CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
(NARITA POV) MAKAN MALAM 2


__ADS_3

Setelah itu, Resepsionis memberikannya 2 kunci kamar di salah satu villa yang berbeda dengan villa yang kutempati.


 


Tak berapa lama, ponselku berbunyi.


“Assalamu’alaikum” aku mengangkat telponku tanpa melihat layar siapa yang tengah menelponku.


“Wa’alaikum salam. Pesananmu udah datang, buruan ke sini!” terdengar suara tegas dari seberang sana. Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


“Iya” jawabku singkat. Tak mungkin juga aku menolaknya datang, aku hanya berfikir mubadzir dengan makanan itu kalau tidak ada yang menghabiskannya.


“Yuk kembali ke meja makan tadi, makanan pesananku udah datang!” aku kembali menarik lengan Daniel dan tak menghiraukan raut wajah Daniel yang kebingungan sudah aku seret ke sana ke mari.


 


Aku telah kembali ke meja makan, dan kulihat Davis dan Jess telah berpindah ke meja yang ditata dengan banyak kursi sehingga bisa memuat beberapa orang di meja itu.


“Duduklah” Davis menyuruhku duduk di kursi persis di sebelah kirinya, sedangkan di sebelah kanan ada Jess.


Aku pun menurutinya. Aku masih memegang lengan Daniel, mau tak mau Daniel dan Arnold duduk di dekatku.


 


Sesaat kemudian, pramusaji datang dan menawarkan makan malam untuk Daniel dan Arnold, sementara itu makanan Jess telah datang.


“Makanlah, sebelum dingin!” Davis kembali memerintah tanpa melihatku, dia masih cuek dan asyik dengan makanannya.


“Sorry, aku makan duluan ya!” demi kesopanan aku meminta ijin ke Daniel dan Arnold. Mereka tersenyum dan menggerakkan tangannya tanda mempersilahkan aku makan.


“Kenapa baru sekarang ke Balinya?” tanya Jess memandang Davis.


“Aku ke sini karena kerjaan, kalau gak kerja ngapain?” jawab Davis ketus dan cuek.


“Ckk” Jess kesal hanyak berdecak.


“Memangnya kamu di Jakarta sudah punya teman tidur, jadi melupakanku yang biasa kamu ajak tidur!” kata-kata Jess spontan membuat kami semua yang ada di meja itu tersedak berjamaah. Namun tidak halnya dengan Davis, dia nampak biasa saja.


Aku beranikan diri melirik Davis, namun tak nampak kegugupan sama sekali dari ekspresinya.


“Gak punya!” jawabnya singkat.


Aku pun mendekatkan wajahku ke telinga Davis dan berbisik “Aku pindah meja ya!”


“Tetap di sini!” aku berusaha berbisik agar gak ada yang mendengar malah Davis menjawab dengan nada keras dan seperti marah. Tangannya pun spontan memegang tanganku untuk menahanku agar tetap berada di meja itu. Aku pun tak tinggal diam, segera ku tepis tangannya.

__ADS_1


 


Pergerakan tangan kami menjadi pusat perhatian mereka semua yang ada di meja makan, tak terkecuali Jess.


“Owh kudengar Alin juga sudah kembali. Gak mungkin kan kamu menjadikannya teman tidurmu!” kembali Jess berucap. Kami memperhatikan Jess dan Davis secara bergantian, menelisik apa hubungan antara Davis, Jess, dan Alin sebenarnya.


“Kamu bisa diam tidak!!!”


“Aku membiarkanmu makan di sini, bukan untuk mengusik makan malamku!” Davis kembali berteriak membuatku kaget bukan kepalang. Sementara itu Daniel dan Arnold masih menunduk dan terdiam.


“Abaikan dia! Makanlah!” Davis mempersilahkan Daniel dan Arnold memakan makanannya yang baru saja disajikan oleh pramusaji.


 


Kemudian Jess berdiri dan mendekatkan wajahnya ke Davis sepertinya membisikkan sesuatu. Aku hanya mengamatinya sedikit dari sudut pandangan mataku.


 


Setelah kepergian Jess, kami kembali terdiam, seolah sibuk dengan makanan masing-masing padahal kami berkelana dengan pikiran kami sendiri-sendiri.


 


Aku kembali mengingat apa yang baru dikatakan Jess. Davis sama sekali tak menampik omongan Jess. Aku kembali berpikir bahwa Davis yang kukenal dulu sungguh jauh berbeda dengan yang sekarang. Ahh mungkin hanya aku saja yang berpikir berlebihan disini. Bukankah hal biasa ya, frees** di kehidupan ala barat ya?. Daniel, Arnold, Davis, Jess bukan orang timur sepertiku, jadi yaaa itu hal biasa buat mereka.


 


“Never mind” Daniel menjawabnya.


“Na, nanti sehabis makan, kita jalan-jalan yuk!” ajak Daniel kemudian.


“Boleh” jawabku.


“Di sekitaran Kuta banyak hiburan malam yang asyik!” Davis kembali mengusulkan suatu tempat.


“Narita tidak menyukai Club, Mr Dav.” Jawab Arnold kemudian.


“Sepertinya kalian tidak sebatas rekan kerja?” Davis menatap Arnold dan Daniel bergantian.


“Memang kami bersahabat, Mr” jawab Daniel.


“heh” Davis tersenyum smirk.


“Mana ada itu persahabatan laki-laki dan perempuan!” kami pun kembali terdiam mendengar kata-kata Mr. Dav.


“Aku pernah punya teman wanita. Awalnya aku menganggapnya teman, tapi karena merasa nyaman kami meningkatkan status hubungan menjadi persahabatan. Tapi apa yang terjadi kemudian?” Mr. Dav menjeda omongannya, menatap kami satu per satu.

__ADS_1


“Aku menyukainya” lanjutnya.


Owh, kalau tidak Alin berarti Jess –batinku.


“Mengajak wanita tidur, apakah harus memiliki status atau perasaan ?” tanya Daniel dengan beraninya.


 


Kembali Davis tertawa terbahak-bahak.


“Gak!” jawab Davis singkat.


“Kalian pernah tinggal di dunia yang sama denganku, kurasa kalian sudah memiliki jawabannya!” Davis lanjut berujar.


Aku masih terpaku dengan percakapan ini. Jujur aku tak begitu memahami apa maksudnya, aku takut salah persepsi. Kalau tidak salah persepsi, apa benar maksudnya adalah Davis bisa tidur dengan wanita tanpa hubungan status yang jelas dan tanpa adanya perasaan???? Hwahhh,,,,benar-benar duniaku dengan dunianya sangatlah jauh terbentang.


Aku seperti tak mengenali Davis yang sekarang.


 


“Na, apa kamu setuju denganku?” Davis kembali menatapku dan memecahkan lamunanku.


“Se se setuju sama yang mana?” tanyaku masih dengan gugup atas obrolan yang gak kusuka ini.


“Gak ada yang namanya persahabatan laki-laki dan perempuan!?”


“Hmmmm,,,,,,” aku bingung bagaimana mengatakannya. Tapi sejujurnya aku ingin menjawabnya ada.


“Kamu yakin ketika kamu bersahabat dengan laki-laki, salah satu atau keduanya pernah merasakan sesuatu lebih dari sekedar sahabat?” tanyanya kemudian.


Owh, benar juga sie. Aku berstatus sahabat dengan ketiga pria yang sekarang ada di hadapanku, nyatanya aku pernah jatuh hati dengan Davis, dan begitu juga Daniel dan Arnold pernah suka denganku.


Ahhh kok jadi aku meragukan pernyataan itu ya?


 


“Kamu belum menjawabnya, Na!” kini giliran Daniel yang seolah menantikan jawabanku.


 


Duh sungguh konyolnya situasiku saat ini. “Iya juga sie ya. Tapi kalau sekedar teman, mungkin bisa kok!” jawabku ragu sambil cengengesan.


“Sahabat, Na. Bukan teman!” lha sekarang kenapa Arnold ikut-ikutan memojokkanku.


Sesaat kemudian aku menjawabnya dengan lirih “Iya saya setuju. Gak ada yang namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan!”

__ADS_1


__ADS_2