
DAVIS POV
Seusai waktu Ashar, semua peserta tour telah siap di dalam bus. Kak Narita telah duduk manis di sampingku. Tak bosan aku bercerita dengannya, karena selain orangnya asik, dia sangat murah senyum, manisnya. Tiba-tiba ponselku yang kubuat mode getar, bergetar begitu lama. Rasanya aku malas menjeda obrolanku dengan Kak Na hanya untuk mengangkat telpon. Ku keluarkan ponselku dan kulihat -Alin calling-. Kalau tak kuangkat sekarang juga, bisa ngomel berjam-jam dia dan lebih parahnya lagi apabila nanti dia mengadu ke Mommy. Akhirnya kuangkat telponku.
“Ya Lin? Apa?” tanyaku to the point.
“Gue gabut nie Say, temenin gue ngobrol ya?” suara manja Alin di seberang sana.
“Hm.” Jawabku pendek karena malas.
Dan akhirnya Alin bercerita cukup lama, aku pun menanggapinya. Sebenarnya aku sungkan berlama-lama menerima telpon dari Alin, seolah mengacuhkan Kak Na. Kulihat Kak Na memalingkan wajahnya ke jendela. Perjalanan pulang, aku mempersilahkan Kak Na duduk di pinggir deket jendela. Meskipun aku berusaha bersuara dengan pelan, namun sesekali Kak Na menoleh ke arahku untuk tersenyum.
Aku tak habis piker dengan Alin, setiap hari kami bertemu, tapi selalu saja dia menggangguku dengan telponnya saat malam hari menjelang tidur maupun pada saat weekend seperti sekarang ini. Bahkan kalau weekend aku di rumah, dia pasti segera ke rumahku. Bagaimana aku bisa dapat pacar kalau selalu ditempeli Alin begini.
Alin, memang cantik. Tapi entah mengapa perasaanku kepadanya biasa saja. Dari sejak kecil kami selalu bersama, bahkan kedua orang tuanya pernah menitipkan dia ke kedua orang tuaku, seolah menjodohkan kami, meskipun Mommy dan Daddy ku tak pernah menyebutkan kata perjodohan.
Mungkin lebih tepatnya, perasaanku ke Alin seperti rasa sayangnya seorang Kakak kepada Adiknya. Ya..jujur aku sayang Alin. Aku gak ikhlas Alin bergaul dengan seseorang yang salah bahkan ada yang pernah secara terang-terangan mengajaknya datang ke pesta seseorang di club. Secara tegas aku melarangnya, meskipun aku pun tak punya hak apapun atas Alin, aku bukan pacarnya, bukan pula Kakaknya. Aku gak ikhlas, jika ada temen ceweknya yang memusuhinya atau menghujatnya karena Alin terlalu pilih-pilih teman. Aku tak tega melihat Alin menangis.
Aku biarkan dia memanggilku “Sayang”. Aku biarkan dia memelukku apabila dia membutuhkan perlindunganku. Aku akan menawarkan bahuku apabila dia membutuhkan sandaran untuk meluapkan emosi karena permasalahan yang terkadang sepele menurutku, tapi begitulah Alin. Hatinya terlalu rapuh dan lembut meskipun secara sikap dan tindakan, dia terkenal sebagai cewek bar-bar, centil, dan agresif. Apapun permintaan Alin, aku pasti akan memenuhinya. Dia terbiasa berkata dan bersikap manja padaku. Dan aku terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
Mungkin itu pulalah yang membuat teman-teman kami salah mempersepsikan kedekatan kami. Mereka berpikir kami pacaran, walaupun secara tegas aku selalu menyangkalnya.
Kulihat Kak Na terantuk-antuk kepalanya di jendela, sepertinya dia ngantuk berat. Tak tega rasanya melihatnya terantuk-antuk jendela, bisa benjol kepalanya kalau begitu terus. Dengan segenap keberanian, aku raih kepalanya dan pelan kuarahkan ke bahuku. Kak Na yang mungil, sangat nyaman tertidur bertumpu pada bahuku yang besar.
Sesekali aku tersenyum memperhatikan betapa damainya Kak Na dalam tidurnya. Tak hanya tersenyum, bahkan dalam tidur pun dia terlihat sangat manis. Ya manis ala gadis Indonesia.
Waah, apakah gadis seperti dialah kriteria pujaanku?
Mungkinkah aku satu selera seperti Daddy ku? yang menganggap gadis Indonesia dengan kulit sawo matang seperti dia terlihat lebih cantik daripada gadis bertampang bule sekelas Selena Gomez pun. Entahlah.
Rasanya aku pun seolah sulit melihat cewek lain karena selalu dihadapkan dengan Alin. Sulit naksir cewek karena tak memiliki kesempatan itu.
NARITA POV
Kulihat Davis menatap ponselnya yang bergetar. “Angkat aja Vis” kataku kemudian karena kulihat dia ragu untuk menjawabnya. Akhirnya dia angkat.
Kulihat dia mengobrol dengan seseorang dengan asyiknya. Meskipun dia berusaha untuk bersuara dengan pelan, mungkin dia sungkan denganku. Akhirnya daripada dia sungkan, aku alihkan pandanganku ke pemandangan di jendela. Ahh untunglah kami bertukar tempat duduk, aku duduk di deket jendela.
Sepertinya Davis telponan dengan pacarnya, karena mereka bertelpon cukup lama. Kalau melihat dia, rasanya aku ingin kembali ke masa mudaku. Bisa mengenal lawan jenis melalui tahap pacaran. Tak berpikir terburu-buru untuk pencarian jodoh karena masa pengenalan masih jauh dari target umur mereka.
__ADS_1
Aku sekali pun tak pernah berpacaran. Sejak dulu selalu fokus sekolah. Bapak dan Ibu selalu berpesan bahwa aku belum boleh pacaran jika belum bisa mandiri. Naksir cowok sie pernah, tapi hanya sekedar mengagumi, dan tak pernah membiarkan perasaan itu berlama-lama dalam hatiku. Ditaksir cowok juga pernah, tapi lagi-lagi aku akan berusaha menghindar karena aku takut ditembak. Aku selalu mengingat nasehat Bapak dan Ibu. Kalau aku nekat pacaran, aku takut jadi anak durhaka yang mengabaikan nasehat orang tua. Akhirnya aku hanya bisa menahan Hasrat dan gejolak untuk pacaran.
Temen cowok yang deket juga ada, namun karena dia tau kalau aku belum mau pacaran, status kami hanya sebatas teman. Bahkan setelah sama-sama lulus, sudah tidak pernah bertukar kabar lagi.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku ingin menikah umur 25 tahun, apakah bisa? Apakah cukup waktu pencarian selama 2 tahun untukku menemukan jodohku?.
Aku tak mungkin hanya memikirkan jodoh semata, aku pun harus memiliki keinginan lain. Aku ingin mencari peruntungan bekerja di tempat lain yang lebih menjanjikan baik itu dari segi gaji maupun jenjang karir.
Kulihat sesekali Davis tersenyum ke arahku, entah tersenyum karena menanggapi seseorang yang sedang dia telpon atau karena membalas senyumanku. Berondong ini emang gantengnya kebangetan. Sungguh sempurnanya Tuhan menciptakannya. Jika dilihat dari tampilannya, sepertinya dia berasal dari kalangan atas, tidak sepertiku. Tas yang dia tenteng aja dijual di mall termewah di Jakarta, yang kalau aku pernah masuk ke butiknya harganya bisa senilai 5x gaji bulananku. Sudah pasti orang bergaji seperti gajiku bisa membeli tas brand itu. Ahhh,,,,beruntung sekali menjadi seorang Davis, sudah ganteng, kaya, muda, punya pacar pula.
Tak terasa aku merasa ngantuk. Terlalu capek jalan-jalannya seharian ini dan tidak ada teman berbincang. Akhirnya akupun sudah terlelap dalam tidur.
Sayup-sayup aku mendengar suara Mbak Silvi mengumumkan untuk kami segera turun. Mataku masih sulit terbuka, rasanya aku baru saja tertidur dan badanku pun terasa begitu lelah. Aku masih malas membuka mata dan beranjak.
“Narita, Davis, ayo turun!” kudengar teriakan suara Mbak Sriti. Kaget. Langsung kupaksakan membuka mata. Betapa terkejutnya aku ketika aku mendapati posisi tidurku. Badanku bertumpu pada badan Davis, kepalaku menempel pada bahu Davis, begitupun posisi tidur Davis, kepalanya menempel pada ujung atas kepalaku. Segera aku memposisikan diriku menjauh darinya. Kulihat Davis masih mengerjap-ngerjapkan matanya memaksa untuk membuka mata. Juju raku salah tingkah dilihat mbak Sriti dengan posisi tidur seperti itu. Apakah posisi itulah yang membuatku terasa nyaman dan susah bangun tadi ya?
“Vis, bangun vis!” aku goyang-goyang lengannya karena sepertinya dia pun masih dalam posisi belum sadar sepenuhnya dari tidurnya. Lalu setelah dia membuka mata, dia tersenyum.
Ya ampun Vis, manisnya senyummu itu. Beruntungnya yang jadi pacarmu. Aku pun tersenyum kecut, bisa-bisanya memikirkan berondong satu ini.
__ADS_1