
AUTHOR POV
Narita nampak bingung sendiri bagaimana cara dia untuk menolak permintaan Professornya ini. Selain dengan membantu penelitian Professornya menjadikan dia lebih memahami gaya penulisan karya ilmiah Professor pembimbingnya, juga untuk mendapatkan pengalaman berbeda.
“Please, Na! Kamu kan dari awal menjadi bagian dari tim ini. Aku paham sie, kalau kamu sengaja tidak turut serta karena nanti kamu yang bertugas untuk mengolah datanya. Tapi tenang saja Na, Darren sudah memberikan kesediaannya untuk membantu kita kok!” bujuk Prof Stanly.
“Baiklah, prof. Saya mencoba ijin dengan tuan saya dulu ya Prof, karena saya sudah terikat janji.” Kata Narita kemudian.
“Ditunggu secepatnya ya Na! Setengah jam lagi Darren menjemputmu!”
“Hah??? Berangkat hari ini juga Prof?”
“Iya, Na! Aku dan Darren sudah memperhitungkan waktunya, jadi tidak bisa ditunda walau dalam beberapa jam saja!”
“Baiklah Prof”
“Ok. Thanks Na. Segera kabari aku hasilnya!” lalu Narita menutup sambungan teleponnya.
Narita segera menelpon dan menemui Drake untuk meminta ijin. Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, dengan masing-masing mengemukakan pendapatnya, akhirnya dengan terpaksa Drake mengijinkan Narita, meskipun belum mendapat persetujuan tuan besar.
Drake mengijinkan Narita bukan karena tanpa alasan, dia mengijinkan karena memang penelitian ini adalah menyangkut masa depannya, Drake juga berpikir bahwa tak masalah bukan Narita yang mengasuh Karen, asalkan Leni siap untuk menggantikannya.
Kini Narita tengah menunggu kedatangan Darren di depan rumah Dave. Koper yang sedianya hendak dibawanya ke villa, malah akhirnya digunakan untuk perjalanan keluar kota.
Ketika mobil Darren telah sampai, Darren segera turun dan menaikkan koper Narita ke bagasi mobil. Setelah itu mereka sama-sama menaiki mobil untuk kemudian menjemput Prof Stanly ke rumahnya.
Sementara itu, satu jam setelah kepergian Narita, nampak 3 mobil Alphard memasuki halaman rumah Dave.
Dari mobil pertama, turunlah Dave, seorang kakek, sepasang laki-laki dan wanita paruh baya, dan seorang laki-laki yang lebih muda dari Dave. Dari mobil kedua dan ketiga, turunlah beberapa orang yang berpakaian jas serba hitam dengan badan tinggi besar serta Teddy.
Dave membawa mereka masuk ke dalam rumah utama.
__ADS_1
“Tak ada yang berubah, masih sama persis seperti waktu Mommy meninggalkan rumah ini” ucap wanita paruh baya yang merupakan Mommy Dave.
“Untuk apa aku ubah, Mom? Bagiku yang terpenting bersih, tertata, dan nyaman.”
“Mau langsung istirahat di kamar atau bagaimana? Perjalanan panjang dan lama pasti sangat melelahkan!” tanya Dave kemudian.
“Opa langsung ke kamar!” ucap Kakek yang merupakan Opa Dave. Dia sudah tau ke mana harus beristirahat. Dia ke kamarnya didampingi oleh para asistennya.
“Mommy sama Daddy juga langsung istirahat aja! Nanti makan siang kita kumpul langsung aja di meja makan!” ujar Mommy kemudian.
“Kamu, Bro?” Dave memandang lelaki yang sepertinya adalah adiknya.
“Aku gampang. Nanti saja istirahatnya! Aku mau keliling rumah ini, kangen juga lama gak ke sini!”
“Oke. Mom, Dad, Bro, aku tinggal ke kantor dulu ya! Makan siang sebenarnya sudah siap, tapi nanti biar disiapkan ulang kalau kalian sudah istirahat!”
“Hmm Oke. Jangan pulang telat Sayang! Inget di rumah ini ada kami!” Mommy Dave sengaja mengingatkannya untuk pulang tepat waktu.
ADIK DAVE POV
Benar kata mommy, rumah ini masih sama persis seperti terakhir kali kami meninggalkannya. Kak Dave sama sekali tak melakukan penataan ulang ruangan, pengecatan rumah, dan semua interiornya sama percis. Aku kangen suasana di sini. Aku tanpa ragu melangkah ke pavilliun 101 yang terletak paling dekat dengan rumah utama.
Aku mengamati ada beberapa hal yang berubah di sini. Kursi di sekeliling meja makan menjadi lebih banyak dari biasanya, bahkan di meja makan nampak tersaji beberapa jenis makanan kecil. Aku buka tudung sajinya. Dan benar dugaanku, makanan khas Indonesia yang sudah lama tak pernah aku temui. Tanpa berfikir panjang, aku segera meraih kue-kue itu lalu memakannya.
“Tuan muda” sapa Drake mengagetkanku.
“Kau! Mengagetkan saja Drake!”
“Maaf Tuan. Apa yang bisa saya bantu?” Drake memandang dengan heran padaku.
“Maaf aku minta ini! Gak papa kan?” tanyaku.
__ADS_1
“Silahkan, tuan! Di rumah utama juga ada kok!” jawab Drake.
“Siapa yang buat ini?” tanyaku sembari mengunyah kuenya.
“Nanny nya Karen, tuan!” jawab Drake.
“Owh…. Enak sekali. Rasanya mirip dengan yang di Indonesia!” pujiku.
“Syukurlah kalau sesuai selera tuan muda. Saya rasa, tak hanya tuan muda yang menyukainya, tapi tuan besar pun juga begitu. Bahkan sudah beberapa bulan ini tuan muda makan masakan nanny nya Karen!” kata Drake panjang lebar.
“Owh ya?” mataku melotot dan mulutnya menganga.
“Tumban si mr Perfect itu mau makan menu Indonesia!” ucapku dengan sedikit tertawa kecil.
“Saya pun awalnya tidak percaya, tuan. Berawal dari nasi goreng lama-lama dia hanya mau makan masakan nanny nya Karen!”
“Gaji dia double dong!” aku kembali mengambil kue di piring.
“Tuan besar kalau soal gaji tak pernah perhitungan. Ketika Karen cocok diasuh olehnya saja, kami sudah sangat bersyukur, ketika dia mau tinggal di sini dan menjaga Karen kala istirahat malam, juga kami bersyukur, ditambah sekarang memasak, kami sangat bersyukur” tanpa terasa mereka menceritakan Narita yang memang dari dulu dianggap hanya sebagai asisten rumah tangga saja.
“Syukurlah kalau gitu. Karen di mana?”
“Kalau jam segini, biasanya dia main di kamar lanjut tidur siang!” jawab Drake lalu diangguki tuan muda.
“Baiklah Drake, aku lanjut berkeliling di sekitaran rumah ya!. Silahkan lanjutkan pekerjaanmu, Drake!”
Lalu aku keluar pavilliun 101, masuk ke pavilliun 102. Beberapa orang yang tengah berkumpul mengucap salam padaku. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja lama, jadi mereka sudah sangat mengenalku meskipun aku tak begitu hafal mereka.
Kini aku melangkahkan kaki menuju ke area rumah di halaman paling belakang. Lagi-lagi mataku terbelalak mengamati perubahan yang terjadi di sana. Sebuah kebun yang menghampar dengan berbagai tanaman sayur mayur. Dulu tempat ini hanya ditumbuhi ilalang, dulu aku suka sekali menghabiskan waktu di sana karena suasana di sana paling tenang, rimbun, dan jarang orang berlalu lalang.
Aku mengamati pohon cabe yang telah berbuah cabe dengan berbagai jenis dan ukuran, tomat pun sudah banyak yang berbuah meskipun belum memerah. Pohon pepaya, sayuran pokcay, dan beberapa sayuran asli Australia tumbuh subur di sana.
Aku tersenyum melihat betapa suburnya kebun ini. Siapapun orangnya yang merawat kebun ini, aku yakin pasti dia orang yang hangat.
__ADS_1