CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
BOLEHKAH AKU MENGUNJUNGIMU?


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Siang ini Narita hendak berangkat ke kampus, dia akan menemui beberapa temannya dan mendiskusikan mengenai penelitian mereka masing-masing.


Ketika hendak mengendarai sepedanya, tiba-tiba ponselnya berdering.


“Hallo, Tuan Drake” sapa Narita setelah mengetahu bahwa Drake lah yang menelponnya.


“Kamu sudah selesai packingnya?”


“Sudah, Tuan. Tapi saya sudah mau berangkat ke kampus”


“Tunggu 15 menit lagi kami sampai.”


“Baik, Tuan”


Usai Narita mengawasi barang-barangnya yang tengah diangkut oleh beberapa bule berbadan kekar, kini dia siap untuk berangkat ke kampus.


--- Taman dekat perpustakaan ---


“Hai, Narita!” teriak seorang pria sembari melambaikan tangannya pada Narita.


Narita sedikit berlari mendekat ke tempat para pria itu berkumpul. Ya, di sana ada 4 orang temen kampusnya, sesama mahasiswa S3.


“Sorry aku terlambat” Narita dengan suara terengah-engah.


“Never mind. Duduklah” seorang menawari Narita duduk di sampingnya, tanpa berpikir panjang, dia pun mengikuti tawarannya.

__ADS_1


“Gimana penelitianmu? Sudah sampai tahap mana? Bagaimana dengan professor pembimbingmu?” tanya pria itu pada Narita.


Mereka pun terlibat diskusi yang sangat serius. Masing-masing memangku laptopnya. Sesekali ada yang terlihat mengetik, ada yang memperhatikan penjelasan, dan ada yang saling melemparkan pendapatnya.


Narita yang sangat mudah bergaul, begitu bersyukur memiliki banyak teman untuk berdiskusi dalam penelitiannya. Bukanlah hal yang mudah baginya untuk berkuliah S3 di Australia. Di sini tidak ada jadwal perkuliahan, namun masa perkuliahan hanya ada penelitian. Mereka ditarget untuk menyelesaikan beberapa penelitian. Apabila mereka tidak menyelesaikan penelitiannya dengan tepat waktu maka akan semakin memberatkan di tahun-tahun terakhirnya.


Beruntunglah Narita bukan tipe orang yang suka menunda-nunda pekerjaannya. Dia sengaja tidak membawa kedua anak kembarnya dengan beberapa alasan yaitu ingin melihat situasi dan kondisi perkuliahan, ritme penelitian, dan seberapa berat beban yang harus dia selesaikan. Kalau dirasa, dia memiliki waktu yang cukup untuk penelitian sekaligus mengasuh anak, mungkin dia akan membawanya.


Nyatanya tahun pertama sangatlah berat, karena Narita butuh penyesuaian diri. Nah, karena dia telah mampu menyesuaikan diri, dia merasa bisa mengatur waktu untuk ke kampus di siang hari, sedangkan pagi dan sore off, oleh karena itulah dia mencoba mencari kerja part time.


Flashback On


Awal mula dia bekerja sebagai nanny Karen pun, adalah suatu hal yang kebetulan. Saat itu Narita tengah berada di taman deket komplek rumah Karen, dia sengaja mencari dan menjelajah beberapa taman yang asri dan sejuk untuk mencari inspirasi dalam menulis. Ketika mata Narita menangkap tingkah lucu anak bule yang seumuran sama anaknya, hatinya pun menjadi tergerak untuk mendekatinya. Melihat anak kecil itu, dia merasakan kangen yang teramat dalam pada anaknya.


Ketika Narita mendekati Karen, Karen yang sedang duduk di rumput diajak bicara dan diajak becanda. Bocah kecil yang biasanya takut dengan orang yang baru ditemuinya itu, ternyata tidak merasa takut didekati oleh Narita. Narita yang hendak belajar, malah justru menghabiskan waktunya hampir satu jam untuk menggendong, mengajak bermain dengan Karen, sekaligus mengobrol dengan nanny Karen kala itu.


Ketika si cantik bule hendak pulang, Narita meminta nanny nya untuk kembali membawa Karen besok ke taman itu lagi. Dari situlah akhirnya terjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Nanny nya Karen pun merasakan bahwa Narita sangat tulus dengan Karen, jadi tak ada alasan baginya untuk mencurigai Narita.


Meskipun tiap hari Narita selalu video call dengan anak-anaknya, tapi sebagai seorang ibu, dia selalu kepikiran pada anak-anak yang harus dia tinggalkan ketika mereka masih berusia 4 bulan. Ya, kala Narita pergi ke Australia, Daffa dan Dafina baru berusia 4 bulan. Sebenarnya dia tidak tega menitipkan kedua buah hatinya itu pada sang ibu yang memang sudah berusia senja, namun mau bagaimana lagi, dia tak mungkin membawanya. Uang saku beasiswa Narita sebagian dikirimkannya ke kampung untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Daffa dan Dafina, sekaligus membayar asisten yang membantu ibu mengurus kedua anaknya.


Ketika nanny nya pada saat itu mengungkapkan bahwa dia akan resign, nanny nya menawarkan Narita untuk menjadi nanny bagi Karen. Narita yang telah mampu menyesuaikan diri hidup di Australia dan merasa memiliki waktu luang di pagi dan sore harinya, ditambah lagi jarak antara tempat tinggalnya, rumah Karen, dan kampusnya tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan menggunakan sepeda, dan selain itu mendapatkan gaji yang nantinya bisa untuk tambahan biaya hidupnya dan anak-anaknya, membuat Narita menerima tawaran itu.


Mengingat Narita adalah rekomendasi dari nanny sebelumnya, dan ketika Drake mewawancarainya dan mengetesnya dengan meminta Narita berkenalan sekilas dengan Karen, ternyata Karen sangat enjoy dan tak ketakutan, akhirnya Drake menerimanya. Ya, Drake menerima Narita bekerja sebagai nanny sesuai ketentuan dari Narita, hanya bekerja pada pagi dan sore hari, dengan kesepakatan jam kerja yang telah disepakati bersama.


Flashback Off


Mereka telah siap-siap untuk berpisah, karena diskusi telah usai.


“Na, aku antar ya!” ajak salah satu teman Narita yang bernama Darren.

__ADS_1


“Gak usah, Darren. Terima kasih. Aku naik sepeda” jawab Narita dengan mengulas senyum.


Ketika teman-teman yang lainnya telah berpamitan, Darren masih setia menemani Narita berjalan menuju parkiran sepedanya.


“Kamu masih tinggal di sana?”


“Di sana? Emang kamu tau aku tinggal di mana?” Dahi Narita berkerut, cukup heran dengan pertanyaan Darren.


“Owh, waktu itu aku sempet melihatmu masuk sebuah dormitory” Darren sedikit nyengir menyadari kekhilafannya menanyakan hal itu karena sesungguhnya dia selama ini diam-diam membuntuti Narita.


“Owh gitu. Aku baru pindah hari ini.” Kata Narita.


“Pindah? Kemana?”


“Aku bekerja sebagai nanny, jadi aku tinggal di rumah tuanku”


“Kerja? Jadi nanny? Kalau kamu membutuhkan pekerjaan, kenapa gak bilang? Di perusahaanku bisa kerja part time, part time bukan dari jam kerja, tapi dari output pekerjaan yang mampu diselesaikannya. Jadi waktunya fleksibel” terang Darren.


“Perusahaanku?” tanya Narita heran.


“Hehe, iya Na. Kebetulan keluargaku punya usaha kecil-kecilan, memiliki beberapa karyawan. Jadi kalau ditambah kamu doan, kami masih bisa menggajinya” Darren menjawabnya dengan cengiran khasnya.


Narita pun mengulas senyum menatap Darren yang seolah menutupi suatu hal, karena dia mengatakannya dengan sedikit nada gugup.


Ya, memang Narita banyak kenal dan akrab dengan orang-orang, tapi tidak semua temannya bersedia untuk berbagi kehidupan pribadinya dengan Narita. Bahkan tak ada satu pun teman Narita yang mengetahui bahwa dia telah memiliki anak. Begitu pun sebaliknya, Narita tak pernah tau bagaimana dengan kehidupan pribadi dari teman-temannya. Mereka bertemu hanya sebatas membahas mengenai penelitian, professor mereka masing-masing, dan segala hal tentang Australia, namun tak ada satu pun yang menceritakan mengenai kehidupan pribadi masing-masing. Narita pun tak pernah ingin tau akan hal itu, jadi dia tak pernah mempertanyakannya. Baginya, mereka mau berdiskusi mengenai penelitian mereka saja, sudah sangat bersyukur bagi Narita, apalagi dia memang berada di negara yang tingkat individualismenya cukup tinggi, wajar kalau mereka bersikap seperti itu.


Sesampainya mereka di parkiran sepeda, Narita berpamitan.


“Darren aku duluan!”

__ADS_1


“Na, bolehkah kapan-kapan aku mengunjungimu di tempat tinggalmu saat ini?”


__ADS_2