CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
BENTENG HATI


__ADS_3

DAVIS POV


Seperti sudah menjadi hal yang candu buatku, pagi hari setelah mandi dan sarapan, aku mengirimkannya pesan.


Aku : Morning 🌺


Narita : Hai…Pagi


Aku : Sibukkah?


Narita : Enggak begitu


Aku : Boleh telpon sebentar?


Ditunggu, 1 menit, 2 menit, dannn tak dibalas.


Aku bergegas menuju kamar dan membuka buku untuk kembali belajar. Menjelang makan siang ponselku bordering “Narita calling”. Segera kuraih ponselku dan kupencet tombol warna hijau, “Hallo”


“Maaf slow respons, tadi mau nelpon ada apa ya?” Pertanyaannya membuat alisku berkerut, hufh kenapa sie mau nelpon harus ada alasannya.


“E enggak apa-apa, cuma pengen denger suaramu aja” jawabku rada tergagap.


Terdengar dia tertawa renyah di seberang sana.


Aku cuma bisa menghela nafas panjang.


Kenapa harus aku yang merasakan selalu ingin melihatnya, mendengar suaranya, merasakan anehnya debar jantungku yang tak beraturan seperti saat ini?


Sedangkan dia di sana? Menertawakan kegelisahan hatiku yang sudah tak karuan begini.


“Lagi ngapain, Boy? Sudah makan siang?” tanyanya kemudian.


“Belum, masih terasa kenyang.”


“Nanti aja makannya menjelang berangkat bimbel” jelasku sembari merebahkan badanku di atas kasur.


“Yaudah aku tutup ya, mau ishoma” katanya lagi.


Lah, gimana ini. Baru aja mulai ngobrol, udah mau dia tutup lagi. Hufh… Kutarik nafas panjang, menetralisir hatiku, berusaha menjaga kontrol suaraku agar terkesan biasa saja, padahal dalam hatiku kecewa.


“Ok. Makan yang banyak dan kalau sholat jangan lupa doain aku ya!”


“Oke, bye!” tutupnya mengakhiri percakapan kami. 

__ADS_1


Dengan hati membuncah, aku kembali menjemputnya di kantor. Dari kejauhan nampak dirinya tersenyum melihat ke arahku.


“Hai, Boy!” sapanya menepuk pundakku. 


“Vis, kamu gak lagi pedekate sama Narita kan?” tanya mbak Sriti menyelidik, membuatku membulatkan mata seolah tak percaya mendapatkan pertanyaan to the point seperti itu. Kulihat Kak Na hanya menyenggol lengan Mbak Sriti.                                                                                                                         


Aku gak menjawab pertanyaan mbak Sriti, hanya tersenyum.


Jujur aku minder, Kak Na baik, pemikirannya dewasa, smart, dan aku rasa semua pria akan merasa nyaman berada di sisinya,,,,apakah aku pantas untuknya?


Aku yang masih pecicilan, manja, gak serius, dan masih suka main-main menghabiskan waktu dengan sesuatu hal yang gak jelas. Hufh.


“Yaudah sana, ati-ati yaa di jalan” Mbak Sri menepuk pundakku dan Kak Na bergantian lalu pergi menjauh. Kulihat beberapa teman yang mengenal Kak Na mengamati kami berdua, seolah menanyakan hal yang sama dengan apa yang tadi ditanyakan Mbak Sriti.


Kuambil helm untuk Kak Na. Dia pake helm dan naik ke motorku.


“Kak, aku udah beli bakso, nanti kita makan bareng ya!” kataku saat kami di perjalanan.


“Wahhh,,, enak nie. Oke sip” suaranya begitu nyaring di samping telingaku, membuat bulu kudukku berdiri, jantungku bergetar sedikit lebih kencang. Ehem ehem, kuatur kembali debar jantungku, dan kembali berkonsentrasi dengan jalanan ibu kota yang macet.


----- Kos Narita-----


“Vis, ini minuman dan mangkoknya. Aku mandi dulu ya. Gerah. Kamu kalau mau makan duluan juga gakpapa!” tanpa menunggu persetujuan Davis, Narita langsung balik badan masuk kembali ke dalam kosnya setelah minuman dan mangkoknya beralih ke tangan Davis.


“Kak, sabtu besok ikut tour ke pulau seribu kah?” tanya Davis sambil memakan baksonya.


“Insyaalloh” jawab Narita.


“Kamu?” tanya Narita lagi.


“Kak Na maunya aku ikut gak?” tanyaku dengan nada manja dan menggodanya. 


Dia hanya tertawa terkekeh “Ya ter---“


“Sorry Kak, aku angkat telponku dulu” belum sempet Narita berkomentar, Davis menyela untuk meminta ijin menjawab telponnya.


Sebelum mengangkat telponnya, Davis menjauh dari Narita. Narita memperhatikan ekspresi Davis yang sedang bertelepon. Kadang terlihat serius, lalu tertawa kecil, membelalakkan mata, eh tiba-tiba tertawa lagi. Narita tersenyum kecil, lucu juga bersahabat dengan abege cowok macam Davis. Cukup lama juga mereka ngobrol, bahkan hampir 1 jam. Sesekali Davis memberi isyarat pada Narita untuk berkata seolah tunggu, bentar lagi ini kelar. Tapi ternyata tak kunjung selesai, sampai baksonya habis, minumannya habis 2 gelas.


“Sorry Kak, lama ya?” kata Davis setelah tadi menutup telponnya dan duduk di samping Narita.


“Ahh, gakpapa, aku paham kok”


“Namanya telponan sama pacar kan emang suka lupa waktu” Narita menumpuk mangkok kosong dan gelas kotornya.

__ADS_1


“Baksomu udah dingin, mau aku panasin lagi”tanya Narita lagi.


“Gak usah Kak, langsung masuk perutku aja!” jawab Davis cengengesan.


Begitulah hari-hari Narita dan Davis seminggu ini. Pagi menjelang beraktifitas, siang menjelang Ishoma, dan malam menjelang tidur selalu bertukar pesan. Sore sepulang Davis bimbel, dia menjemput Narita di kantornya.


-----Kantor Narita-----


“Cie cie, dapat pesan dari siapa Na? senyum-senyum bahagia gitu?” tanya Sriti memperhatikan gelagat Narita dan kemudian menarik kursi beroda dan mendudukinya.


“Ini dari Davis mbak” jawab Narita singkat.


“Kalian udah jadian?” tanya Sriti memajukan kepalanya, mencoba menatap dan mencari kejujuran dari bola mata Narita.


Seketika Narita tertawa kecil menahan tawanya “Enggaklah, gak mungkin mbak”


“Davis masih abege mbak, aku anggap kaya adikku sendiri” jawab Narita menjelaskan dengan penuh keyakinan. 


“Ya memang dia masih muda, tapi walau bagaimana pun juga, dia itu seorang pria dewasa juga lho Na”


“Wajah tampan, body macho, masa iya kamu gak tertarik dengannya?” tanya Sriti penuh selidik.


Jujur kuakui, siapa yang mampu menolak pesonanya. Tuhan menciptakan wajah dan postur sesempurna dirinya, bagaimana mungkin aku melewatkannya untuk mengaguminya. Tapi aku sendiri gak mengerti apa yang kurasakan. Apakah hanya sekedar rasa kagum, ataukah…..—batin Narita.


“Untuk saat ini sie enggak. Aku nyari yang serius untuk dijadikan suami bukan sekedar pacar-pacaran. Bikin capek doang” jelas Narita tegas.


Sriti manggut-manggut.


“Kalaupun suka, juga gak papa kok. Jangan pernah melawan dan membohongi hati nuranimu Na”


“Tapi kalaupun enggak suka, menurutku lebih baik menjaga jarak. Kasihan Davis. Dia sepertinya menaruh hati padamu!” lanjut Sriti.


Narita menghela nafas panjang lalu menjawab “Iya mbak. Akan aku ingat nasehatmu”


“Sabtu besok ikut tour ke pulau seribu kan?” tanya Narita kemudian.


“Iya dong. Davis ikut?” tanya Sriti.


                                                                               


“Gak tau mbak” jawab Narita singkat.


“Oke deh, ayo kerja lagi” Sriti berdiri dari duduknya. Narita mengangguk tanda setuju kerja lagi. Lalu Sriti masuk ruangannya dan Narita kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2