CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
MEMBERI JAWABAN 1


__ADS_3

NARITA POV


Davis keberatan merahasiakan pernikahan kami. Dia mulai berspekulasi negatif dengan tujuanku merahasiakan pernikahan ini. Padahal aku berpikir, merahasiakan ini sampai kami memiliki bukti authentik, tidak hanya sekedar foto. Hal ini kulakukan karena menghindari opini negatif orang-orang kantor mengenai kami berdua. Demi nama baiknya juga.


“Ya Alloh mas, sabar dong! Bukan gitu maksudku.”


“Kalau kita merahasiakan, itu artinya siapapun yang mengetahui kalau kita sudah menikah juga harus turut merahasiakannya. Toh kalau kamu sudah mengurus surat nikahnya, kita bisa segera mengumumkan kok!”


“Yaudah terserah kamu!” Davis terlihat kesal lalu kembali merebahkan diri di sofa dan cuek memainkan ponselnya.


Aku hanya bisa mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar. Belum ada sehari, sudah harus beda pendapat gini.


Tak berapa lama, ada notifikasi pesan masuk di handphone ku.


Daniel: Na, apa kamu di apartemen?


Aku: Iya, Niel. Ada apa?


Daniel: Bisa kita ketemu? Aku udah di café biasa.


Sebelum aku menjawabnya, aku melirik ke Davis. Bagaimana caraku meminta ijin untuk menemui Daniel? Masalah yang tadi aja bikin dia marah, apalagi sekarang?


Hufh,,,


Kembali notifikasi pesan masuk, ini kemungkinan dari Daniel. Bagaimana ini? Aku kembali meliriknya.


“Kenapa lirik-lirik?” tanya Davis ketus.


“Baru aja nikah, kok udah marah-marah sie mas?” aku berusaha melembutkan nada suaraku.


“Habisnya kamu sie. Permintaanmu aneh.” Dia masih ketus.


“Yaudah aku minta maaf, sekarang mau kamu apa mas? Katakan!”


“Aku gak mau berdebat lagi. Kalau kamu mau merahasiakan, oke aku ikuti. Tapi kalau buku nikah sudah di tangan, terserah aku mau mengumumkan kapan saja dan di mana saja!” ancamnya sudah dengan nada lembut bahkan terkesan manja.


“Iyaa, mas” aku tersenyum lalu mendekatinya dan mencium tangannya.


“Terus sekarang mau apalagi?” tanyanya kemudian membuatku heran.

__ADS_1


“Kok kamu tau mas?”


“Yaa nebak aja dari ekspresi wajahmu itu!”


“Mas, Daniel minta ketemu, dia—“ Davis segera menyela.


“Gakkkk!!!” jawab Davis tegas dan keras.


“Sssttt, jangan keras-keras mas, nanti bapak sama ibu denger!” aku segera berdiri lalu menutup pintu kamar yang ditempati bapak dan ibu.


“Sayang, ini nie, yang aku gak suka! Kalau dia tau kita sudah nikah, dia gak bakal berani ajak ketemu kamu lagi!” kata Davis kesal.


“Mas inget kan, ada masalah kami berdua yang belum kami selesaikan. Tolonglah mas beri aku ijin menemuinya, minimal untuk menolak lamarannya!”


“Oke aku ijinin. Tapi harus denganku!”


“Masss,,,,,” aku bersuara manja.


“Na, dengerin aku!” Davis bangun dan kedua telapak tangannya menangkup wajahku, dengan mata saling bertatapan.


“Kalau kamu takut menimbulkan fitnah, aku tak mengijinkan kamu menemuinya sendiri karena aku ingin membantumu menjelaskan padanya. Walau bagaimana pun juga, keputusan penolakanmu ada andilku juga!”


“Kalau kamu menemaniku, justru dia akan berpikir aneh-aneh mengenai kita bertiga. Iya kalau dia berpikir kita sudah menikah, tapi kalau yang lain gimana?”


“Mas,,,percaya sama aku ya? Hmm?” aku pun memegang kedua lengannya yang tangannya masih menyentuh pipiku.


Hufh. Davis melepaskan tangkupannya dan membuang muka.


“Yaudah. Sana!”


“Iklas gak nie?” aku meyakinkannya.


“Iya. Tapi aku beri waktu paling lama 30 menit. Tidak boleh lebih!”


“Oke” aku pun bergegas langsung menelponnya.


“Niel, aku segera turun!” ucapku to the point.


“Happy banget nie yang mau ketemu bule ganteng!” ledek Davis.

__ADS_1


“Tuuh kan, tuhh kan mulai lagi deh! Baru aja bilang ikhlas, kenapa sekarang ngeledek begitu?” aku yang hendak menuju pintu keluar, terhenti sejenak mendengar ledekannya.


Davis berdiri lalu mendekatiku dan memegang kedua pundakku “Maaf. Inget ya! Cepet kembali!” aku menjawabnya dengan tersenyum dan menganggukkan kepalaku.


“Owh iya cincinnya!” aku pun balik badan kembali ke kamar.


“Cincin apa, Sayang?” tanya Davis setelah melihatku keluar kamar lagi.


“Cincin yang Davis titipkan padaku!”


“Astaga. Ternyata dia beberapa langkah lebih menarik dibanding aku. Dia melamar dengan romantis, mana udah disiapin cincinnya pula!” Davis mendudukkan dirinya di sofa dan menumpang kaki kirinya ke kaki kanannya.


“Hah??? Lamaran romantis?” aku sedikit berteriak karena kaget Davis mengatakan itu.


“Ck,,,”


“Udah cepet sono segera dibalikin cincinnya! Aku bisa belikan yang jauh lebih bagus dan mahal daripada itu” Davis menunjuk kotak bludur ditanganku dengan matanya sementara itu tangannya mendorong pundakku menuju ke pintu.


“Assalamu’alaikum” aku mengucapkan salam hendak pergi.


“Wa’alaikum salam”  Davis melepas kepergianku sambil tetap melihatku dari depan pintu.


DANIEL POV


Aku tengah menunggu jawaban pesan Narita yang memintanya untuk menemuiku. Cukup lama aku menunggunya sampai akhirnya dia menelponku dan mengatakan akan segera turun.


 Aku kembali teringat kejadian beberapa menit yang lalu.


Flash back on


Aku sengaja ingin memberi kejutan pada Narita. Aku yakin biasanya jam segini dia ada di apartemen. Narita keluar apartemen hanya untuk ke kantor, pengajian tiap hari minggu pagi sampai dengan siang, dan nongkrong dengan temen-temen genk kami atau temen-temen lamanya.


Beruntungnya aku bisa mendapat tempat parkir tepat di depan pintu lobby. Ketika hendak keluar dari mobilku, selintas aku melihatnya berjalan menggandeng 1 orang wanita paruh baya dan di belakangnya ada 2 orang laki-laki. Aku tak cukup jelas mengetahui siapa ketiga orang itu karena saat itu mereka telah ada di dalam lobby yang berpintu kaca. Aku dapat mengenali Narita karena dia membalikkan wajahnya untuk berbicara dengan 2 orang pria yang ada di belakangnya.


Siapa mereka? Kalau dilihati dari penampilan, terlihat seorang wanita paruh baya lebih cocok sebagai ibunya, seorang laki-laki juga kalau dilihat dari rambutnya aku perkirakan berumur 50 tahunan, sedangkan seorang laki-laki lainnya bertubuh tinggi, besar, tegap, dari belakang terlihat masih muda. Narita selama ini tak pernah mengijinkan kami para pria masuk ke apartemennya. Kalau mereka diijinkan masuk, berarti mereka kemungkinan saudaranya.


Apa mungkin itu bapak, ibu, dan adik laki-lakinya?


Setelah tubuh mereka menghilang dibalik pintu lift, aku pun keluar dari mobil dan menuju ke café biasa tempatku dan Narita bertemu. Aku memilih meja yang tak begitu banyak dilewati orang.

__ADS_1


Flash back off


---- TO BE CONTINUED ----


__ADS_2