
NARITA POV
Seusai makan siang tapi baru dilakukan menjelang sore, mobil Alphard yang membawa keluargaku melaju ke apartemenku. Aku bermaksud mengambil beberapa potong baju mengingat aku harus menginap beberapa malam di rumah suamiku. Di sepanjang perjalanan Davis mulai membahas mengenai rencana-rencananya.
“Bapak, ibu, dan kamu Sayang, saya mohon maaf belum bisa mengadakan acara yang selayaknya untuk merayakan pernikahan kami. Apakah bapak dan ibu berkenan untuk menunggu sampai tiba saatnya?” Davis memandang kami satu persatu.
“Mas, sebenernya aku gak menginginkan pesta yang gimana gimana, aku cuma menginginkan 2 hal yaitu pernikahan kita disahkan secara hukum Negara dan kita adakan syukuran untuk mengumumkan bahwa kita berdua sudah resmi menikah” segera aku jawab cepat.
“Untuk itsbat nikah, akan segera saya urus, nah sedangkan untuk syukuran saya belum bisa mengadakannya dalam waktu dekat karena orang tua saya belum bisa hadir” jawabku.
“Orang tua nak Davis memangnya di mana? Tapi beliau sudah dikabari kan kalau nak Davis hari ini menikah siri? Beliau merestui kan?” tersentak aku mendengar bapak tidak mengetahui keberadaan orang tua Davis. Aku pikir bapak sudah mengetahui segala hal yang selama ini tak aku ketahui mengenai Davis dan kedua orang tuanya. Tak mudah membawa bapak ke Jakarta serta merencanakan lamaran sekaligus nikahan dadakan kaya gini kalau tidak ada sesuatu hal yang meyakinkannya.
“Saat ini orang tua saya ada di Australia, pak. Tapi beliau ada kepentingan yang tak bisa ditinggalkan sehingga tidak bisa melamar dan menyaksikan pernikahan saya. Beliau Insyaalloh merestui. Mohon doanya saja semoga orang tua saya segera bisa berkunjung ke Indonesia” Davis mengatakannya dengan pelan dan mata berkaca-kaca, seperti ada suatu hal yang disembunyikannya.
“Menurut ibu, kalau orang tua nak Davis merestui pernikahan kalian, kalian harus segera mengumumkan pernikahan kalian, paling lambat sampai dinyatakan sah sebagai secara hukum Negara. Soal pesta syukuran mah itu bukan suatu keharusan kok” ucap ibu kemudian.
“Kalau cuma mengumumkan, gak usah menunggu bu. Besok di kantor juga bisa langsung saya umumkan!” ucap Davis enteng dan aku membelalakkan mataku.
“Iya yang penting, jangan sampai ada fitnah aja ya nak!” ucap ibu.
“Iya bu, makasih sudah diingatkan” jawab Davis kemudian.
Sesampainya di area parkir, aku bergegas turun.
“Bapak sama ibu mau ikutan turun apa enggak?” tanyaku melihat ke kedua orang tuaku.
“Biar ikut aja, Sayang. Aku juga mau ikut, pengen tau apartemen yang kamu tempati.” Davis menyela.
“Iya nak. Kita istirahat dulu di apartemenmu, gakpapa kan nak Davis? Baru nanti malam kita lanjut ke rumahmu?!” bapak menatap ke Davis.
“Iya. Mari pak bu kita turun!” ajak Davis kemudian.
“Pak Gino, kami mungkin di sini beberapa jam. Bapak bisa istirahat dulu, nanti saya hubungi lagi kalau kami mau berangkat ya pak!” ucap Davis pada sopirnya.
“Baik, Mr” jawab pak Gino patuh.
__ADS_1
Kami berempat turun dari mobil dan berjalan menuju pintu lobby apartemen. Sesampainya unit apartemennya, pintu dibuka, Davis langsung nyelonong masuk dan mengedarkan pandangan ke segala ruangan sembari manggut-manggut dengan tangan dilipat di depan dada.
“Hmmm,,,,nyaman juga. Biarpun kecil tapi sangat fungsional. Pinter kamu, Sayang!” Davis mengacungkan jempol tangan kanannya sementara tangan kiri masih dilipat di dada.
“Bapak sama ibu sudah sering main ke sini?” tanya Davis kemudian.
“Sudah pernah tapi juga gak sering. Bapak kan masih ngajar, jadi ke sininya kalau pas libur anak sekolah dan kerjaan di sawah juga gak lagi ribet” jawab bapak.
Davis lalu membuka kamar utamaku, lalu membuka kamar satunya lagi yang terlihat lebih kecil.
“Bapak sama ibu, istirahat aja dulu di kamar, nanti biar mas rehat di sofa!” aku menuntun ibu untuk masuk kamar.
“Nak, ibumu aja yaa yang istirahat di kamar sana, bapak tak ke kamar sini. Kamu kan mau beres-beres baju di kamar sana” bapak lalu melangkah ke kamar kecil, membuka kasur yang tadinya dalam posisi berdiri seolah seperti lemari kayu.
“Iya udah kalau bapak maunya gitu”
“Mas, kamu tiduran di sofa dulu ya!” ucapku mendekati suamiku.
“Ok Sayang” dia tersenyum sedikit mendekatkan wajahnya untuk mencium keningku namun aku segera menjauh.
“Nak ibu capek, kamu bisa sendiri kan? Ibu mau rebahan ya?”
“Iya monggo bu” jawabku.
Tak berapa lama, ibu sudah tertidur pulas. Kasian juga sie, ibu diforsir mengikuti perjalanan sekaligus acara di beberapa tempat. Seusia ibu memang lebih mudah capek. Aku menengok ke sofa depan, Davis nampak asyik memainkan ponselnya. Aku pun gunakan kesempatan ini untuk membicarakan hal serius dengannya terlebih dahulu sebelum terlambat.
“Sudah selesai, Sayang?” tanyanya melihatku mendekatinya.
“Belum. Mas, aku mau ngomong!” Davis bangun dari posisi rebahan.
“Ngomong apa? Sini aja!” Davis menepuk sofa di sampingnya, lalu aku bergegas mendekatinya.
“Kita sudah halal, tapi kok masih terasa canggung gini ya?” ujarnya tersenyum tipis. Aku pun turut tersenyum tipis.
“Mas, aku boleh minta 1 hal sama kamu gak?
__ADS_1
"Apa?” Davis mengernyitkan dahinya.
“Maukah kamu merahasiakan pernikahan siri kita sampai kita sudah memegang buku nikah?”
“Kan tadi ibu bilang, jangan sampai menimbulkan fitnah jadi alangkah baiknya diumumkan secepatnya!”
“Tapi mas, kita tidak memiliki bukti pernikahan, bahkan aku pun tak memakai baju pernikahan” aku bernegosiasi dengan sedikit merajuk sementara mata kami berdua saling bertatapan.
Davis merangkul pundakku, mencium ujung kepalaku lama, dan berkata “ya sudah gimana baiknya aja menurutmu, yang penting kita sudah halal”
“Tapi kita gak boleh begini di kantor ya mas!”
“Aku mau kita di kantor bersikap seperti biasa. Sebelum pengumuman pernikahan, kita harus menghindari timbulnya fitnah!”
“Hufh,,,baiklah” Davis dengan nada lemas
“Tapi kita harus tinggal serumah lho ya!” tawar Davis kemudian.
“Iya. Tapi kita berangkat dan pulang kantor sendiri-sendiri saja!” ucapku.
“Kok gitu?”
“Gakpapalah kita barengan, toh pak Gino juga udah tau kalau kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri!”
“Mas, justru pak Gino harus dipegang komitmennya untuk bisa jaga rahasia, sampai saatnya tiba kita mengumumkan!”
“Ya ampun, Sayang!!! Ribet banget deh kamu”
“Kenapa sie kamu kaya gitu?”
“Biar kamu gak kehilangan fans kamu ya?” Davis sedikit naik pitam, dia melepaskan rangkulannya.
---- TO BE CONTINUED ----
__ADS_1