CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) OBROLAN BERDUA


__ADS_3

Aku dan Daniel menunggu mereka di parkiran mobil. Kami berdua duduk lesehan beralaskan plastik kresek. Kami sengaja tidak menunggu di dalam mobil karena kami berdua menghindari fitnah. Daniel memberiku roti sobek dan air mineral yang memang dipersiapkan oleh Mirna untuk para penumpang mobil besar. Aku yang sedikit lemas, cukup mendapatkan energi setelah makan dan beristirahat.


“Hmmm,,,Na?” Daniel menunjukkan raut wajah sedikit ragu untuk melanjutkan kata-katanya.


“Apa?” aku masih mengunyah rotiku.


“Kamu dan Mr. Dav sudah saling mengenal sebelumnya?”


“Iya”


“Kapan? Dimana?”


“Sekitar 4 tahun yang lalu. Di Jakarta lah”


“Maksudku pada moment apa gitu? Karena sepertinya kalian beda komunitas” Daniel sangat mengetahui, dari segi umur kami tak mungkin teman SMA. Daerah asal, jelas berbeda.


“Dulu aku kenal dia, saat dia baru lulus SMA. Kami tergabung dalam komunitas jalan-jalan objek wisata dalam negeri”


“Ooooh. Tapi aku lihat kalian cukup dekat?”


“Iya karena kami pernah jalan-jalan bareng ke dua objek wisata di Bogor dan pulau Seribu. Setelah itu kami intens berkomunikasi. Sampai akhirnya dia melanjutkan kuliah ke luar negeri, kami lost contact” aku menjelaskan dengan jujur tanpa beban.


“Apa waktu itu dia ada perasaan sama kamu?”


“Enggak ada”


“Kamu yakin?”


“Yakin!” jawabku mantap.


Gimana dia mau menyukaiku, Niel. Dia aja punya pacar yang sempurna.—aku hanya dapat mengatakannya dalam hati.


“Sejak awal kamu tau, kalau Davis yang kamu kenal, akan jadi Dirut kita?” tanya Niel lagi.


“Enggak. Kan aku bilang kami lost contact. Sampai kemaren”

__ADS_1


“Kemaren??” Daniel mengernyit.


“Iya. Aku tau pas di pesawat perjalanan ke sini”


“Apa dia udah tau kalau Narita yang dia kenal dulu adalah salah satu manajer di perusahaannya?” Daniel menatap mataku untuk menelisik lebih dalam lagi.


“Iya!”


“Sejak kapan dia tau?”


“Hehehehehheheeh kamu kepo yaa?” aku menggoda Daniel dengan menoel-noel lengannya.


“Aku penasaran aja. Karena interaksi kalian menunjukkan kalau hubungan kalian bukan sekedar atasan dan bawahan”


“Hah?? No no no no!! Kalian salah paham!” tegasku sambil melambaikan tangan tanda tidak.


“Aku dan dia gak ada hubungan apapun. Hanya sebatas teman lama”


“Jadi sejak kapan dia tau kamu adalah teman lamanya?”


“Bentar,,bentar,,,,aku waktu itu juga turut mendampingi beliau ke lantai 5 lho. Seingetku kamu gak ada di mejamu. Kalau gak salah Sherly bilang kamu lagi sholat!" 


“Wuiiihhhh keren juga daya ingatmu ya Niel!” aku kembali memuji dengan tujuan becandain dia.


“Iya gimana dia taunya?”


“Waktu dia di mejaku, dia melihat pajangan foto yang ada di mejaku. Foto kita berdelapan.”


“Owhhhh” Daniel manggut-manggut.


“Kalau kamu sendiri, tertarik gak sama dia?” tanya Daniel kemudian.


“Wait,,wait,,kamu udah memasuki ranah privacy ku lho Niel!!” aku memicingkan mataku.


“Sorry sorry Na. Gak usah dijawab kalau kamu keberatan!”

__ADS_1


“Lalu,,,,apa yang membuatmu tidak menyukaiku?” pertanyaan Daniel kembali membuatku kurang nyaman dan aku pun hanya menghela nafas panjang. 


Bukannya aku tidak menyukainya. Tapi aku memang sengaja menutup hatiku untuk siapapun yang tak mungkin menjadi jodohku karena berbeda –aku hanya mampu menjawab dalam hati.


“Na,,,maaf. Gak usah kamu jawab juga kalau kamu gak mau jawab. Satu hal yang perlu kamu tau, Na. Aku menyukaimu itu serius, bukan untuk sekedar main-main. Aku hanya berharap kamu hanya belum menyukaiku saja.”


“Maaf, Niel” suaraku pelan.


“Mungkin kalau ada hal yang kamu inginkan dariku, yang akan membuatmu menyukaiku, aku akan berusaha melakukannya. Atau mungkin ada hal yang membuatmu ilfil, katakan saja, mungkin aku bisa memperbaikinya agar menjadikan diriku lebih baik lagi!” kata-kata Daniel membuatku diam seribu bahasa.


Aku pun merasa tak perlu menjawab atau pun menanggapi kata-kata Daniel, karena teman-teman kami sudah mulai berdatangan. Obrolan yang hanya diketahui kami berdua, cukup kami sudahi sampai di sini.


“Kapan-kapan kita lanjut lagi ya!” ujarku sembari berusaha berdiri dan kemudian menepuk pundak Daniel.


Kulihat Davis mendekatiku dan berkata “Kamu sudah lebih baik, Na?” aku jawab dengan senyuman dan anggukan.


“Kenapa duduk lesehan? Kenapa gak istirahat di dalam mobil?” tanyanya kemudian.


“Boring juga kalau rehat di mobil sendirian. Kalau berdua sama Mr. Daniel, takut menimbulkan fitnah” jawabku dan dia pun tersenyum.


Cukup lama kami menunggu mereka berganti baju, karena tidak ada tempat tertutup lainnya yang bisa digunakan untuk berganti baju selain di dalam mobil. Sesaat setelah Davis berganti baju, dia mendekati kami yang sedang berkerumun dan berkata “Kita lanjutkan besok lagi aja yaa untuk ke lokasi yang keempat!”


“Baik, Mr!” jawab kami kompak.


“Na, ayo!” Davis menggiringku seperti merangkul tapi tak bersentuhan.


“Guys aku duluan ya, nanti kalau kalian sampai duluan, tunggu di resepsionis aja” aku sebenarnya sekedar mengingatkan bahwa barang-barang mereka masih dititipkan di kamarku.


---- Di mobil Davis----


“Kamu mau kuantar ke rumah sakit?” Davis memandangku.


“Terima kasih. Gak usah”


 "Hufh,,,kalau gak bisa menjaga, kenapa ngajak sie! Bikin bahaya orang aja!” Davis menggerutu dengan kesalnya sembari meremas kertas yang dipegangnya. Melihat ekspresinya semarah itu, aku tak tau harus berbuat apa, aku hanya terdiam.

__ADS_1


__ADS_2