CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
KECEWA


__ADS_3

NARITA POV


 


Sudah 1 bulan Davis pergi tanpa meninggalkanku tanpa pesan apapun. Janjinya untuk meresmikan pernikahan kami dalam suatu ikatan resmi yang diakui oleh negara, nyatanya tak terwujud. Begitu pun halnya dengan Rio, mereka menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada yang mengetahui keberadaan mereka. Segala hal urusan kantor telah diambil alih oleh beberapa orang asing yang sengaja didatangkan oleh kantor pusat yang di Inggris ke sini. Seolah tak pernah terjadi sesuatu hal yang bergejolak, pergantian pimpinan terjadi dengan sangat biasa.


Kehamilanku yang sudah menginjak bulan kedua masih belum menunjukkan perubahan fisik yang berarti. Morning sickness masih sering terjadi tapi aku tidak begitu menghiraukan apa kata orang. Aku hanya berpikir harus memiliki rencana cadangan atas situasiku kali ini. Jikalau aku mengumumkan seorang diri bahwa aku telah menikah, pasti mereka akan bertanya mengenai siapakah suamiku. Apabila aku mengatakan yang sejujurnya siapa suamiku, aku tidak yakin mereka akan mempercayainya.


Aku harus cepat mengambil keputusan untuk masa depanku. Aku tak mungkin tetap bekerja di sini sampai perutku membesar.


Seperti halnya hari-hari biasanya, siang hari setelah makan siang, aku sikat gigi. Dan seperti biasa, kalau sikat gigi pasti akan memicu untuk muntah-muntah. Usai aku memuntahkan sebagian isi perut ke toilet, aku keluar dengan langkah gontai.


“Na? Are you oke?” Abel tiba-tiba telah berdiri di depan pintu toilet dengan memperhatikan wajahku. 


“Hmm,,,biasa kalau sikat gigi gampang bikin muntah” jawabku pelan.


Dia segera menarik lenganku dan membawaku ke ruang rapat di seberang pintu toilet.


“Duduklah!” aku pun mengikuti perintahnya lalu dia pun menutup pintu ruang rapat. Kini dia memperhatikanku dengan intens.


“Kamu sudah tespek?” aku yang kaget mendengar pertanyaannya berusaha untuk menunjukkan ekspresi biasa saja.


“Apa maksudmu?” aku hendak berdiri namun lenganku segera ditahannya.


“Na, kamu gak usah malu. Aku curiga kamu hamil” aku pun kembali duduk dan sedikit tersenyum smirk mendengar ucapannya.


“Kamu sudah menikah kan?” dia mengangkat jari manisku dari tangan kananku seolah menunjukkan cincin bertahta berlian yang tersemat di sana.


“Aku bisa jaga rahasia kalau kamu memang belum ingin orang tau mengenai pernikahanmu” Abel kembali meyakinkanku, dan akhirnya aku mengangguk. 


“Siapa suamimu?” tanyanya menyelidik.


“Maaf, Bel. Sebenernya aku dan suamiku tak ada niatan untuk menutupi ini terlalu lama. Dia sedang mengurus berkas pernikahan kami, nanti akan aku kasih tau kalau kami sudah memegang buku nikahnya.


“Aku gak butuh bukti. Aku hanya butuh kamu jujur. Ok pertanyaan diganti. Apa kamu sudah tespek?” aku pun menjawabnya dengan mengangguk.


“Hasilnya?” Abel bertanya lagi dan kujawab “positif”.


“Kamu sudah periksa kandungan ke dokter?”


“Belum”

__ADS_1


“Kenapa belum?”


“Aku menunggu memeriksakannya dengan suamiku!”


“Na, kamu harus bisa mengambil keputusan sendiri. Kecuali suamimu ada di sini. Aku yakin suamimu gak di sini. Kalian LDM kan?”


“Iya” aku menjawab pelan lalu menundukkan wajahku.


“Hayuk kapan aku anter kamu ke dokter! Kita itu sahabat dan aku mau menjadi saudara mu juga Na. Kamu jangan merasa tidak enak atau bagaimana. Selama aku di Indonesia, kamu yang selama ini paling baik. Jadi aku anggap bahwa kita saudara. Bagaimana?”


“Terima kasih”


“Kapan? Aku antar!”


“Terima kasih bel. Kamu memang sahabat terbaikku!” aku beranjak dari dudukku dan menghambur memeluknya. Menangis sedikit tersedu membuatku sedikit terasa lebih ringan. Aku yang awalnya kekeuh gak ingin seorang pun tau mengenai kehamilanku, akhirnya bercerita ke Abel. Ditambah dengan perhatiannya yang membuatku makin terharu.


“Menangislah jika itu bisa meringankan bebanmu, Na. Aku gak tau apa masalahmu dan suamimu, tapi aku yakin kamu pasti bisa melaluinya dengan kuat” Abel menepuk punggungku dengan lembut.


Aku masih menangis tersedu.


“Apakah karena dia, kamu menolak Arnold?” aku mengurai pelukanku dan mengangguk.


“Maaf bel, aku belum bisa cerita.”


“Iya gakpapa Na, aku paham.”


“Sekarang apa rencanamu?”


“Bel, aku kemungkinan besar bakal resign dalam waktu dekat”


“Hah??? Karena kehamilanmu?”


“Bukan. Aku sudah ketrima beasiswa melanjutkan study S3 ke Australia”


“Kamu mau terbang ke Aussie dalam keadaan hamil begini?” dengan terpaksa aku menjawabnya dengan kebohongan dengan anggukan kepala.


“Memangnya keberangkatannya tidak bisa ditunda Na?”


“Sudah ada dalam perjanjiannya, Bel. Aku harus berangkat dalam 3 bulan lagi”


“Lalu suamimu?”

__ADS_1


“Mungkin dia nanti akan turut denganku juga” jawabku bohong.


“Syukurlah kalau gitu. Yang penting kan bareng sama suami jadi gak akan terasa sendiri dalam membesarkan anak di negeri orang. Apalagi di negara barat itu tak sehangat negara timur, Na.” aku mengangguk mendengar nasehatnya.


“Hmm,,siapa sih suamimu? Kepo deh aku!” lagi dan lagi Abel menanyakan hal yang sama.


“Udah ah, jangan kepo. Kamu gak kenal juga kok! Yuk keluar” aku tak mau memperpanjang obrolan rahasia kami, aku segera keluar terlebih dahulu dari ruangan itu.


---- Di rumah ----


Aku telah sampai di rumah dan pintu utama dibukakan oleh bi Jah.


“Assalamu’alaikum bi!”


“Wa’alaikum salam nyah!” dia segera meraih 2 tas yang kutenteng.


“Terima kasih bi”


“Sama-sama Nyah” bi Jah mengikuti langkahku menuju kamar.


“Bi, apa Davis atau Rio telpon bibi?” tanyaku sembari kami jalan beriringan.


“Enggak Nyah. Emangnya Den Davis enggak nelpon nyonya muda?”


“Enggak.”


“Bi, apa bibi punya kontak telpon saudara Davis yang di Aussie?”


“Enggak, nyah. Bibi cuma taunya urus rumah aja. Kalau nyonya atau tuan besar mau datang, mereka yang telpon ke sini. Tidak pernah telpon ke handphone pribadi bibi, Nyah” jelasnya.


“Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka, Bi. Posisi Dirut yang tadinya diduduki Davis aja sudah diganti orang lain bi. Davis gak mungkin gak menghubungiku kalau gak kenapa-napa”


“Gimana ya Nyah? Bibi bingung gak bisa bantu. Bibi kenal banyak saudara den Davis tapi komunikasi kami cuma melalui telpon rumah.”


“Makasih bi. Informasi dari bibi sudah cukup membantu saya kok.”


“Terima kasih”


“sama-sama” bibi menutup kembali pintu kamarku setelah meletakkan tas ku ke sofa tempatku biasa meletakkan tas.


Aku kecewa, ternyata tak ada rekam jejak yang bisa aku telusuri untuk menemukan keberadaan Davis. Meskipun aku berada di rumahnya tapi seolah taka da satu pun petunjuk di sini. Aku harus bisa menentukan sikap sebelum semuanya terlambat. Tapi juju raku sedih. Kepergiannya yang secara tiba-tiba dan tanpa kabar berita telah menorah luka di hatiku dan keluargaku yang sudah sangat mempercayainya.

__ADS_1


__ADS_2