
DAVE POV
Di atas panggung, aku telah disiapkan tempat duduk. Di sana telah ada beberapa orang yang duduk, namun hatiku jadi galau ketika tak kudapati Marlyn atau pun manajernya di sana. Kedua kursi untuk mereka nampak masih kosong.
Teddy yang duduk di sampingku, berusaha meyakinkanku bahwa semua berjalan sesuai rencana. Dan ternyata benar, tak sampai 5 menit aku di panggung, muncullah rombongan orang dari arah depan panggung. Kulihat Marlyn dengan dikawal beberapa orang tengah berjalan menuju ke panggung.
Perhatian publik saat ini tengah terpusat pada Marlyn. Aku memanfaatkannya untuk mencari di mana sosok wanita yang kucintai itu. Seolah tau apa kegundahanku dan apa yang tengah kucari, Teddy segera memainkan matanya seolah menunjukkan dimanakah dia berada. Dan tanpa kesulitan akhirnya aku menemukannya. Dengan postur tubuhnya yang kecil, akan sangat sulit menemukannya apabila dia dalam posisi berdiri, namun lagi-lagi aku kagum dengan trik Teddy, dia bisa membuat seseorang itu duduk manis di jajaran kursi di depan panggung. Kulihat kini Mommy, Daddy, Opa, dan Jess sudah duduk berjajar di kursi paling depan panggung.
Sesekali aku mencuri pandang padanya, tapi sepertinya dia tidak memperhatikanku. Dia malah bersendau gurau dengan temannya yang duduk di sampingnya. Ahhh,,,andaikan dia tau akan ada kejutan hari ini, apakah dia akan bisa sesantai itu?
Melihat senyuman dan tawanya yang merekah, seolah membuat hatiku tenang. Ya, dialah kekuatanku saat ini.
“Ehem” Teddy berdehem sejenak. Sepertinya dia menyadari aku sedang mencuri pandang ke seseorang itu.
“Fokus, Tuan!” bisiknya kemudian.
Akhirnya MC memulai membuka acara. Dari pihak Marlyn dipersilahkan terlebih dahulu untuk berbicara, kemudian setelahnya, dari pihakku mulai menambahkan. Marlyn mengikuti alur yang kami rencanakan. Dia tidak berani berkutik, entah karena perintahku atau karena perintah Opa.
Setelah semua menjelaskan permasalahan dan terlesaikanlah masalah skandal ini, akhirnya kami membuka beberapa sesi tanya jawab dengan para wartawan. Sebagian besar pertanyaan yang diajukan mengacu ke ranah pribadi kami berdua. Hingga pertanyaan ini:
“Apakah Anda sudah memiliki kekasih, Mr. Dave?” aku sudah memperkirakan pertanyaan ini sebelumnya, hingga aku pun sudah menyiapkan jawabannya.
Sebelum aku jawab, aku mengukir senyum terlebih dahulu.
“Saat ini aku belum memiliki kekasih” aku sengaja menjeda kalimatku.
“Tapi aku memiliki seseorang yang sangat aku cintai”
__ADS_1
“Apakah dia ada di sini saat ini?” wartawan itu mencercaku dengan pertanyaan yang lebih spesifik.
Aku menyapu pandangan ke semua penjuru ruangan dengan tetap menebar senyuman. Mungkin senyumanku yang sangat sulit mereka lihat, hari ini begitu mudahnya kusebar ke mereka semua.
“Ya” jawabku singkat.
Sesaat setelah itu, gemuruh suara para audience memekakkan telinga. Mereka antusias dengan jawabanku. Entahlah di sini siapa yang menjadi public figure nya, kenapa jadi mereka kepo dengan kehidupan pribadiku daripada si Marlyn.
Lalu wartawan mengalihkan pertanyaan ke Marlyn. Pertanyaan yang sama dan dengan jawaban yang berbeda. Mereka sama antusiasnya dengan jawaban Marlyn.
Semua masih di alur skenarioku. Hingga seorang wartawan tiba-tiba menanyaiku kembali.
“Mr. Dave, apakah wanita yang anda cintai, mengetahui bahwa anda mencintainya?” mendengar pertanyaannya, spontan aku menoleh pada Teddy. Sepertinya skenario akan sedikit berubah dari rencana awal.
Ted yang mengetahui isyarat dariku segera menghubungi seseorang. Tak sampai satu menit dari kejauhan nampaklah beberapa orang berjalan menuju ke arah panggung.
“Dia tidak mengetahui bahwa aku mencintainya, tapi hari ini aku telah membawa keluarganya untuk berada di sini. Aku ingin melamarnya dengan disaksikan oleh ayah, ibu, adik, dan anak-anaknya. Aku ingin dia tau bahwa aku mencintainya dan keluargannya” sesekali mataku kulempar ke arah Narita, entah dia menyadarinya atau tidak.
Beberapa orang yang telah mendampingi keluarga Narita hampir dekat dengan panggung. Raffa dan Rafina digendong oleh dua orang bodyguard. Suasana ruangan yang sangat penuh, riuh, hingga menyulitkan mereka untuk sampai ke dekat panggung.
Mataku pun menjurus pada satu titik, yaitu keluarga Narita. Sontak semua yang saat ini tengah menatapku turut mengikuti arah mataku. Semua memperhatikan kedatang keluarga Narita yang didampingi beberapa orang bodyguardku. Sesekali aku melirik kea rah Narita, ingin mengetahui bagaimana reaksinya.
Begitu dia menoleh ke belakang, dia langsung berdiri dari duduknya. Matanya melotot, mulut menganga yang ditutupinya dengan tangan. Setelah melihat seseorang dikenalnya, dia lalu menoleh padaku dan menatapku lekat, seolah meminta penjelasan ‘apa maksud semua ini?’
Beberapa kali dia menoleh berulang kali pada keluarganya dan padaku. Saat dia menoleh padaku, aku hanya menebar senyuman dan mengangguk padanya.
NARITA POV
Hari ini Mr. Dave ada acara konferensi pers untuk menjelaskan permasalahan terkait skandal percintaan. Sebenarnya aku malas untuk datang ke aula, tapi atas perintah pak Adam, kami semua satu divisi diminta untuk datang. Menurut beliau, kami memiliki peran sebagai public relation (PR) nya perusahaan apabila harus menjelaskan ke publik suatu saat nanti.
__ADS_1
Oke baiklah. Kami hanya mengikuti saja. Toh tidak ada salahnya juga. Apalagi aku, mengingat sebentar lagi program magangku selesai, jadi memang harus bisa meninggalkan kesan baik bagi perusahaan ini. Kami satu divisi telah dipersiapkan tempat duduk tertentu. Awalnya rada aneh sie, kenapa kami seolah diperlakukan seperti tamu spesial yang ditempatkan duduk di posisi tertentu, tapi kami tak ambil pusing. Ikuti saja alurnya.
Kami menunggu lumayan lama akhirnya Mr. Dave dan Mr. Teddy memasuki panggung dari arah belakang. Sesekali aku memperhatikan mereka, tapi aku lebih banyak mengobrol dengan temanku yang duduk di sampingku.
Lhoo, kenapa Mr. Dave clingak clinguk kaya mencari sesuatu? Namun entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba dia menatapku.
DEG
Beberapa saat lamanya mata kami beradu. Dan OMG, ada angin apa ini? Dia tersenyum padaku?
Tak bisa kupungkiri saat mataku bertemu matanya, dan senyumannya merekah seolah untukku, debaran di dalam sini berkejar-kejaran seolah berlomba mau keluar. Ada apa denganku?
Akhirnya aku putuskan ‘melengos’ saja.
Saat acara dimulai, kami mulai menghormati acara. Kami diam bermaksud menyimak acara dengan baik, hikmat, tertib, dan teratur.
Saat wartawan menanyakan mengenai apakah Mr. Dave memiliki kekasih atau tidak. Seolah semua orang menunggu jawabannya, suasana tiba-tiba hening. Entah mengapa, beberapa detik sebelum dia menjawabnya, dia menatapku sekilas.
“Saat ini aku belum memiliki kekasih” jawab Dave.
“Tapi aku memiliki seseorang yang sangat aku cintai” lanjutnya kemudian.
Kami semua bersorak sorai mendengar jawabannya. Semua staf nya pun heboh. Ini kejadian langka yang gak pernah sekali pun terjadi. Dave terkenal sebagai pemimpin yang dingin, angkuh, cool, dan cuek. Dia tak pernah mengumbar hubungan dengan wanita lain. Aku pernah mendengarnya memiliki kekasih dulu, tapi kata orang-orang setelah kekasihnya meninggal, dia tak pernah berhubungan serius dengan wanita lainnya.
“Apakah dia ada di sini saat ini?” wartawan itu kembali mencecarnya.
“Ya” jawabku singkat.
Suasana kembali riuh ketika Mr. Dave menjawabnya. Dan entah kenapa beberapa kali mata kami bertemu, meski sekilas kemudian kami memalingkan wajah ke arah yang berlainan.
__ADS_1