CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
CIUM KENING


__ADS_3

DAVIS POV


Setelah akad selesai, maka aku dan Narita dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri di hadapan agama dan diperkuat juga oleh pernyataan para saksi yang hadir saat itu. Kelegaan mendengar kata ‘SAH’, tak ayal membuatku mengucapkan syukur Alhamdullillah. Beribu-ribu kebahagiaan hari ini adalah atas ridho Allah.


Narita yang duduk terpisah, kini diminta untuk duduk berdampingan denganku. Meskipun ini bukan kali pertamanya aku duduk bersebelahan dengannya, tak bisa kupungkiri kalau aku grogi. Kulirik dia dan kutebar senyum manisku dan dia sambut dengan senyum manisnya juga. Tak ada baju mewah yang melekat di tubuhnya dan tak ada MUA hebat yang mendandani wajah polosnya, namun di mataku dia selalu cantik natural.


“Kedua mempelai dipersilahkan untuk bertukar cincin!” ujar pak ustadz.


Aku memasangkan cincin di jari manis tangan kanan Narita, demikian pula dengan Narita.


“Mempelai wanita sekarang mencium tangan mempelai pria, lalu mempelai pria cium kening pengantinnya” instruksi pak ustadz selanjutnya.


Aku menyodorkan telapak tanganku, dia raih, lalu dia cium punggung tanganku. Ketika aku hendak mencium kening Narita, kami sama-sama gugup. Pelan pelan kedua tanganku menyentuh pundak kanan dan kirinya, kedua bola mata kami saling menatap. Senyumannya tersungging dan aku pun membalas dengan senyuman.


“Pengantin kita ternyata masih malu-malu kucing” tiba-tiba Om ku mengejutkan kami sekaligus menimbulkan gelak tawa.


Sesaat kami melemparkan pandangan ke arah Om  Dandy. Kembali kami saling bertatapan. Kuberanikan diri memajukan wajahku. Kini bibirku dan keningnya berjarak 15 cm, 10 cm, 8 cm, 5 cm, dan…..


CUP


Tiba-tiba terdengar tepuk tangan yang cukup riuh membuat kami berdua langsung menjauhkan wajah bersamaan karena gugup bercampur malu. Kulihat pipinya bersemu merah lalu pelan-pelan menunduk.


Inikah indahnya ketika menyentuhnya untuk yang pertama kali?


Acara dilanjut dengan penyerahan maskawin secara simbolik. Diakhiri dengan foto-foto. Sebagai bukti autentik peristiwa hari ini, memang harus didokumentasikan, karena aku belum mempersiapkan buku nikah untuk bisa ditandatangani.


Tak lupa, ucapan selamat dari para saksi yang hadir menambah keharuan pernikahan kami yang mendadak.


Mengingat ruangan akan segera digunakan untuk ketiga pasangan taaruf yang lain, kami berpamitan dengan para ustadz dan ustadzah, lalu keluar dari ruangan dan bersama-sama menuju area parkiran.


Narita terlihat menggandeng ibunya.


“Nak, udah nikah tapi yang digandeng kok malah ibunya” ucap ibu mertuaku yang didengar semuanya.


“Ihhh,,,ibu, emangnya gak boleh” Narita dengan nada merajuk.


“Boleh dong, Sayang. Tapi kan kasian tuh suamimu, pasti dia juga pengen digandeng sama kamu!” ibu menengok ke belakang di mana aku jalan beriringan dengan bapak mertua.


Aku hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak yang berjalan di depanku. Ternyata istriku yang selama ini terlihat mandiri, sangat manja sama ibunya.

__ADS_1


Sebelum kami menuju ke mobil masing-masing, aku mengumumkan sesuatu:


“Om, Tante, Bapak, Ibu, Rio, Mbak Sriti kita mampir makan siang dulu ya! Di hotel kita yang di Jalan Sudirman.” Diangguki oleh semua yang ada di sana.


“Mobilku gimana?” ucap Narita kemudian.


“Biar mereka yang bawa” aku menunjuk ke arah beberapa pengawalku yang hari ini sengaja aku libatkan.


Narita menyerahkan kunci mobilnya ke salah satu orang, lalu aku, Narita, bapak, ibu, dan Rio hendak menaiki Alphard putih.


“Vis, sharelock ya! Kami beda mobil, takutnya nyasar!” ucap Om Dandy kemudian.


“Owh kalau gitu biar satu pengawalku nyetirin mobil om aja, biar gak nyasar!” ucapku memberi solusi.


Kami pun akhirnya memasuki mobil.


“Bapak, ibu ke Jakarta sama siapa?” tanya Narita mengawali obrolan.


“Sama aku, Sayang!” jawabku singkat dan santai.


“Ehemmm ehemmm, langsung panggil Sayang nie ye!” goda bapak.


“Naik kereta, Vis?” tanya Narita.


“Nak, kalau sama suaminya jangan langsung panggil nama. Gak sopan!! Walaupun suamimu lebih muda dari kamu, gak ada salahnya kamu panggil ‘mas’” nasehat ibu.


“Atau Sayang” lanjutku lansung menyahut ucapan ibu mertua.


“Iya bu” jawab Narita patuh.


“Ibu sama bapak ke Jakarta naik kereta?”


“Naik jet ku, Sayang”


“Terus kenapa gak ngabarin Narita sie?”


“Terus selama di Jakarta tinggal di mana?”


“Ya gak ngabari dong, kan mau kasih kejutan”

__ADS_1


“Bapak sama ibu tinggal di rumahku” aku menjawab semua, Narita hanya mengerucutkan bibirnya.


“Ihhhhh gemes!!” aku segera meremas bibirnya yang mengerucut. Lalu segera ditepis olehnya.


“Kenapa jadi kamu yang jawab sie mas?”


“Hah, bilang apa barusan?? Coba-coba ulangi, Sayang!” aku heboh karena saking senengnya dipanggil ‘mas’.


“Ahh, lebay ah. Ntar juga sering denger, ngapain mesti diulang-ulang” Narita melempar pandangannya tanda merajuk.


“Ibu kenapa sie, mau diajak kongkalikong sama dia?” Narita menunjukku dengan memainkan matanya.


“Maaf nak. Bapak sama ibu percaya kalau nak Davis gak main-main, jadinya ya kami mau memainkan peran sesuai skenarionya!” ucap bapak penuh wibawa.


“Meskipun mendadak, tapi ibu bahagia, Nak. Sekarang tinggal nak Davis urus surat-suratnya aja!”


“Makasih pak, bu, udah percaya sama Davis. Davis akan segera urus surat-suratnya biar kami sah secara agama dan negara” ucap Davis tegas.


“Hmm,,,,terus nanti malam, bapak sama ibu pulang ke apartemen Narita kan?”


Beberapa saat kami terdiam.


“Kok pada diem?” lanjut Narita.


“Nak, kamu sama nak Davis kan sudah menikah, apa iya kalian mau tinggal terpisah?” tanya ibu.


“Ya kan untuk malam ini gakpapa terpisah. Nanti pelan-pelan kami pikirkan lagi mau tinggal di mana. Bukan begitu mas?” kata terakhirnya yang terdengar romantis, membuatku tak berhenti tersenyum.


“Enggak ada kata tinggal terpisah!” kataku pura-pura ketus.


“Kalau mau tinggal di apartemenmu, ya hayuk kita bareng-bareng tinggal di sana!!”


“Tapi gak mungkin, mas!”


“Apartemenku cuma ada 2 kamar tidur tapi yang 1 kamar tidur ukuran kecil. Kasihan kalau bapak sama ibu tidur di kamar itu” aku mencoba bernegosiasi. 


“Yasudah, kalau gitu tinggal di rumahku aja!” jawab Davis tegas seperti sedang memutuskan suatu keputusan rapat. Hingga kami semua terdiam tidak ada yang berani membantahnya.


---- TO BE CONTINUED ----

__ADS_1


__ADS_2