
NARITA POV
Beberapa hari yang lalu, aku telah memeriksakan kandungan ke obgyn dan menurut dokter bahwa kandunganku sehat, bahkan terdapat 2 kantong janin, itu artinya kembar. Aku diberi vitamin untuk mengurangi mual dan penguat kandungan. Tak hentinya aku bersyukur memili mereka, paling tidak mereka adalah kenang-kenangan terindah Davis untukku.
Aku pun telah mengabarkan ke keluarga di kampung bahwa aku dalam kondisi hamil, namun aku belum memberitahukan ke mereka bahwa saat ini Davis menghilang tanpa kabar. Aku tak mau membuat mereka khawatir. Aku bisa menangani semua ini sendiri, sepanjang aku dan janin dalam kandunganku sehat.
Tak ada yang berubah dari para sahabatku. Mereka masih kompak dan baik memperlakukanku. Rahasia yang telah aku buka ke Abel, sepertinya dijaga dengan baik olehnya. Daniel dan Arnold tak henti-henti dan bosannya masih mengirimiku bunga, makanan, dan minuman hampir tiap hari, meskipun kami jarang bertemu. Aku sungguh terharu dengan kekompakan sahabat-sahabatku. Itulah hal yang makin menguatkanku sekaligus membuatku kembali ragu untuk resign dari sini.
Hal yang membuatku bahagia selain kehamilan adalah aku diterima beasiswa S3 ke Aussie. Meskipun aku berangkatnya masih 1 tahun lagi, tapi mengingat kehamilanku saat ini adalah sebuah hal yang masih menjadi rahasia, jadi mau tak mau, pilihan terbaik untukku adalah resign, kecuali Davis telah kembali dan kami dapat mengumuman pernikahan kami.
Meskipun berat, aku telah menata masa depanku dengan rencana-rencana yang sedikit gamang. Ternyata tak mudah menjadi orang tua tunggal.
2 bulan kemudian
Memasuki masa trimester kedua, rasa mual sudah mulai berkurang, perut sudah sedikit menonjol, segala aktifitas fisik sudah lebih mudah untuk kujalani.
Siang ini, aku makan siang bersama sahabat-sabahatku.
“Na, tumben lahap banget makannya?” Daniel terheran melihatku telah menghabiskan semangkok bakso dan kini hendak menyantap sate ayam dengan lontong.
“Gak nampol kalo makan siang cuma sama bakso” jawabku masih fokus dengan makananku.
“Kalau cewek-cewek takut gemuk, sepertinya kamu gak peduli” tanya Leo.
“Hehe,,,yang penting sehat. Aku tuh aslinya susah gemuk, makan sebanyak apapun yaaa segini-gini aja” jawabku enteng.
“Sepertinya sekarang kamu tambah semok, Na” ujar Dewi santai.
“Iya, terutama nie pipi, embem, tambah gemeeesss deh gue” Daniel langsung mencubit dengan lembut kedua pipiku.
__ADS_1
“Ihhhh lepas, belum halal!” aku segera menarik tangannya untuk menjauh dari wajahku. Mungkin kalau Davis melihatnya, bisa perang dunia lagi kami.
“Aku halalin mau gak?” Daniel masih cengengesan dan ditanggapin dengan decakan oleh sahabatku yang lain.
“Kalau gak mau sama Daniel, sama aku aja gimana Na?” lagi lagi Arnold menawarkan dirinya.
“Ishhh,,,udah-udah, kalian ini becanda aja!!!” sergah Abel yang tau aku kurang nyaman dengan becandanya mereka.
“Aku gak becanda, Na! Bahkan aku masih membawa kemana-mana cincin lamaran untukmu, berharap kamu mau kulamar setiap waktu” kata Daniel sedangkan yang lain masih tak ada yang menanggapi, mereka masih fokus dengan makanan masing-masing.
“Aku juga gak becanda. Meskipun aku bandel, tapi sejak jatuh cinta dengan Narita, aku gak pernah main cewek lagi, gak pernah mempermainkan hati perempuan lagi. Kalaupun aku belum menyiapkan cincin lamaran, tapi aku siap membelikannya jika kamu mau Na?”
“Kalian gak romantis ah, nembak cewek kok pas momen kaya gini!” komentar Dewi kemudian.
“Ishh, diromantisin juga tetep aja ditolak, mending nembak alakadarnya aja. Yang penting kan diterima” keluh Daniel.
“Emangnya kamu sama sekali gak bisa terima salah satu dari mereka Na? Toh mereka juga udah bersaing dengan sportif kok, aku rasa siapa pun pemenangnya, mereka gak akan berantem, bukan begitu Niel, Nold?” tanya Leo.
“Guys, Narita itu udah punya tunangan, liat dong cincin di jari manisnya!” ujar Abel yang sudah jengah ketika Narita dipojokkan.
“Coba kenalin ke kami kalau memang beneran udah tunangan! Bisa gak nunjukin siapa orangnya?” tantang Arnold.
“Minimal kalau kamu sudah membawa kepada kami, calonmu, kami gak akan kekeuh deketin kamu Na. kecuali tunanganmu gak jelas dan gak pasti kapan nikahinnya, yaaa maaf maaf aja ya, kami pepet terus kamunya!” seru Daniel dengan mantap dan yakin.
“Aduhhh Na,,,,bahagianya jadi kamu, dicintai 2 orang berwajah tampan, bertubuh atletis, dan berkantong tebel sekelas Daniel dan Arnold. Kenapa sie kalian gak suka sama aku aja!” Dewi mulai mengibas rambutnya.
“Sorry ya, kami suka yang kalem, mandiri, tegas, dan pintar seperti Narita. Loe mah Wi, manja, pusing aku kalau jalan sama kamu” kata Arnold yang diikuti gelak tawa yang lainnya, namun Dewi malah memukul lengan Arnold dengan tangannya.
“Jadi kalian mau berhenti mepet Narita sampai kapan?” tanya Leo kemudian.
“Sampai Narita mengenalkan suaminya” jawab Daniel serius.
__ADS_1
“Sampai Narita menerimaku tentunya, hahahhaha!” kata Arnold diiringi gelak tawa.
Hidup, mati, dan jodoh seseorang sudah ada yang mengatur. Aku pun tak tau siapakah jodohku yang sesungguhnya, hanya Dia yang maha mengetahui – batinku getir meratapi nasibku.
Kami pun akhirnya selesai makan siang dan kembali bekerja.
Di sela-sela jam kerja menjelang sore pulang kantor, ada wa masuk dari ponselku.
Daniel: Pulang kantor mau kemana?
Aku: Pulang rumah.
Daniel: Rumah?
Aku: Apartemen maksudku.
Daniel: Mau gak kita ngobrol-ngobrol di café bawah apartemen?
Aku: Maaf niel, hari ini aku capek kerja, maunya langsung rehat.
Daniel: Ok deh kalau gitu. Next time aja! Bye 😘
Aku: 👌👌
Ponsel segera kuletakkan kembali pada tempatnya. Aku memang sudah terbiasa dengan segala perhatian Daniel dan Arnold. Meskipun mereka tau aku tak menjanjikan apapun, tapi mereka pun tak pernah menuntut balasan atas apa yang telah mereka berikan untukku.
Benar kata Dewi, aku sungguh menjadi wanita yang sangat beruntung dicintai dengan sangat mendalam oleh 3 laki-laki sekaligus. Laki-laki yang tidak bisa dianggap biasa saja, tapi bisa dibilang high quality man. Mungkin kalau aku tak mempertimbangkan faktor ketaatan padaNya, aku bisa mempertimbang Daniel dan Arnold. Dengan pesona yang mereka miliki, tak sulit untuk meruntuhnya kerasnya dinding hati wanita mana pun, termasuk mungkin diriku.
Dari semua sahabatku, tak ada satupun dari mereka yang mengetahui tempat tinggalku saat ini. Mereka masih mengira aku tinggal di apartemen.
Hari-hari menjelang resign, rasanya semakin berat aku meninggalkan semuanya. Karirku, sahabatku, mata pencaharianku, semua ada di kantor ini. Usia kandunganku yang sudah mau menjelang 4 bulan, masih belum memperlihatkan perut gendutku, jadi aku masih aman menyimpan rahasia ini. Tapi aku tak mungkin menundanya terlalu lama, aku harus segera mengajukan surat resign.
__ADS_1
Mengingat hal itu, aku segera mengetik surat resign, mencetak, membaca ulang, menandatangani, scan, lalu kukirim email ke bagian HRD. Ketika tombol kirim aku klik, ada rasa berdesir dalam hati. Tanpa terasa aku meneteskan air mata. Baru kali ini aku merasakan nyaman yang teramat nyaman bekerja di suatu tempat.