
NARITA POV
Usai belajar berenang, aku memberikan potongan buah ke Karen, lalu membuatkannya susu. Aku mengajaknya bermain di kamarnya karena ingin membiasakan dia tidur siang. Mungkin memang karena kecapekan, akhirnya tanpa menunggu waktu lebih lama, Karen pun tertidur.
Aku memanfaatkan waktu Karen tidur dengan pergi ke pasar untuk berbelanja bahan makanan mentah untuk stock ketika aku ingin memasak menu Indonesia serta membeli perlengkapan bercocok tanam dan benih. Ya, aku telah mengantongi ijin dari tuan Drake untuk berkebun, menanam sayur-sayuran di lahan belakang rumah, yang saat ini kondisinya tak terawatt dan ditumbuhi ilalang.
Ketika hendak mengeluarkan sepeda, tiba-tiba mobil dari belakang mengklakson. Sebuah mobil sport mewah, ah entahlah merk apa yang jelas ini mobil suka jadi koleksinya artis-artis kaya di Indonesia.
“Hai, Narita!” teriak seseorang dari dalam mobil, ketika tiba-tiba mobil berhenti di dekatku dengan kaca mobil yang terbuka seutuhnya.
Aku masih belum menjawabnya, karena ragu siapakah gerangan yang tengah mengendarai mobil itu. Dia mengenakan kaca mata hitam.
“Mau kemana? Biar aku antar sekalian!”
“Ya Alloh Ali, kaukah itu?” aku baru tersadar ketika dia sudah keluar dari mobil, mendekatiku sembari membuka kacamata hitamnya pelan-pelan.
“Kenapa memandangku seperti itu? Memangnya aku beda?”
“Iya beda” aku tersenyum tipis.
“Bertambah tampan kah? Modal ini sama itu, pasti value ku jadi naik drastis kan?” nada jumawa Ali sembari menunjukkan kacamata hitam dan mobil sportnya.
“Ishh,,,” aku becanda dengan menggeleng-gelengkan kepalaku dan Ali membalasnya dengan tertawa cekikikan.
“Ayo naik! Aku anterin kemanapun kau mau pergi”
“Ahh enggak, aku naik sepeda aja” tolakku.
“Udah nurut napa sama calon suami xixixiixi?” paksanya dengan diselingi tertawa kecil.
“Hadew Ali Ali, omonganmu itu bikin baper cewek tau! Hati-hati kamu!”
“Memang aku ngomongnya pake perasaan, gak cuma godain doang kok!” keluhnya.
“Ahhhh,,,yasudah sudah, aku ikut mobilmu. Tapi jangan salahkan aku kalau nanti mobilmu kotor, bau amis, dan lain-lain lho!” aku pun dengan percaya diri masuk ke dalam mobilnya.
“Nah gitu dong!” Ali pun menyusulku masuk ke mobil.
“Ini mobil siapa Ali?” tanyaku sembari memasang seat belt, mengamati betapa canggih dan mewahnya interior mobil ini, baru kali ini aku masuk mobil semewah ini.
__ADS_1
“Mobilku” jawabnya.
“Hmm, kamu saudara tuan besar?” tanyaku heran.
“Bukan. Aku mengenalnya pada saat beliau mengunjungi masjid yang selalu aku kunjungi juga”
“Kenapa? Memangnya hanya Saudara Mr Dave yang menurutmu mampu beli mobil begini?”
“Ahh, bukan gitu maksudku. Aku kan belum pernah bertemu tuan besar, jadi wajar dong kalau aku hanya berspekulasi!” jawabku sungkan, takut membuatnya tersinggung.
“Hahahahha,,,,santai saja Na. Pantesan, tapi kalau kami melihat kami berdua gak mungkin berspekulasi begitu, mana mungkin kami saudaraan, wajahku timur tengah banget sementara Mr. Dave bule banget”
“Owhh,,,,” aku manggut-manggut.
“Owh ya, kamu di Aussie kerja atau kuliah?” tampang Ali yang menurutku masih terlihat muda, membuatku berspekulasi bahwa dia kemungkinan adalah mahasiswa.
“Kuliah S2” jawabnya singkat sambil menyetir mobilnya.
"Kamu mengajakku ngobrol terus, memangnya kamu gak punya tujuan?” tanyanya kemudian setelah menyadari bahwa aku belum menyebutkan kemanakah aku hendak pergi.
“Aku mau ke pasar yang di deket apartemen ROW” jawabku.
“Sayur-sayuran sama apa aja yang kuperlukan untuk memasak menu Indonesia”
“Wow, serius kamu bisa masak? Kalau begitu aku temenin kamu belanja, nanti pulangnya kamu masakin aku ya?Aku jadi penasaran nyicipin masakanmu”
“Nyicipin?” tanyaku mengulangi kata-katanya.
“Kalau nyicipin berarti sedikit dong? Awas ya nanti kalau makan banyak!”
“Hahahhhaa,,,itu kamu lucu juga Na. Kan itu basa basi aja kali, Na!”
“Iya, iya, aku tau. Aku kan cuma godain kamu doang, Ali!”
“By the way, yakin nie mobilmu gakpapa dipake bawa belanjaan?”
“Kenapa tidak? Kalau kotor tinggal masuk spa aja! Kalau masih tetep bau, tinggal ganti beli baru!” Ali yang memang suka becanda tak pernah sedikitpun kata-kata yang keluar dari mulutnya kuanggap sebagai kesombongan.
“Issshhh,,, SOMBONG!” godaku dan hanya dibalasnya dengan gelak tawa.
Ali pun menepati omongannya. Dia menemaniku keliling-keliling pasar, membawakan belanjaanku, dan sesekali mengeluh ketika aku getol banget nawar barangnya. Tak hanya bahan makanan mentah, tapi mengingat di sana juga terdapat penjual bibit tanaman, segala macam pupuk, dan media tanam, aku membeli yang memang sekiranya aku butuhkan. Akhirnya setelah mendapatkan semua yang direncanakan untuk dibeli, kami pun kembali ke rumah.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, Ali tak pernah mengeluhkan mengenai barang belanjaanku yang begitu banyak hingga memenuhi area mobil mewahnya. Tadi pun aku membeli ayam mentah, yah sudah bisa dipastikan nie mobil pasti bakal amis bau ayam mentah juga.
Setelah memarkir mobilnya, dia membawakan belanjaan masuk ke dalam dapur pavilliun 101. Aku mulai menata beberapa bahan yang akan kusimpan di kulkas, sementara bahan yang hendak kumasak, sengaja aku sisakan di luar.
“Na, mau kemana?” Ali segera meraih tanganku ketika aku hendak pergi dari dapur.
“Cuma mau ngecek, apa Karen sudah bangun atau belum. Kalau belum, aku masakin kamu” aku menjawab sembari melepaskan genggaman tangannya.
“Ups, sorry!” Ali menyadari bahwa tangannya memegang tanganku, hanya bersikap sedikit kikuk.
“Hehehe, serius mau masakin aku? Jadi seneng akunya!” aku pun meninggalkan Ali yang masih cengengesan.
Aku kembali lagi ke dapur karena tadi pas ngecek ke kamarnya, Karen masih tertidur dengan posisi yang belum berubah.
Beberapa orang yang melihatku di dapur, menghampiri dan berkata ingin ikut makan masakanku. Walhasil aku pun kali ini memasak cukup banyak lengkap sayur dan lauknya. Dengan bahan makanan seadanya, dan bumbu instan yang memang sengaja aku bawa dari Indonesia untuk mengantisipasi ketidakadaan bahan-bahan dasar, ternyata cukup sangat membantu.
Awalnya aku belanja ayam 1 ekor rencananya untuk aku buat ayam ungkep yang kusimpan di freezer, namun karena mereka mau ikut makan masakanku, akhirnya aku memasak semuanya menjadi opor ayam.
Menu opor ayam, bakwan jagung, potongan mentimun dan tomat serta sambal terasi telah tersaji di meja makan. Aku yang sebelumnya telah memasak nasi menggunakan rice cooker segera mengambilnya dan menyajikannya di meja.
Beberapa asisten telah membantuku menyiapkan piring-piring, sendok, garpu, dan gelas air minum. Kami pun kini semua telah duduk manis mengitari meja makan. Ali pun turut serta. Semua memandang heran menu masakan Indonesia. Menurut mereka, ini makanan yang ribet cara membuatnya dan hanya orang-orang tertentu saja yang mau melakukannya.
“Aku gak tega memakannya, ini usaha, jerih payah Narita demi memasakkan kita menu yang begitu menggugah selera ini” ucap salah satu.
“Tapi aku sudah tak sabar ingin mencicipinya, apakah rasanya seenak tampilannya?” ucap yang lainnya lagi.
“Yaudah, kita mulai saja makannya. Tunggu apa lagi?” aku pun bergerak mengambil piring dan mulai mengambilnya.
“Ali, kamu mau pake nasi?” sebelum aku menyendok nasi lalu dijawab anggukan kepala olehnya.
“Segini atau lagi?”
“Ya, cukup. Kamu mengambilkan untukku? Wah makasih ya, aku jadi tersanjung” ucap Ali sedikit tersipu-sipu.
“Ini tanda terima kasihku karena kamu udah mau anter dan nemenin aku belanja” Narita menyerahkan piring yang telah terisi makanan.
Merekapun akhirnya makan siang bersama. Semua memuji masakannya enak, hanya saja sambal terasinya kurang banyak peminat karena terlalu pedas menurut mereka. Usai mereka makan, Narita hendak ke rumah utama untuk ngecek kamar Karen.
“Kapan kamu mau bercocok tanam?” tanya Ali yang membuat Narita hendak melangkah, menghentikan langkahnya.
“Aku temenin!” lanjut Ali dengan senyum manisnya.
__ADS_1