CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KAU DAN DIA


__ADS_3

DAVIS POV


Sepekan sudah aku meninggalkan Indonesia. Rio asistenku yang selama sepekan ini menggantikan pekerjaanku, mengabarkan bahwa ada klien yang mau menyewa satu hotel selama satu bulan penuh untuk sebuah acara kenegaraan. Klien tersebut sangat perfeksionis dan meminta kami untuk memberikan presentasi yang menarik mengenai harga dan fasilitas hotel sehingga mampu meyakinkannya untuk menyewa hotel kami daripada hotel lainnya. Walhasil, aku memutuskan untuk mengambil alih sendiri tugas tersebut. Meskipun capek karena menempuh perjalanan yang cukup panjang, hari Jumat ini aku memutuskan untuk langsung datang ke kantor.


Alin yang menemaniku ke Australia sebenarnya telah kuminta untuk istirahat saja, namun dia kekeuh untuk datang ke kantor, karena dia ingin memastikan bahwa aku telah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik sehingga dapat tampil dengan sempurna dan mendapatkan proyek ini.


Sesampainya di kantor, aku meminta para Direktur terkait untuk menyampaikan beberapa data yang aku butuhkan. Aku memberikan waktu menyiapkan data sampai dengan pukul 09.00. Namun sebelum aku mulai aktifitas bekerja, terlebih dahulu aku mandi dan mengganti pakaianku yang nampak lusuh.


Setelah mandi dan berganti pakaian, aku keluar ke meja sekretarisku dan menanyakan mengenai data yang telah kuminta, barangkali ada Direktur yang telah menyerahkannya.


“Permata, adakah Direktur yang sudah mengemail data yang kuminta tadi?” aku menghampirinya dengan mata sedikit melihatnya namun tanganku sibuk memasang dasiku.


“Belum Mr.” jawabnya memperhatikanku yang sedang fokus memasang dasiku.


“Vis, loe masang dasinya miring” tiba-tiba Alin membalikkan badanku dan meraih dasiku yang telah terpasang. Dengan cekatan dia kembali memperbaiki tatanan dasiku, lalu menyentuh d*da dan berakhir di perut untuk membetulkan posisi kemejaku.


Keterkagetanku membuatku menatap padanya namun matanya malah menatap pada tangannya yang sedang memperbaiki dasiku. Aku sengaja membiarkannya, toh mungkin memang benar adanya dasiku miring, karena biasanya kalau tidak terburu-buru aku akan memasangnya dengan pelan di depan cermin.


“Nah, selesai!” usai dia memperbaiki dasi dan kemejaku, dia menepuk-nepuk pelan ke d*daku seolah menepuk dasiku.


Kulirik Permata dan aku pun merasa gugup dengan perlakuan Alin kali ini. Segera kutepis tangannya dari d*daku.


“Makasih”


“Permata, segera kamu kabari kalau data sudah kamu forward ke aku!” titahku pada sekretarisku lalu aku melangkah masuk ke ruanganku.


Ternyata Alin mengikutiku masuk dan dia menutup pintu ruanganku.

__ADS_1


“Tadi gue beli sarapan dan kopi di kantin. Loe makan dulu gih!” dia meletakkan piring berisi kue basah dan segelas kopi di meja tepat di samping laptopku.


“Hmm” aku menjawab sekenanya karena aku sedang konsentrasi menatap lekat pada laptopku. Aku sedang mempersiapkan data yang nanti siang akan dipresentasikan.


Tulilulit lulit lulit (telpon di mejaku bordering)


Kudengar Permata mengabarkan bahwa dari Bagian Keuangan akan menyampaikan datanya langsung, aku pun mempersilahkan masuk.


Tok tok tok (pintu ruanganku diketuk)


“Masuk!” aku menjawabnya meskipun mata dan perhatianku tak berpaling dari laptop.


“Mr. Dav, saya menyampaikan data yang diminta. Ini rekapannya sudah saya print, sedangkan detail perhitungannya sudah saya sampaikan ke Mr. Al, kemungkinan sudah beliau forward ke Mr. Dav” seketika aku mendongakkan wajahku ketika aku mendengar suara seseorang yang selama sepekan ini sangat aku rindukan.


Dia terlihat gugup meletakkan map di mejaku dengan wajah menunduk.


Aku yakin siapa pun orangnya yang melihat Alin dan aku dengan posisi seperti sekarang ini dengan kondisi pintu ruanganku tertutup, pasti akan salah paham.


Aku pun akhirnya berdiri, mendekati Narita yang masih dalam posisi berdiri.


Kuraih map yang tadi dia letakkan di atas meja, dan aku buka lalu membacanya. 


“Kamu yang menyusunnya?” aku masih menunduk membaca data itu.


“Iya. Manajer keuangan cuti beberapa hari” jawab Narita sedikit mendongakkan wajahnya melihat ke wajahku


“Duduklah dulu!” kulihat dia mulai duduk di kursi dan kini aku justru yang duduk di meja tepat di depannya.

__ADS_1


Aku sedikit menoleh ke Alin “Makasih kopi dan sarapannya, nanti aku hubungi kamu lagi kalau aku butuh bantuanmu!” ujarku yang sebenarnya adalah cara halus untuk mengusirnya.


Kulihat Alin dengan wajah cemberut, meninggalkan ruanganku. Helaan nafas kasarnya menunjukkan kalau dia sebenarnya tidak pergi.


Lalu aku pun membahas beberapa materi yang ada di dalam data itu. Kuakui Narita memang benar-benar smart. Meskipun dia hanya menggantikan tugas dari Manajer Keuangan, namun data yang dia susun benar-benar dikuasainya dan dia menganalisis dengan cara yang seksama. Bahkan ketika aku mengejarnya dengan beberapa pertanyaan yang mendetail, dia mampu menjelaskannya dengan data-data yang akurat dan mudah dimengerti bagi siapa pun yang mendengarkannya.


“Aku mau kamu membuatkan lagi 2 analisis tambahan seperti yang tadi aku minta. Analisis itu yang nantinya akan memberikan dasar pilihan bagi Klien.” Aku tutup map dan menyerahkannya padanya.


“Baik Mr. Akan segera saya perbaiki” dia beranjak dari kursi.


“No. Kamu kerjakan sekarang juga. Di situ!” aku menunjuk kursi kebesaranku.


“Aku mau sarapan dulu, kamu bisa pakai kursi dan laptopku!” perintahku membuat ujung alisnya menukik ke atas.


Dengan santainya, aku pun mengambil piring berisi beberapa kue basah, kopi, dan ipad dari mejaku dan mendudukan diriku di sofa yang berada tepat di pinggir depan letak mejaku. Mataku tak lepas memperhatikan bagaimana dia dengan canggung mulai bergerak menuju ke kursiku.


“Permisi Mr. Dav, saya duduk di sini dan meminjam laptopmu!” dia memandangku untuk meminta ijin dan aku tersenyum sembari menganggukan kepalaku.


Setengah jam berlalu, sepertinya Narita belum menyelesaikan pekerjaannya. Dia terlihat masih konsentrasi dengan laptopku. Sesekali dia menopang kepalanya dengan sebelah tangannya, sesaat kemudian menggerakkan jari-jarinya di atas keyboard. Melihat betapa seriusnya dia, aku tersenyum tipis. Ahh rindunya aku pada wajah itu.


Maafkan aku yang selama sepekan ini tak pernah menghubungimu –lirihku dalam hati.


Kami pun kembali dengan kesibukan masing-masing. Aku mulai mengecek data-data yang dikirimkan menggunakan ipadku. Ada beberapa data yang kumintakan revisi karena kuminta tambahan analisis. Tak terasa sejam sudah berlalu.


Tok tok tok


Meskipun pintu posisi terbuka, tapi ada yang mengetuk pintu.

__ADS_1


__ADS_2