CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) DIA PERGI MENDADAK


__ADS_3

Saat Alin mengingatkan akan perbedaan antara aku dan Davis. Kami hanya diam.


Spontan aku pun membuang muka ke arah lain. Nnamun saat pandanganku melewati wajah Davis, aku melihatnya sedikit tersenyum.


Apa maksud senyum Davis??


Jam 13.00 Davis berpamitan, kami pun keluar café berdua. Sejak Alin mengatakan perbedaan aku dan Davis, seolah antara kami terjadi kecanggungan. Sepanjang perjalanan ke apartemenku, kami hanya mengobrol sekenanya, bahkan bisa terbilang obrolan garing.


Di tengah-tengah perjalanan, ada seseorang yang menghubungi Davis. Lalu dia angkat telponnya dan berbicara dalam Bahasa Inggris menggunakan earphone. Namun entah seserius apa, hingga Davis meminggirkan mobilnya, keluar dari mobil. Sepertinya ada pembicaraan yang tidak ingin diketahui olehku. Cukup lama dia menerima telpon.


“Maaf Na, jadi menunggu” Davis masuk kembali ke mobil.


“Owh gakpapa” jawabku tersenyum.


Sisa perjalanan ini, kami berdua sama-sama terdiam. Aku mengarahkan pandanganku ke jendela sebelah kiri. Dalam hatiku bertanya-tanya siapakah gerangan yang baru saja menelponnya. Kenapa dia langsung berubah diam dengan ekspresi yang susah diartikan.


Sampailah mobil kami di parkiran apartemenku.


“Vis, aku duluan. Terima kasih telah mengajakku” dia pun tersenyum dan mengangguk.


“Maaf gak bisa mengantarmu sampai depan kamar” katanya setelah aku keluar mobil dan hendak menutup pintu. Namun aku tak menjawabnya, aku hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalaku.


“Assalamu’alaikum” suara pelan Davis mengawali salam, membuatku yang hendak membanting pintu mobil malah mengerutkan dahiku.


“Apa Vis?” aku takut salah mendengar.


“Kalau ada orang yang menyampaikan salam, dijawab dong Na!”


“Assalamu’alaikum” Davis kembali mengucap salam dengan lembut.


“Wa'alaikum” jawabku lirih. Sekilas kulihat dia yang malah mengerutkan dahi, tapi akhirnya kembali tersenyum manis sekali, lalu segera kututup pintu mobilnya.


----- Kantor -----


Hari Kamis minggu lalu, kami telah dijadwalkan untuk rapat dengan bagian operasional dan bagian keuangan dengan dipimpin oleh Direktur Utama. Aku telah menyiapkan bahan yang akan disampaikan dan beberapa pertanyaan yang akan kami utarakan ke bagian operasional.


Aku dan Mr. Al telah sampai di ruang rapat lantai 10. Sekretaris Dirut langsung mempersilahkan kami untuk menunggu di ruang rapat. Beberapa menit kemudian Direktur Operasional dan beberapa manajer masuk ruang rapat.


Sekretaris Dirut kembali masuk dan mengamati kami satu per satu, lalu dia pun keluar ruangan. Tak menunggu berapa lama, Rio datang dengan Sekretaris Dirut di belakangnya.

__ADS_1


“Rapat kali ini, saya yang mimpin. Mr. Dav keluar negeri, ada keperluan mendesak” Rio mengawali rapat kami.


Aku cukup kaget mendengar kalau Davis keluar negeri, karena kemaren kami masih bersama dan dia sama sekali tak membahas apapun.


Rapat berlangsung cukup singkat. 


Setelah keluar ruang rapat, aku mendekati meja Sekretaris Davis.


“Kak, Alin ada?” tanyaku pada Sekretaris Davis. Entahlah apa yang ada di pikiranku, aku hanya ingin mengetahui alasan Davis keluar negeri mendadak.


“Gak ada, Na. Dia yang mendampingi Mr. Dav keluar negeri. Urusan kantor di Indonesia untuk sementara dipegang Pak Rio. Ada apa Na?” nampak heran ketika aku menanyakan Alin. 


“Owh gitu. Gak ada apa-apa kok Kak!” jawabku singkat dan aku pun pergi.


“Na!” panggilnya kemudian dan aku segera membalikkan badanku.


“Kamu kenal tunangan Mr. Dav?” 


“Tunangan?” aku mengernyit.


“Alin” tegasnya kemudian. 


“Beneran dia tunangan Mr. Dav?” Sekretaris Davis menghampiriku dan mengatakannya dengan berbisik.


“Gak tau aku Kak. Kami tau gosipnya juga dari Kakak”


“Itu karena dia memperkenalkan diri sebagai tunangannya” dia kembali duduk.


“Tapi aku gak yakin. Mr.Dav kalau sama dia cuek. Gak selayaknya memperlakukan seorang tunangan. Tapi aku sebel. Dia selalu menempel sama Mr. Dav!” Sekretaris itu mengatakannya dengan sedikit ketus seolah dia sedang cemburu.


“Jangan bilang Kakak menyukai Mr. Dav?” aku menghampirinya seolah menyelidikinya dan dia pun tersentak mendengar pertanyaanku.


“Eng enggak. Kamu salah paham, Na!” dia pun tergagap dan mengalihkan pandangan ke berkas yang ada di mejanya seolah menghindari bersitatap dengan mataku. Aku pun tersenyum melihat tingkah Sekretaris Davis yang satu ini.


“Oke kak, aku balik dulu!” pamitku dan dia hanya membalas dengan anggukan.


Tak heran sie banyak yang menyukai Davis. Dia memiliki daya tarik visual, ditambah smart, tegas, dan perhatiannya yang membuat seseorang gampang salah paham. Dia memang terkadang terkesan dingin, cuek, dan sombong, tapi ketika dia sudah merasa dekat dengan seseorang, dia akan menjadi sosok yang hangat dan perhatian.


Sesampainya di mejaku, segera kukirim pesan ke Davis.

__ADS_1


Aku: Davis, kata Rio kamu keluar negeri? Ada keperluan mendadak. Are you oke?


Kulihat pesanku belum terkirim. Akhirnya aku letakkan ponselku, dan kembali bekerja.


Saat jam istirahat tiba, lampu ponselku berkedip. Segera kuraih dan kubuka. Ternyata pesan dari group genk yang mengajak untuk makan siang bersama. Aku kembali melihat pesan yang kukirim ke Davis. Masih centang 1.


Sore hari ketika aku hendak pulang kantor, aku kembali membuka pesan. Ternyata masih centang 1. Ada apa sebenarnya dengan Davis? Urusan pekerjaan ataukah urusan pribadi?


----- Apartemen -----


Saat aku sedang rebahan sembari menonton drama korea, ponselku berdering. Senyumku merekah ketika nama Davis yang muncul di panggilan itu.


“Hallo” tanpa menunggu dering kedua berbunyi, aku segera mengangkat telponnya.


“Assalamu’alaikum, Na. Biasakan dengan salam, Na!” Davis mengingatkanku.


“Wa’alaikum”


“Kok jawabnya gitu doang?”


“Yasudahlah. Gimana Na, kabar kantor?”


“Vis, justru aku yang harusnya nanya, kenapa kamu tiba-tiba keluar negeri?” tanyaku dengan nada panik.


“Kamu baik-baik saja kan?”


“Kenapa gak ngabarin aku?”


“Urusan kantor atau ada urusan pribadi?” aku pun memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


“Wah wah wah,,,baru sehari gak ketemu aja kamu udah over protected. Aku seneng deh, Na kalau kamu kaya gini!” bukan menjawab bertanyaanku, dia malah menggodaku.


“Pindah ke video call ya!” pintanya kemudian.


“Iya” jawabku singkat.


Akhirnya kami pun ngobrol sembari memandang wajah di layar ponsel masing-masing. Obrolan yang cukup panjang dan lama tak membuat kami bosan, malah seolah karena jaraklah membuat kami merasa makin saling membutuhkan. Sampai akhirnya kami sama-sama tertidur ketika video masih sama-sama on.


Pagi harinya ketika bangun tidur, ponselku telah mati. Mungkin semalam sampai batrenya lemah dan akhirnya mati. Aku kembali mengingat percakapanku dengan Davis. Aku baru ingat kalau percakapan kami yang lama tak menjawab pertanyaanku, kenapa Davis mendadak keluar negeri. Ahh sungguh bodohnya aku, Davis yang smart begitu mudahnya mengalihkan bahan pembicaraan sampai-sampai aku tak menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2