CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KAMAR REMANG-REMANG


__ADS_3

NARITA POV


Usai melipat mukena, aku segera berpamitan dengan mereka dan tak menggubris uluran tangan Dave.


“Saya duluan!” aku melewati Dave dengan menundukkan kepala dan sedikit melempar senyum tipis. Begitu pun halnya ketika aku melewati Davis dan Jess, hanya sedikit tersenyum, menundukkan kepala dan berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya.


“Na?” Ali menyapaku ketika aku melewatinya begitu saja. Aku menghentikan langkah sejenak, menoleh ke belakang, tersenyum dan berkata “Maaf aku duluan ya!”. Tanpa menunggu jawabannya, aku segera melanjutkan langkah cepat. Saat ini pikiranku, aku hanya ingin secepatnya sampai di kamarku.


Beberapa orang yang berpapasan denganku nampak heran melihatku berjalan dengan cepat, meski demikian aku cukup santun melewati mereka, aku selalu menebar senyum meskipun tanpa mengeluarkan kata-kata.


Setelah aku sampai di kamarku, kuletakkan mukena pada tempatnya, kududukkan badanku di pinggir ranjang seraya mengatur nafas yang terengah-engah.


“Astaghfirullah” aku teringat kalau aku sudah meninggalkan Karen. Aku berdiri dari ranjang, berjalan modar mandir, tangan kiri menumpu tangan kanan, sementara itu tangan kanan menyangga daguku.


“Hadew gimana ini? Apa yang sudah aku lakukan?” ujarku lirih.


Kenapa aku jadi salah tingkah begini?


Aku mencoba berpikir, apakah kembali ke mereka dan membawa Karen ke sini atau meminta tolong seseorang untuk membawanya ke sini?


Kuhela nafas panjang, mempersiapkan diriku untuk kembali keluar.


Hufh, entah kenapa jantungku berdetak lebih kencang setiap kali mataku bertemu dengan matanya. Hatiku berdesir setiap mendengar suaranya menyebut namaku. Atau bahkan jantungku seolah berhenti berdetak saat tiba-tiba dia tersenyum manis padaku.


Ishhhh apa sie yang aku pikirkan?


Setelah kutarik nafas panjang dan mempersiapkan diri menghadapinya, segera kubuka pintu kamarku.


DEG


Dia tengah berdiri di depan pintu kamarku, dengan tangan kanan menggantung seperti hendak mengetuk pintu. Sementara itu wanitanya berdiri di sampingnya, menatapku sinis, melipat tangan di depan dadanya. Saat pandangan mata kami bertemu, dia tersenyum manis.

__ADS_1


Oh Tuhan. Senyuman itu masih menggetarkan hatiku.


Segera kunetralkan otak, pikiran, dan ekspresi wajahku. Kulempar pandangan ke sembarang arah untuk beberap detik lamanya, lalu kembali melihat sekilas pada wajah Jess dan dia.


“Karen ada di kamarnya” ucapnya lalu kubalas dengan menganggukkan kepala tanda aku memahami perkataannya.


Saat aku memajukan badanku, dia menggeser badannya ke samping untuk memberiku akses keluar. Segera kubalik badan dan menutup pintu kamar dengan perlahan.


“Terima kasih” saat aku tepat berhadapan dengannya, aku sedikit membungkukkan badan tanda hormat. Aku melirik sekilas kepada Jess, tapi yang kulirik malah terdiam tanpa ekspresi.


“Ayo!” usai jess menatap aku dan Davis bergantian, tangannya segera menggandeng lengan Davis dan membawanya pergi. Aku masih berdiri di tempat dengan wajah menatap kepergian mereka berdua yang tak lain memasuki kamar tepat di sebelah kamarku.


DEG


Sebelum memasuki kamar, selintas kulihat Davis berusaha melirikku, lalu masuk ke kamar itu. Kupegang dada sebelah kiriku. Kenapa rasanya masih sama seperti dulu, sakit melihatnya masuk kamar bersama wanita lain. Mataku sudah berkaca-kaca, terasa perih pedas, dan entahlah mungkin jika tak kutahan, airnya akan keluar tanpa permisi.


Mendengar pintu kamar ditutup dengan kasar, aku tersadar lalu segera berjalan menuju kamar Karen. Kubuka pintunya perlahan.


“Maaf tuan, saya terlambat” sebisa mungkin aku tersenyum, meskipun mungkin mataku memerah, aku berjalan perlahan mendekat ke mereka.


Kulihat tuan Dave sedang duduk selonjoran dengan badan bertumpu pada ujung kasur. Karen tiduran dengan paha tuan Dave dijadikannya sebagai bantal. Tangan kiri tuan Dave mengelus lembut rambut Karen sementara tangan kanannya memegangi dot susu yang kini tengah diminumin ke Karen.


“Karen anak yang penurut. Aku bahagia ternyata dia sangat mudah menempel padaku” tuan Dave berbicara dengan tatapan mata menatap lembut pada Karen yang berada di bawahnya.


Aku masih berdiri dengan posisi kedua tangan kusatukan di depan perutku. Sesekali aku melihat ke arahnya, lali setiap kali dia berbicara akan kutanggapi dengan anggukan kepala perlahan.


“Nanny Na, tolong bacakan cerita nabi Nuh seperti kemaren lagi!” dengan posisi tiduran, Karen melepas sejenak dotnya dan memintaku membacakan cerita.


Mendengar titah nona muda nan lucu ini, segera aku menyiapkan segala peralatan untuk bisa menyorot buku cerita online yang kudownload dari ipadku ke dinding kamar agar Karen dapat dengan jelas melihat gambarnya dari posisi tidurannya saat ini. Tak lupa aku meredupkan lampu di kamar itu.


Jujur aku merasa risih berada di ruangan remang-remang bersama lelaki yang bukan mahramku. Tapi apa mau dikata, tak mungkin juga aku menyuruhnya keluar.

__ADS_1


Aku bercerita dengan penuh penghayatan. Owh yaa saat ini aku masih dalam posisi berdiri dengan kedua tanganku memegang ipad. 


“Na, duduklah di sana!” baru satu kalimat aku membaca cerita, tiba-tiba tuan besar mengintrupsi, menyuruhku duduk di ujung ranjang. Aku menuruti perintahnya, lalu segera duduk sesuai tempat yang diperintahkannya.


Saat aku membacakan cerita, sesekali aku melirik ke Karen. Dia nampak antusias melihat dan mendengarkan ceritaku. Aku berusaha sebaik mungkin bermain peran, kala menjadi laki-laki akan kuubah suaraku menjadi laki-laki, sebisa mungkin aku menirukan suara-suara binatang yang aku ceritakan sesuai dengan suara aslinya.


Beberapa kali mereka berdua tertawa geli menatapku, kala aku tak berhasil menirukan suara binatang. Aku sendiri ikut tertawa meskipun tak ada cerita lucunya, tapi melihat betapa mereka tertawa geli, aku juga turut tertawa geli.


Sesekali kulihat dari sudut mataku, beberapa kali tuan muda melihat ke arahku sembari tersenyum. Sepertinya ini adalah kepribadian beliau yang lainnya. Ternyata dia bisa bersikap lembut dan penuh kasih sayang juga dengan anaknya.


Aku tak berani meliriknya, setiap kali aku menoleh ke mereka, aku hanya menatap wajah Karen. Awal aku bercerita dia masih semangat mendengarkan dan melihat gambar di dinding, tapi lima belas menit kemudian matanya sayup-sayup mulai tertutup.


Saat aku menoleh pada Karen, aku merasa tuan muda malah justru menatapku, entahlah apa yang dipikirkannya, aku tak tau. Aku masih semangat bercerita meskipun Karen sudah setengah sadar mendengarkannya. Hingga aku mulai mengecilkan volume suaraku, kini yang kudengar adalah dengkuran lembut yang menandakan Karen telah tertidur lelap.


Dengan perlahan, kini tuan Dave menidurkan Karen pada posisi yang lebih nyaman.


“Auw” pekiknya pelan kala dia berusaha untuk beranjak dari ranjang. Sepertinya kakinya kebas karena Karen cukup lama tidur di pangkuannya.


Aku pun bergegas mendekatinya “Kenapa tuan? Apa yang bisa saya bantu?” aku menatapnya yang sepertinya sedang kesusahan untuk berdiri.


“Kakiku kesemutan” jawabnya sembari menggerak-gerakkan kakinya. Tangannya memukul-mukul pelan kakinya. Mataku galfok menatap lengannya. Ya, dia hanya mengenakan kaos ketat lengan pendek yang sudah tentu memperlihatkan dengan sempurna otot lengannya yang kuat dan kekar.


Menyadari kekonyolanku, segera aku beranjak dan membereskan peralatan yang tadi kupakai. Setelah lampu sorot kumatikan, suasana kamar menjadi makin remang-remang.


“Tuan saya permisi!” aku menghampirinya yang masih belum beranjak dari ranjang sepertinya memang kesemutannya belum pulih. Aku tak berani menatapnya, aku hanya menunduk dan menatap lantai kamar.


“Na….” panggilnya pelan, lagi dan lagi dia sepertinya sedang menatapku.


“Terima kasih” tambahnya.


Ucapannya barusan aku terjemahkan sebagai persetujuan ijin untukku keluar. Setelah mendapat ijinnya segera kuangkat kepalaku, tersenyum dan segera berlalu dari sana. Meskipun lampu temaram, tapi aku bisa melihatnya dengan jelas, ya, dia membalas senyumanku.

__ADS_1


__ADS_2