
DAVIS POV
---- Kantor ----
Aldi telah datAng ke kantorku. Kami memang ada rapat kecil terkait rencana kerjasama.
“Vis, keren ya ruangan loe!” Aldi mengamati segala penjuru ruangan Davis.
“Ahh biasa aja”
“Mau langsung ke ruang rapat, atau masih mau di sini?” tanyaku sembari tangannya mempersilahkan Aldi duduk di sofa.
“Loe kan orang sibuk nie, langsung ke ruang rapat aja deh!” lalu aku mengajak Aldi ke ruang rapat yang pintunya terhubung dengan ruanganku.
Di ruang rapat telah berkumpul beberapa orang dari bagian operasional, marketing, dan keuangan. Lalu aku memperkenalkan Aldi sebagai calon rekan kerjaku. Rencananya Aldi akan menyediakan coffee di semua restoran hotel. Mengingat akhir-akhir ini telah berkembang tren minum kopi dan nongkrong.
Rapat telah menghasilkan beberapa point yang akan dimasukkan ke dalam perjanjian kerjasama. Kemudian aku menutup rapat dan mempersilahkan peserta rapat untuk kembali ke ruangan masing-masing.
“Narita, tolong ke ruangan saya!” titahku sebelum meninggalkan ruang rapat. Narita mengangguk.
Di sofa ruanganku telah duduk aku, Aldi, dan Narita.
“Hmmm,,Kak Na, loe keren banget!” Aldi mengacungkan kedua jempol tangannya.
“Keren apanya? Biasa aja ah.” Kata Narita.
“Gue laper nie, makan siang bareng yuk!” aku menginterupsi obrolan mereka dengan ajakanku dan mereka berdua mengangguk setuju.
Sesampainya di café, kami langsung dapat tempat duduk karena situasi café yang terbilang sepi. Aku duduk bersebelahan dengan Narita, sedangkan Aldi di depanku.
“Sayang, kamu mau makan apa?” aku menoleh pada Narita dan menyerahkan buku menu. Spontan Narita menepuk pahaku keras dan aku pun menjerit kaget “Aww, sakit”.
Kulihat Narita melotot. Aku menoleh ke Aldi. Ternyata mereka berdua saat ini sedang terheran-heran melihatku.
“Ada apa dengan kalian? Ada yang salah?” tanyaku melihat wajah Narita yang bersemu merah kemudian berpindah ke Aldi.
__ADS_1
“Loe sama Kak Na udah jadian?” Aldi masih menatapku lekat dengan pandangan penuh tanda tanya.
“Memangnya harus jadian dulu, baru boleh panggil Sayang? Kalau aku Sayang dia, ya tinggal panggil Sayang aja to?” ucapku santai.
“Owh gitu loe ya, Vis! Giliran patah hati aja datang terus curhat ke gue. Giliran bahagia aja pelit gak mau bagi-bagi!” Aldi mulai pura-pura cemberut.
“Loe Al, sensi banget jadi cowok, kaya cewek aja. Gue kasih tau loe ya, kalau gue emang udah menyatakan cinta dan sayang ke dia, gue juga udah ngelamar dia, tapi belum dia jawab!” aku berkali-kali melirik ke Narita memasang tampang bête.
“Melamar???” suara Aldi sedikit meninggi.
“Serius loe?”
“Lah emangnya pernyataan cinta elo udah diterima?”
“Belum” aku menyerahkan buku menu dan mencatat makanan dan minuman yang akan kupesan.
“Udah buruan pesen dulu gih! Pada mau makan apa? Biar gue tulisin sekalian di sini!”
Lalu kami memesan makan siang.
“Sueer,,,gue jadi penasaran Vis. Kira-kira loe bakal ditolak atau diterima ya?”
“Kak, Na? Kenapa loe seolah menggantung Davis sie? Emangnya ada cowok lain yang loe suka juga?” kami berdua fokus menatap Narita yang sekarang nampak sedikit gugup dicecar pertanyaan oleh Aldi.
“Gue aja masih sabar nunggu jawabannya, kenapa loe yang kepo sie?”
“Gak usah dijawab, Na! Cukup kamu jawab aja lamaranku tempo hari” aku berusaha menyelamatkan Narita dari cecaran Aldi.
Sesaat suasana tenang. Mata Aldi masih menatap Narita seolah mau mengatakan sesuatu.
“Na, tolong loe pertimbangkan Davis! Serius!”
“Dia itu cuek sama cewek, tapi kalau dia udah suka sama cewek, dia akan susah berpaling.”
“Kalau dia aja bisa mempertahankan perasaannya selama 4 tahun dalam kondisi perpisahan komunikasi di antara kalian, gue rasa Davis memang hanya mencintai loe, Na. Loe akan jadi wanita yang paling bahagia di dunia kalau laki-lakimu hanya mencintaimu seorang seumur hidupnya!” penuturan Aldi memandang Narita lekat.
__ADS_1
Aku tersenyum dan bersyukur karena kali ini Aldi membantuku.
“Dari mana kamu tau kalau dia suka sama aku sejak 4 tahun yang lalu?” tanya Narita keheranan.
“Kan tadi gue bilang, Kak. Nie Dirut loe curhat sama gue. Seumur-umur dia gak pernah inisiatif cerita soal cewek, kecuali mengenai loe. Makanya gue juga tau gimana kisah cintanya sebelum dan sesudah bertemu loe, tapi gue dulu yang harus mancing-mancing dulu!” jelas Aldi.
“Ssttt. Udah kita makan dulu” aku sengaja mengalihkan pembahasan karena aku tak mau Aldi membongkar masa laluku yang kelam.
“Lha kalau dia punya kisah cinta sebelum dan sesudah ketemu denganku, berarti bukan aku satu-satunya yang ada di hati dia dong!” Narita mulai kepo.
“Yang sebelum ketemu loe, ada cewek yang suka tapi dia yang gak suka. Kalau yang setelah ketemu loe---“ segera aku menyela omongan Aldi.
“Aldi, udon loe keburu dingin. Makan dulu gih!” aku memainkan mataku memberi tanda pada Aldi untuk tak mengungkitnya. Aldi pun paham bahasa tubuhku.
“Al, kamu bisa cerita kok sambil makan!” Narita sambil makan dan hanya dijawab cengiran oleh Aldi.
“Loe sendiri gimana Al? Kapan loe nikahin pacar loe? Jangan kelamaan Al” aku sengaja mengalihkan pembahasan.
“Kalau gue mah gak buru-buru, Vis. Gue punya plan nikah paling cepet umur 30 tahun” Aldi sembari memakan makanannya.
Obrolan mereka pun berlanjut sampai dengan makan siang mereka selesai. Mereka tak menyadari bahwa ada seseorang yang duduk di dekat meja mereka yang tengah mendengarkan semua perbicangan mereka.
DANIEL POV
Di sebuah café taman yang ada di Jakarta bagian Selatan, aku dan teman-temanku tengah berkumpul dan sibuk mempersiapkan suatu acara.
“Guys gimana? Sudah berapa persen?” tanyaku pada salah satu anak buahku yang tengah menjadi koordinator acara ini.
“Kurang 20% lagi Mr” Jawabnya.
“Oke. Kalau aku jemput dia sekarang, kalian yakin kan 20% ini akan selesai pada saat aku balik nanti?” tanyaku memastikan.
“Siap. Pasti selesai, Mr!”
“Ok. Thanks” aku menepuk pundaknya dan melangkah pergi ke parkiran.
__ADS_1