CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
BERUSAHA MENGINGATNYA


__ADS_3

AUTHOR POV


 


Keluarga Dave telah berkumpul di meja makan.


“Tuan Besar Ox, Tuan Muda Ox, Nyonya muda Ox, tuan muda, ada pesan dari tuan besar kalau hari ini beliau tidak bisa bergabung untuk makan siang, karena beliau harus memfinalkan rencana ulang tahun perusahaan di villa” ucap Drake dan semua pasang mata memandangnya.


“Oke never mind, Drake” ucap Mommy Dave.


Kini Chef menyajikan menu makan siang yang telah dipersiapkan. Ada beberapa macam menu western dan ada 1 menu Indonesia yaitu soto.


“Wah,,ada soto Drake? Siapa yang masak?” mata Mommy Dave nampak berbinar menatap makanan menu Indonesia yang sudah lama tak dijumpainya.


“Yang masak Nanny nya Karen, Nyonya” jawab Drake cepat. 


“Tumben Dave mengijinkan masakan orang yang bukan chef tersaji di sini?” ujar Mommy Dave sembari mengambil kelengkapan soto.


“Justru sekarang tuan besar terbiasa makan masakan nanny nya Karen, nyonya!” jawab Drake.


“Masa’?” tanya Mommy Dave seolah tak percaya dengan ucapan Drake.


“Enak. Enak banget malah” lanjutnya.


Di sana hanya Mommy Dave yang nampak paling antusias dengan menu soto, sedangnya opa Dave terlihat tak begitu berkeinginan menyicipinya, begitu pun halnya dengan Daddy Dave dan Adik Dave.


“Sayang, kamu kan lama tinggal di Indonesia, cobain deh sotonya! Aku yakin sesuai seleramu!” pinta Mommy Dave pada adik Dave.


Tak menunggu lama, akhirnya dia pun mengambil soto dan meraciknya. Saat dia menyuap sotonya, tiba-tiba mulutnya terdiam, matanya sedikit membelalak, tangannya terhenti di udara usai memasukkan suapannya.


“Betul kan apa kata Mommy? Udah mommy tebak, kalau kamu bakal suka juga” ucap Mommy Dave.


Tiba-tiba adik Dave berdiri dan menghampiri Drake yang kini tengah berada di dapur yang tak jauh dari ruang makan.

__ADS_1


“Drake, di mana nanny nya Karen?” kedua tangan adik Dave mengguncang kedua lengan Drake, Drake hanya menatap heran dengan sikap adik Dave.


“Di mana, Drake?” tanyanya lagi karena tak mendapat jawaban dari Drake.


“Di di dia sedang ijin pergi, tuan muda” jawabnya terbata, seketika tatapan mata adik Dave menjadi lesu mendengar jawaban Drake.


“Kapan pulang?” tanyanya lagi.


“Selasa” terdengar helaan nafas kasar adik Dave mendengarnya, dia pun melangkah kembali ke kursinya dan kembali makan.


“Ada apa Sayang?” Mommy Dave menatap putra bungsunya itu.


“Sepertinya aku mengenal taste ini, Mom. Barangkali dia salah satu temenku dulu waktu di Indonesia” jawab adik Dave sembari melanjutkan makan soto.


“Belum tentu Sayang. Soto kan emang taste nya begini, bahkan kalau di Indonesia bisa lebih enak karena semua bumbunya lengkap tersedia” kata Mommynya.


“Iya. Lagian kamu ini terlalu sensitif kalau berhubungan dengan Indonesia. Sudahlah, lanjutkan makannya!” ucapan opa Dave membuat mereka kembali terdiam dan hanya suara dentingan sendok dan piring atau mangkok saja yang terdengar.


Usai acara makan siang, Mommy dan Daddy Dave kembali beristirahat di kamar mereka. Sementara itu Dave memanggil Drake dan mereka berbincang di gazebo dekat kolam renang.


“Duduklah Drake!” lalu Drake duduk lesehan di gazebo itu.


Rumah ini sebenernya bernuansa klasik modern, tapi dikarenakan dulu adik Dave pernah tinggal di sana jadi Dave sengaja membuatkan gazebo yang saat itu sangat diinginkan oleh adiknya itu. Dulu selama 1 tahun adiknya itu tinggal dengannya, begitu pun halnya dengan Mommy dan Daddy nya.


“Apakah kamu punya foto nanny nya Karen?” tanya adik Dave kemudian tapi segera dijawab dengan gelengan kepala oleh Drake.


“Ah, kamu nie aneh. Kamu kan kepala asisten rumah tangga di sini, mana mungkin kamu gak punya fotonya sie?” lanjut adik Dave kemudian.


“Mana mungkin saya sengaja memoto dia, tuan. Kalau identitas diri yang ada fotonya, saya ada datanya, tuan” jawab Drake.


“Mana?” tanya adik Dave cepat.


“Hai, Bro!” teriak Ali dari kejauhan ketika melihat adik Dave tengah berada di gazebo. Ali pun mendekati mereka berdua.

__ADS_1


“Long time no see, gimana kabarmu?” mereka pun berhigh five.


“Seperti yang kau lihat, aku baik. Kamu sendiri gimana kabar?” tanya adik Dave.


“Alhamdullillah aku baik Bro!” mereka pun tertawa renyah, bahkan kini adik Dave lupa untuk meminta kartu identitas nanny nya Karen.


“Lagi ngapain?” lanjut Ali sembari mendudukkan tubuhnya di gazebo dan menatap Drake dan adik Dave bergantian. 


“Hanya bernostalgia saja dengan Drake. Kamu masih betah tinggal di sini? Padahal kan kamu sendiri punya istana!” tanya adik Dave yang dijawab gelak tawa kembali oleh Ali.


“Ahh kau bisa aja. Tapi di sini aku punya keluarga, bro! Bahkan sekarang jamaah nya bertambah 1 orang lagi di shaf perempuan”


“Owh ya? Tapi di sini kan suasana dingin, Bro. Kak Dave kan orangnya cuek, dingin, dan kaku, mana nyaman tinggal bersama orang sepertinya!” lagi-lagi kata-kata adik Dave disambut tertawa riang Ali.


“Gak masalah, Bro! Tapi di sini suasana sudah hangat kok. Kamu coba aja kalau pagi hari ke pavilliun 101 dan 102, mereka para asisten kompak sarapan bersama. Mereka pun sudah tak segan berkumpul di halaman belakang untuk mengobrol kalau sedang tidak ada pekerjaan”


“Benarkah Drake? Emangnya Kak Dave membolehkan mereka ngobrol?” tanya adik Dave menoleh pada Drake dan dijawab anggukan kepala sembari tersenyum.


“Tumben kak Dave berubah? Apa yang membuatnya berubah? Apaaa,,,apaaa dia sudah punya kekasih?” adik Dave menatap Drake dan Ali bergantian.


“Setauku tidak ada. Entahlah mungkin belum dibawa ke rumah ini.” Jawab Ali sembari menatap Drake berharap Drake juga menjawabnya, tapi Drake yang ditatap kedua orang itu hanya terdiam dan tersenyum kecil.


“Owh ya, tadi mana Drake kartu identitas nanny nya Karen” adik Dave kembali mengingatkan Drake, lalu Drake segera mengutak atik handphonenya.


“Ini tuan!” ucap Drake sembari menyerahkan ponselnya.


“Na-ri-ta?” dahi adik Dave berkerut mengeja nama itu. Dia nampak berpikir dan mengingat nama yang baru saja disebutkan. Dilihatnya wajah seseorang yang fotonya ada di kartu identitas itu.


“Kenapa Bro?” Ali pun nampak heran dengan ekspresi wajah adik Dave.


“Kamu mengenalnya?” tanya Ali kembali.


Sementara itu di tempat tersembunyi yang tak jauh dari sana, sepasang mata tengah mengamati dan mencuri dengar pembicaraan mereka. Dengan jelas dia mendengar nama seseorang yang dikenalnya meskipun seseorang itu tak pernah mengenalnya.

__ADS_1


“Na-ri-ta? Apakah dia orang yang sama?” dia mengucapkan ulang nama yang tadi disebutkan oleh adik Dave.


__ADS_2