
AUTHOR POV
Opa Dave menghalalkan segala cara demi mendapatkan cicit kandung, termasuk menyuruh Dave untuk memiliki anak melalui sel telur dan Rahim perempuan yang bukan istrinya.
“Opa, aku tidak setuju dengan saran Opa. Bagiku kelahiran anak harus sah di dalam ikatan pernikahan. Cukup Karen menjadi pengalaman berharga untukku. Soal hatiku, Opa, Mommy, Daddy tak perlu risau. Aku sudah bisa menata hatiku kembali. Tolong jangan desak aku dengan target pernikahan dan keturunan. Aku ingin menjalaninya dengan ketenangan. Biarlah semua mengalir dengan alami agar pernikahan dan keturunan menghadirkan kebahagiaan untukku” tolak Dave.
Opa memang terkenal berwatak keras, namun untuk urusan hati, dia akan sangat memahami cucu-cucunya. Dia hanya mengkhawatirkan keturunannya. Dia hanya memiliki anak tunggal yaitu Daddy nya Dave bernama Dawson Oxley. Sementara Kedua cucu laki-lakinya sepengetahuannya sampai saat ini belum ada yang memberikan keturunan. Keprihatinan semakin bertambah saat dia mengetahui bahwa ternyata Dave memiliki tingkat kesulitan memiliki anak secara alami.
Sementara itu banyak dari pihak keluarganya yang lain yang seolah berusaha merebut tahta dan harta yang dengan susah payah dimilikinya. Dia ingin, sebelum meninggal sudah memiliki cucu sebagai pewaris sekaligus penerus kerajaan bisnisnya. Dia tak ingin apa yang dia miliki akan jatuh ke tangan orang lain yang tidak berhak hanya karena keturunannya habis.
“Hmm,,,baiklah. Opa mengerti.” Ucap Opa lemah.
“Tapi Opa berpesan, bantu kami awasi Davis! Yakinkan dia untuk segera menikahi Jessica. Paling tidak kami akan mendapatkan keturunan dengan cepat dari dia. Jangan biarkan dia berpaling hati pada wanita lain seperti kebiasaannya dulu!” perintah Daddy tegas dan hanya diangguki oleh Dave.
“Pastikan dia sudah menikahi Jessica ketika dia sudah sadar kelak!” tambah Opa.
“Hmm,,,apa ini adil untuknya Mom, Dad, Opa? Apa tidak lebih baik menyembuhkannya terlebih dahulu baru membiarkannya menentukan wanita pilihannya? Sejujurnya aku kurang setuju dengan rencana kalian!” Dave menatap Opa, Mommy, dan Daddy nya bergantian.
“Kau tau apa yang akan terjadi jika kami biarkan dia memilih? Bisa-bisa sampai Opa mati Opa tak akan memiliki kesempatan melihat cicit Opa”
“Sudah tidak ada waktu lagi Dave. Pilihannya hanya 2 : Kamu yang menikah terlebih dahulu atau Davis?” ancam Opa tegas.
Meskipun egois, untuk saat ini Dave harus mengorbankan Davis. Biarlah Davis menikah terlebih dahulu, meskipun sepengetahuannya percintaan Davis dan Jess adalah hasil rekayasa keluarganya.
“Dave usahakan membujuk Davis.” Jawab Dave.
“Soal perusahaan, Daddy percaya sama kamu, Dave! Tolong kabari Daddy kalau ada hal yang memang membutuhkan saran dan pertimbangan Daddy!”
__ADS_1
“Mommy usahakan sering ke sini. Sekarang semua anak Mommy sudah berkumpul di sini, sebenarnya Mommy lelah harus berjauhan terus dengan kalian. Tapi Mommy lebih tidak mungkin lagi untuk berjauhan dari Daddy kalian” Mommy lalu menatap Daddy dengan genitnya.
“Dan satu lagi Dave. Keputusanmu untuk merawat Karen, harus bisa kamu pertanggungjawabkan. Meskipun dia bukan darah dagingmu, tolong sayangi dia, perhatikan dia, karena dia lahir ke dunia ini sebagai anak yang suci. Biarlah kesalahan orang tuanya menjadi dosa orang tuanya, jangan kau bebankan padanya!” lanjut Mommy menasehati Dave dan Dave mengangguk patuh.
“Demi keamanan bersama, pastikan selalu kau update surat warismu!” Opa kembali lagi berpesan.
“Iya Opa, Mom, Dad. Kalian menasehatiku seolah aku anak kecil saja!” ucapan Dave membuat mereka berempat tertawa.
--- Seminggu kemudian ---
Davis menjemput Jessica yang baru saja tiba di bandara. Siang itu juga, dia langsung membawa Jessica pulang ke rumah Dave. Di sana, sudah dipersiapkan 1 kamar di lantai 2 untuk Jess. Kamar Jess letaknya sejajar dengan kamar Karen dan Narita.
Kala Davis dan Jess sudah sampai di rumah, Narita masih berada di kampus. Suasana rumah utama di siang hari memang sangat lengang. Karen biasanya hanya bermain di kamar lalu lanjut tidur siang ditemani Leni.
Setelah mengantar Jess memasuki kamarnya, Davis memanggil asisten rumah tangga untuk membantu Jess menata barang-barangnya. Sementara itu, dia kembali lagi ke kantor.
Sore hari, kala Narita mendampingi Karen makan di ruang makan rumah utama, Jess menyapa Karen.
Lagi-lagi Narita dibuat kaget akan kehadiran Jess di sana. Ya, Narita pernah melihat dan mengenalnya, entahlah apakah Jess masih mengingatnya atau tidak. Narita menyembunyikan keterkejutannya, dia bersikap seolah tak mengenalnya.
Begitu pun halnya dengan Karen, baginya Jess adalah orang asing yang sama sekali belum pernah dilihatnya. Sapaan dari Jess dianggapnya angin lalu.
“Ouww,,,pinter sekali makannya!” tangan Jess sudah membelai rambut Karen, namun segera Karen tepis dengan kasar.
Jess sama sekali tak menatap atau pun menyapa Narita. Narita pikir mungkin Jess tak mengingatnya.
Merasa dicuekin Karen dan kesepian di rumah, Jess segera menelpon seseorang. Dia menelpon sambil duduk di sofa ruang tengah. Meskipun letaknya cukup jauh, tapi karena sepi, suaranya sangat jelas terdengar dari ruang makan.
“Beb, pulang jam berapa? Aku kesepian. Katamu di rumah ramai, kenapa ini sepi kaya kuburan? Aku bosan!”
__ADS_1
“Oke, buruan. Aku kan kangen banget sama kamu! Miss you. Muuuaaaacchhh” suara manja Jess.
Narita tak bermaksud mencuri dengar, tapi karena suara Jess jelas terdengar, dia mulai menebak siapakah seseorang yang ditelponnya. Davis kah? Atau Dave kah?
--- Little of Al Aqsha ---
Usai menunaikan shalat Jamaah, Narita yang membawa Karen di Little of Al Aqsha membereskan mukena miliknya dan Karen. Ya, semenjak Dave pernah meminta Narita untuk mengajarinya menjadi seorang muslim. Mulai dari mengajaknya sholat, menyanyikan sholawat menjelang tidur, dan mengajarinya mengaji Narita selalu melakukannya untuk Karen.
Tirai pintu keluar dibuka oleh seseorang.
“Karen, come to Daddy!” Dave tiba-tiba muncul, dia jongkok dan mengulurkan kedua tangannya, matanya menatap pada Karen lalu melirik sebentar ke Narita dan kembali menatap Karen sembari menebar senyum.
Karen mendekati Dave dengan langkah ragu. Bagi Karen, dia masih sedikit kurang nyaman berdekatan dengan Dave karena sikap Dave kadang terkesan kaku dan belum mampu mengambil hati anak kecil.
Di belakang Dave, tiba-tiba berdiri Davis dan berseru “Hai sweety, come to uncle!” meski dengan posisi berdiri, Davis mengulurkan kedua tangannya seolah hendak menggendongnya.
Karen yang sudah berdiri tak jauh dari Dave, tiba-tiba melempar pandangan ke arah Davis, mengurai senyuman dan kini dia melewati Dave dan menubruk kaki Davis.
Masih dengan posisi jongkok, Dave menoleh ke Karen dan Davis. Mukanya cemberut karena merasa bahwa Karen lebih memilih Davis dibandingkan dirinya. Dave akhirnya berdiri.
Narita yang melihat kejadian itu hanya tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Karen kini sudah berada di dalam gendongan Davis. Dave lalu menoleh pada Narita yang telah berdiri dan bersiap keluar.
“Yuk!” ajak Dave ke Narita dengan mengulurkan tangan kanannya seolah meminta Narita menerima uluran tangannya (menggandengnya). Dia mengatakan itu dengan wajah serius seolah tidak sedang bercanda.
Narita terdiam sejenak, ‘yuk!’ apa maksudnya? – pikir Narita dalam hati.
Davis yang masih di sana pun turut terdiam melihat sikap Dave.
__ADS_1
Ada hubungan apa mereka? Kenapa Dave mengajak Narita bergandengan tangan? – batin Davis dengan dahi berkerut.
"Apa dia kekasihmu, Kak Dave?" suara Jess mengagetkan ketiganya. Entah sejak kapan dia sudah berada tepat di belakang Davis. Melihat bahasa tubuh Dave, Jess berpikiran ada sesuatu di antara mereka.