
NARITA POV
Tak sedikit yang kaget dengan keputusanku untuk resign, meskipun alasannya sangat masuk akal. Semua menyayangkan dengan karir yang telah kucapai, gaji yang cukup besar bila dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis dengan jabatan yang sama. Begitu halnya dengan teman-temanku.
Aku memiliki banyak kenalan di perusahaan ini. Lingkup pekerjaanku yang membutuhkan komunikasi dan koordinasi dengan beberapa bagian sehingga membuatku dikenal oleh banyak orang.
Ini adalah hari ketiga setelah aku mengirimkan surat resign, dan aku pun diminta untuk menghadap Dirut yang menggantikan Davis yaitu Mr. James. Aku yakin beliau ingin membahas mengenai rencana resignku.
“Narita, aku mendapatkan pemberitahuan resign dari bagian HRD. Apa kamu sudah mantap dengan keputusanmu” tanya Mr James.
“Insyaalloh sudah, Mr” jawabku tegas.
“Aku memang belum terlalu lama mengenalmu, bertemu pun kalau bisa dibilang baru 2x. Tapi aku sangat tau kinerjamu. Aku sangat menyayangkan dengan keputusanmu ini, Narita. Kalau boleh tau, apa alasanmu resign?”
“Alasan saya resign sudah saya jelaskan di suratnya, Mr. Saya diterima beasiswa S3 di Australia”
“Apa tujuanmu melanjutkan study S3? Apa rencanamu nanti setelah lulus S3? Apakah tidak sebaiknya ambil beasiswanya di dalam negeri saja, jadi bisa dijalanin kerja sambil kuliah?” bujuknya.
“Saya sudah mantap dengan pilihan hidup saya, Mr. Meskipun saya sendiri belum ada rencana setelah lulus nanti, tapi minimal saya memiliki bekal ilmu untuk berkarya”
“Pemikiranmu terlalu dangkal, Narita. Seharusnya kamu sudah mulai merencanakan dari sejak sekarang. Jangan lupa, semakin bertambah usia, semakin susah untuk mendapatkan kesempatan bekerja bila tidak diimbangi dengan keahlian kerja dan hanya bermodal pendidikan. Kecuali kamu mau pindah haluan untuk menekuni pekerjaan di bidang pendidikan.”
“Kemungkinan besar kalau tidak ke bidang pendidikan, saya ingin wirausaha, Mr. Jadi saya sudah mantap untuk resign dari perusahaan ini”
“Narita, apa kamu lupa kalau perusahaan kita ini perusahaan internasional, kantornya ada di beberapa negara eropa dan Australia. Potensimu sangat bagus Narita. Kalau kamu tidak keberatan, gimana kalau seandainya kamu aku pindah tugaskan di perusahaan kita yang ada di Australia? Kamu bisa bekerja dan kuliah di sana?”
__ADS_1
“Terima kasih atas tawarannya Mr. Tapi jujur saya ingin fokus kuliah saja. Saya percaya nanti soal rejeki akan datang dengan sendirinya kalau saya mau berusaha”
“Kamu jangan langsung ambil keputusan menolak Na. Kamu pikirkan terlebih dahulu usulanku tadi!”
“Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Mr. James atas tawaran dan kesempatannya. Tapi keputusan saya sudah bulat, saya hanya ingin fokus kuliah”
Kulihat Mr. James menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Sebenernya tawarannya menarik juga, seandainya aku tidak sedang dalam kondisi hamil mungkin tawaran itu akan aku pertimbangkan, namun untuk kali ini aku lebih memilih fokus pada anak dan kuliahku saja. Aku tak mau waktuku habis untuk bekerja dan kuliah yang pada akhirnya tak menikmati peranku sebagai seorang ibu.
“Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu, aku tidak bisa berbuat banyak.” Ucap Mr. James kemudian.
“Iya Mr. Saya takut mengecewakan banyak pihak jika saya tidak bisa bekerja dengan optimal ketika saya selingi dengan kuliah. Tapi saya berjanji Mr, di sisa waktuku ini saya akan menyelesaikan semua pekerjaan-pekerjaan yang masih memang dapat saya selesaikan dengan segera, namun untuk pekerjaan yang memang membutuhkan kontrol lebih lanjut, akan saya share ke staf saya dan saya laporkan ke atasan saya langsung, Mr”
“Iya, iya saya percaya kamu bisa. Pesan saya cuma satu, jaga diri baik-baik. Selesaikan kuliah tepat waktu dan kembalilah mengabdikan ilmu yang telah kamu peroleh!”
“Terima kasih, Mr atas pesannya. Insyaalloh kuliah selesai tepat waktu! Kalau begitu saya permisi dulu Mr James!” kami pun berdiri dan aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengannya.
“Sukses ya Na!” ucapnya sembari menjabat tanganku.
Tanpa terasa, sore telah tiba dan para karyawan di lantai ku telah bersiap untuk pulang. Aku hanya menoleh ke kanan dan kiri memperhatikan mereka yang tengah bersiap pulang.
“Kamu masih sibuk, Na?” tanya Abel yang juga masih berkutat dengan komputernya, dia bertanya tanpa melihatku.
“Iya, Bel.”
“Sama. Kutemenin lembur deh kalau gitu!”
“Yups. Oke, Bel!”
__ADS_1
Hari itu aku pulang dari kantor jam 21.00 WIB. Sampai di rumah Davis jam 22.05 WIB, aku langsung menuju kamarku.
Setelah selesai mandi, aku tak langsung tidur, tapi aku segera mengambil koperku yang berukuran terbesar yang tersimpan di salah satu lemari. Aku mulai mencicil untuk menata baju-bajuku dan memasukkannya ke dalam koper. Aku berencana untuk meninggalkan rumah ini dalam 1 minggu ini.
Aku tak memberitahu Bi Jah atau siapapun yang ada di rumah ini. Bahkan aku pun masih ragu untuk menceritakan ke kedua orang tuaku.
Weekend telah tiba
Aku telah selesai mengemas baju dan segala perlengkapanku dari kamar ini. Tak banyak barang yang kubawa ke sini jadi sekarang pun tak kesulitan untuk membereskannya kembali.
Aku mengamati semua penjuru kamar, tempat aku dan Davis menghabiskan malam pertama kami, tempat penuh kenangan meskipun hanya sebentar kami menikmati momen bahagia itu. Kamar yang akan senantiasa menjadi saksi bisu betapa aku dan Davis pernah bahagia. Tak terasa tetesan air mata mengalir dengan derasnya, aku hapus dengan kasar, aku tahan isakannya agar tak menimbulkan suara.
Setelah puas menghirup segala kenangan manis di kamar ini, aku segera meraih kedua koperku dan mendorongnya bersamaan keluar dari kamar. Saat diriku di dalam lift dan pintu lift terbuka, aku segera turun.
“Nyonya muda?” Bi Jah menatapku penuh keheranan.
“Bi, saya pamit ya! Saya kembali ke apartemen dulu, saya merasa kesepian di sini!” aku mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengannya.
Bi Jah segera meraih tanganku seraya berkata “Hati-hati di jalan nyonya. Sudah pamit sama den Davis kan?” aku menjawabnya dengan gelengan kepala, lalu segera kutarik tubuh renta bi Jah untuk sekedar memeluknya sejenak.
“Nanti kalau Davis tanya, bilang saja saya di kampung ya Bi. Davis tau kok kampung saya. Terima kasih ya Bi atas kebaikan Bi Jah selama ini. Sehat-sehat terus ya bi, semoga nanti Davis pulang, saya pun bisa kembali lagi ke rumah ini” lalu aku mengurai pelukanku.
“Nyonya, jaga kesehatan juga ya. Jaga ini!” Bi Jah mengelus lembut perutku yang masih rata.
Aku tersentak mendengar penuturan Bi jah. Aku tak pernah mengatakan mengenai kehamilanku kepadanya, kenapa dia bisa tau?
“Bibi tau dari mana?” aku menatap kedua mata Bi Jah dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
“Siapapun orangnya, kalau sudah pernah hamil dan punya anak, pasti taulah Nya. Muntah-muntah memang tidak selalu pertanda kehamilan, tapi bentuk tubuh nyonya yang membuat saya yakin” Bi Jah mengucapkannya dengan suara lembut, tersenyum, sembari menyelipkan rambutku yang sedikit berantakan ke belakang telinga.
“Doakan ya bi, semoga kami sehat terus. Ini adalah amanah, akan aku jaga sampai nanti ayahnya datang menjemput kami” aku tersenyum sembari mengelus-elus perutku.