
Perjalanan yang cukup panjang, ombak yang cukup tinggi, dengan mudahnya mengombang ambingkan fery yang mereka tumpangi. Peserta tour yang tadinya tertidur pulas, banyak yang terbangun dan merasakan pusing dan mual tanda mabok laut. Tak terkecuali Alin.
Alin yang terkenal gadis manja, tak pernah merasakan susahnya naik kendaraan umum, tak pernah merasakan rekreasi ala rakyat biasa, tak dapat menahan kekesalannya. Janjinya untuk tidak mengeluh, sudah dia ingkari sejak awal memasuki dan menduduki kursi fery. Komplen kursi keras, gak nyaman, jarak antar kursi depannya terlalu dekat sehingga sempit bagi dia, Davis, Bagas, dan Ali yang notabene memiliki kaki panjang. Namun keluhan Alin tak pernah digubris Davis. Percuma berdebat dengan Alin, buang energi saja.
Alin juga mengeluh pusing, eneg, mau muntah. Davis nampak kebingungan dan beranjak untuk mencari plastik kalau-kalau Alin muntah. Davis bergegas ke Silvi meminta plastik yang tadi ditawar-tawarkannya ke peserta tour.
Narita dan Sriti memperhatikan betapa panik dan perhatiannya Davis. Setelah Davis mendapatkan plastiknya, dia meminta Alin memegang plastik itu, lalu dia ambil ranselnya, membuka, dan mengambil sesuatu dari dalamnya. Davis mengeluarkan minyak kayu putih, lalu dengan lembut mengoleskan di leher, pelipis kanan dan kiri serta punggung tangan Alin. Davis pun sesekali memijat lembut tengkuk Alin untuk membantunya mengurangi mual.
Alin sudah memejamkan matanya dan seperti menahan sesuatu untuk dimuntahkan. Saat Alin memuntahkan sesuatu ke plastiknya, dengan telaten Davis membantu memijit dan mengolesi tengkuk Alin dengan minyak. Sesekali mengarahkan ujung minyak itu ke deket wajah Alin.
“Butuh bantuan kami, Vis?” tanya Narita sedikit panik.
“Makasih Kak, cukup Davis” tolak Davis.
Narita lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju bagian pantry kapal fery tersebut. Terdapat beberapa awak kapal yang akan siap siaga membantu untuk menyiapkan makanan atau minuman hangat namun yang siap saji.
“Mas boleh minta tolong dibuatin teh hangat!” pinta Narita pada salah satu awak kapal.
“OK. Sebentar mbak” jawabnya.
Tak berapa lama, teh hangat sudah siap saji dan segera Narita bawa lalu dia berdiri di samping tempat duduk Davis. Setelah Alin terlihat tenang dan berhenti muntah, Narita berkata “Vis, ini teh hangat buat temenmu” Narita menyerahkan teh itu. Narita memang belum dikenalkan dengan Alin jadi dia belum tau namanya.
“Makasih, Kak” Davis memandang Narita sekejap, tersenyum, lalu meraih tehnya.
“Sini plastik muntahannya, ini pegang plastik baru aja!” Narita mengulurkan tangannya. Davis mengambil plastik isi muntahan dari tangan Alin lalu diserahkan ke Narita dan menerima plastik barunya.
“Makasih, Kak. Maaf merepotkan!” kata Davis kembali memandang Narita.
“Sama-sama” Narita berlalu ke bagian pantry lalu membuang plastik kotornya ke tempat sampah setelah tadi diarahkan oleh awak kapal untuk membuang muntahan itu di sana.
Sekembalinya Narita ke tempat duduknya, Sriti tersenyum dan berkata “Na, aku aja gak kepikiran lho, kalo gak ada yang teriak minta tolong apaaa gitu, mana aku tau mesti ngapain”.
“Hehe iya karena faktor pengalaman pribadi aja sie mbak.” Jawab Narita singkat.
Memang Kak Na wanita yang baik, perhatian, suka menolong. Semakin aku mengenalnya, semakin banyak kekagumanku padanya. Ya Tuhan apakah ini yang Namanya cinta?—batin Davis sembari memijit Alin, tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Tampannya Davis sudah tidak ada yang memungkirinya lagi. Dia selalu menjadi idola di sekolahnya. Selain tampan, badan macho, dia juga baik, ramah, mudah bergaul dengan siapa pun. Dia juga selalu memperlakukan cewek dengan lembut, sehingga selain banyak temen cowoknya, dia juga memiliki banyak penggemar dari kalangan cewek-cewek.
Namun, tak sekalipun ada cewek yang mampu membuatnya selalu memikirkannya terus menerus, membuatnya ingin selalu berdekatan, dan bermanja. Kecuali dengan Narita. Berawal dari kekaguman Davis atas perhatian Narita, kebaikannya, dan memperlakukannya dengan manja membuatnya tak pernah berhenti memikirkan Narita. Segala hal mengenai Narita bagai candu baginya.
“Lin, masih pusing? Mual?” tanya Davis berusaha mengalihkan pikiran-pikirannya.
Alin masih terlihat pucat dan lemas, lalu menjawab pertanyaan Davis dengan hanya menggelengkan kepalanya.
“Apa gue bilang, loe sie ngotot pengen tetep ikut.” Ketus Davis.
Alin Cuma bisa cemberut dan memukul paha Davis dengan tangannya.
“Yaudah-udah nie habisin teh hangatnya, biar enakan perutnya!” perintah Davis sembari memberikan gelas tehnya.
Seusai Alin muntah, Davis terlihat merangkul Alin. Alin masih terlihat pucat dan sesekali menghirup minyak kayu putih yang dipegangnya.
Narita sesekali menoleh pada mereka, tanpa Narita sadari beberapa kali Davis memergoki Narita menoleh padanya.
Kak Na, apakah kamu merasakan apa yang kurasakan? Kalau memang benar, ini yang namanya cinta, Kaulah cinta pertamaku, Kak? Bolehkah aku mencintaimu? Mengharapkanmu menjadi bagian dari masa depanku? –batin Davis lemah.
Senengnya jadi mereka. Masih muda, cantik dan ganteng, dari keluarga berada, dan saling menyayangi. Tak perlu terburu-buru memikirkan pernikahan.
Sementara aku??
Tampang pas-pasan, umur sudah mendekati masa-masa menikah tapi masih belum punya calon.
Hufh,,,,,Ya Alloh berikanlah aku kesabaran. Dekatkanlah aku dengan jodohku. Aamiin. –Narita memandang luar jendela dengan tatapan kosong, menahan air mata yang tanpa terasa hampir keluar.
----- Pulau Tidung-----
Akhirnya sampailah mereka ke pulau tujuan. Pulau dengan pasir putih, air yang sangat jernih, ada gapura selamat datang yang dihias dengan cantiknya. Kami akhirnya bernafas lega telah sampai ke tujuan.
Begitu kami turun dari fery, kami telah disambut dengan beberapa tour guide yang siap mengantarkan kami ke penginapan terlebih dahulu.
“Selamat datang kakak-kakak sekalian. Kami akan menemani kalian selama di sini”
__ADS_1
“Kita antar terlebih dahulu ke penginapan ya, lalu lanjut jalan-jalan keliling pulau” mereka memberi penjelasan.
Kami bingung, tidak ada mobil atau motor yang akan mengangkut kami ke penginapan. Lalu dia memperlihatkan sederet becak yang telah siap dengan pengayuhnya “Silahkan naik!”.
Kali ini, Narita masih setia bersama Sriti, Davis dan Alin, Bagas dan Aldi, naik di 3 becak yang berbeda. Semilir angin laut yang sedikit panas namun udara yang cukup segar, mampu menyegarkan mata dan pikiran. Sepanjang perjalanan, tangan Narita dia bentangkan hanya untuk menikmati segarnya udara di pulau itu.
Sesampainya di penginapan, Silvi membagi kamar. Karena ini paket ekonomis jadi 1 kamar diisi oleh 4 orang. Selain itu, Silvi juga membagikan jadwal wisata selama 2 hari ini.
Hari ini, mereka diberi waktu untuk Ishoma 2 jam, lalu lanjut untuk bersepeda keliling pulau.
“Kak Na” sapa Davis, spontan Narita menoleh padanya.
“Nanti kabarin ya, makannya barengan!” Davis tergopoh-gopoh menghampiri Nariti, meskipun dia sedang kerepotan membawa 2 tas ransel miliknya dan milik Alin, bumbag, dan gitar.
Narita menoleh pada Davis, mengangguk dan tersenyum.
“Vis loe tega ninggalin gue, gue masih lemes tau!” teriak Alin, masih dipapah oleh Bagas.
Bagas dan Aldi hanya geleng-geleng kepala melihat Alin memperdebatkan hal yang gak penting.
“Aku duluan!” pamit Narita menyapu pandangan pada mereka semua.
Narita dan Silvi telah masuk ke kamarnya. Kamar yang cukup besar, dengan fasilitas AC, TV dan dispenser di dalamnya. View pantai eksotis yang menambah nuansa indahnya kamar itu. Tak lama kemudian masuklah Silvi “Hai, kita sekamar ya” senyumnya dan menaroh tasnya.
Sementara itu, Bagas, Aldi, Davis, dan suami Silvi sudah berdiri di depan pintu kamar bersiap masuk.
“Lin, gue masuk taroh barang gue dulu, baru gue antar loe ke kamar loe ya!” kata Davis fokus dengan pintu kamar itu.
Setelah Davis meletakkan barang-barangnya di kamar, dia keluar dan mengantarkan Alin ke kamarnya.
“Dah, sono masuk!” perintah Davis menyerahkan tas Alin setelah dia tiba di depan kamar dengan nomor sesuai pembagian kamar tadi.
“Gue masih lemes, bawain tas sampe dalam!” perintah Alin sedikit acuh.
Hufh,,Davis menghela nafas dan membuangnya kasar, lalu dia mengetok pintu kamar. Terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk. Davis membuka kamar itu.
__ADS_1