CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) TINGGAL KENANGAN


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak aku dan Davis menghabiskan weekend kami ke taman hiburan. Namun sejak saat itu, dia menghilang seolah ditelan bumi. Tidak ada lagi pesan yang dikirimkannya, tidak ada lagi telpon darinya, dan tidak ada lagi kejutan saat tiba-tiba menjemputku. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari hidupku.


Aku beranikan diri dan menurunkan gengsiku untuk memulai berkirim pesan ke dia. Yaa memang begitulah aku, gak ada di kamusku berkirim pesan terlebih dahulu ke pria jikalau tidak ada hal yang benar-benar penting.


Aku: Pagi. Kamu baik-baik aja kan?


Pesan telah ku klik kirim, namun tak ada respon. Handphone kala itu belum bisa menunjukkan notifikasi terkirim atau tidak, sudah dibaca atau tidak. Ya sudah, aku tak menunggu balasannya karena kesibukan yang menyita waktu dan perhatianku, akhirnya terlupakan.


Sore hari menjelang pulang kantor, aku buka kembali pesanku. Tak ada balasan. Jujur aku khawatir dan kecewa, kenapa setelah kami tertawa bahagia menghabiskan waktu bersama, tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar. Ada apakah gerangan?


Ah sudahlah, biarin saja. Lalu aku segera bereskan meja kerjaku, kumasukkan segala perlengkapan pribadiku ke dalam tas kerjaku dan beranjak dari tempat duduk untuk pulang. 


“Hai melamun!” teriakan dan tepukan tangan mbak Sriti di pundakku mengagetkanku.


“Astaghfirullah mbak, ngagetin aja!” keluhku spontan mendengar teriakannya. 


“Ngelamunin apaan sie?” 


“Ahhh enggak kok”


“Jalan bareng ya!”


“Hayuk!”


“Yakin gak ada yang jemput hari ini?” tanya mbak Sriti menggodaku dengan mengerlingkan matanya. Aku balas tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.


Kami berdua jalan beriringan menyusuri trotoar menuju satu arah yang sama walaupun beda tujuan, Mbak Sriti ke stasiun kereta sedangkan aku pulang kos.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa setahun sudah aku bekerja di perusahaan ini. Selama itu pula aku tak pernah mendengar kabar Davis. Beberapa kali aku mengikuti tournya mbak Silvi, namun tak pernah bertemu dengan Davis maupun rombongannya. Awalnya aku masih penasaran, stalkingin media sosialnya yang kala itu facebook dan Friendster, namun dia tak pernah memposting apapun juga. Aku stalkingin blog nya, namun hasilnya sama, NIHIL. Aku tak memiliki kontak Bagas dan Aldi.

__ADS_1


Ya sudah. Akhirnya aku menyerah. Aku memilih untuk fokus ke karirku. Aku pun sudah sedikit melupakan keinginanku untuk menikah di usia 25 tahun, karena bahkan di usiaku yang sudah 24 tahun ini, tak ada pria yang mendekatiku. Bagiku, belum ada jodoh bukan berarti masa depanku stag. Jodoh boleh stag, tapi tidak dengan karirku. Mumpung aku masih muda, masih banyak kesempatan untuk maju.


Di bagianku sudah banyak yang berubah. Sudah tidak ada lagi Manajerku pak Vick yang baik hati. Beliau resign karena memiliki usaha rintisan yang telah berkembang pesat sehingga beliau ingin fokus mengembangkan usahanya tersebut. Lalu pak Vick digantikan oleh seseorang, yang mana bu Rara sendiri kurang cocok berpartner dengan bos baruku itu. Beliau meminta pindah bagian. Tinggalah aku sendiri yang harus tetap di situ karena memang sebelum pak Vick dan Bu Rara pindah bagian, aku telah mereka warisi ilmu dan pekerjaan-pekerjaan penting di bagianku.


Kehilangan mereka berdua sebagai partner sekaligus bosku, memberikan dampak yang cukup signifikan pada mood booster kerjaku. Bos baruku lebih terkesan bossy dan hanya senengnya merintah-merintah. Bahkan pada suatu momen meeting level manajer, Direktur Keuangan menawarkan kesempatan bagi para manajer untuk mempromosikan bawahannya, bos baruku tak mengusulkanku. Ya darimana aku tau gossip itu? Tentu saja dari bu Rara. Beliau yang mendapatkan cerita itu dari Manajernya. Bu Rara cukup kecewa dengan bagaimana bos baruku memperlakukanku, karena menurut bu Rara walaupun aku baru bekerja setahun, tapi aku memiliki kemampuan, loyalitas bekerja yang tinggi terhadap pekerjaanku, aku layak naik jabatan.


Melihat ketidakadilan yang menimpaku, membuat sebagian besar pejabat yang melihatku merasa prihatin. Manajer pajak pernah menawariku posisi mengingat beliau pernah berdiskusi mengenai perihal pajak denganku dan aku memberikan solusi-solusi yang bagus. Menurut beliau aku potensial, bidang pajak yang notabene bukan pekerjaanku sehari-hari namun mampu aku ingat dan kuasai dengan baik. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan mengiyakan tawarannya. Namun ketika Manajer pajak meminta langsung kepada Manajerku, dia menolaknya dengan alasan aku satu-satunya stafnya yang menguasai pekerjaan di bidangku.


Manajer keuangan, juga memintaku untuk masuk ke bagiannya. Dengan senang hati aku menerima tawaran itu. Namun lagi-lagi Manajerku menolak melepasku.


“Gue heran deh sama bos loe itu! Kalau dia mempertahankan loe karena kerja loe bagus, kenapa gak mempromosikan loe naik jabatan?” omel bu Rara di kala dia mengajakku dan mbak Sriti makan siang di salah satu mall dekat kantorku. 


“Iya ya Mbak Ra, gue juga sebel tuh sama bos dia. Gak menghargai kerja keras Narita banget. Kerja rodi tapi kesejahteraan gak diperhatiin!” tambah mbak Sriti yang tak kalah emosi.


“Loe masih suka lembur kan Na?” tanya bu Rara dengan memandangku kemudian. 


“Dianterin gak sama dia?” tanya bu Rara lagi.


“Enggak!” jawabku sembari menunduk.


“Jam berapa loe pulangnya?” tanyanya kemudian.


“Aku sie menghindari kalau cuma berdua bu, jadi palingan jam 21.00 saat OB siap-siap pulang, aku juga ijin pulang!” jawabku menjelaskan.


“Loe pulang jam segitu, dianterin gak sama dia?” bu Rara mulai menyelidik.


“Enggak bu. Biasanya kalau aku ijin pulang, dia masih lanjutin lemburnya” jawabku jujur.


“Loe dikasih duit gak buat naik taksi?” bu Rara masih nada menyelidik.

__ADS_1


“Enggak!” jawabku lemah.


“Gilaaaa tuh orang. Udah staf dipekerjaan kaya Romusha, pulang malam gak dianterin, gak dikasih duit. Apa sie maunya?!!” bu Rara mulai mengomel dengan nada tinggi. Untungnya tempat makan kami ini adalah kantin yang cukup rame jadi nada tinggi bu Rara tak begitu mengalihkan perhatian pengunjung kantin.


Ya memang di perusahaan tempatku bekerja sekarang, bagi siapapun yang kerja sampai dengan di luar jam kantor, tidak dibayar lembur. Kami dibayar berdasarkan jabatan dan profesionalitasnya. Untuk level staf sepertiku memang memiliki tanggung jawab paling rendah, untuk itulah gaji kami pun paling rendah. Bagiku tak mempermasalahkan level gajiku, karena pada saat wawancara dengan General Manajer HRD (Human Resources Development) aku telah menyepakati gaji yang akan perusahaan ini berikan padaku. Namun di kala loyalitasku sama sekali diacuhkan, aku pun kecewa.


“Sorry Na, gara-gara gue, loe berada di posisi loe sekarang ini.”


“Kalau gue tau, loe bakal menerima ketidakadilan ini, udah dari lama gue tarik loe juga. Biarin dia di situ kerja sendiri, nyari staf dan ngajarin lagi dari awal”


“Gue masih gregetan aja ama dia. Kalau dia gak mau promosiin elo, kenapa dia gak mau nglepas elo ke bagian pajak atau keuangan! Sebel gue!” bu rara masih nerocos berkeluh kesah.


Jujur aku sangat terharu mendapatkan perhatian sebesar itu dari beliau. Sejak pertemuan awal kami dulu, waktu wawancara dengan user, Bu Rara sudah membuatku kagum. Begitupun sebaliknya dengan bu Rara. Menurut beliau, aku masuk kriteria staf yang dia cari karena aku seperti dirinya kala berjuang mencari pekerjaan. Seorang pejuang tangguh, punya semangat tinggi, jiwa petualang, rajin, dan cekatan dalam menyelesaikan pekerjaannya.


“Na……” tiba-tiba bu Rara memanggilku dengan suara lembutnya.


“Loe bisa mendapat yang lebih baik di luar sana!”


“Sayang potensi loe gak dihargai di sini!”


“Gue gak ikhlas loe tak berkembang karena ada yang menahan loe untuk berkembang. Karena gue tau banget loe seperti apa!”


“Yakin Na. Di luar sana masih banyak yang menghargai potensi loe. Loe tau kan maksud gue!” Nasehat bu Rara cukup panjang, sudah tak menunjukkan nada emosionalnya lagi. Dia menepuk-nepuk pundakku.


“Pasti bu. Terima kasih bu Rara, Mbak Sriti atas dukungannya.!” Balasku semangat sekaligus terharu.


Yaa Alloh, terima kasih aku telah dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Meski aku sendiri hidup di rantau, tapi dukungan, perhatian, dan support dari orang-orang terdekatku adalah motivasi tersendiri buatku agar bersemangat dalam menjalani hari-hariku, dan mencapai cita-citaku di masa depan.


Bye Bye Davis, Bye bye Kantor lama--------

__ADS_1


__ADS_2