
DAVIS POV
Seusai makan, Narita, Daniel, dan Arnold berpamitan, mereka bilang mau jalan-jalan di sekitaran villa. Padahal tadi jelas-jelas aku menyindir Narita dengan pernyataan gak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan, tapi sepertinya Narita tak mengerti apa maksud pernyataanku.
Aku pun lebih memilih berenang, sepertinya dengan berenang bisa mendinginkan otak dan kepalaku yang sudah memanas. Bagaimana tidak? Jess yang tiba-tiba datang dan mengatakan hal yang seharusnya tak perlu dibahas, membuatku makin emosi.
Sudah cukup lama aku berenang, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku “Dav!” Aku pun menepikan diriku.
“Gak dingin?” tanya jess yang sudah mencelupkan kakinya ke kolam.
“Biasa” jawabku.
“Aku telpon Grandpa ya!” tanyanya meminta pendapatku namun tak kugubris, aku segera naik dan mengambil bathrobe ku dan duduk di kursi malas tepian kolam.
Kulihat dia video call dengan Grandpaku.
“Coba tebak aku sama siapa?” Jess berbicara dengan seseorang di layar ponselnya.
“Davis, Grandpa!” jawabnya langsung
“Mana?” tanya Grandpa.
“Nie!” Jess menyerahkan ponselnya padaku dan aku terima.
“Hai Grandpa, apa kabar?” aku menatap seorang yang sangat aku kagumi, ya dia adalah ayah Daddyku. Seseorang yang sangat sukses membangun bisnisnya hingga bisa diwariskan ke anak cucunya.
“Baik, Dav. Kamu di Bali juga?” tanyanya kemudian.
“Iya. Ada urusan bisnis, Grandpa.” Jawabku.
"Dav, kamu sengaja ninggalin Jess di Bali sendirian ya?" kulihat Grandpa sedikit memarah.
"Bukan sengaja Grandpa, tapi Jess memang katanya datang ke Indonesia sengaja mau berlama-lama tinggal di Bali, iyakan Jess? " aku mengarahkan ponselku ke Jess.
"Iya Grandpa, gak usah mengkhawatirkanku. I'm oke. Aku betah di Bali Grandpa, walaupun aku di sini tinggal sendiri tapi orang-orang Indonesia ramah-ramah, aku tak pernah merasa kesepian, selalu ada orang-orang yang mau mengajakku ngobrol dan membantuku" Jess kembali mengarahkan ponsel yang aku pegang ke arah wajahku saja. Sepertinya dia memberiku kesempatan untuk berbicara dengan Grandpa.
“Dav, Jess orangya bisa dipercaya dan kerjanya bagus. Kalau kamu mau menjadikannya asisten kedua, bawalah dia ke Jakarta, menurutku lebih baik untuk kalian kerja bersama” ujar Grandpa membuatku malas.
Ya memang Jessica ini orang kepercayaan Grandpa ku. Meskipun Jess masih muda tapi dia begitu piawai menangani bisnis Grandpa ku. Sama halnya denganku, sejak kami kuliah S1 dia sudah bekerja dengan Grandpa. Saking sayangnya Grandpa dengannya, Grandpa selalu menjodoh-jodohkanku dengannya. Entah aku sendiri bingung, Grandpa menjodohkanku dengan Jess sedangkan Mommy ku menjodohkanku dengan Alin.
__ADS_1
Namun kalau mau jujur, Jess lebih baik daripada Alin. Jess lebih smart, rajin, dan meskipun dia menyukaiku tapi dia tak sebegitu murahannya hingga menempel padaku terus-terusan. Dia punya pergaulan yang bagus, teman-teman yang banyak. Sedangkan Alin? Sepanjang hari dia hanya menempel padaku, tak pernah punya teman, gak pernah fokus dengan yang dikerjakannya. Ahh begitulah mereka.
Aku beranjak dari duduk dan berjalan menuju ke villa “Hmm” jawabku pendek.
“Dav, dia gak akan maksa masuk ke perusahaanmu kalau bukan kamu yang membawanya.” Ujarnya lagi.
“Grandpa, aku sudah cukup punya 1 asisten!” jawabku, aku berjalan menuju kamarku.
“Yasudah, aku gak mau maksa. Kalau kamu gak membutuhkannya, biar dia kerja padaku!” Grandpa sudah mulai malas berbicara denganku.
“Maaf Grandpa. Owh ya gimana Mommy and Daddy kabarnya?” aku mengalihkan pokok pembahasan kami sambil membuka pintu kamarku.
“Mereka sedang di Australia sekarang. Kalau tidak salah mereka akan stay di sana 6 bulanan” terang Grandpa padaku dan aku hanya manggut-manggut.
Aku telah memasuki kamarku.
“Yaudah Dav, salam buat Jess” kami pun mengakhiri vidcolnya.
“Ngapain kamu ikut ke sini?” tanyaku ketus.
“Lah, ponselku kan dipake!” dia mengambil ponsel yang tadi dengan santainya kulempar ke ranjangku.
“Astaga….kenapa aku bisa lupa” aku pun pergi ke toilet untuk mandi tanpa menghiraukan keberadaaanya.
Beberapa menit kemudian aku keluar dari toilet “Kamu belum pergi?” tanyaku santai saat aku masih melihat Jess di kamarku dan tiduran di ranjang memainkan ponselnya.
“Aku tidur sini ya!” pintanya.
“Terserah!” jawabku.
__ADS_1
NARITA POV
Tadinya Daniel, Arnold, dan aku pamit untuk pergi jalan-jalan, namun kenyataannya Arnold lebih memilih pergi sendiri. Dia bilang mau ke bar deket villa. Aku dan Daniel lebih memilih berjalan ke arah pinggir pantai untuk menikmati deburan ombak.
Sesampainya di pantai, kami duduk di pasir putih beralaskan sandal villa yang tadi kami pakai.
“Gimana perjalanannya naik jet pribadi sama Mr. Dav?”
“Biasa aja”
“Sepertinya baru pertama kenal bisa langsung akrab ya?”
“Hmmm beliau tak semenyeramkan seperti apa yang kalian katakan kok!”
“Kalian membahas masalah bisnis gak di jalan?”
“Enggak!”
“Ya jelas gak marah. Jangan-jangan kalian gak saling mengobrol di pesawat?”
“Ngobrol tapi bukan masalah pekerjaan”
“Wow,,,hebat kamu Na!! Bisa ngobrol dengan si Mr. pemarah, sombong, dan angkuh itu di luar pembahasan pekerjaan!”
“Ckk,,,dia gak segitunya juga Niel”
“Emang kalian ngobrolin apaan sie?”
“Kepo apa kepo banget nie?” tanyaku sambil cengengesan membuat Daniel kesal.
“Serius aku nanya, Na!”
“Hmmm ada deh!” jawabku makin membuatnya kesal.
“Jangan bilang,,,Mr. Dav juga jatuh cinta padamu, Na!”
“Husshhh, ngaco. Jangan sembarangan bicara Niel!” aku memukul lengannya dengan keras.
“Kebiasaan deh mukul-mukul! KDRT ini namanya!” Daniel memasang tampang pura-pura cemberut.
__ADS_1
Kamipun bersendau gurau di tepi pantai. Sesekali terdengar tawa menggelegar ditengah-tengah serunya obrolan kami. Ya begitulah dengan Daniel, dia selalu asyik di ajak ngobrol. Tak lama kemudian kami meninggalkan pantai untuk beristirahat di villa masing-masing.
Saat aku telah memasuki villaku, dan menuju kamar, aku melihat dari kejauhan Davis dan Jess memasuki kamar Davis.