CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
PATAH HATI 3


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Davis kembali terdiam mendengar penuturan Dave. Hatinya seperti tersentil mendengarnya. Memang mungkin bagi orang-orang di belahan bumi bagian barat, akan menganggap apa yang diperbuat Davis dan Jess itu biasa, namun tidak bagi kepercayaan yang dianut oleh mereka berdua. Walau bagaimana pun, apa yang dilakukan Davis adalah salah.


 


“Beri aku waktu untuk berpikir dengan jernih kak! Kalau memang aku harus menikahi Jess, aku ingin menikahinya atas keinginanku sendiri, bukan karena desakan dari pihak mana pun!”


 


“Kutunggu jawabanmu dua hari lagi!”


 


“Lalu calon kakak sendiri, siapa?” tanya Davis kemudian.


 


“Nanti kau juga akan tau! Dua hari lagi akan aku umumkan siapa dia!” jawab Dave lalu berjalan keluar ruang kerjanya meninggalkan Davis yang masih duduk terbengong.


 


Sementara itu, di tempat yang berbeda, Narita kini telah tiba di kantornya. Dia sengaja datang lebih pagi karena ingin menetralisir rasa sakit di hatinya dan dengan cara menyibukkan diri ke beberapa pekerjaan yang kemaren sempat tertunda.


 


Beberapa lama kemudian, dia teringat untuk menelpon keluarganya di kampung. Namun dia kembali kecewa karena kali ini pun, dia tidak dapat menghubungi telpon ibunya. Pikiran buruk mulai meracuninya. Dia takut terjadi sesuatu hal buruk pada keluarganya. Kenapa nomor Bapak, Ibu, dan adiknya secara bersamaan tidak bisa dihubungi. Narita bingung, siapa lagi yang akan dihubunginya mengingat dia tak memiliki nomor telpon tetangga di kampungnya.


 


“Assalamu’alaikum!” tiba-tiba suara sapaan seseorang telah mengagetkan Narita.


 


Dia menoleh ke sumber suara sembari menjawab salam itu. Mengetahui Davis yang menyapanya, Narita tersenyum tipis padanya. Sebenarnya dia sangat muak melihat wajah Davis, namun semua itu dia tahan. Orang yang tak ingin dia lihat hari ini, malah justru tiba-tiba datang ke ruangannya.


 


“Apakah Anda ingin bertemu dengan pak Adam?” tanyaku dengan sopan.


 


Davis lalu menggeser kursi kosong yang ada di meja kerja sebelahku.


 


“Tidak. Aku ingin bertemu denganmu!” dahi Narita berkerut.


 


“Ada urusan apa Anda ingin menemuiku?”


 


“Sudah saatnya makan siang, bisakah kita ngobrol sembari makan siang?” Davis melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


 


“Maaf. Sepertinya tidak baik jika kita hanya makan berdua saja!” Narita beralasan.


 


“Hai girl. Ini bukan di Indonesia. Kau tak perlu memikirkan apa kata orang, karena tidak akan ada orang yang akan menggosipkan kita!”

__ADS_1


 


“Oke. Tapi setidaknya kita bisa mengajak Jess!”


 


“Please, Na! Kita perlu bicara berdua. Aku tidak akan mengajakmu ke restoran VIP yang hanya ada kita berdua di dalam ruangan itu! Aku hanya ingin mengajakmu makan di café bawah saja!”


 


“Maaf, tuan aku---”


 


“Na, please! Mungkin nanti kita tidak akan bisa lagi ngobrol hanya berdua!”


 


“Baiklah” akhirnya dengan terpaksa Narita menerima ajakan makan siang Davis.


 


--- Café---


 


Davis dan Narita sudah mendapatkan tempat duduk yang cukup tenang sehingga obrolan mereka tidak akan terdengar oleh meja lainnya karena jaraknya cukup berjauhan. Mereka sudah memesan makanan dan tinggal menunggu makanan datang.


 


Nampak oleh mereka berdua, di depan lobby masih banyak para pencari warta yang berdiri dan sengaja menunggui orang yang hendak mereka wawancarai. Mereka akan terus berada di sana sebelum ada konferensi pers pernyataan dari Dave maupun sang influencer.


 


“Kapan tuan Dave konferensi pers? Suasana kantor jadi gaduh begitu. Sangat tidak nyaman” Narita mulai membuka suara.


 


 


“Hmm,,,bagi saya, saya masih sungkan makan hanya berdua dengan Anda di sini! Anda adalah seorang Direktur dan saya hanya pegawai magang. Bisa jadi berita heboh juga kalau ada yang ingin menjatuhkan Anda!” Davis nampak tersenyum tipis mendengar penuturan Narita.


 


“Kau berpikir terlalu keras seolah kau berada di Indonesia. Di sini mereka tak akan berpikir seperti itu”


 


“I hope so” Davis pun mengangguk.


 


“Jadi, ada perlu apa Anda memaksa mengajak saya makan siang?” tanya Narita selanjutnya.


 


“Pertama-tama aku ingin menjelaskan kesalahpahaman antara aku dan kakakku tadi pagi. Aku sama sekali tidak melakukan itu dengan Jess” Narita yang awalnya memperhatikan Davis, langsung menoleh ke samping karena malas mendengarnya.


 


“Tidak ada hubungannya dengan saya, jadi Anda tak perlu menjelaskannya!” Narita mengatakannya dengan pandangan mata masih menatap lobby kantor.


 


“Meskipun bagimu tidak ada, tapi bagiku ada hubungannya, karena----” Davis menggantung kalimatnya dan dia masih memperhatikan ekspresi cuek Narita. Narita sama sekali tak menatap Davis ketika diajak berbicara.

__ADS_1


 


Sesaat Davis sengaja menjeda bicaranya.


 


“Apakah sebegitu jijiknya kamu padaku, hingga kamu gak mau menatapku?” tanya Davis kemudian.


 


“Maaf,,,” jawab Narita lalu dia pun terpaksa memperhatikan Davis kembali.


 


“Kamu gak ingin tau alasan kenapa bagiku penting untuk menjelaskan kesalahpahaman itu kepadamu?” tanya Davis kembali pada Narita. Tatapan mata Davis seolah telah menusuk masuk ke relung jiwa Narita hingga Narita pun kembali melengos ke samping sejenak, dan mengambil minumannya untuk menetralisir debaran jantungnya karena tatapan itu.


 


“Kenapa kamu gak jawab?” Davis seolah mendesak Narita.


 


“Kenapa?” akhirnya dengan terpaksa Narita menuruti Davis, seolah dia penasaran. Davis tersenyum melihat pertanyaan bernada malas Narita.


 


“Because I Love You” pernyataan cinta Davis yang mendadak membuat Narita yang sedang menyedot minumannya tersedak dan terbatuk-batuk, hingga Davis akhirnya berdiri dan menepuk-nepuk lembut punggung Narita.


 


“Are you oke?” beberapa saat setelah Narita tak batuk lagi, Narita pun menjawab dengan anggukan kepala. Davis kembali ke kursinya.


 


“Aku sendiri tidak tau sejak kapan rasa ini ada. Sejak pertama kali melihatmu, aku sudah merasakan perasaan yang tidak biasanya.” Lanjut Davis.


 


Davis masih menatap lekat pada Narita, namun Narita masih gelagapan dan tak berani membalas tatapan matanya.


 


“Maaf,,,” ucap Narita singkat.


 


“Maaf? Maaf untuk apa?” tanya Davis kemudian.


 


“Maaf karena—karena—” Narita tidak berani melanjutkan kalimatnya.


 


“Aku tau ini terlambat. Sungguh bodohnya aku kenapa baru menyadarinya sekarang. Andaikan aku belum bertunangan, andaikan aku belum memberikan harapan pada Jess, mungkin---”


 


Tiba-tiba seorang pelayan datang menyajikan makanan mereka. Obrolan mereka pun terhenti untuk sesaat, sembari menunggu semua makanannya tertata di meja.


 


“Sejujurnya, awalnya aku ragu apakah aku harus memendam rasa ini ataukah mengungkapkannya” ungkap Davis.


 

__ADS_1


DEG


__ADS_2