CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KU MENANGIS


__ADS_3

DANIEL POV


 


Aku membantu memapah Narita berjalan dari toilet kembali ke meja kantin. Kulihat dia sangat lemah, ingin rasanya aku menggendongnya saja, tapi Abel melarang dengan keras. Meskipun Narita hanya memiliki sedikit tenaga yang sangat lemah, tapi sepertinya dia berusaha untuk dapat berjalan.


Selama perjalanan menuju ke meja, beberapa kali aku memanggilnya, namun dia tak menyahut. Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja. Aku menanyakan pada Abel, apa yang telah terjadi dengan Narita. Abel bercerita bahwa saat dia masuk ke toilet, Narita hampir terjatuh. Abel tau kalau Narita habis muntah-muntah, Abel juga cerita kalau tadi pagi pun Narita muntah-muntah.


Saat kami telah sampai di meja kami, Abel yang memapah dari sebelah kiri badan Narita akhirnya duduk di sebelah kirinya sedangkan aku duduk di sebelah kanan. Melihat kondisinya yang lemah, aku sungguh tak tega, tanpa kusadari aku merangkul pundaknya berharap dia mampu bertumpu pada tanganku yang kuat. Ketika Narita menyadari bahwa tanganku merangkulnya, dia menjauh, dan aku pun terpaksa melepaskan rangkulanku.


Andai Engkau mengijinkan, aku mau kok Na merangkulmu, menahan beban tubuhmu, menjadi tumpuan segala beban hidupmu.


Namun, sepertinya Engkau malah menjauh.


Sakit hatiku, Na kau perlakukan aku begitu.


Aku tak tau apa yang sedang terjadi dengannya, tapi aku liat mata yang biasanya nampak cerah dan ceria kini menjadi sendu. Tak melihatnya beberapa hari, tapi aku tau berat badannya menyusut banyak. Wajahnya pucat, pandangannya sayu, tubuh makin kurus dan lemah. Ada apa denganmu, Naritaku?


Selama ini mengenalnya tak pernah kulihat wajah sesendu ini. Apakah dia yang telah kamu pilih, mengecewakanmu? Apakah dia yang telah membuatmu bersedih? Apakah kamu tak bahagia dengannya?


Andaikan kamu memberiku kesempatan, akan aku berikan segenap cinta dan sayangku padamu. Kuberikan seumur hidupku, menjagamu, membagi bebanmu, membahagiakanmu selamanya. Takkan kubiarkan matamu meneteskan air barang cuma setetes. Takkan kubiarkan engkau kesepian. Selalu kupastikan engkau berwajah ceria, cerah, dan bersinar seperti biasanya.


Saat kursi roda telah siap, kami telah selesai makan, aku membantunya menaiki kursi roda lalu mendorongnya.


“Niel, biarkan kursi rodanya aku yang dorong!” Abel hendak mengambil alih posisi di belakang Narita, namun aku tak bergeming dari posisiku.


“Biar aku aja Bel!” tolakku.


“Apa kamu gak mau jaga image seorang Direktur?” bisik Abel di telingaku, lalu aku hanya tersenyum masih memandang ke depan.


“Gak” jawabku singkat dan mantap.


Saat pintu lift terbuka di lantai 5, aku mendorong kursi roda itu keluar lift.


“Sampai sini aja, Niel!” Narita menoleh ke belakang.


“Biar aku dorong sampai dalam!” tolakku.


“Orang aku mau turun kok!” Narita hendak turun dari kursi roda, namun tanganku segera menahan punggungnya agar tetap duduk.


“Kalau kamu nekat turun, sekalian aja aku gendong, mau!?” gertakku yang membuat Narita dengan terpaksa kembali duduk. Kulihat wajahnya cemberut aku gertak seperti itu.


"Makanya nurut aja kalau disuruh! Jangan sok kuat tapi nanti ujung-ujungnya menyusahkan orang" ku lihat dia makin tak bergeming saat aku ceramahin. aku hanya sedikit mengulas senyum.

__ADS_1


Kini aku membawanya ke meja kerjanya sementara itu Abel tadi masuk ke toilet.


“Makasih, Niel!” Narita sudah berpindah duduk di kursi belakang mejanya.


“Sama-sama.”


“Kamu bawa mobil?” Narita menjawab dengan anggukan.


“Nanti aku anter kamu. Mobilmu tinggal di kantor aja!” suaraku sudah bernada perintah dan seolah tak ada yang boleh membantahnya.


“Gak usah, Niel. Makasih. Aku nanti minta jemput kekasihku!” hatiku sakit mendengarnya menyebut kata ‘kekasih’, baru kali ini perintahku dibantah oleh seseorang.


“Ok. Jaga baik-baik dirimu! Jangan menunda untuk makan. Aku pergi dulu” tak ada yang bisa aku paksakan lagi, lebih baik aku pergi demi menjaga kewarasanku.


Narita menjawabnya dengan mengangguk pelan.


Saat aku keluar pintu, kulihat Abel tengah menuju pintu masuk, segera kudekati dia.


“Bel, sejak kapan dia terlihat lemah kaya gitu?” tanpa basa-basi aku bertanya sembari menatap Abel.


“Aku gak begitu merhatiin, Niel. Tapi beberapa hari terakhir ini dia sering tiba-tiba muntah!” jawab Abel.


“Apa dia pernah bercerita padamu?”


“Kekasihnya?” jawabku singkat.


“Tadi.”


“Apa yang dia bilang?”


“Dia bilang kekasihnya sedang dines keluar negeri, komunikasi mereka sedang tidak baik sepertinya”


“Apa? Dines keluar negeri?” aku seolah tak percaya dengan pendengaranku, Abel mengangguk mantap.


Lalu kenapa dia membohongiku dengan mengatakan bahwa dia nanti akan dijemput kekasihnya? – pertanyaan ini hanya mampu aku utarakan dalam hati.


“Bel?” panggilku kembali membuat Abel kembali menoleh padaku.


“Gak mungkin kan Narita melakukan itu sebelum menikah?”


“Maksudmu?” tanya balik Abel.


“Muntah-muntahnya, wajah pucatnya, lemahnya tubuhnya saat ini, gak mungkin karena dia-------?” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku.

__ADS_1


“Sssstttttt” Abel meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibirnya.


“Jangan pernah meragukan Narita, Niel. Kalau kita sahabatnya saja meragukannya, bagaimana dengan yang lain!” Abel mulai kesal mengatakannya.


“Bukan gitu maksudku, Bel!” aku tengok kanan dan kiri melihat situasi agar tak ada yang mendengar perbincangan kami.


“Tapi kalau sampai lelaki itu berani macam-macam padanya, lalu pergi kabur keluar negeri, awas aja!”


“Aku yakin Narita gak akan semurah itu!” ujar Abel cepat.


“Di antara kita, hanya dia yang memiliki pendirian paling teguh!”


“Percayalah padaku, Niel!” tatapan mata Abel seolah berusaha meyakinkanku, dan aku mengangguk percaya.


 


NARITA POV


 


Aku masih memikirkan pertanyaan Abel tadi waktu di kantin. Lalu aku membuka browser dan mengetik informasi mengenai ciri-ciri dan tanda-tanda wanita hamil. Beberapa web yang kubuka, menunjukkan bahwa-----.


Aku meraup wajahku kasar. Perasaan yang entah tak dapat aku ungkapkan. Ada perasaan bahagia namun juga khawatir menjadi satu. Segera aku berkirim pesan ke suamiku tercinta.


Aku: Mas….


Aku: Kamu sibuk banget ya?


Aku: Kenapa tak kau balas pesanku?


Aku: Mas, aku merindukanmu 🤗😭😭😭


Aku: Mas,,,


Aku: Ada hal yang ingin aku ceritakan padamu. Tolong balas wa ku atau telpon aku secepatnya ya!


 


Aku kembali melemah menyadari bahwa pesanku hanya centang 1. Sesibuk itukah dirinya hingga tak sempat membalas pesanku?


Apakah gerangan yang sedang dia kerjakan hingga dia mengingkari janjinya sendiri.


Mas, aku sebel sama kamu. Aku marah sama kamu.

__ADS_1


Emosiku yang tak stabil, membuatku tiba-tiba aku meneteskan air mata sambil memandangi ponselku. 


__ADS_2