CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DIRUT BARUKU 4


__ADS_3

NARITA POV


 


Pagi ini kami telah melakukan rapat koordinasi terkait perencanaan-perencanaan project yang akan kami usulkan kepada Mr. Al. Menurut beliau, kami ada tantangan untuk membuat feasibily study hal-hal yang diminta Dirut baru dan kami telah bahas dalam rapat tadi. Alhamdullillah banyak ide segar dari semua anggota timku. Aku bangga bekerja sama dengan mereka.


 


Seusai rapat tim, aku kembali ke mejaku. Tak berapa lama telepon di mejaku berdering, lalu kuangkat.


“Selamat pagi, dengan Narita bagian finance and project planner, apa yang bisa saya bantu?” aku mengangkat telpon sesuai tatacara mengangkat telpon di kantor kami.


“Na, Mr. Dav minta feasibility study yang kemaren dia minta. Nanti paling lambat jam 11.30 sudah diantar ke meja beliau! Dan beliau meminta kamu sendiri yang mengantarnya karena ada beberapa hal yang mau beliau diskusikan langsung denganmu!” suara Mr. Al yang sangat aku kenal.


“Baik, Mr. Segera saya selesaikan!” jawabku tanpa bertele-tele berharap Mr. Al segera menutup telponnya.


“OK.” Ceklek, telpon pun ditutupnya.


Segera aku meminta anggota timku untuk menyiapkan data seperti hasil rapat kami tadi. Aku mendateline mereka selesai jam 10.00 karena aku butuh waktu untuk merekap dan mereview ulang.


Jam 11.00 segera aku ke lantai 10.


 


“Kak, Mr. Dav ada di ruangan?” tanyaku pada Sekretaris Mr. Dav.


“Lah, baru aja keluar! Gak ketemu di depan lift?” tanyanya bingung, karena menurut perhitungannya seharusnya kami bertemu di depan lift.


“Enggak!” jawabku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.


“Ditunggu dulu Na, biar aku telpon beliau!” katanya kemudian meraih ponselnya dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.


“Kata Mr. Dav, loe diminta nunggu di dalam ruangan beliau Na!” jelas sekretaris itu rada ragu dengan instruksi Mr. Dav.


“Di dalam ruangan?” aku bertanya dan mengernyitkan dahiku.


“Iya, itu perintah beliau. Gue juga bingung kok nyuruh loe nunggu di dalam, bukan di luar!” jawabnya yang sepertinya heran juga.


“Aku tunggu di sini aja Kak!” akhirnya aku menuju ke sofa yang ada di samping meja sekretaris.


“Yaudah, terserah loe aja!”

__ADS_1


“Mr. Dav kemana sie Kak? Lama gak?”


“Gue mana berani nanya Na. Tadi cuma bilang loe disuruh nunggu di dalam ruangannya!”


“Hmm, Mr. Dav orangnya gimana sie Kak? Hmmm hororkah?”


“Kaku, dingin, cuek, tegas. Kalau punya keinginan maunya cepet dan harus diturutin. Kalau nanya tapi kita jawabnya lama, malah dibentak!”


“Owh ya???”


“Masih enak Pak Bowo, Na. Kalau yang sekarang mah biarpun muda and ganteng tapi boro-boro kita terpesona, yang ada udah jantungan duluan!”


“Yang sering rapat sama beliau, dari bidang apa sie Kak?”


“Tuh Mr. Daniel yang hampir tiap hari dikeramasin!” kata sekretaris sambil terkekeh.


“Owh….yayaya. Ya udah silahkan dilanjut kerjanya Kak!”


 


15 menit telah terlewati. 30 menit telah terlewati. 45 menit telah terlewati, aku mulai bosan menunggu yang tak pasti begini.


“Kak, kok lama?”


“Atau loe mau nelpon beliau sendiri?” katanya sambil mengerlingkan matanya.


“No no no. Kakak aja segan apalagi aku. Gini aja deh Kak, ini aku titipin ke Kakak, kalau beliau membutuhkan penjelasanku, bisa panggil aku, Kak!” sekretaris Dirut pun mengangguk dan menerima dokumen yang aku serahkan.


 


Aku pun meninggalkan lantai 10. Sesaat aku menunggu di depan pintu lift lantai 10, ponselku berdering dan kulihat Daniel menelponku. Segera aku angkat telponku, sembari melangkah masuk ke lift yang telah terbuka pintunya “ Ya Niel?.....Oke……sampai ketemu!”.


 


Segera aku turun menuju ke kantin kantor karena aku sudah janjian makan siang bareng di sana dengan Daniel.


“Tumben kamu ngajak maksibar, Niel?” tanyaku dengan menarik kursiku.


“Iya, mumpung gak ada acara di luar. Kangen. Beberapa minggu kan kita gak jalan keluar” jawabannya membuatku tersenyum tipis.


Akhirnya kami pun makan siang berdua diselingi obrolan ringan. Adakalanya aku ingin bertanya mengenai Dirut baruku kepadanya, tapi sepertinya ini moment yang kurang tepat.

__ADS_1


“Nanti ada acara?” tanya Daniel seusai kami menghabiskan makan siang kami dan bergegas meninggalkan kantin.


“Gak. Kenapa?” tanyaku padanya.


“Hayuklah keluar bareng! Aku mau buang penat, setelah beberapa hari ini kena omel seseorang!” ajaknya sambil berjalan beriringan dengan bola mata kami yang masih saling menatap.


 


Aku yang sudah tau arah pembicaraannya, dan penasaran dengan ceritanya, segera menjawab “OK. Ajak yang lain juga ya! Tapi jangan di club!” pintaku.


 


“Iyalah, masa mau curhat pergi ke club. Oke nanti aku ajak anak-anak!” katanya tersenyum meyakinkanku.


 


MR. DAV POV


Aku harus buru-buru balik ke ruanganku, Na pasti udah kelamaan nungguin. Setelah pintu lift terbuka di lantai 10, aku mendengar suara seseorang  yang sangat aku kenal di lift sebelah.


Asshhhh,,,,--gumamku sembari aku buru-buru keluar lift dan kupencet-pencet tombol lift sebelah namun sudah terlambat. Pintu telah tertutup rapat.


Aku perhatikan di lantai mana pintu itu kembali terbuka, dan aku lihat lantai 2. Masuk akal sie, ini sudah hampir lewat jam makan siang, pasti dia ke kantin. Segera kunaiki lift turun. Sesampainya di kantin, aku mengedarkan pandangan ke segala penjuru kantin.


Namun saat aku menemukan suatu pemandangan di meja sebelah sana, entah apa yang ada di hatiku saat ini. Dia tersenyum begitu ceria. Akhirnya kuputuskan kembali ke lantai 10.


Hari ini aku sedang tidak ingin lembur, mood ku memburuk. Aku pun bergegas memanggil asistenku untuk segera mengantarku pulang.


Ya, aku memang telah disediakan sekretaris di kantor, namun aku selalu didampingi oleh asisten setiaku yang telah mendampingiku selama 3 tahun terakhir ini. Sekretaris hanya menyiapkan segala hal yang terkait pekerjaanku di kantor, sedangkan asistenku yang menyiapkan segala hal baik itu terkait pekerjaan kantor atau pun hal-hal pribadiku. Bahkan demi memperlancar komunikasi dan koordinasi, aku memintanya menempati salah satu kamar di rumah besar Mommy and Daddy yang saat ini aku tempati.


Dengan langkah cepat dan gagah aku melangkahkan kakiku menembus lobby kantor yang cukup luas dan ramai. Orang-orang yang aku lewati akan memberiku hormat dengan cara menundukkan kepala, namun aku hanya melewatinya dengan tetap menjaga wibawaku.


Sampai mendekati pintu lobby, aku kembali melihat…..


Siapa dia? –batinku. Secara mendadak aku menghentikan langkahku, memandang penuh tidak suka ke arah depan teras lobby, dan menggegam tanganku dengan kuat tanda geram akan pemandangan ini.


“Ada apa Mister?” tanya asistenku kaget karena tiba-tiba aku menghentikan langkahku.


Aku tak segera menjawab pertanyaannya. Aku hanya fokus dengan apa yang aku lihat.


 

__ADS_1


“Gakpapa” jawabku singkat dengan suara berat setelah melihat mereka pergi dan aku kembali melangkahkan kaki.


a


__ADS_2