
AUTHOR POV
Untuk beberapa saat lamanya mereka bertiga masih terpaku. Sepertinya mereka bertiga tidak menyangka akan bertemu di sana. Keterkejutan tak berhenti sampai di situ, tak berselang lama, dari mobil itu keluarlah laki-laki lain dengan postur tinggi besar, kemudian dia menoleh ke belakang ke arah kami.
“Ayo! Atau kamu kutinggalkan di sini!” suara teriak tegas dari lelaki itu dari samping mobilnya, kami bertiga pun sontak menoleh ke arahnya.
“Sampai ketemu di rumah. Aku pergi dulu!” dia tersenyum lalu pergi dan kembali ke mobilnya.
Mobil itupun berlalu meninggalkan kami. Aku dan Darren hanya saling melempar pandangan.
“Kamu mengenal mereka?” tanya Darren yang kujawab dengan anggukan kepala. Kami melanjutkan jalannya.
“Waahh,,,koneksimu bagus juga. Itu yang tadi kan Dave Narendra Oxley, pengusaha sukses yang menjadi partner kampus kita. Tapi aku tidak mengenal siapa lelaki yang tadi mendekat?” Darren menunjuk mobil yang telah berlalu di depan kami.
“Itu adiknya, Davis Narendra Oxley” jawab Narita.
“Waahhh bagus dong, Na! Aku pengen penelitian di perusahaan mereka, lebih mudah jalannya kalau kamu mengenal mereka”
“Aku hanya nanny di kediaman mereka. Jangan berharap terlalu banyak meskipun kami saling mengenal.” Narita tersenyum menaikkan sebelah bibirnya.
“Yaa yaa yaa, aku tau. Aku pernah kerja magang di sana, yang kudengar dari karyawannya bahwa Dave Narendra Oxley itu orangnya tegas, keras, dingin, dan menakutkan. Dia amat disegani. Tapi aku baru bertemu langsung dengannya ya baru aja!”
“Kamu sering bertemu di rumahnya?” tanya Darren lagi dan kujawab dengan gelengan kepala.
“Oke, sampai jumpa kembali, Darren. Bye!” aku telah sampai terlebih dahulu di parkiran sepedaku dan berpamitan dengannya. Kami pun berpisah.
Sementara itu di tempat terpisah, di dalam sebuah mobil mewah, Davis nampak sedang tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
“Kamu kenapa senyum-senyum gitu?” tanya Dave tanpa menoleh ke Davis, sementara itu Davis yang merasa disebut namanya segera menoleh pada Dave.
“Gakpapa. Entah kenapa aku senang bertemu Narita” jawab Davis.
“Kamu bukan anak kecil lagi yang harus setiap saat aku nasehati. Kamu sudah cukup dewasa untuk bisa menentukan sikap. Tak perlu aku banyak berbicara lagi.” nasehat Dave tegas dalam setiap penekanannya.
Davis menghela nafas panjang dan hanya mengangguk lemah mengiyakan perkataan kakaknya. Dave berkata demikian karena dia hanya mengingatkan Davis bahwa dia sudah memiliki tunangan, tak sepantasnya seorang lelaki yang sebentar lagi akan menikah malah memikirkan wanita lain.
Untuk beberapa saat, suasana hening terjadi di dalam mobil. Hingga akhirnya Davis memulai perbincangan kembali.
“Kak, aku memutuskan untuk belajar mengelola perusahaan di Australia. Bisakah aku bergabung di perusahaanmu?” tanya Davis pada Dave yang sedang menatap ipadnya.
“Untuk apa? Bukannya waktu itu aku memintamu tetap tinggal di sini, kamu menolak? Kamu bilang ingin menemani Mommy Daddy di Inggris?” ucap Dave tanpa melihat Davis.
“Aku rasa, aku lebih cocok di sini. Kalau aku kangen Indonesia, lebih dekat pulangnya dari sini daripada dari Inggris” alasan Davis.
“Kamu gak sedang mencari alasan saja kan?”
“Kalau perlu aku melanjutkan studyku di sini!”
“Inget Vis. Sebentar lagi kamu menikah, istrimu kan orang kepercayaan opa yang saat ini memegang perusahaan di Inggris. Mana mungkin dia mengijinkan dia pindah ke Australia sementara di sini perusahaan sangat stabil di bawah kepemimpinanku!”
“Jangan katakan ‘istri’ kak, kami baru bertunangan.” Elak Davis.
“Whatever lah, intinya aku tidak keberatan, tapi kamu coba diskusikan dulu dengan opa, Mommy and Daddy dulu!” ucap Dave kemudian.
Davis nampak sedang berpikir cukup keras. Dia menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar. Benar apa yang dikatakan Dave. Tunangannya adalah orang kepercayaan opanya. Dia dipercaya memegang salah satu anak perusahaan di Inggris jadi sudah bisa ditebak kalau opanya pasti akan menentang rencananya. Kalau Davis dan tunangannya menikah, mana mungkin opanya mengijinkan suami istri hidup terpisah di 2 negara.
__ADS_1
--- Sore hari di halaman belakang rumah---
Ali, Leni, dan Karen tengah duduk di atas rerumputan sementara itu Narita sibuk menyiram tanaman sayurnya. Sesekali Karen berlarian kejar-kejaran dengan Ali. Sore ini sebenernya shift Narita untuk mengasuh Karen, namun karena Leni sedang suntuk jadi dia memilih untuk berkumpul dengan mereka.
Usai Narita menyirami sayurannya, dia lanjut untuk memanem beberapa sayuran yang siap panen. Dia memasukkannya ke dalam keranjang. Setelah semua dipanen, Narita kembali duduk di samping Leni, namun kemudian Leni yang bergantian bermain dengan Karen dan kini Ali yang istirahat dan duduk di samping Narita sembari memperhatikan Leni dan Karen yang sedang bermain merangkai bunga.
“Aku seneng banget bisa seperti ini? Kehadiranmu di sini bener-bener membuat suasana jadi berubah. Rumah terasa menjadi lebih hangat karena terasa kekeluargaannya, banyak orang yang mau saling mengenal dan bersosialisasi, banyak terdengar canda tawa, dan yang pasti membuat siapa pun akan merasa betah berada di sini!” ujar Ali.
“Memangnya kamu sempet merasa tidak betah?” tanya Narita menoleh pada Ali yang duduk di sampingnya.
“Dulu aku di sini hanya untuk tidur, memimpin sholat Subuh, mengajari Mr Dave mengaji, sudah itu saja. Dulu sebagian besar waktuku kuhabiskan di kampus dan masjid agung, karena aku merasa tidak ada kegiatan yang menarik yang bisa kulakukan di sini!” tangan Ali sembari memainkan rerumputan.
“Setelah lulus, apakah kamu akan kembali ke negaramu?” tanya Narita kemudian.
“Mungkin. Kenapa? Kamu mau ikut?” ucap Ali yang spontan membuat Narita cemberut. Ekspresi cemberutnya Narita malah mengundang gelak tawa Ali.
“Aku sangat menyukai anak-anak, kalau aku bisa sangat menyukai ibunya, tentu saja sangat mudah bagiku untuk menyukai anak-anaknya juga!” bisik Ali di deket telinga Narita, yang lagi-lagi membuat mata Narita melotot, dan Ali kembali tertawa terbahak-bahak. Ali bener-bener merasa puas telah berhasil menggoda Narita habis-habisan.
“Owh, kalian rupanya di sini!” suara berat seseorang membuat Narita, Ali, Leni, dan Karen langsung menoleh ke sumber suara.
Dia yang baru saja datang, masih berdiri dengan tangan dilipat di depan dada. Ekspresi wajahnya sedikit tersenyum, dan menatap secara bergantian pada mereka berempat.
“Hai, Karen! Come to Uncle, Sayang!” seseorang itu lalu merubah posisinya menjadi jongkok dengan kedua tangan dibuka lebar bermaksud ingin memeluk Karen, namun Karen hanya terdiam terpaku di tempatnya.
Melihat Karen yang seolah tak mengenalinya, akhirnya dia pun menghampiri Karen dan segera menggendongnya. Karen pun membiarkan dirinya di dalam gendongan lelaki yang tidak lain adalah Davis.
----TO BE CONTINUED----
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!