahnya sangat banyak.


“Terima kasih pak!” aku menyelipkan uang tip untuk mereka bertiga.


“Terima kasih kembali bu!” ucapnya tersenyum lalu pergi.


“Bapak-bapak, Ibu-ibu, Mas-mas, Mbak-Mbak, Adik-Adik, Rekan-rekan semuanya, ini ada rejeki makan siang gratis untuk kita. Silahkan nanti ambil sendiri ya!”


Kudengar suara riuh dan terdengar bersahut-sahutan ucapan terima kasih mereka untukku. Aku pun membawa 2 box untuk diriku sendiri dan Abel.


“Nie!” aku menyerahkan 1 box kepada Abel.


“Whahhhh,,,,ternyata tunanganmu tajir Na. Kiriman makan siangnya gak kaleng-kaleng euy. Sering-sering ya!” Abel memainkan alisnya dan kubalas dengan mencebikkan bibirnya.


“By the way, aku baru sadar kalau bunga mawar itu mirip seperti bunga mawar yang tempo hari dikirim sama Daniel. Bukan berarti yang jadi tunanganmu, Daniel kan?” Abel tiba-tiba bersuara cukup lantang dan beberapa orang di sekitar meja kami yang mendengarnya spontan langsung menatap kami berdua. Mataku melotot, mengisyaratkannya untuk diam

__ADS_1


“Ahhh, bukan bukan bukan kok!” aku menatap mereka yang melihat kami satu per satu sembari menggoyang-goyangkan kedua tanganku. Aku jadi serba salah.  Aku takut hal yang serba tak jelas ini ujung-ujungnya menjadi gosip.


__ADS_2