CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KEPUTUSAN DAVIS


__ADS_3

DAVIS POV


Pagi itu Mom, Dad, dan aku telah berkumpul di meja makan.


“Mom, Dad, aku memutuskan kuliah di Inggris” kataku santai sambal mengambil roti tawar dan selai. Kulirik Mom n Dad, mereka tersentak kaget mendengar keputusanku.


“Serius? Gak bakal berubah pikiran lagi kan?” tanya Dad menatapku dengan lekat.


“Aku mantap dengan pilihanku kali ini!” tegasku.


“Dad, kalau gitu Alin kita bantu senegara sama Davis, syukur-syukur bisa sekampus!” pinta Mom.


“No, Mom!” tolakku.


“Kenapa?” tanya Dad kemudian.


“Yang ada ntar malah bikin ribet Davis, Mom. Davis pengen cepet selesai kuliahnya. Davis pengen S1 lanjut S2.”


“Please Mom,,,!!!” Davis memohon dengan mata sayu.


“Dad setuju sama Davis. Alin kuliah di Inggris tapi tidak sekampus sama Davis” tegas Dad.


“Yaudah, nanti cari apartemen di tengah kampusmu dan Alin” bujuk Mom padaku.


“Big NO, Mom”


“Sama aja bo’ong. Biar dia mandiri juga Mom!” aku beralasan.

__ADS_1


“I Agree with you!” Dad menunjukku.


Kulihat Mom cemberut, tapi akhirnya menerima keputusan bersama ini. Yah begitulah Mom and Dad ku, mereka sangat menyayangi Alin. Mereka keukeuh menjadikannya menantunya, makanya selalu membuatku selalu bisa berdekatan dengannya. Bahkan keluarga Alin diboyong ke Indonesia karena mengikutiku yang pada saat itu pindah ke Indonesia.


Karena aku telah mengubah rencanaku, aku harus lebih berusaha agar diterima di Universitas terbaik di Inggris. Aku bersyukur lahir di keluarga yang serba berkecukupan. Tak perlu mengkhawatirkan biaya Pendidikan. Dan aku pun bersyukur diberi otak encer, tinggal mengoptimalkan kemampuanku untuk masuk ke Universitas dan jurusan yang kuinginkan.


Aku mulai membuka website Universitas yang kuinginkan, mencari informasi pendaftaran mahasiswa, mengikuti persyaratannya, dan mempersiapkan diri.


Aldi dan Bagas telah mengetahui keputusanku ini. Awalnya mereka kaget, tapi akhirnya paham dengan alasanku.


Soal Narita, aku telah kembali menjadi Davis sebelum ke pulau Seribu. Aku rutin berkirim pesan dengannya pagi, siang, dan malam. Pulang bimbel jemput dia, makan bersamanya, entah itu makan di kos atau makan di luar. Sepulang dari kos, aku menelponnya, menikmati obrolan receh kami. Aku gak peduli dia sudah punya pacar atau belum, pacarnya nanti cemburu atau enggak.


Ahh, ya….Hanya Narita seorang yang membuatku mampu menjadi diri sendiri. Sekali pun tak pernah dia tau mengenai latar belakang keluargaku. Meskipun aku tau banyak tentang dia dan keluarganya. Selama ini aku berusaha menunjukkan sisi sederhanaku, tiap aku ke kosnya, aku hanya mengendarai motor matic mang Ujang. Sekalinya aku pake Pajero sport, ehh dia udah jalan sama cowok lain, dan tak melihatnya.


Aku tak cukup punya keberanian untuk menembaknya. Bahkan sekedar menanyakan hubungannya dengan pria itu pun, aku tak berani. Biarlah aku pendam sendiri rasa ini. Cukup aku, Aldi, dan Tuhan yang tau mengenai perasaanku ke dia.


Keputusan Mom and Dadku mengenai kuliah Alin, harus aku terima juga. Tapi aku yakin Alin tak mungkin diterima di Universitas yang aku pilih. Dia tak cukup pandai dan bisa lolos masuk di Universitasku, sedangkan aku cukup yakin bakal diterima. Biarlah kami kuliah satu negara, yang penting tidak satu kampus atau tinggal satu apartemen.


Mom and Dad ku masih di Indonesia. Mereka memutuskan memundurkan jadwal kembali ke Inggris, karena ingin kami berempat dapat pergi sama-sama.


Soal pemilihan Universitas dan jurusan, Mom and Dad menyerahkan sepenuhnya keputusan kepadaku. Aku pun ambil jurusan tak jauh-jauh dari bisnis karena aku ingin belajarku mampu mendukung dan mengembangkan bisnis Daddyku. Aku pun punya cita-cita ingin mendirikan bisnisku sendiri, sudah ada bayangan bisnis apakah itu, tak jauh-jauh dari IT.


Hari berganti hari. Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan masuk Universitas. Sesuai yang kuprediksi, aku diterima di Universitas nomor 1 di Inggris. Telepon berdering tak ada hentinya. Teman, guru, dan saudara-saudaraku menghubungiku untuk mengucapkan selamat. Kenapa mereka bisa tau? Ya karena Momku posting kelulusanku di facebooknya.


Keberangkatanku 2 minggu lagi. Aku semakin sibuk dengan farewell party yang secara bergilir diadain temen dan saudara-saudaraku. Begitu pun hari ini, Tim basket menyelenggarakan party di club. Sore hari aku menjemput Narita, makan malam berdua di kosnya, bersendau gurau, bercanda, dan menikmati akhir-akhir kebersamaanku dengannya.


Jam 21.00 aku pamit pulang, tapi aku tak langsung pulang. Aku meluncur ke club. Aku bersyukur Narita tak ada di sana. Kalau ada di sana bukannya bikin happy, tapi malah bikin ribet. Ya, dia bikin ribet karena tak pernah mau nurut omonganku. Dikasih orange juss malah ikut minum bir. Minum dikit aja udah teller, bertingkah gak karuan. Harus didampingi agar tak bertemu pria hidung belang yang cuma mau memanfaatkannya. Ya, walau bagaimana pun juga, setauku dia masih polos, lugu.

__ADS_1


“Vis, loe minum dikit amat?” tanya Bagas.


“Hmm” jawabku.


Tapi Bagas usil, dia tuang gelas kosongku dengan minuman. Aku pun reflek akan mengambil gelas itu dan meminumnya, begitu seterusnya. Kesadaranku mulai berkurang. Saat terlemah seperti ini, aku akan mellow. Sekuat tenaga aku mencoba diam, karena aku takut meracau, menceritakan yang seharusnya aku tutupi.


Aku masih merasakan sedikit kesadaranku. Kulihat teman-temanku mulai bertingkah aneh, menyewa cewek bayaran, memperlakukannya layaknya cewek murahan. Ya memang murahan, cewek yang mau melakukan apapun demi sebuah Rupiah atau Dollar, apa Namanya kalau bukan murahan?. Kulihat ada seseorang mendekatiku, ketika dia mencoba merangkul leherku langsung kuhempas tangannya. Standar cewekku gak seperti ini. Jijik aku melihat betapa murahannya mereka.


Kulirik jam tanganku, aku masih bisa membacanya dengan jelas, itu artinya aku masih memiliki kesadaranku. Sebelum kesadaranku menghilang, kuputuskan pulang. Kulihat mereka sudah tak ada yang bener, sudah tak ada etika, berc*mbu di ruang umum seperti ini. Aku pun pergi tanpa berpamitan. Kuhentikan taksi dan setelah naik, aku memintanya mengantarkanku ke alamat tertentu.


----Rumah Davis----


Hari ini adalah hari Sabtu. Setelah sarapan, aku mengirim pesan ke Narita.


Davis: Hai. Pagi 😍


Narita: Pagi juga.


Davis: Jalan yuk!


Narita: Ke mana?


Davis: 🤔 Ke mana ya asiknya?


Narita: Terserah!


Davis: Bener yaaa terserah? OK. Siap-siap ya! Dandan yang cantik! Aku sampe situ 1.5 jam lagi.

__ADS_1


__ADS_2