
AUTHOR POV
Dave masih melanjutkan berbicara dengan Karen yang saat ini tertidur pulas. Dia berbicara seolah ada orang lain yang sedang mendengarkannya.
“Sayang, kamu belajarlah mengenai Islam darinya! Daddy liat, dia adalah muslimah yang patut menjadi panutan”
“Cara dia berpakaian, cara dia bersikap, cara dia bersosialisasi, cara dia berargumen meskipun Daddy tak pernah bertemu secara langsung dengannya, menunjukkan bahwa dia selain smart juga muslimah yang taat pada aturan agama.”
“Daddy ingin, kamu pun menjadi pribadi yang takut dan taat pada Tuhan, bukan seperti Mommy mu!”
“Daddy bersyukur kamu mendapatkan nanny yang bahkan tidak hanya cocok untukmu, tapi juga menurut Daddy cocok untuk membimbingmu, mengajarimu, merawatmu, dan membentuk kepribadianmu menjadi seseorang yang baik.”
“Semoga mommy mu di syurga berterima kasih pada Daddy. Daddy memang tak bisa seutuhnya mencintaimu, tapi Daddy ingin kamu mendapatkan segala hal dengan baik dan tumbuh dewasa menjadi seseorang yang baik”
Sementara itu, di tempat terpisah, di kamar Narita, usai dia mengaji, dia mematikan lampu, beranjak tidur dan merebahkan dirinya di kasur. Dia mulai memejamkan matanya meskipun tidak langsung tertidur.
Dengan sangat jelas, Narita mendengar tuan besarnya tengah memuji dirinya di hadapan Karen yang sudah pasti dalam keadaan tidur pulas. Mendengar kata-kata yang terkadang pilu, tiba-tiba dadanya bergetar hebat.
Apa yang sebenarnya telah terjadi di hubungan antara Daddy dan Mommy Karen?
Dia ingin Karen menjadi pribadi yang takut dan taat pada Tuhan, itu Narita sangat setuju, tapi kenapa ditambahkan dengan kalimat ‘bukan seperti Mommy mu’, apakah itu artinya Mommy Karen tidak taat pada agama? Tidak taat yang seperti apakah?
Ditambah lagi kenapa Daddy Karen tidak bisa seutuhnya mencintai Karen, kenapa?
Pada awalnya Narita memang sedikit merasakan ketidaksukaannya dengan beberapa tabiat tuan besar yang sering diceritakan oleh Drake maupun asisten-asisten yang lainnya. Itu pulalah yang membuatnya enggan untuk bertemu langsung dengan tuan besar. Bahkan pada beberapa kesempatan, dia berusaha untuk menghindar.
__ADS_1
Setiap habis Subuh, usai tuan besar diajari mengaji oleh Ali, Narita memasang telinganya dengan seksama dan mendengar setiap pergerakan dari ruangan di depannya. Jika didengarnya masih ada tuan besar di sana, dia akan terus berdzikir dengan pelan. Kalau suasana sudah sepi dan dipastikan sudah tidak ada orang, dia baru akan keluar dari sana.
Ketika tuan besar ikut sholat berjamaah di Little of Al Aqsha, Sebelum orang-orang keluar dari sana, Narita akan buru-buru segera pergi dari sana. Selain karena tujuannya untuk menyiapkan makan malam untuk tuannya, tapi juga menghindari bertemu dengan tuan besarnya itu.
Ketika Narita usai memasak makan malam untuk tuannya, Narita sengaja berlama-lama di pavilliun 101, bahkan terkadang Karen pun sampai tertidur di sana. Dia akan memasuki rumah utama jika tuan besarnya sudah tidak ada di meja makan dan sudah kembali ke lantai 3.
Bahkan ketika tuan besarnya meminta Narita sendiri yang langsung menyajikan masakannya, dengan berbagai alasan Narita akan menolaknya.
Hal itu terbukti manjur. Setau Narita, tuannya juga bukan orang yang kepo. Cukup tau dari Drake bahwa Karen cocok dengannya itu sudah hal yang membuat tuan besar tenang.
Semua yang dikatakan tuan besar mengenai ‘dia banyak belajar dari Narita’ membuat Narita tercengang. Dari mana dia belajar kalau bertemu saja belum pernah? Bahkan foto-foto pun sudah Narita saring, hanya menampilkan Karen sendiri dengan keceriaannya.
Bagaimana dia bisa menilai bahwa Narita adalah muslimah yang patut menjadi panutan?
Bagaimana dia bisa menyimpulkan bahwa Narita cocok untuk membimbing, mengajari, merawat, dan membentuk kepribadian Karen menjadi seseorang yang baik? Apa sebegitu percayanya dia dengan cerita dari Drake?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu menari-nari di otak Narita. Dia tak habis pikir. Apakah mungkin seperti di novel-novel yang pernah dia baca, yang menceritakan tentang orang kaya yang memiliki mata-mata di mana-mana, yang akan memata-matai segala hal tentang keluarganya agar keluarganya tidak terancam keselamatannya?
Entahlah.
Bagi Narita, sepanjang dia tidak berbuat kesalahan, rajin bekerja, tulus dan ikhlas melakukan pekerjaannya, amanah dalam menjaga dan merawat Karen, tidak ada hal yang perlu dia takuti lagi.
Owh ya, adalagi yang sedikit mengusik pikiran Narita saat ini, benarkan tuan besar menginginkan Narita mendidik Karen secara Islam?
Selama ini Narita tak berani terlalu jauh menanamkan keyakinannya kepada bocah kecil itu, bahkan pernah suatu ketika dia mengajari doa sebelum makan menurut Islam saja akhirnya dia menghentikannya karena takut apa yang diperbuatnya tak diijinkan oleh tuannya.
__ADS_1
Mungkin Narita memang harus memastikan hal ini pada tuan Drake. Apakah dia diperkenankan mendidik Karen secara Islam.
--- Keesokan harinya, di rumah Karen---
Dave telah berangkat ke kantor, Karen telah didandani dengan cantik dan wangi, kini Narita tengah bersiap untuk menyerahkan Karen ke Leni. Tiba-tiba Drake memanggilnya dan memintanya untuk menemui di sofa depan pavilliun 101.
“Duduklah Na. Ada pesan dari tuan besar yang ingin aku sampaikan! Kamu buru-burukah?” ucap Drake lalu Narita pun duduk di sofa seberang tempat duduk Drake.
“Tidak buru-buru, tuan. Ada janji dengan Prof nya masih 2 jam lagi kok.” Jawab Narita.
“Na, hari Jumat ini di rumah ini akan kedatangan keluarga besar tuan Dave. Mereka ke sini dalam rangka memperingati hari Ulang Tahun perusahaan yang puncak acaranya akan diselenggarakan di hari Sabtu sampai dengan Senin ini. Pertama yang akan aku sampaikan adalah terkait menu makanan tuan Dave, tolong untuk tetap kamu siapkan seperti biasa, dengan menambah porsi saja, kalau biasanya hanya 1 porsi untuk tuan besar, sekarang kamu tambahkan untuk 3 orang saja.” Drake menjeda ucapannya dan Narita mengangguk tanda paham dengan instruksi pertama itu.
“Ulang tahun perusahaan akan diselenggarakan di sebuah villa di daerah pegunungan. Hal kedua yang harus kamu lakukan adalah persiapkan segala kebutuhan untuk Karen dan dirimu selama 3 hari 2 malam, karena tuan besar ingin membawa serta anaknya ke acara tersebut”
“Alhamdullillah” spontan kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Narita. Dia merasa bahagia karena akhirnya Karen yang selama ini tak pernah bisa bertemu dengan Daddy nya bisa lebih dekat dengannya.
“Maksudmu apa Na?” dahi Drake mengerut.
“Tidak ada apa-apa tuan. Baik tuan, akan saya persiapkan!”
“Selama saya di sana, apakah saya perlu memasakkan untuk tuan besar, tuan?” tanya narita kemudian.
“Tuan besar tidak bilang, untuk sementara tidak perlu. Di sana kan sudah ada chef nya juga” jawab Drake kemudian.
Setelah pembahasan itu, Narita pun akhirnya berangkat ke kampus.
__ADS_1
Sore harinya setelah dia pulang dari kampus, dia menyiapkan untuk makan siangnya sendiri dan sedikit melebihkan menu barangkali ada temen sesame asisten rumah tangga yang ingin mencicipi makanannya.
Usai mengajak makan Karen, dia mengajak Karen main di halaman belakang. Karen didampingi beberapa asisten, sementara itu Narita menyiram kebunnya. Kini cabenya sudah banyak yang berbuah, sayuran sudah banyak yang bisa dipetik, pohon pepaya sudah tumbuh subur dan terkadang daunnya juga dipetik Narita untuk dimasak. Bahkan pernah dia menyajikan makan malam untuk Dave sayur tumis daun pepaya yang dicampur dengan udang. Tak pernah ada komplenan dari tuannya mengenai taste makanan yang disajikannya, meskipun itu makanan baru buat tuannya.