CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(DAVIS POV) KE RUMAHNYA 2


__ADS_3

Aku berdiri dari dudukku dan mencium tangan pak Bagus sebagai tanda menyalami yang lebih tua, lalu diikuti oleh Rio.


“Maaf pak, tadi kami lupa bersalaman” aku sedikit berkelakar dan disambut tawa hangat pak Bagus.


Lalu Pak Bagus mempersilahkan kami minum dan menikmati cemilan buatan bu Marni yang sedari tadi telah ada di atas meja ruang tamu.


“Maaf ya nak, seadanya. Bapak tak ambil buah yang tadi dulu!” pak Bagus hendak berdiri dari duduknya namun segera kucegah.


“Gak usah pak. Ini udah cukup kok, malah ini enak home made, alami tanpa bahan pengawet” aku membuka tutup toples, mengambil keripik pisang itu dan mengunyahnya.


“Syukur deh kalau enak. Ngomong-ngomong gimana kabar nak Davis?”


“Alhamdullillah kabar saya baik pak. Bapak, ibu, sama Arjuna apa kabar?”


“Alhamdullillah kami juga baik, nak. Arjuna baru lulus S1, Alhamdullillah keterima kerja di bank.”


“Syukurlah. Apa Arjuna tidak berkeinginan merantau ke Jakarta, pak?”


“Arjuna sempat diskusi dengan kami dan mbaknya, Narita, tapi mbaknya menyarankan dia untuk mencari pekerjaan di kampung halaman saja, karena sekalian biar bisa jagain bapak sama ibu yang sudah mulai tua, nak”


“Owh iya, benar juga ya pak.” Sahutku.


“Kalau nak Davis sendiri gimana? Keterima kerja di mana?” mendengar pertanyaan pak Bagus, kulirik raut wajah Rio sedikit berubah. Mungkin dia kaget, kaget karena aku sudah cukup mengenal pak Bagus, tapi juga kaget karena ternyata justru pak Bagus yang belum begitu banyak mengenal aku.


“Alhamdullillah pak, saya sudah kerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta.”


“Masih sering ketemu Narita kan?”


“Masih pak.”


“Gimana kabar dia? Semenjak naik jabatan jadi Manajer, dia jadi jarang pulang. Dia pulang cuma pas lebaran Idul Fitri sama Idul Adha aja” keluh pak Bagus.


“Owh mohon dimaklumi saja ya Pak. Begitulah Namanya risiko jabatan. Alhamdullillah Narita baik, pak!”


“Iya gakpapa Nak. Yang penting dia di sana sehat, Bahagia, dan selalu dalam lindungan Alloh”


“Aamiin” aku dan Rio mengamini bersamaan.


“Nak Rio ini asisten nak Davis? Hebat juga ya nak Davis baru kerja udah punya asisten” mukaku bersemu merah dan tersenyum tipis.

__ADS_1


“Hehehe, istilahnya asisten pak, padahal beliau ini partner kerja saya” aku menjelaskan dengan sedikit hati-hati.


“Owh begitu.”


Tiba-tiba ada suara salam menginterupsi obrolan kami.


“Assalamu’alaikum” nampak wajah seorang wanita paru baya yang selama ini kukenal melalui video call. Beliau nampak sedikit mengerutkan keningnya.


“Nakkk Davis?” tanya beliau ragu, lalu aku pun berdiri mencium tangannya. Diikuti oleh Rio kembali.


“Alhamdullillah ibu masih mengingat saya?” tanyaku pura-pura bertanya.


“Jelas ibu ingat nak. Satu-satunya bule ganteng yang dikenalin Narita ke bapak sama ibu ya cuma nak Davis seorang” kami pun spontan tertawa ringan bersamaan.


“Ini teman sekaligus rekan kerja saya bu, namanya Rio” aku memperkenalkan Rio setelah bu Marni melirik ke Rio seolah bertanya siapakah dia.


“Owh yayaya,,,,ayo silahkan duduk lagi.”


“Nak Davis lagi ada pekerjaan atau gimana nie tumben mampir sini?” tanya bu Marni.


“Buuu, biarin Nak Davis sama nak Rio ngobrol santai dulu to!” ujar pak Bagus menatap istrinya.


“Tapi bu—” Rio hendak menolak namun segera dibantah pak Bagus.


“Gak baik lho nak menolak niat baik orang tua! Lagipula kan jarang-jarang kalian datang ke sini!” ujar pak Bagus.


“Baiklah kalau tidak merepotkan!” jawabku kemudian.


Tak berapa lama, terdengar suara motor memasuki pelataran rumah. Lalu terdengar suara salam, kami pun menjawab salam bersamaan.


“Arjuna, sini nak. Kenalin ini nak Davis temennya mbakmu, dan ini nak Rio rekan kerjanya nak Davis” pak Bagus memperkenalkan kami dan kami pun bersalaman.


“Saya sering dengar cerita tentang mas dari bapak sama ibu. Alhamdullillah sekarang bisa ketemu langsung. Mas sering dipuji-puji bapak sama ibu lho!” Arjuna mendudukkan badannya pada sofa.


“Waah masa’ sie? By the way, panggil Davis aja, setauku kita seumuran”


“Masa?” Arjuna terkaget dan melihat penampilan kami yang mengenakan setelan baju casual.


“Iya juga sie, keliatan style kita sama” kami pun tertawa bersamaan.

__ADS_1


“Yaudah, nak Davis dan nak Rio istirahat dulu aja di kamar. Kalau mau mandi sore juga silahkan. Kalau udah kemaleman, takut nanti airnya dingin bikin sakit reumatik” ucap bu Marni.


Setelah kami mengambil tas tenteng dari dalam mobil, kami dipersilahkan masuk ke kamar yang telah ditunjukkan bu Marni. Aku menempati kamar Narita, sedangkan Rio menempati kamar tamu.


Begitulah pertemuan pertamamu dengan keluarga Narita. Pantas saja Narita tumbuh menjadi seorang wanita yang hangat, dewasa, dan perhatian. Karena dia tumbuh di keluarga yang hangat dan tak kurang kasih sayang sedikit pun. Meskipun kami baru saling mengenal, namun keluarga Narita menyambut ku dengan sangat ramah.


Setelah mandi dan melaksanakan ibadah di kamar, aku kembali keluar kamar dan menuju dapur. Kulihat bu Marni tengah memasak sesuatu untuk makan malam. Sedangkan bapak duduk tak jauh dari situ sembari minum kopi dan makan pisang goreng.


“Bu, Pak, ada hal penting dan serius yang akan saya sampaikan. Nanti mohon kesediaan waktunya setelah sholat Isya’ ya pak, bu” ucapku sedikit gemetaran.


“Owh iya nak. Nanti bapak Maghrib dan Isya’ di masjid, jadi tunggu bapak gakpapa kan nak?” tanya pak Bagus kemudian.


“Owh sekalian saja kalau gitu, pak. Nanti saya dan Rio ikut ke masjid” ucapanku membuat mereka sedikit terkaget.


“Owhhh ooo I I iya” jawab pak Bagus tergagap.


Beberapa jam kemudian (sehabis sholat Isya’ di masjid), pak Bagus, bu Marni, aku, Rio, dan Arjuna tengah berkumpul di ruang tamu.


“Pak Bagus, Bu Marni, dan Arjuna, maksud dan tujuan kami datang kemari adalah yang pertama tentu untuk bersilaturahmi dengan bapak ibu sekeluarga. Selama ini kita sudah sering telponan, video call, jadi alangkah baiknnya juga dapat bertemu secara langsung. Lalu yang kedua, saya ingin mengutarakan niat baik saya. Saya ingin melamar Narita untuk menjadi istri saya” aku mulai membuka obrolan serius kami.


Raut wajah Pak Bagus, Bu Marni, dan Arjuna nampak menunjukkan ekspresi kaget.


“Hahhh?” kata mereka bertiga secara bersamaan.


Selama beberapa detik lamanya, suasana hening.


“Nak Davis se se serius?” suara pak Bagus yang tergagap-gagap cukup memecahkan kesunyian.


“Iya saya serius, Pak” jawabku mantap.


“Saya sudah melamar Narita langsung, tapi setelah saya pikirkan kembali, akan lebih sopan lagi apabila saya langsung melamar Narita ke bapak dan ibu selaku orang tuanya” lanjutku.


“Alhamdullillah, kami senang mendengar niat baik nak Davis. Tapi bapak dan ibu tidak bisa mengambil keputusan sendiri, kami akan menyerahkan keputusannya pada Narita. Kalau dari bapak, bapak merestui.”


“Ibu juga merestui, nak” nampak wajah sumringah bu Marni, sesekali beliau menyeka air matanya.


“Arjuna juga tidak keberatan mas. Tapi semua keputusan kembali pada mbak Na” ucap Arjuna menambahkan.


Lalu aku pun mulai mengutarakan sebuah rencana. Sesekali Rio menambahkan apa yang telah aku sampaikan. Semua menyimak dengan seksama. Dan pada akhirnya semua menyetujui rencanaku. Aku bersyukur, karena Langkah awal dari rencanaku berjalan cukup lancar.

__ADS_1


---- TO BE CONTINUED ----


__ADS_2