
NARITA POV
Kondisiku yang sedang tidak baik-baik saja baik dari segi fisik maupun emosi, membuatku memilih pulang naik taksi online saja. Sebenarnya Daniel memaksaku untuk pulang bareng, tapi aku tak mungkin juga menerima tawarannya karena kan sekarang aku sudah pindah ke rumah Davis.
Aku sengaja pulang on time agar Daniel tak terus memaksaku pulang bareng. Namun, ketika aku sudah di taksol, ada pesan masuk dari Daniel.
Daniel: Na, aku ke ruanganmu sekarang. Kita pulang bareng!
Aku: Maaf Niel. Terima kasih atas niat baikmu, aku sudah di taksol. 😬
Daniel: Aku susul, sudah sampe mana taksolnya?
Aku: Aku masih mau mampir-mampir. Terima kasih. Tidak usah. 🙅♀️
Daniel: Aku pastikan kamu periksa ke dokter dulu, Na!
Aku: Iya, Niel. Jangan khawatir. Rencananya, aku mau mampir ke klinik 24 jam juga kok.
Daniel: Serius? Beneran lho ya!
Aku: Iya. 👌🏻
Setelah aku memasukkan ponselku kembali ke tas, aku meminta sopir taksol untuk berhenti di apotik, rencananya aku mau beli tespack.
Aku pun akhirnya membeli 3 macam tespack dengan jenis dan harga yang berbeda.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk kamar dan mandi. Setelah itu turun ke lantai dasar untuk makan malam. Kali ini aku tak lupa membawa ponsel.
“Makan malam sudah siap Nyonya.” Ucap bi Jah, kubalas dengan senyuman dan anggukan kepala.
“Terima kasih, Bi!” jawabku sembari mendudukkan diriku di kursi.
Aku memandangi ponsel dan mulai menelpon Davis. Sambungan telpon melalui wa ternyata tidak nyambung, akhirnya kuputuskan untuk menelpon melalui jaringan seluler. Tidak ada tanda apa pun, sepertinya ponselnya mati. Ada apa ini? Aku mulai khawatir.
“Kenapa Nyonya? Wajah Anda pucat sekali” Bi Jah menelisik mendekatkan wajahnya ke wajahku.
__ADS_1
“Masa Bi?”
“Iya. Nyonya sakit? Atau—” Bi jah tak melanjutkan kalimatnya.
“Atau apa Bi?”
“Hmm anu Nyah, maksud Bi Jah, hmmmmmmmmm atau lagi kangen sama Den Davis?” mendengar Bi Jah mengatakannya dengan ragu-ragu, aku hanya membalasnya dengan tersenyum.
“Iya, kangen Bi!” aku cengar cengir meskipun pede mengatakannya.
“Sudah telpon?” tanyanya lagi.
“Gak diangkat, Bi. Apa Davis pernah telpon ke Chef atau Bi Jah atau yang lainnya?”
“3 hari yang lalu, Nya. Itu pun hanya menanyakan mengenai kabar Nyonya sama katanya beliau sedang menyiapkan Kepala ART untuk ditempatkan di sini” Bi Jah menjelaskan dengan posisi berdiri.
“Ayo Bi, duduk. Makan malam sekalian!” aku mulai menyendok nasi, lauk, dan sayur.
“Makasih, Nya. Saya sudah makan.” tolaknya.
“Yaudah duduk sini aja, temeni saya makan sambil ngobrol” akhirnya Bi Jah duduk di kursi depanku.
“Bi, sudah lama kerja di sini?”
“Bibi sudah pernah ketemu kedua orang tua Davis?”
“Tentu sudah” jawabnya sembari tersenyum simpul dan manggut-manggut.
“Berapa tahun sekali mereka balik Indo?” aku sembari menyendokkan makanan ke mulutku.
“Wah saya juga gak begitu ngeh. Mereka pindah-pindah jadi belum tentu setahun sekali ke sini” jawabnya pelan seperti sedang mengingat-ingat.
“Berarti selama Davis di luar negeri, orang tua nya juga gak di sini, Bibi masih jagain rumah ini?”
“Iya. Kalau pas tidak ada yang di sini. Hanya ada 6 orang yang jagain rumah. 2 orang tukang taman, 2 orang yang bersih-bersih rumah dan 2 orang satpam. Chef hanya ada kalau ada anggota keluarga yang akan datang dan menginap di rumah ini, tapi kalau tidak ada orang, chef akan balik ke hotel.” Penjelasan Bi Jah cukup panjang.
“Bibi apakah pernah dibawa ke mereka tinggal di luar negeri?” tanyaku seolah menginterogasi, tapi dia jawab dengan gelengan kepala.
Aku menjeda obrolanku, aku ingin sekali menanyakan mengenai alasan Davis yang sering bolak balik ke Aussie, tapi setelah aku menimbang-nimbang, sepertinya keluarga ini tak begitu terbuka ke ART nya, jadi sudah bisa dipastikan Bibi tidak tau.
__ADS_1
“Hmmm, ada yang sedang menggajal pikiran Nyonya muda?” tanyanya dan aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
“Nyonya itu sederhana, cantik ala Indonesia, baik, dan sangat ramah. Meskipun dia istri orang kaya tapi masih mau ngobrol dengan kami orang-orang kecil ini” Bi Jah menceritakan mengenai sosok Mommy Davis.
“Kalau Mr. Dawson itu bule, Nya. Heheheh aduh ganteng deh pokoknya. Tapi beliau tegas orangnya jadi kami semua segan.”
"Kalau Den Dave kakaknya Den Davis itu aduhh ganteng pisan euy. Muda, ganteng, berkharisma, dan berwibawa,hehehhehe…. Cuma sama tegasnya dengan Mr. Dawson, jadi kami pun segan” Bi Jah menceritakannya dengan tertawa ringan dan malu-malu ketika menyanjung ketampanan pria di keluarga ini.
“Kalau menurut Bibi sendiri, Davis gimana orangnya?”
“Dibandingkan ketiganya, Bibi paling mengenal sosok Den Davis. SMP dan SMA Den Davis kan di Indonesia, dan kami sudah saling mengenal. Den Davis itu sebenarnya orangnya perhatian, penyayang, namun terkadang sedikit cuek dan kalau kata anak jaman sekarang ‘cool’. Den Davis baik, dewasa, gak manja meskipun anak ragil. Cuma, hehehe saking ganteng dan baik, beberapa cewek yang pernah belajar kelompok atau main ke rumah, suka kegeeran.”
“Owh ya? Play boy kali Bi?”
“Enggak, Nya. Den Davis gak playboy tapi emang teramat perhatian dan baik sama semua orang jadi orang suka salah paham mengartikannya. Bibi mah tau mana orang playboy mana enggak. Den Davis mah gak masuk kategori playboy”
“Apakah Davis pernah punya pacar sebelumnya?”
Raut wajah Bi Jah sedikit berubah, sepertinya dia sedang menimbang jawaban yang akan disampaikannya.
“Aku tau Alin, Bi. Apa ada cewek lain selain Alin yang diperkenalkan pacar sama Davis? Atau mungkin yang pernah menginap di sini?” mendengarku menyebut nama Alin, Bi Jak tersenyum.
“Nyonya muda udah tau non Alin, hhehehe. Yang sudah mengenal kedua orang tua Den Davis dan yang mengenalkan dirinya sebagai pacarnya Den Davis, cuma non Alin”
“Beneran?”
“Terus cewek-cewek lain yang ke sini belajar kelompok/berkunjung?”
“Mereka tak pernah datang hanya sendirian, selalu berame-rame.”
“Owh iya, saya lupa. Sebentar ya Nya, ada yang harus saya siapkan untuk Nyonya!” Bi Jah beranjak menuju dapur.
Tak berapa lama dia datang dengan membawa segelas susu di tangan.
“Silahkan diminum” dia menyodorkan segelas susu hangat yang sangat menyengat baunya.
TO BE CONTINUED
__ADS_1
PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!