CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MENGUNGKAPKAN PERASAAN


__ADS_3

NARITA POV 


Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat. Aku tak berhenti tersenyum-senyum sendiri. Ada getaran aneh dalam dada ketika menatap pesan terakhir yang dia kirim untukku. Apa ini maksudnya?? Jadi apa selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan? Apa selama ini dia juga merasakan apa yang kurasakan. Owh Tuhan aku harus bagaimana??


Berulang kali aku menepuk-nepuk dadaku. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya meluapkan kebahagiaan yang terasa membuncah di dada. Ya, Davis menyukaiku. Menyukaiku? Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu. Sesuatu hal yang tak mungkin bisa mempersatukan kami. Jurang pemisah yang membentang sangat lebar di hadapan kami. Lagi-lagi aku kembali terduduk, terkulai lemas menyadari kenyataannya.


Dua perasaan yang sama, namun sepertinya hanya kesia-siaan belaka. Hufh…… Aku menarik nafas sangat panjang dalam dan membuangnya pelan. Oh Tuhan, kenapa ini harus terjadi?


Tiba-tiba sebuah getaran menyadarkanku. Layar ponselku menampakkan nama dia sedang memanggilku. Aku mengatur nafasku agar suaraku tak nampak gugup.


“Hallo, Assalamu’alaikum” jawabku mengangkat telp. Kebiasaan mengucapkan salam, membuatku lupa mengenai keyakinan seseorang yang sedang menelponku saat ini.


“Wa’alaikum salam” jawabnya.


Sesaat kami terdiam. Namun kemudian dia kembali berucap.


“Na, ehem,,,aku sudah memikirkan ini sejak lama”


 


Mendengar kata-kata pembukanya, jujur membuatku panik. Aku belum siap harus menjawabnya. Mungkin kalau Davis yang dulu sempat menyatakan perasaannya, akan dengan tegas aku tolak. Tapi Davis yang sekarang adalah Davis yang telah tumbuh dewasa.


Aku tak berucap sedikit pun, Aku hanya menunggunya melanjutkan kalimatnya.


“Sejak kita berpisah 4 tahun silam”


“Alasanku menuntut ilmu jauh darimu. Dan secepat mungkin menyelesaikannya, itu semata-mata demi bisa kembali menjadi seseorang yang pantas untukmu!”


“Karena aku menyadari bahwa aku yang dulu, sungguh tak pantas bersanding denganmu”


Dia menjeda kalimatnya. Kami terdiam sesaat. 


“Na, aku tak bisa memendam perasaanku lebih lama lagi. Aku menyatakannya kepadamu, hanya ingin kamu tau bahwa aku telah menaruh hati padamu sejak 4 tahun yang lalu. Sejak aku bukanlah siapa-siapa dibandingkan kamu”

__ADS_1


“Na, tolong pertimbangkan hatiku. Mungkin sudah ada beberapa orang yang menantikan hatimu juga, tapi tolong tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Siapakah seseorang yang paling kamu harapkan?”


Dia berkata sangat panjang, dengan suara yang sedikit bergetar dan terbata-bata. Seorang yang biasa tegas memimpin rapat, terkesan galak ketika memerintah, ternyata bisa gugup juga ketika menyatakan cintanya. Sekarang apa yang harus aku katakan ya? Tiba-tiba otakku ngeblank. Seperti halnya otak ketika aku tampil di depan umum mengikuti lomba pidato. Lupa dengan apa yang akan aku katakan.


“A a aku,,,aku tak menyangka dengan apa yang baru saja kamu katakan, Vis!”


“A a aku,,,,----”


Dia sepertinya memahami keterkejutanku saat ini, hingga dia memotong ucapanku.


“Na, aku tak memintamu menjawab saat ini. Aku hanya menyatakan apa yang selama ini kurasakan, memintamu untuk merasakan betapa perasaanku ini benar-benar ada dan nyata. Dan memintamu memberiku kesempatan untuk membuktikan bahwa apa yang aku rasakan tulus.”


“Tolong Na, berikan aku kesempatan. Hmm?”


Aku masih bingung harus menanggapi dengan apa. Aku hanya tidak habis pikir, kenapa Davis mengungkapkannya lewat telpon. Ini bukan prank kan? Padahal seorang Daniel aja berani mengungkapkannya langsung di hadapanku, masa seorang seperti Davis malah cuma lewat telpon begini sie?


“Owh ya maaf aku menyampaikannya lewat telpon bukannya tadi saat kita bertemu. Terus terang, sejak pertemuan kita kembali, aku selalu gugup tiap kali di hadapanmu. Mau di kantor, mau di luar jam kerja. Seolah kehadiranmu membuyarku konsentrasiku, Na!”. Nah lho dia kembali mengatakan apa yang menjadi kegalauan isi hatiku. Kami seperti sedang bertelepati saja. Aku tersenyum tipis mendengar ini.


“Vis,,,aku tak bisa menjanjikan apa pun. Namun aku juga tak akan melarang seseorang untuk membuktikan ketulusan dan keseriusan perasaannya!” Setelah aku memikirkan cukup lama, aku rasa kalimat ini yang paling pass untuk kusampaikan padanya.


“Bye, Na. Selamat istirahat. Mimpi Indah. Luv you. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam” aku tak berani membalas kata-kata Luv you nya.


DAVIS POV


Ini adalah kali pertamaku bertemu dengannya di luar jam dan area kantor. Sebelumnya aku hanya berani menatapnya dan memperhatikannya dari kejauhan. Namun sejak pertemuanku tadi di café. Aku mulai galau. Aku tau tidak hanya aku yang manaruh hati padanya. Gadis asia dengan kulit sawo matang, mata lebar, postur kecil, smart dan penuh perhatian sepertinya adalah daya tarik tersendiri bagi kami yang sama sekali tak tertarik dengan gadis-gadis barat. Para pria Eropa seperti pria-pria di kantorku, pasti banyak yang diam-diam menyukainya, bukan hanya karena penampilannya tapi karena kepribadiannya.


Sosok yang riang, mudah bergaul dengan siapa saja, perhatian, selalu punya pemikiran dewasa, mandiri, bijak, dan sangat bisa menempatkan dirinya dimana pun dia berada seperti Narita, pinter masak pula adalah paket komplit yang jarang dimiliki oleh gadis-gadis jaman sekarang. Jujur aku takut seseorang mendahului langkahku, padahal aku sudah merencanakan masa depanku dengannya sejak 4 tahunan yang lalu. Aku takut pengorbananku selama ini sia-sia. Kalau tidak aku katakan sekarang, aku akan menyesal seumur hidupku.


Tapi ketika aku berhadapan dengannya tadi. Seolah semua kalimat yang telah aku susun sebelumnya, menguap begitu saja. Tiba-tiba aku kehilangan konsentrasi, gugup melanda, keringat dingin di sekujur tubuhku, bahkan apa yang aku rasakan saat ini tak pernah kurasakan sebelumnya, dulu pun saat aku baru lulus SMA berhadapan dengannya tak segugup seperti saat ini.


Saat aku sedang nyetir, aku liat ada pesan wa darinya. Aku hanya bisa membaca karena aku sengaja ingin membalasnya ketika aku sudah benar-benar memikirkan balasan yang tepat.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, aku kembali membaca pesannya. Ahh sepertinya selama ini dia sudah salah paham pada hubunganku dengan Alin. Aku mencoba memancingnya. Dan ternyata gosip kalau Alin adalah tunanganku, sudah menyebar luas di kantor. Aku harus segera jujur mengatakan yang sebenarnya. Sekaligus aku gunakan kesempatan kali ini untuk mengetahui sejauh mana hubungan dia dengan salah satu Direkturku, Daniel.


Ya, aku heran dengan Daniel. Mungkin kalau orang berpikir, kenapa aku yang seorang Dirut begitu paniknya ketika melihat seorang manajernya hampir tenggelam dan bahkan sampai memberikan nafas buatan, apa ada hubungan di antara kami? Begitupun aku terheran dengan sikap dan perhatian Daniel yang seorang Direktur kepada Narita. Ada hubungan apa mereka, kenapa Daniel menawarkan menggendong Narita sementara dia bisa menyuruh orang lain untuk melakukannya.


Jujur saat itu, aku cemburu. Tapi aku berusaha menutupinya dengan memasang berwajah biasa saja, sedingin mungkin, dan santai.


Awalnya pun aku cukup senang dengan beredarnya gosip antara aku dan Narita, karena dengan adanya gosip itu aku pikir akan membantuku lebih mudah mendekatinya. Kenyataannya justru sebaliknya. Narita cukup terpukul dengan gosip itu. Akhirnya dengan bantuan Rio, aku memintanya meredam gosip dan aku mulai mengatur rencana lain untuk mulai mendekatinya.


Narita tak mau mengungkapkan hubungannya dengan Daniel. OK. Aku cukup tau dan akhirnya cukup aku simpulkan sendiri, mungkin Daniel menyukainya tapi memang tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka.


Kami pun berbalas pesan. Aku cukup lama mengetik setiap pesan yang akan aku kirimkan kepadanya. Setelah aku timang-timang, saat ini sepertinya saat yang tepat untukku mengutarakan perasaanku. Sampai akhirnya terkirimlah pesanku ini:


Kalau aku pedekate sama kamu, boleh gak???


Cukup lama aku menunggu balasannya. Centang 2 sudah berubah warna menjadi biru, namun dia bahkan tak ada tanda-tanda sedang mengetik. Sungguh ini yang aku takutkan, apakah dia sudah memiliki kekasih? Ataukah dia mau menjawab TIDAK tapi merasa tidak enak?


Ahhhh,,,,,


Aku sugar rambut kepalaku dan berakhir dengan sedikit jambakan. Aku meraup mukaku dengan kasar. Gugup harus berbuat apa lagi, gugup menantikan apa yang akan dia sampaikan. Aku yang biasanya dengan gagah berani, siap maju ke depan apabila diberikan tantangan untuk mempresentasikan bisnisku dan menyakinkan investorku untuk turut andil dalam usahaku. Namun sunggut ciut nyaliku ketika berhadapan dengannya, cinta pertamaku, cinta sejatiku, dan semoga saja cinta terakhirku, sosok gadis biasa menurut sebagian orang, Narita.


Lama aku menunggu, tak ada tanda-tanda dia membalas pesanku. Aku menarik nafas dalam dan akhirnya aku beranikan diri untuk menelponnya. Ketika dia menjawab telponku dengan salam:


“Hallo, Assalamu’alaikum”


Tiba-tiba jantungku berdebar sangat kencang. Lagi-lagi otakku tidak bisa diajak kompromi. Aku seperti terbuai dengan lembutnya suaranya, membayangkan dia ada di sini di hadapanku. Aku pun kembali mengatur deru nafasku yang tak beraturan. Aku berusaha mensugesti perasaanku bahwa AKU BISA. Tak lupa aku memanjatkan doa dalam hati berharap semoga Tuhan memberiku kelancaran dalam berbicara.


Aku seperti mendapatkan mukjizat, kata-kata yang keluar dari mulutku begitu apik dan lancar. Meskipun masih ada getar-getar kegugupan, tapi kalimat yang kuucapkan adalah ungkapan perasaan yang selama ini ingin aku sampaikan kepadanya. Untaian kalimat panjang telah aku sampaikan, dan sepertinya saat ini dia yang sedang gugup.


Dalam hatiku yang paling dalam, aku bahagia dengan kegugupannya. Apa itu artinya dia juga memiliki perasaan yang sama denganku???


Hatiku begitu lega ketika mendengar dia berkata:


“Vis,,,aku tak bisa menjanjikan apa pun. Namun aku juga tak akan melarang seseorang untuk membuktikan ketulusan dan keseriusan perasaannya!”

__ADS_1


YESS


Aku ingin berteriak sekencang mungkin mengungkapkan kebahagiaanku. Meskipun dia belum menerimaku, tapi setidaknya dia memberiku kesempatan untuk maju. Aku pun dapat mengakhiri panggilan ini dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku mencoba tak gugup dengan belajar mengungkapkan kata “love you”. Aku berjanji dalam hati untuk sesering mungkin mengatakan itu ke dia. Selain merupakan ungkapan hatiku, aku berharap Narita juga akan tergetar dengan keromantisan yang kubangun.


__ADS_2