
AUTHOR POV
Narita hanya mengulas senyum mendengar pertanyaan dari Leni.
“Kamu jangan khawatir, Na. Kita sama-sama merawat Karen di sini!” Leni kembali meyakinkan Narita.
“Iya, Kak. Aku sudah meminta waktu seminggu untuk memikirkannya.” Jawaban Narita membuat Leni mengerti dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Obrolan mereka terhenti sesaat ketika dari ponsel Narita terdengar adzan Maghrib berkumandang.
“Kak Len, tolong temenin Karen dulu ya!” Leni yang sangat paham akan Narita, mengulas senyum dan mempersilahkan Narita untuk menjalankan kewajibannya.
Setelah itu, Narita mengajak Karen untuk masuk ke rumah utama, menuju lantai 2, dan memasuki kamar gadis kecil itu. Karen yang belum merasa mengantuk, Narita berinisiatif untuk membacakan cerita dari buku anak-anak yang berada di lemari buku milik Karen. Karen yang belum begitu paham berkomunikasi, sesekali menimpali omongan Narita dengan celotehannya yang terdengar sangat menggemaskan. Tak ayal Narita menciumi gadis kecil itu, hingga dia terkekeh karena kegelian.
Cukup lama Narita membacakan buku cerita untuk Karen, namun Karen tak kunjung tidur. Kini Karen malah memeluk manja tubuh Narita yang tengah duduk di ranjangnya. Pelukan Karen, adalah pelukan sebagai tanda bahwa dia menginginkan Narita meninabobokannya dengan cara menggendong. Karena rasa sayangnya pada gadis kecil itu, akhirnya Narita mengangkat tubuh gadis itu, memakai kain untuk menahan beban tubuh Karen, jadilah Narita menggendong Karen dengan kain jarik.
Tak ada nyanyian khusus untuk meninabobokan Karen, dia hanya mengumandangkan Shalawat Nabi. Dan benar, setelah beberapa menit, Karen sudah tertidur dalam gendongannya. Narita melangkah menuju remote kontrol untuk mematikan lampu-lampu yang menerangi kamar itu dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Setelah itu, dengan hati-hati dan perlahan, dia menidurkan si cantik Karen di kasurnya yang lebar dan empuk. Narita memposisikan Karen tepat di tengah kasur, sementara di pinggirannya dia letakkan bantal-bantal untuk mengelilingi tubuh mungil itu agar terlindungi jika dia terbangun nanti.
Setelah posisi Karen dirasa aman dan nyaman, Narita sejenak memandangi wajah cantik, lugu, tan pa dosa itu dengan perasaan yang entah sulit diartikan. Dia mengelus lembut rambutnya berulang kali untuk menyalurkan rasa sayang yang teramat dalam, lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis kecil itu dan mendaratkan ciuman kasih sayang di dahi halus lembut Karen. Dengan jarak yang masih sangat dekat, dia memandangi wajah gadis itu, lalu mengulas senyum getir, dan mulai beranjak. Rasanya dia belum ingin meninggalkan kamar gadis itu, meninggalkannya tidur sendirian di sana. Ingin rasanya dia menemani tidur di sana, tapi itu tak mungkin.
Perlahan, Narita melangkahkan kaki keluar kamar, dan kembali menutup pintu kamar dengan gerakan pelan dan lambat agar tidak menimbulkan bunyi yang akan membangunkan Karen kembali.
__ADS_1
Narita mengeluarkan sepedanya dari halaman rumah mewah itu. Dia melajukan sepedanya dengan sedikit lebih cepat karena dia ingin segera sampai tempat tinggalnya.
Sesampainya di tempat tinggalnya, Narita segera menekan tombol di ponselnya untuk video call dengan seseorang.
Tiiittt,,,,,tiiittt,,,,tiiiittt,,,,
Telponnya yang tak diangkat akhirnya membuatnya mengalihkan aktifitas ke yang lain, dia menggoreng ayam untuk makan malamnya.
---Pagi hari----
Narita tengah menggendong tas ranselnya, lalu menuju ke parkiran sepedanya. Dia menaiki dan mengayuhnya dengan santai. Tibalah dia di sebuah rumah mewah itu, dia memasuki gerbang setelah pintunya terbuka secara otomatis. Dia kembali mengayuh sepedanya di dalam halaman rumah mewah yang sangat luas itu, lalu setelah dia sampai di pavilion 101, dia segera memarkir sepedanya.
“Morning,,,” sapanya pada beberapa asisten rumah tangga yang tengah menjalankan aktifitasnya yang ditemuinya sepanjang perjalalan menuju kamarnya.
Setelah menunya matang, dia segera memasukkan ke wadah khusus lalu membawanya ke dapur rumah utama. Di dapur rumah utama telah berada 3 orang koki yang sedang menyiapkan sarapan untuk sang tuan rumah.
“Chef, permisi!” Narita meletakkan masakannya untuk Karen di lemari saji untuk makan siang sedangkan di meja makan untuk sarapannya.
Setelah itu, dia menaiki tangga untuk menuju ke kamar Karen. Dia perlahan memasuki kamar itu. Dilihatnya si cantik Karen masih terlelap dalam tidurnya. Dia duduk di ujung ranjang dan memandang lekat pada gadis kecil itu. Tak terasa, air mata mengalir dari kedua ujung matanya. Ada rasa yang entah tak bisa diungkapkan. Narita mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu, lalu dia mencium pipinya. Air matanya yang turut membasahi pipi gadis itu, diusap Narita dengan sangat halus.
Setelah beberapa lama mengamati wajah tanpa dosa itu, dia lalu beranjak dari duduknya. Dia mengulurkan tangan, meraih sebuah remote kontrol yang otomatis membuat ruangan menjadi terang. Ya, segala yang ada di rumah itu dikendalikan secara digital, bahkan untuk sekedar membuka gorden aja menggunakan remote kontrol.
Tak berapa lama, si cantik sedikit demi sedikit membuka matanya. Dengan posisi tidur, Karen memandang Narita dan melempar senyum manjanya.
__ADS_1
“Morning, baby,,,” sapa Narita dengan senyum termanisnya lalu mendekati Karen dan duduk di ranjang.
“Bangun yukk,,” Narita mengulurkan kedua tangannya yang kemudian disambut Karen.
Kini Karen tengah digendong Narita menuju ke toilet. Narita membuka baju Karen, menatur agar mau buang air kecil dan selanjutnya memandikannya.
“Anak pinter,,,” seru Narita seraya menyabuni badan Karen. Karen hanya membalasnya dengan celotehan yang tak ada artinya.
Usai mandi, Narita menggendongnya untuk kembali ke walking closet. Memilihkan pakaiannya, mendandaninya, dan kini siap untuk keluar kamar.
Tingkah Karen yang tak bisa diam saat didandani, dia mengacak acak mainannya. Saat Narita mengajaknya keluar kamar, Karen membawa beberapa mainan di tangannya, Narita hanya mendiamkannya.
Setelah sampai di meja makan, Karen didudukkan di baby chair. Dengan telaten, Narita menyuapi bocah kecil itu. Tak mudah menggunggah mood makan si bocah itu, apalagi untuk sarapan. Susah banget si bocah menelan makanannya, seolah dia tak ada na fsu makan. Namun Narita tak patah semangat, justru dia merasa tertantang.
Cara Narita mendidik Karen terkadang membuatnya dikritik oleh tuan Drake. Teramat sayangnya dia pada bocah itu, menurut orang barat justru terkesan memanjakan. Untuk memberikan makan besar, Narita masih menggunakan cara menyuapi. Narita juga sering menggendongnya, bahkan ketika Karen tak kunjung tidur, dia akan menggendong di kain jarik andalannya. Semua hal yang Narita lakukan untuk Karen sudah dikritik keras oleh kepala asisten rumah tangga di rumah mewah itu. Ada beberapa yang Narita turuti namun ada beberapa yang masih dia langgar. Itulah bentuk rasa sayangnya pada gadis cantik kecil itu.
Setelah selesai menyuapinya, kini Narita menyerahkan Karen pada Nany yang lain. Di sanalah drama terjadi, Karen selalu menangis apabila Narita menyerahkannya pada Nany yang lain. Karen yang belum bisa bicara namun dari tangisannya seolah mengatakan bahwa dia tak ingin ditinggal Narita, dia tak ingin bermain dengan Nany lain.
Karen menangis dengan keras dan hebohnya. Narita masih dengan posisi menggendong bocah itu dan mendiamkannya.
“Karen sayang,,,Nany Na pergi dulu ya. Nanti Nany Na datang lagi” bujuk Narita.
Bocah itu masih nangis jejeritan dan memeluk erat tubuh Narita.
__ADS_1