CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PERDEBATAN


__ADS_3

NARITA POV


Hari ini adalah Senin yang membahagiakan untuk kami berdua. Masih terngiang bagaimana tadi aku berpamitan dengannya, aku mencium tangannya lalu dia mencium keningku. Ahh sungguh romantisnya bagiku. Meskipun kami harus menaiki mobil yang berbeda dan menjadi orang yang biasa saja ketika berada di lingkungan kantor, bagiku tak apalah, toh nanti akan ada waktunya kami bisa menunjukkan keromantisan kami di hadapan orang banyak.


Aku yang tak begitu lihai menyetir, sampai di kantor lebih terlambat daripada suamiku. Saat aku memasuki pintu ruangan kerja kami, beberapa rekan seruangan yang sudah hadir, tengah memandangku sembari tersenyum.


“Selamat pagi…” sapaku dengan terus mengulum senyum.


“Pagi kak Narita” balas mereka secara bersahutan.


Berjalan sepanjang menuju mejaku, aku melihat ada tatapan penuh makna dari teman-temanku. Betapa terkejutnya ketika aku sudah sampai di mejaku. Sebuah buket bunga cukup besar yang berisi mawar merah dan di tengahnya terdapat 3 tangkai mawar putih, lalu terdapat 1 gelas jus dan sepotong cake tiramisu berbentuk hati. Rasa penasaranku membuatku segera meraih kertas putih di tangkai buket bunga. Hanya tertulis:




Tiba-tiba Sherly yang baru datang menepuk bahuku dan mengamati apa yang ada di mejaku.



“Dari siapa? Pengagum rahasia?” dia mengamati kartu nama yang ada di buket.



“Sahabat?” nada bertanya.


“Daniel atau Arnold?” tanyanya menatapku.



Aku yang dalam posisi duduk dengan kedua telapak tangan di atas meja kemudian mengangkat kedua tangan bermaksud menjawab ‘entahlah’.



Lalu Sherly memotonya beberapa kali seraya berkata “Penasaran nie, aku harus tau jawabannya”.



“Kabarin ya kalau udah tau!” aku mulai menurunkan buket bunga yang telah memenuhi mejaku.



“Buat kamu aja Sher! Aku udah sarapan” aku menyerahkan jus dan cake itu ke meja kerja Anabelle yang saat ini tengah dipakai Sherly.



Saat aku hendak menarik tanganku kembali, dia langsung memegang dan menariknya “Cincin? Kamu terima Daniel?”



“Enggak” jawabku singkat sembari menarik dengan kuat tanganku.



“Ini bukan cincin lamaran dari Daniel?” tanyanya lagi.



“Bukan”



“Lalu kamu tunangan sama siapa?”



“Enggak tunangan” aku menjawabnya namun dengan pandangan fokus ke komputer.



“Gak mungkin Narita, ini mah cincin kawin atau tunangan” kata Sherly penuh semangat.



“Dibilangin gak percaya banget sie?”



Ponsel yang kubiarkan di meja, mulai ramai pesan masuk. Aku meliriknya sekilas, ternyata genk kami. Hah? Mataku terbelalak saat membaca sekilas komentar-komentar. Lalu karena rasa penasaran, aku mengambil ponsel dan membuka pesan di wa grup.



Sherly: Siapa yang diem-diem naro ini di meja Narita?


__ADS_1


Anabelle: Wuiih so sweet. Sayang aku dines jadi gak bisa minta mawarnya.



Dewi: Kok nanya ke group sini? Emang yang ngasih salah satu cowok di sini?



Sherly: ada tulisan ‘Sahabat dalam Cinta’



Anabelle: Daniel? Who are you?



Sherly: Hayo ngaku, ngaku, ngaku!!!



Dewi: Hati-hati Na, itu makanan sama minuman jangan dimakan. Ntar kena pellet!



Sherly: Yaahhh udah habis kumakan euy!!



Dewi: hahahhah ya syukurlah kalau dimakan Sherly.



Anabelle: Btw kenapa nie cowok-cowok kagak ada satu pun yang muncul sie?? Komen kek!



George: Na, bukan dari aku ya…



Anabelle: Feelingku sie Daniel.



Aku: Ya sudah gak usah dicari tau lagi! Mungkin bukan dari sahabat yang di grup ini.




Anabelle: Fix Daniel! Kamu nerima Daniel, Na?



Aku: Gosip gossip gossip, udah ahhh. Males!



 



Tiba-tiba dering telepon meja mengagetkanku, segera kuangkat. Ternyata di seberang telepon, Daniel mengajakku untuk bertemu di aula besar lantai 2. Ada pemotretan iklan, aku diminta pendapatnya. Aku pun segera beranjak dari tempat dudukku.



“Na, mau kemana?” teriak Sherly.



“Mau liat pemotretan iklan di aula lantai 2” jawabku tetap masih melangkah pergi.



Sesampainya di depan pintu aula besar, kulihat beberapa orang tengah berkumpul dan bercakap-cakap termasuk Daniel dan Mr. Al.



“Hallo Mr. Al, Hallo Niel” sapaku serayu menundukkan kepala.



“Hai Na” jawab Mr. Al.


__ADS_1


“Mr. Al saya sama Narita masuk dulu!” ajak Daniel dengan tangan ke belakang bahu seperti hendak merangkul.



Dia buka pintu aula. Dan……



Di sana, di antara kilatan lampu blits kamera, dia dan seorang wanita tengah berpose sangat mesra. Karena ini adalah brosur dan iklan hotel dan perumahan makanya mereka pun bergaya selayaknya pasangan suami istri.



Aku dan Daniel melangkah berdampingan mendekati area pemotretan. Mataku tak putus menatap mereka berdua. Dia sepertinya belum menyadari kehadiranku, dia masih berpose sesuai pengarah gaya. Hatiku sedikit sakit melihatnya bergaya begitu mesra dengan wanita lain. Senyum mereka berdua merekah, seolah mereka adalah pasangan serasi yang sangat berbahagia.



Cemburu? Ya aku yakin aku sedang cemburu. Kenapa sie dia tak pernah bilang bakal jadi bintang iklan berpasangan dengan Alin? Kenapa dia mau-maunya diarahin begitu. Kalaupun kami belum mengumumkan pernikahan kami, harusnya dia sudah menjaga sikap.



Hufh. Aku yang terbakar cemburu lebih memilih mencari pemandangan yang lain.



Sementara itu, tak jauh dari mereka terdapat dua anak kecil bertampang bule yang tengah dimake up dan didandanin. Aku tersenyum menatap mereka bedua.



Menggemaskan sekali mereka –ucapku dalam hati.



“Lucu kan mereka?” tanya Daniel padaku sambil menatapku.



“Hm” jawabku sambil mengangguk.



“Coba kamu mau sama aku, nanti anak kita kaya mereka” mataku melotot menatapnya.



“Na, aku gak mau mundur selama janur kuning belum melengkung!” lanjut Daniel.



“Hufh, jadi mawar, jus, cake nya dari kamu?”



“Iya” jawabnya singkat.



“Aku gak mau kamu kecewa, Niel!”



“Aku udah memikirkannya semalaman. Gak masalah kalau kamu menolakku sekarang, aku tetep mau terus maju!”



“Niel, kamu tau kan alasanku? Ini!” aku menunjukkan cincin kawinku.



“Biarin! Selama statusmu bukan istri dari seseorang. Aku pantang mundur!”



“Selain itu, alasan kedua adalah ini!” aku menyentuh dada kiriku.



“Cinta bisa dipupuk dan aku yakin bisa meruntuhkan hatimu!” sesaat dia menatapku lalu membuang muka seperti menghindari kontak mata denganku.



“Selain itu, ini Niel!” Aku menengadahkan kedua tangan seolah seperti sedang berdoa.



“Meski kita berbeda, aku gak pernah merasa bahwa kamu akan menjauhkanku dari Tuhanku. “ jawabnya yakin.

__ADS_1



Perdebatanku dengan Daniel kali ini benar-benar sudah membuat kekesalanku pada seseorang yang sedang berfoto mesra, teralihkan begitu saja. Bahkan kini aku sudah tidak lagi melihat sesi pemotretan, tapi mulai bingung mencari kata-kata yang tepat untuk mematahkan harapan Daniel.


__ADS_2