
NARITA POV
Seminggu sudah kami di kampung halamanku. Hubungan kami masih sedikit renggang, meskipun kami tak pernah absen bercinta siang, sore, malam, dan dini hari. Davis yang tak kunjung memberiku penjelasan membuatku sedikit kesal padanya. Aku tak meminta hal yang berlebihan, aku tak akan meninggalkannya meskipun dia pernah melakukan kesalahan di masa lalunya. Aku hanya ingin kejujuran dan keterbukaan dalam hubungan ini.
Banyak hal yang masih menjadi misteri dari seorang Davis Narendra Oxley. Selama aku mengenalnya, dia hanya memperkenalkan om Dandy dan tante Melati sebagai salah satu kerabat dari ibunya. Dia tidak pernah menceritakan siapa dan bagaimana dengan saudara kandungnya? Mommy dan Daddy nya? Di rumah pun tak ada satu dinding pun yang memajang foto keluarga mereka.
Meskipun dia selalu bilang bahwa aku adalah cinta pertamanya, tapi aku penasaran dengan kehidupan percintaannya. Apakah selama hidup di luar negeri dia pernah berpacaran, sejauh mana mereka menjalani kehidupan pacarannya, ala baratkah? Apa yang membuatnya memutuskan menjadi mualaf? Banyak banget pertanyaan yang ada di otakku.
Satu satu akan mulai aku tanyakan, karena aku tak yakin dia akan menceritakan semuanya dalam waktu yang bersamaan. Aku yakin dia belum mau menceritakannya pasti ada alasannya sendiri.
Hatiku kecewa karena dia tak berkenan menjawab pertanyaan pertamaku, lalu bagaimana aku akan mengemukakan pertanyaan yang lainnya. Sudah seminggu sejak aku melemparkan pertanyaan itu, tak sedikitpun dia berkeinginan menjawabnya, hal ini membuatku semakin sebel.
Kegiatan suami istri pun kami lalui dengan hambar, hanya sebatas memenuhi kewajiban saja. Aku masih sangat kecewa dengan sikap diam, cuek, dan pura-pura gak taunya.
Perjalanan udara ke Jakarta ditempuh selama 1 jam lamanya. Kami sibuk dengan aktifitas masing-masing. Kami hanya berbicara seperlunya saja, meskipun sesekali aku merasakan bahwa dia mencuri-curi pandang padaku.
Kami sampai di rumah jam 10.00. Davis membukakan pintu mobil lalu merangkulku dan kami berjalan beriringan masuk ke rumah.
“Capek gak, Sayang?”
“Sedikit”
“Yuk!” yang awalnya merangkul, kini dia menautkan jemari tangan kami lalu menarikku dan membawaku ke kamar kami.
Dia mendudukkanku di sofa sementara dia jongkok bertumpu pada kedua lututnya dan kedua tangannya masih memegang mesra kedua tanganku.
“Sayang,,,,” dia menjeda kalimat.
“Aku gak kuat kamu diemin selama seminggu ini”
__ADS_1
“Sayang,, kamu janji ya kalau aku ceritakan masa laluku, kamu gak akan ilfil, gak akan meninggalkanku!”
“Seburuk-buruknya masa lalumu, aku akan tetap menerimamu apa adanya, asalkan kamu sudah tidak akan mengulanginya lagi”
“Aku bertanya karena selain kamu gak pernah bercerita tapi juga karena aku ingin mengenalmu lebih deket” kulihat dia mengangguk-aggukkan kepalanya.
DAVIS POV
Aku sengaja menunda penjelasan sampai kami pulang ke rumah, agar lebih terjaga privacy nya. Tak terbayang apabila kami bercerita di kampung dan tak sengaja ada yang mendengarnya, bisa berabe urusannya, bisa tersebar ke seluruh penjuru kampung ntar.
Sesampainya di rumah, aku segera membawanya ke kamar. Dia gak menolak. Aku mendudukkannya di sofa. Aku mulai menata hati, pikiran, dan kata-kata, agar kalimat yang keluar bener-bener tepat.
Ketika dia mengatakan bahwa dia bertanya hal itu karena aku gak pernah bercerita. Aku merasa tersentil. Aku merasa bersalah karena ada banyak hal yang belum sempat aku ceritakan padanya.
“Sayang, maafkan aku. Aku belum dapat menceritakan semuanya kepadamu. Nanti sedikit demi sedikit pasti akan aku ceritakan. Kamu sabar ya?” dia mengangguk pelan.
“Mas, jangan begini!” dia menghapus air mataku yang mengalir. Segera aku berdiri dan duduk di sebelahnya.
FLASH BACK ON 1
Di suatu pagi nan cerah, di suatu negara yang amat bersih, rapi, dan teratur, aku mulai menata hidup yang baru. Menjalani hari-hari sebagai seorang mahasiswa dan di sela waktu kuliah aku luangkan waktu untuk membantu bisnis keluarga. Aku terbang ke negeri ini sengaja ingin menyibukkan diri, menjalani hari-hari dengan keceriaan, agar aku melupakan seseorang yang telah menolakku sebelum aku mengutarakan isi hatiku. Aku harus mengobati rasa kecewa padanya dengan menjadikan diriku jauh lebih baik dari diriku yang sebelumnya.
(Sebenarnya semua percakapan dalam Bahasa Inggris)
“Hai, Vis. Sudah siap untuk presentasi nanti?” tanya seorang gadis cantik dengan mata bulat, bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung, bibir tipis, body aduhai bak gitar Spanyol, rambul panjang blonde.
“Yup” aku menjawabnya tanpa melihatnya, aku masih sibuk mempersiapkan laptop dan materiku.
__ADS_1
Hari ini adalah giliran aku untuk mempresentasikan tugas dari dosen Professorku. Aku sudah menjalani masa-masa kuliah selama 2 bulan dan selama ini pula aku telah mengenal teman-teman di kelasku. Beberapa orang mengambil mata kuliah yang sama. Si cantik yang kukenal bernama Alice adalah salah satu yang selalu mengambil mata kuliah yang sama.
Setelah kelas presentasi usai, aku masih ada kelas selanjutnya. Di sela waktu menunggu, aku biasanya akan menghabiskan waktu di taman untuk membaca materi kuliah atau mencari bahan tugas akhir. Kali ini pun aku memilih berjemur dan duduk santai di taman.
“Hai, Vis. Sendirian?” sapa Alice dan duduk di sampingku.
“Ya.” Jawabku sembari memandangnya dan tersenyum.
“Boleh aku temani?”
“Iya. Silahkan.”
Lalu dia mulai percakapan membahas mengenai materi-materi perkuliahan. Aku yang awalnya tak pernah peduli dengan sapaan ramahnya, menjadi asyik ketika kami ngobrol nyambung.
Sejak kejadian hari itu, kami menjadi akrab. Kami selalu bersama-sama, meskipun aku memiliki beberapa teman laki-laki yang juga selalu bersama-sama.
Aku mulai menikmati hari-hariku dengan suasana baru, teman baru, lingkungan baru, dan kebahagiaan yang lain. Aku sangat enjoy dengan kuliah, bekerja, jalan-jalan, clubbing, dan berwisata. Seperti masa ketika aku di Indonesia, di sini pun aku memiliki teman jalan yang asyik. Bahkan aku dapat memiliki 6 orang sahabat yang bisa kompak dalam beraktifitas.
Aku memperkenalkan Alice ke sahabat-sahabatku, sehingga tak jarang kami berdelapan yang terdiri dari 4 cowok dan 4 cewek sering jalan bareng. Walaupun kami tak pernah mendeklarasikan sebagai teman se genk, tapi kami memiliki kesibukan yang hampir mirip dan hobby yang sama.
Awalnya aku merasakan pertemanan kami biasa-biasa saja, selayaknya pertemanan remaja pada umumnya. Kuliah, jalan, makan bareng, travelling bareng. Namun suatu kejadian, membuatku akhirnya masuk dalam lingkungan pergaulan bebas ala barat. Suatu pergaulan yang dulu aku menganggapnya suatu hal yang “GAK”, apalagi ketika bersahabat dengan Narita, aku begitu mengaguminya sebagai seorang yang sangat menjaga diri, namun ketika aku di sini, seolah pergaulan bebas adalah sebuah budaya.
Alice yang aku pikir adalah gadis cantik rupawan dan menyenangkan, ternyata mampu menggodaku hingga kami melakukan yang seharusnya tidak boleh dilakukan hingga berulang-ulang. Tak ada status di antara kami, tapi kami melakukannya atas dasar enjoy sama enjoy dan seolah menjadi suatu kebutuhan.
Aku yang tinggal sendiri di sebuah apartemen mewah, membuat kami semakin leluasa untuk sering bertemu dan melakukannnya di apartemenku.
Sebenarnya di negara ini, keluargaku memiliki rumah utama, yang lebih sering ditempati Mommy and Daddy ketika mereka di sini dan ditempati oleh kakakku, yang memang menetap di sini. Tapi demi kemandirian, Mommy and Daddy memintaku untuk tinggal sendiri.
Pada awalnya Alin ikut tinggal di apartemenku, namun ketika dia kuliah jauh dari kota ini, Mommy memutuskan untuk menyewakannya apartemen sendiri yang tak jauh dari kampus tempatnya kuliah. Alin yang seorang anak yatim, dibiayai oleh Mommyku baik itu biaya hidup maupun biaya kuliahnya. Begitu sayangnya Mommy pada Alin.
Kembali lagi ke Alice. Aku mulai mengenal pergaulan bebas dari Alice. Menikmati indahnya surga dunia tanpa memikirkan hal lainnya. Aku menganggap Alice tak hanya partner bercinta, namun juga teman yang asyik untuk diajak diskusi mengenai kuliah, pekerjaan, travelling, atau apapun. Aku merasa senang dan nyambung dengan Alice. Namun, entah mengapa tak ada niat sedikitpun di hatiku untuk menjadikannya pacar. Alice pun tak keberatan dengan hubungan kami yang tanpa status ini.
__ADS_1
TO BE CONTINUED