
AUTHOR POV
Sejak Narita mengenal Ali, pada waktu-waktu tertentu mereka selalu janjian untuk sholat berjamaah di Little of Al Aqsha. Yang biasanya Ali hanya adzan dan sholat di rumah di waktu Isya’ dan Subuh saja, sekarang mereka kadang Maghrib bersama, bahkan weekend seperti hari ini mereka bisa Dhuhur dan Ashar di rumah.
Seperti biasa, kala malam hari Narita sudah meninabobokan Karen, dia kembali ke kamarnya. Sebelum memulai menelpon orang tua dan anak-anaknya, Narita menyempatkan membaca Al Qur’an. Suara sengaja dia pelankan karena takut mengganggu tuan besar kalau-kalau beliau mendengarnya.
Saat Narita membaca Al Qur’an, Mr. Dave yang tengah berada di lantai 2 hendak membuka kamar Karen mendengar suara Narita. Dia yang memegang handel pintu Karen tiba-tiba berubah pikiran, malah melangkahkan kakinya ke depan pintu Narita. Entah dorongan apa, dia sengaja menempelkan telinganya di daun pintu itu berharap bisa mendengar lebih jelas dan yakin bahwa yang tadi dia dengar bukan hanya ilusi.
Beberapa hari terakhir ini pun, usai sholat Subuh dia selalu mendengar seorang wanita membaca Al Qur’an di Little of Al Aqsha. Lantunan ayat Al Qur’an benar-benar membuat siapa pun yang mendengarnya berdebar, begitupun dengannya. Saking penasarannya, pernah suatu saat usai shalat Subuh, usai Mr Dave diajarin baca Al Qur’an oleh Ali tak langsung kembali ke kamarnya. Dia sengaja menunggu lebih lama di sana demi menunggu siapakah gerangan wanita yang melantunkan ayat Al Qur’an dengan bagusnya. Namun karena Narita tak kunjung keluar dan Mr. Dave harus segera bersiap ke kantor maka dia akhirnya meninggalkan Little of Al Aqsha dengan wajah kecewa.
Kini ketika dia mendengar nanny nya Karen tadarus, dia yakin bahwa wanita yang tadarus di Little of Al Aqsha adalah Narita.
Berada cukup lama di depan pintu dengan menempelkan telinga di daun pintu, Mr. Dave menyadari kekonyolannya, dia tersenyum.
Bodoh, apa yang aku pikirin? – batin Mr. Dave sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Lalu dia kembali ke tujuan semula yaitu menuju kamar Karen. Usai dari kamar Karen, dia kembali ke kamarnya dan membersihkan diri. Lalu melalui sambungan telpon internal, dia memanggil Drake.
Di ruang kerjanya yang berada tepat di samping kamarnya, Drake dan Mr. Dave tengah duduk berhadapan.
“Ada apa gerangan tuan memanggil saya malam-malam begini?” tanya Drake.
__ADS_1
“Bagaimana Karen? Apakah dia masih sering rewel?”
“Sudah tidak tuan. Tuan bisa liat kan sekarang dia lebih gemuk dari sebelumnya.” Terang Drake.
“Owh iya tuan, apakah tuan yang memerintahkan pada Ali untuk selalu adzan di Little of Al Aqsha? Karena beberapa hari ini, Ali selalu adzan dan jamaah di sana.” Mr. Dave menautkan alisnya mendengar itu.
“Tumben? Setauku dia kalau siang jarang di rumah? Bahkan Maghrib dia memilih makmuman di masjid besar” kata Mr. Dave juga dengan nada heran.
“Ya memang dia selalu ada teman ibadah sie, tuan. Ali dan Narita juga saya liat makin akrab”
Apakah mungkin karena Narita, Ali bela-belain jamaahan di rumah? Bagaimana mereka bisa dekat dengan mudahnya? Jadi Narita seorang muslim? –Mr. Dave bertanya dalam hati.
“Yasudah gakpapa Drake. Dari dulu sebenarnya aku memintanya meramaikan Little of Al Aqsha, tapi karena kesibukannya jadi dia hanya menyanggupi Isya’ dan Subuh saja. Alhamdullillah kalau dia mau.”
Lalu pembahasan mereka berlanjut ke masalah yang lain.
Ali menyiangi dan mencangkul tanahnya. Awalnya dia tidak tau bagaimana caranya mencangkul tapi Narita mengajarinya hingga akhirnya dia bisa. Sementara itu Narita mulai mencampur media tanam dan pupuk alami yang dia beli di tukang tanaman beberapa tempo hari yang lalu. Setelah dirasa cukup, Narita segera menimbun bibitnya. Mereka menanam berbagai macam cabe, tomat, mentimun, daun bawang, bawang merah dan bawang putih, paprika, pepaya, dan beberapa macam sayuran yang Narita sendiri tidak tau Namanya karena di Indonesia jarang ada.
Setelah itu, Ali meminta tukang air untuk menambah jaringan air agar menjangkau halaman belakang, tujuannya biar lebih mudah menyiraminya. Tak butuh waktu lama jaringan air pun terpasang, biji sudah tertanam, dan kini Narita tengah menyiraminya.
“Yey,,,Alhamdullillah kelar sudah” raut wajah puas, bahagia, meskipun capek menyelimuti Ali.
“Terima kasih, Ali. Semua jadi cepat selesai karena berkat bantuanmu” Narita yang tengah menyiram tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Sini aku bantuin nyiram. Kamu gentian istirahat” kini Ali yang memegang ujung selang dan bersiap menyiram.
Namun, sepertinya Ali memang usil, bukannya mengarahkan aliran air ke tanaman, malah menyiramkannya ke Narita. Narita yang tiba-tiba diserang semprotan air, menjerit kaget. Kini Narita malah mengejar Ali dan mereka berebutan selang itu, walhasil keduanya kejar-kejaran dan berebutan selang dan sama-sama basah. Nampak wajah cerita terpancar dari keduanya. Narita yang sekarang sepertinya telah menemukan teman yang sefrekuensi dengannya, sama dengan sahabat-sahabatnya ketika dia bekerja di OXC.
Dengan kondisi basah, keduanya kembali ke pavilliun masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju pavilliun, beberapa asisten yang ditemui mereka, menyapa mereka dengan ramah dan menggodai mereka. Ya, sejak Narita menginap di sana, para asisten rumah tangga kini mau saling menyapa, berkumpul-kumpul, bersendau gurau, dan tidak terlalu individualis seperti sebelumnya. Ya, begitulah kehadiran Narita di sana, benar-benar telah merubah suasana dingin menjadi hangat.
Setelah Narita mengurusi Karen, kini dia bersiap untuk ke kampus. Hari ini dia tak memiliki janji dengan siapapun, namun dia berusaha rutin mencari bahan referensi menulis, belajar, dan memahami tata cara penulisan ala Professornya.
Entah seperti janjian, ketika Narita hendak mengendarai sepedanya, Ali kembali datang dan menawarinya tumpangan. Tapi kali ini dia menolaknya, karena sungguh merepotkan nanti kalau pulangnya dia tidak ada yang mengantarkan. Ali pun tak memaksanya kali ini, mengingat dia sendiri punya jadwal yang berbeda.
Begitulah hari-hari Narita di rumah Karen. Tiap pagi dia selalu menyempatkan diri memasak menu Indonesia. Kali ini dia memasak nasi goreng dengan tingkat pedas level paling rendah karena dia sengaja membuat untuk beberapa porsi. Harumnya tumisan bawang bombai dan cabe giling, menyeruak keluar dari pavilliun 101. Hanya asisten outdoor saja yang sudah beraktifitas sementara asisten indoor baru akan mulai bekerja apabila tuan besarnya sudah berangkat kantor.
Mr. Dave yang kini tengah duduk di ruang makan, dengan berbagai menu makanan yang telah tersajikan di atasnya. Harumnya tumisan Narita menyeruak masuk sampai ke area tempat Mr. Dave berada.
“Chef, kalian tidak sedang memasak sesuatu?” Mr. Dave sengaja berdiri dan mengamati keadaan kompor yang sudah bersih dan tak menyala lagi, sementara itu kedua chef sedang duduk di dekatnya menanti instruksi manakala tuannya membutuhkan makanan yang harus dimasak terlebih dahulu.
“Tidak tuan. Apakah tuan mau meminta sesuatu?” Seorang cheft langsung berdiri dan menawarkan diri.
“Enggak. Lalu siapa yang bau masakannya harum sekali ini?” tanyanya sembari kembali ke tempat duduknya.
“Mungkin ada yang sedang memasak di pavilliun 101. Kalau tuan mau, bisa saya ambilkan!”
“Boleh. Tiba-tiba aku tidak selera dengan makanan yang ada di sini. Aku mau makanan yang sedang dimasak ini!” kata Mr. Dave.
__ADS_1
“Baik, tunggu sebentar tuan saya ambilkan. Tapi dia bukan chef yang memasak, jadi mungkin rasanya di luar ekspektasi tuan”
“Tak apa. Aku hanya penasaran dengan rasanya.”