
NARITA POV
Mataku tak berkedip menatap seseorang yang saat ini juga tengah menatapku dengan senyum manisnya yang merekah. Hingga pak ustadz memanggil namaku, aku pun tersadar dari lamunan.
Aku semakin terkejut ketika pandangan kuedarkan ke segala penjuru ruangan. Aku pikir tak bakal mengenali mereka yang ada di ruangan ini, ternyata pikiranku salah. Aku mengenali sebagian besar mereka yang ada di ruangan ini. Entah perasaan apa yang ada di dalam dadaku, aku tak mampu membendung tetesan air yang keluar dari sudut mataku. Ingin rasanya aku memeluk seseorang yang ada di seberang sana yang tengah menatapku dengan penuh haru.
Ya, Ibu dan Bapakku, bagaimana mereka bisa ada di sini?
Aku masih sibuk terisak dan sesekali mengusap air mataku dengan kasar.
“Nak Narita” panggil pak Ustadz kembali dan aku spontan melihat ke beliau.
“Nama pemuda sholeh itu adalah Davis Narendra Oxley. Pemuda keturunan Inggris yang telah menjadi mualaf sejak 2 tahun yang lalu.”
“Adakah yang ingin kau ketahui lebih jauh mengenai nak Davis?” tanya pak ustadz padaku dan sesekali aku melempar pandangan ke arah Davis.
“Sa sa saya, sudah mengenalnya, Pak”
“Dia juga sudah melamar saya” jawabku dengan suara serak.
“Lalu bagaimana? Apakah nak Narita berkenan untuk mengenalnya lebih dekat?” pertanyaan pak ustadz membuat semua mata memandang ke arahku, seolah mereka menunggu jawabanku.
Cukup lama hening, pak ustadz kembali bertanya “Bagaimana,nak Narita?”
Aku memandang lekat ke kedua orang tuaku. Mereka tersenyum dan mengangguk seolah merestui segala keputusanku.
“Sa saya bersedia pak Ustadz” ucapku lirih seraya menundukkan kepala.
__ADS_1
Tak ayal hampir berbarengan semua yang ada di ruangan mengucapkan kata “Alhamdullillah”.
“Pak ustadz, bolehkah saya secara resmi melamarnya di sini? Di hadapan bapak ibunya?” ucapan Davis seketika membuat semua yang ada di ruangan terkaget dan lalu tiba-tiba kembali hening.
Pak Ustadz akhirnya mengangguk setuju.
Kini mereka bertukar tempat duduk. Orang tua Narita yang awalnya berada di belakang tempat duduk lesehan Davis, kini berada tepat di hadapan Davis dengan pak ustadz di samping untuk menjadi saksi.
“Bapak, ibu. Bukan waktu yang sebentar saya mengenal anak bapak dan ibu. Sepanjang saya mengenalnya, sifat dan sikapnya yang baik, ceria, lembut, dan perhatian membuat saya begitu mudah jatuh cinta padanya. Semoga saja begipu tun sebaliknya dengan Narita. Pada kesempatan kali ini, dengan hati tulus dan penuh tanggung jawab, saya ingin bapak dan ibu merestui keinginan saya untuk menjadikannya pendamping hidupku untuk bisa mengarungi hidup bersama selamanya sampai ajal memisahkan. Saya berjanji akan senantiasa menjaga, menyayanginya, berbagi suka duka dengannya, dan menua bersamanya”
Terdengar sejenak dia menghela nafas panjang, lalu kembali berucap.
“Apakah bapak dan ibu mengijinkan saya menjadi pendamping hidup Narita Prameswari?” Davis menangkup kedua telapak tangan di depan dada dengan mata berkaca-kaca.
Ada rasa yang tak bisa kuungkapkan hanya dengan kata-kata. Rasanya Tuhan begitu sangat menyayangiku. Inikah jawaban atas doaku selama ini? Ini kah petunjuk yang meyakinkan untuk memilih satu di antara beberapa pilihan yang terbaik?
“Nak Davis, tolong jaga, cintai, sayangi Narita seperti kamu menjaga, mencintai, dan menyayangi Narita. Jangan pernah sekalipun kau melukai hatinya dan membuatnya menangis!” ibu pun menambahkan ucapan bapak dengan suara serak penuh keharuan.
Ya ibuku adalah sosok yang paling sabar menghadapiku. Sudah cukup kebal telinganya mendengar cemoohan tetangga yang tak henti menyebutku sebagai perawan tua, hanya mementingkan karir, tak pernah memikirkan perasaan orang tua, dan lain-lain. Namun ibu seolah tak menggubris apa kata tetangga kami di kampung. Ibu selalu percaya bahwa aku telah berusaha untuk berteman, bergaul, dan mengenal seseorang demi untuk bisa bertemu dengan calon tulang rusukku. Namun kalau sampai di umurku yang ke-28 tahun ini, aku belum juga menikah, itu karena memang takdir Tuhan yang memang belum mempertemukannya. Ibu yakin, aku akan dipertemukan dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat pula.
Meskipun ibu memahamiku dan seolah tak menggubris apa kata tetangga, tapi aku yakin di dalam lubuk hati ibu yang paling dalam, beliau mengkhawatirkanku. Di tambah lagi dengan kenaikan karirku yang cukup cemerlang, makin membuat beliau khawatir. Adakah seseorang yang mau menikah dengan seseorang yang sesukses diriku atau justru sebaliknya, takutnya aku tak bisa menerima seseorang yang tak sesukses diriku. Aku yakin, air mata ibu kali ini adalah air mata kebahagiaan, kelegaan melihat anaknya dilamar oleh seseorang yang dikenalnya sebagai orang yang baik. Ibu, terima kasih ibu atas pengertianmu selama ini.
“Saya janji akan senantiasa menjaga, mencintai, menyayangi Narita, senantiasa berusaha membahagiakannya. Menua bersama dan bersama-sama mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahma ” Tatapan mata kami berdua pun bertemu, kami saling tersenyum bahagia.
“Aamiin” semua yang ada diruangan serempak mengamini doa Davis.
“Syukur Alhamdullillah, akhirnya bertambah lagi pasangan yang sepakat untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Jadi sekiranya berapa lama waktu yang nak Davis dan nak Narita butuhkan untuk pengenalan lebih lanjut? Kalau bisa dan cocok, untuk disegerakan!” ujar pak ustadz.
__ADS_1
“Sebenarnya saya sekarang sudah siap, pak ustadz. Saya sudah menghadirkan wali nikah dari pihak Narita yaitu bapaknya. Sedangkan wali nikah dari pihak saya, mengingat orang tua saya tidak bisa hadir karena suatu hal yang tak memungkinkan jadi diwakili om dan tante saya. Saya juga sudah menghadirkan bapak penghulu. Maskawin pun sudah saya siapkan” ucap Davis yakin, mantap, dan penuh semangat.
Lagi-lagi ucapan Davis bikin aku takjub. Tak henti aku menatapnya penuh keheranan, sementara dia hanya sesekali tersenyum tipis melihatku. Ya Tuhan, kenapa aku jadi makin deg-degan begini. Kalau hari ini kami menikah secara agama, berarti nanti malam??? Haduw haduw membayangkannya saja aku sudah malu.
“Jadi maksud nak Davis, kalian menikah secara agama dulu begitu?” pak ustadz memastikan kembali ucapan Davis.
“Iya betul pak ustadz. Kalau semua setuju, saya ingin menikah secara agama saat ini juga. Sedangkan untuk peresmian secara Negara, minggu depan akan segera saya urus segala persyaratannya” jawab Davis.
Sesekali aku curi-curi pandang ke Davis. Sikapnya saat ini membuatnya berkali-kali lipat ketampanannya, keseriusannya, dan membuatku makin jatuh cinta. Rasanya aku ingin berteriak merasakan kebahagiaan yang kian membuncah. Hari ini adalah kejutan terindah di sepanjang hidupku. Tiba-tiba ada yang mengajak taaruf, ternyata seseorang yang mengajakku taaruf adalah seseorang yang selama ini sudah aku cintai, ternyata dia sudah berkenalan langsung dengan orang tuaku bahkan saat ini tanpa kuketahui, sudah dia boyong ke Jakarta.
“Owh bagus nak Davis. Anda benar-benar lelaki sejati.”
“Bagaimana bapak ibu Narita? Apakah bapak dan ibu menyetujui untuk dilakukan pernikahan secara agama terlebih dahulu untuk hari ini? Sedangkan secara Negara akan segera diurus kemudian?”
“Bagaimana juga dengan nak Narita, apakah nak Narita mau menikah hari ini juga?”
Kini semua mata menatap bergantian padaku, bapakku, dan ibuku.
“Kalau kami sebagai orang tua, menyerahkan sepenuhnya keputusan penting ini pada yang akan menjalaninya, putri kami, Narita” bapak menatapku.
Ketika kini semua mata beralih menatapku, akupun berujar:
“Jujur saat ini saya shock. Saya pikir seseorang yang mengajak taaruf adalah orang yang belum saya kenal sebelumnya. Ternyata saya salah, kenyataannya justu sebaliknya. Orang yang mengajak saya taaruf adalah seseorang yang telah saya kenal lama. Seseorang yang 2 minggu yang lalu telah melamar saya. Seseorang yang selama 2 minggu ini selalu saya sebutkan namanya dalam doa saya. Pak ustadz, dalam 1 minggu ini telah ada 2 pria dewasa, mapan, dan serius yang melamar saya, termasuk salah satunya Davis. Selama 2 minggu saya istikharah namun bahkan sampai dengan tadi pagi, saya belum mendapatkan petunjuk mengenai siapa yang sebaiknya saya pilih.”
Kembali terdengar beberapa orang mulai bergemuruh berbisik-bisik. Aku pun memilih terdiam sejenak.
__ADS_1
---- TO BE CONTINUED ----