
Obrolan seru yang seolah tiada habisnya benar-benar membuat aku dan Davis tak merasakan bahwa kami telah melampaui perjalanan udara 1 jam lamanya. Kini tibalah kami di bandara. Kami telah dijemput oleh seseorang menggunakan Alphard. Rio mempersilahkan Davis dan aku untuk duduk di kursi penumpang bagian tengah, sedangkan dia sendiri memilih duduk di samping sopir.
“Mr. Dav, kita mau ke villa dulu atau langsung menuju lokasi meeting?” tanya Rio ke Davis.
“Kita ke villa dulu, Rio!” perintahnya kemudian.
Tibalah kami di komplek villa mewah pinggir pantai.
“Apa ini salah satu usaha OX Company?” tanyaku pada Davis setelah kami turun dari mobil.
“Iya. Kamu kerja di OXC 3 tahun tapi kenapa bisa gak tau?” tanyanya heran.
“Iya selama ini kan saya hanya tinjau lokasi, cek progress pembangunan, sampai dengan persiapan peresmian villa/hotel/perumahan baru. Kalau villa/hotel/perumahan yang lama, jujur saya belum pernah datangi semua” kataku sembari berjalan beriringan dengan Davis mengikuti Rio dan mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri menikmati betapa indahnya tatanan taman, arsitektur bangunan, dan dipadukan dengan nuansa alamnya langsung yang terbentang.
Kami segera diantar ke villa dan kamar kami masing-masing. Aku, Davis, dan Rio ditempatkan di villa yang sama.
“Istirahat dulu ya! Nanti 2 jam lagi aku tunggu makan siang lanjut ketemu client!” perintah Davis kepadaku.
“Ketemu client? Memangnya aku harus ikut ketemu client juga?” sebelum kami berpisah, kami berhenti sejenak untuk sekedar bercakap membuat janji.
“Iya. Kamu di sini menggantikan sekretarisku.” Tegasnya lagi.
“Hwahhh. Nanti aku wa Rio untuk janjiannya!” ujarku kemudian.
“Wa Rio? Kenapa gak langsung wa aku aja?” tanyanya mengernyitkan dahinya.
“Ya, terlalu jauh gap nya kalau seorang Manajer harus wa Dirutnya” jelasku.
“Ribet kalau melalui Rio. Wa langsung ke aku aja!” perintahnya dengan nada tinggi dan suara tegas.
Wuih,,,ngeri juga dia kalau udah setengah marah –batinku.
“Iya iya iya, nanti aku wa kamu!” aku pun akhirnya mengalah.
__ADS_1
“Udah tau nomor wa ku?” tanya nya sambil berkacak pinggang.
“Enggak” jawabku pelan.
“Astaga Naritaaa,,,kebangetan kamu ya jadi anak buah!” dia pun langsung merebut ponsel yang ada di tanganku.
“Berapa pin nya?” tanyanya kemudian.
“Sini aku bukain dulu!” aku kembali berusaha merebut ponselku, namun segera dia jauhkan ponselku dari jangkauanku.
“Berapa pinnya!” tanyanya tegas menatapku tajam.
Lalu aku sebutkan pin membuka layar ponselku lalu berkata “pantes para Direktur jiper kalau rapat sama kamu. Galak!” keluhku.
“Kalau kamu nurut, aku gak bakal galak” jawabnya masih fokus menatap ponselku dan mengetikkan sesuatu. Lalu setelahnya dia mengembalikan ponselku. Kami pun berpisah menuju kamar masing-masing.
----- Restoran-----
“Apa kabar Tn Mark? Kali ini saya masih ditemani Rio asisten saya dan ini Narita salah satu Manajer saya namun kali ini berperan sebagai sekretaris saya!” Davis memperkenalkanku dengan kedua orang clientnya dan kami pun bergantian berjabat tangan.
Pembahasan bisnis yang menggunakan bahasa Inggris, negosiasi bisnis, dan akhirnya disepakatinya perjanjian bisnis, membuatku begitu takjub dengan Davis. Dia begitu berbeda dengan Davis yang kukenal dulu. Sekarang dia sangat terlihat smart, berwibawa, penuh pertimbangan namun tetap tegas, pantas saja dia percaya diri menduduki jabatan Dirut. Bukan hanya karena dia salah satu orang yang berpengaruh di perusahaan, namun karena memang kemampuannya patut diperhitungkan.
Aku dan Davis kembali makan malam berdua. Ya hanya kami berdua makan di meja yang sama, sedangkan Rio berada di meja lain tak jauh dari meja kami.
“ Sekarang penampilanmu beda?” kata Davis memandangku dari atas ke bawah.
“Iya, lebih berumur jadi harus pake ini!” kataku dengan memegang gagang kacamata yang kukenakan.
“No. Bukan itu maksudku. Dari ujung atas sampai bawah terkonsep dengan baik dan memberi kesan dewasa, elegan, cantik” tatapannya mulai menelisik membuatku kurang nyaman.
__ADS_1
“Assshhh,,,,biasa aja!” aku cengar cengir berusaha menutupi kegugupanku.
Seorang pramusaji kemudian datang dan memberikan buku menu, lalu kami memesan makan malam kami.
Tak berapa lama setelah pelayan itu pergi, tiba-tiba ada yang memanggil.
“Dav!!” seorang wanita bule, berumur 25 tahunan, dengan dandanan natural, baju tanktop dan celana hot pants mendekati Davis dan menyalaminya dengan ala barat alias cipika cipiki.
“Who is?” tanyanya kemudian (selanjutnya aku menggunakan bahasa Indonesia saja ya).
“Owh, kenalin ini Narita, Manajer project planner” Davis memperkenalkanku, aku berdiri dan mengulurkan tangan untuk menyalaminya. Dia menyambut tanganku dengan tersenyum.
“Ini teman kuliah ku, Na! Namanya Jess” dia pun memperkenalkan wanita bule itu ke aku.
“Narita”
“Jessica”
Sedetik kemudian terjadi kecanggungan antara kami. Kami bertiga masih dalam posisi berdiri. Tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Narita….” Teriaknya mendekatiku.
“Kalian?” aku kaget mendapatinya sudah di Bali hari ini, ya Dia Daniel dan Arnold.
“Hallo Mr. Dav” sapa Daniel kemudian dan Mr. Dav sedikit tersenyum padanya.
“Hmm,,,Mr. Dav saya ijin menemani Daniel and Arnold untuk mendapatkan kamar untuk mereka ya!” tanpa persetujuan darinya aku segera pergi menarik lengan Daniel. Daniel Nampak kebingungan dengan situasi ini, begitu pun Davis. Davis sempat memanggilku namun tak ku gubris. Situasi ini benar-benar membuat kami canggung. Aku gak nyaman berada di antara Davis dan Jess. Dan aku juga gak nyaman Daniel melihatku makan bersama Davis dan Jess.
“Kamu lagi ngapain sama Mr. Dav?” tanya Daniel kemudian.
“Kalian tidak sedang makan malam berdua kan?”tanya Arnold menelisik, memperhatikan gerak gerikku.
Aku tak menjawab pertanyaan mereka, aku hanya membawanya ke ruangan resepsionis.
__ADS_1
“Mbak ini rekan saya dari OX Comp, mereka rencananya akan menginap di sini, berapa hari Niel?” aku menatap resepsionis namun selanjutnya beralih menghadap Niel.
“5 hari 4 malam” Jawabnya singkat.