
AUTHOR POV
Davis saat ini tengah diperiksa dan konsultasi dengan psikiaternya. Dia hanya berdua dengan dokternya itu.
“Dok, aku memiliki potongan ingatan tentang seseorang” ucap Davis.
“Sangat jelas bagaimana wajahnya dan apa statusnya dalam hubungan kami” lanjutnya.
“Anda mengingat wajahnya?”
“Iya”
“Dia siapanya Anda?”
“Istriku, Dok”
“Anda yakin?” Davis menjawab dengan anggukan kepala.
“Kejadian apa yang mengingatkan Anda padanya?”
“Aku mengingat kejadian saat aku melamarnya sekaligus menikahinya”
“Ya, Tuhan. Sebaiknya Anda segera menghubungi istri Anda. Mungkin dia telah menunggu Anda sekian lama”
“Tapi, aku gak tau dia di mana?”
__ADS_1
“Di mana Anda menikahinya?”
“Di Indonesia” jawab Davis singkat.
Dokter itu nampak menghela nafas pendek dan membuangnya kasar.
"Hanya wajahnya yang terekam di memoriku, Dok. Aku sudah berusaha membuka galeri foto di ponsel, icloud, email, namun tak ada jejak wajahnya. Bagaimana aku mencarinya.”
“Bisa Anda ceritakan, kejadian-kejadian penting dalam satu bulan ini?”
Mendengar pertanyaan itu, Davis lalu menceritakan sebuah kejadian yang menurutnya adalah kejadian sebulan terakhir ini. Dokter beberapa kali mengernyitkan dahinya karena merasa aneh dengan cerita Davis. Dia ada masalah.
“Kapan terakhir kali Anda bertemu saya?” Dokter itu pun akhirnya menanyakan pada Davis, yang kemudian Davis nampak tengah berpikir sembari memegangi kepalanya. Matanya tertutup seperti tengah berkonsentrasi untuk mengingat sesuatu yang mungkin saja sulit untuk diingatnya. Akhirnya Davis menggelengkan kepala perlahan.
“Anda tidak ingat atau Anda tidak mengenal saya?” merasa tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dokter itu kembali mengajukan pertanyaan ke Davis.
“Oke. Anda pelan-pelan ingat moment-moment dengannya. Jangan terlalu dipaksakan. Anda hilang ingatan karena benturan dan mulai mengingat pun karena benturan. Semua tidak bisa sama seperti sedia kala. Dari saya, Anda cukup konsultasi selama dua minggu sekali saja.”
“Baik Dok. Lalu kapan saya mulai diperkenankan pulang?”
“Tunggu bagaimana keputusan dokter Morgan ya?” Davis mengangguk patuh.
Dengan Langkah gontai, Psikiater itu keluar dari ruangan Davis. Selama di perjalanan menuju ruangannya, dia memikirkan jawaban Davis tadi. Dia menyimpulkan bahwa Davis mengingat kembali potongan kejadian sebelum terjadinya kecelakaan, tapi dia sama sekali belum mengingat kejadian setelah kecelakaan dan selama dia dirawat di Australia.
Setelah dokter itu keluar ruangan, Dave menerobos masuk. Terjadi kecanggungan di antara mereka. Akhirnya Dave memulai obrolan dengan menanyakan bagaimana keadaannya. Lalu obrolan berkembang kepada pembahasan mengapa Davis dinas luar kota tidak meminta ijin padanya. Meskipun alasan Davis masuk akal, tapi Dave merasa ada hal yang disembunyikannya.
__ADS_1
Setelahnya, Dave mulai sibuk menerima telpon. Dari obrolan Dave, Davis menduga ada masalah serius yang tengah dihadapinya. Berulang kali Dave menghubungi orang-orang dan menanyakan mengenai ketersediaan darah.
“Ada masalah kak?” tanya Davis usai Dave menutup teleponnya yang terakhir.
“Hm” Dave menjawab singkat dengan mata masih menatap ponselnya.
“Golongan darah apa yang kakak cari?”
“Rh-null”
“Aku Rh-null” jawaban Davis sontak membuat Dave langsung menoleh dan menatap Davis dengan tatapan tajam.
“Serius?” pertanyaan Dave dijawab Davis dengan anggukan pelan, ekspresi wajah heran.
“Siapa yang membutuhkan transfusi darah Rh-null?”
“Anaknya temen. Hmmm,,,kamu mau gak melakukan pemeriksaan? Barangkali golongan darahmu cocok untuknya?”
“Aku kasian, golongan darah itu kan langka, gak mudah mendapatkan pendonornya, kecuali dari kalangan keluarga sendiri.” Dave menghela nafas panjang, menampakkan kegundahan hatinya.
Kali ini dia melangkah mendekati brankar Davis dan memegang kedua Pundak adiknya yang tengah duduk bersandar pada sandaran brankarnya.
“Tolong bantu kakak ya!!” tatapa mata Dave mengiba mengharapkan Davis mau mengabulkan permintaannya.
Awalnya Davis ragu untuk menjawab. Dia merasa ada yang aneh dengan kakaknya. Siapa sebenernya ‘teman’ yang dia maksud. Sepengetahuannya, dia tak memiliki temen yang sedemikian dekatnya hingga membuat Dave sangat mempedulikannya. Tapi karena rasa kemanusiaan, akhirnya Davis menyanggupinya.
__ADS_1
“Kak, sebelum aku menyumbangkan darahku, bolehkah aku membesuknya?” meski ragu, namun Dave akhirnya menyepakatinya. Toh nanti lama-kelamaan Davis juga akan mengetahuinya juga.
Dave menghubungi dokter untuk segera melakukan serangkaian pemeriksaan untuk menguji kecocokan golongan darah Davis dengan Rafina. Davis menjalaninya sendiri dan hanya ditemani petugas medis di sana, karena Dave harus segera kembali ke kantor. Davis akhirnya diperkenankan menyumbangkan darahnya namun menunggu beberapa hari terlebih dahulu karena suatu alasan medis.