CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
TAARUF 1


__ADS_3

DAVIS POV


---- Kantor ----


Hari ini adalah hari Jumat, aku telah kembali masuk kantor. Aku hanya meninggalkannya selama 2 hari namun pekerjaan menumpuk begitu banyak. Usulan strategi-strategi baru yang diajukan oleh bagian Project Planner yang digawangi oleh Narita, masuk begitu banyak.


Ahh, hanya mengingatnya menjadi salah satu bagian penting di perusahaanku saja, sudah membuatku tersenyum bangga. Aku membaca beberapa usulan strategi, ada beberapa hal yang perlu usaha besar untuk pengaplikasiannya. Di era digital seperti sekarang ini, peran bidang IT sangat besar untuk mendukung pengembangan suatu usaha, termasuk usahaku.


Melalui intercom, aku meminta Sekretarisku Permata untuk mempersiapkan rapat dengan bagian-bagian terkait. Ketika waktu pelaksanaan rapat telah tiba dan seluruh peserta rapat telah berkumpul di ruang rapat Dirut, aku segera memasuki ruang rapat. Seseorang yang aku harapkan untuk menghadiri rapat ternyata tidak bisa datang karena ada pekerjaan di luar kantor yang harus diselesaikan.


Kami pun membahas banyak hal, salah satunya ada strategi periklanan. Konsep iklannya memang belum ada, namun dari bagian marketing mengusulkan bintang iklannya adalah karyawan kami sendiri. Dipilih yang memiliki look menarik sehingga mudah menggaet follower di media sosial. Ya, iklan melalui youtube channel dan instagram adalah salah satu yang paling efektif untuk saat ini.


Beberapa orang memintaku dan Alin untuk menjadi pemeran utama iklan dimaksud. Namun aku menolak. Semua pihak mendesak, dengan berbagai argument yang mereka utarakan hingga aku pun tak bisa mengelak. Dengan berat hati, aku menyetujuinya, dengan syarat aku tak mau sepenuhnya diatur oleh sutradara iklan. Lalu ku minta bagian umum untuk segera mempersiapkan kerjasama dengan perusahaan periklanan.


NARITA POV


Sudah 4 hari aku tak bertemu dengan Davis. Kami hanya bertukar pesan dan terkadang video call. Kesibukannya sebagai seorang Dirut rupanya menuntutnya untuk bekerja lebih keras lagi, bahkan beberapa kali kami video call, dia masih berada di kantor.


Sejak Daniel melamarku, dia jadi lebih berani untuk bertandang ke ruanganku, membawakan cemilan untuk dibagikan dengan rekan seruanganku, dan bahkan sengaja mengajakku makan berdua saja. Sebenarnya bukan hal yang aneh bila aku dan Daniel makan berdua, namun ketika kami mengajak teman se genk kami, mereka pasti akan menolaknya.


Sedangkan Arnold, mengetahui Daniel telah berani melamarku, dia mulai menjaga jarak. Dia sudah tidak pernah mengirimiku kopi dan cemilan. Jarang komen di grup genk. Bahkan ketika kami tidak sengaja bertemu, dia hanya menganggukkan kepala tanpa mengucapkan salam sepatah kata pun.


Genk kami juga beberapa minggu ini jarang bertemu. Ada beberapa yang sibuk dengan pekerjaannya, pasangannya atau dalam proses pedekate, aku pun diam-diam ambil kursus Bahasa Inggris (IELTS) untuk meraih cita-citaku yang lain.


Mengenai lamaran Davis dan Daniel, aku sudah berusaha meminta petunjuk untuk memutuskan mana pilihan yang akan aku ambil. Dua minggu berlalu namun aku masih galau dan belum bisa memutuskan apapun.


Aku kembali teringat akan jadwal pengajian rutinku esok hari. Pak ustadz beberapa kali mengingatkan para peserta taaruf yang akan dipertemukan untuk tidak lupa hadir di pengajian. Aku cukup penasaran dan deg-degan, siapakah gerangan orang yang telah memilihku, apakah kami akan saling cocok? Sebenarnya aku telah memiliki biodatanya, namun sepertinya aku belum pernah mengenalnya sebelumnya.


Mbak Sriti pun kembali mengingatkanku untuk jangan lupa datang. Dia telah kuminta untuk mendampingiku, agar aku lebih percaya diri.


Keesokan harinya, seusai subuhan, aku segera masak, bersih-bersih apartemen, makan, lalu mandi. Entah kenapa, pengajian kali ini aku ingin mengenakan gamis dan hijab syar’I padahal kalau biasanya Cuma pake celana panjang jeans, baju hem lengan panjang, dan kerundung yang tersampir di kepala. Seusai berdandan, kupandangi penampilanku dari pantulan cermin lebar yang menampilkan seluruh badanku. 

__ADS_1


“Alhamdullillah” aku tersenyum sembari memutar-mutar tubuhku di depan cermin.


Kali ini aku mendapatkan pesan dari mbak Sriti kalau dia telah sampai di tempat pengajian, sementara aku malah belum berangkat. Setelah membaca pesan itu, segera aku turun ke parkiran dan berangkat mengendarai mobilku.


Sesampainya di lokasi, segera aku memarkir mobilku, lalu menghubungi mbak Sriti.


“Naritaaa,,,,” mbak Sriti langsung memelukku ketika kami telah bertemu. Aku heran dengan sikapnya kali ini.


“Tumben mbak?? Kenapa??” kataku setelah kami melonggarkan pelukan.


“Akhirnya Na” mbak Sriti kembali mengeratkan pelukannya.


“Mbak,,ini kan baru perkenalan awal. Belum tentu juga kami cocok” ucapku seraya menepuk punggung mbak Sriti yang tengah memelukku.


“Hush, jangan bilang gitu. Kali ini aku yakin dia adalah seseorang yang selama ini kamu tunggu-tunggu. Aku yakin kamu dan dia akan saling cocok” mbak Sriti menatapku setelah melepaskan pelukannya.


“Aamiin” ucapku seraya menangkupkan kedua telapak tanganku ke mukaku.


Para peserta taaruf telah dikumpulkan di ruangan terpisah. Para muslimah dikumpulkan dalam satu ruangan. Sebelum kami dipertemukan, kami diberikan arahan terlebih dahulu oleh ustazah mengenai bagaimana cara kita bersikap, menjawab pertanyaan, dan memilih kata-kata untuk menerima atau menolak taaruf dengan calon kita.


Kami pun diminta menunggu untuk bisa dipertemukan. Mengingat dalam pertemuan ini, kami didampingi ustadz, ustadzah dan beberapa saksi dari panitia pengajian, jadi kami harus menunggu giliran tersebut.


Ketika seorang muslimah dipanggil, aku memperkirakan waktu yang mereka habiskan di dalam ruangan itu sekitar 30 menitan, meskipun ada yang cuma 15 menit.


“Na, tanganmu dingin banget. Kamu nervous ya?” tanya mbak Sriti.


“Iya mbak. Aku juga deg-degan mbak” ucapku kemudian.


Tak ayal selama waktu menunggu yang cukup lama ini, aku udah beberapa kali mondar mandir kamar mandi.


Menurut informasi ustadzah yang tadi memberi kami pengarahan, untuk hari ini terdapat 11 pasangan yang akan dipertemukan. Kami menunggu antrian sesuai dengan nomor yang telah diundi dan dipegang oleh pihak laki-laki. Aku sendiri tak tau aku mendapatkan antrian nomor berapa. 

__ADS_1


Aku dan mbak Sriti menghabiskan waktu menunggu dengan bercerita. Kami masing-masing bertukar pengalaman mengenai pekerjaan dan aktifitas masing-masing. Sesekali bahkan mbak Sriti mengeluarkan joke nya yang membuatku sedikit melupakan kegugupanku.


Tanpa terasa, akhirnya namaku pun disebut. Kepalaku terasa berat, mataku berkunang-kunang, badanku lemas, kakiku lemas seolah tak bertulang. Bahkan aku yang akan bangkit dari duduk lesehan pun limbung dan hampir terjatuh kalau tidak segera dipegangi oleh mbak Sriti.


“Na, kamu kenapa? Sakit?” tanya mbak Sriti khawatir.


“Mbak sehat kan?” tanya ustadzah.


Aku hanya membalas dengan senyuman dan berucap “ Insyaalloh sehat bu. Mungkin ini karena efek nervous aja bu”


“Oke gak usah buru-buru, tenangin diri dulu mbak! Apa mungkin mau diinterupsi 1 peserta lain dulu?” usul ustadzah.


“Tidak perlu bu. Saya ingin sekarang. Lebih cepat lebih baik” Aku pun menyiapkan diri, hati, dan fisikku untuk memasuki ruangan itu.


Aku mengekor ustadzah yang telah terlebih dahulu memasuki ruangan itu.Aku hanya berani menunduk.


Kala namaku disebut dan dipersilahkan untuk duduk tepat di samping ustadzah, saya turuti namun masih dengan pandangan menunduk.


Setelah saya duduk, pak ustadz mulai berkata:


Assalamu’alaikum,


Saudari Nak Narita Prameswari, beberapa hari yang lalu ada seorang pemuda yang Insyaalloh sholeh, mapan, berpendidikan, dan sudah siap menikah yang meminta saya untuk diperkenalkan dengan salah satu muslimah binaan saya melalui proses taaruf.


Kemudian beliau memberikan biodatanya dan saya pun memberikan biodata para muslimah yang telah siap untuk berumah tangga.


Hari ini beliau hadir, meminta untuk dipertemukan dan diperkenalkan dengan Nak Narita yang kalau memang berjodoh dan kalian saling cocok, Insyaalloh dapat berlanjut ke jenjang selanjutnya.


Nak Narita, dipersilahkan mengangkat wajah dan memperkenalkan diri!


Pelan-pelan aku angkat wajahku dan pertama yang ada di benakku adalah mencari keberadaan pak Ustadz. Karena sepengetahuanku di ruangan itu lumayan banyak orang, aku takut salah menebak siapakah seseorang yang mengajakku taaruf.

__ADS_1


Namun ketika mataku menemukan sosok seseorang yang kukenal, yang sama sekali tak pernah kuduga akan berada di sana, seketika mataku terbelalak, aku tutupi mulutku yang menganga karena terkejut dengan kedua telapak tanganku. Seluruh badanku terasa kaku seolah tak mampu kugerakkan. Aku terpaku di tempat selama beberapa menit lamanya.


__ADS_2