
NARITA POV
“Mana buktinya?” suara Opa Davis meninggi dan sedikit menekan membuat kami semua terdiam.
Seperti apa yang sudah kami duga sebelumnya, Opa Davis meminta bukti bahwa si kembar adalah keturunannya, anak kandung Davis. Davis menyerahkan sebuah amplop besar bertuliskan salah satu nama rumah sakit di Australia. Namun betapa terkejutnya kami, setelah dia menerima amplop besar itu, tanpa membukanya, dia langsung melempar sembarangan ke atas meja.
“Aku tak butuh itu!” hardiknya dengan keras.
“Opa tidak percaya dengan hasil di dalam amplop itu?” tanpa memperdulikan pertanyaan Davis, Opa segera menelpon seseorang.
“Seseorang akan datang ke apartemenmu sekarang! Biarkan dia ambil rambut anak itu sekarang” ucap Opa setelah dia menutup telponnya.
Tak berapa lama, Dave muncul bersama dengan seseorang. Entah tau dari mana dia bisa kebetulan datang ke sana.
“Dad, sudah jelas sekarang kalau Davis sudah memiliki istri, apakah dia tetap harus menikah dengan Jess?” Daddy Davis melontarkan pertanyaan yang membuat kami semua yang ada di ruangan itu langsung menoleh pada Opa untuk menunggu jawabannya.
“Untuk apa menikahkan Davis dengan Jess? Jelas-jelas mereka pasangan suami istri yang sudah mengikat janji suci, kita tidak boleh memisahkannya!” Dave yang sudah dekat dengan ruang tengah tiba-tiba bersuara. Dia dan seseorang itu kini sudah duduk di sofa.
“Berikan bukti itu!” perintah Dave pada pria yang tadi bersamanya.
Lalu pria yang berusia sekitar 25 tahun, mengenakan kacamata, berwajah khas Indonesia itu menyerahkan sebuah amplop kecil ke atas meja. Tanpa menunggu lama, Mommy membukanya. Matanya langsung membelalak, mulutnya menganga setelah melihat apa yang ada di dalam amplop itu. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri sembari mengeluarkan kedua buku kecil berwarna hijau tua dan merah tua, lalu mengangkatnya ke udara dan menunjukkannya ke semua orang yang ada di ruangan itu.
Tanpa menunggu waktu lama, Opa langsung berdiri dan meminta kedua buku itu. Dibukanya kedua buku itu. Wajahnya memang tenang namun tergambar jelas guratan ekspresi keheranan setelah membaca dengan detail lembar demi lembar kedua buku itu.
“Davis, Narita, simpan itu baik-baik! Kalian menang!” Dave segera berdiri, begitu pun dengan pria yang tadi bersamanya turut berdiri.
“Makasih Kak!” ucap Dave sembari berdiri lalu mendekati kakaknya dan memeluknya.
“Aku benci kalian! Terutama padamu Narita!” ucap Dave setelah melepas paksa pelukan Davis.
__ADS_1
Aku tak mampu berkata-kata. Aku tak menyangka semenyakitkan itu tindakanku karena tidak jujur kepada semuanya, terutama pada Mr. Dave. Kedua mataku sudah mulai berkabut. Aku menyesal sungguh menyesal. Keegoisanku yang membuat kebenaran ini tak terungkap yang pada akhirnya membuat hati seseorang menjadi tersakiti. Bahkan untuk sekedar mengucapkan kata maaf saja, sulit terucap dari bibirku.
Maaf Mr. Dave,,,,maaf,,,,-- hanya mampu kuungkap dalam hati saja.
Davis menoleh padaku, melihat mataku mulai berkaca-kaca, dia langsung mendekatiku, duduk di sampingku dan memeluk punggungku dengan sebelah tangannya.
“Ssstttt,,,” Davis mencoba menenangkanku.
Buku itu berpindah dari Opa ke Daddy. Sedangkan Dave sendiri telah meninggalkan ruangan. Dia datang dan pergi tanpa mengucapkan salam sama sekali.
Opa berdiri dan melangkah meninggalkan kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Entahlah apa yang kini sedang beliau pikirkan. Selama ini beliau menuntut cucunya menikah, setelah melihat buku nikahku dan Davis, dia tak berkomentar. Selama ini dia menuntut cicit dari Mr. Dave maupun Davis, kini setelah kami mengungkapkan kebenaran bahwa si kembar adalah cicitnya, sepertinya dia masih belum mempercayai pengakuan kami. Tapi biarlah kalau dia tak percaya. Aku sudah mengatakan sejujurnya, biarkan dia membuktikannya dengan caranya sendiri.
Aku tak mau berspekulasi dengan sikap Opa. Beliau memang orang paling adidaya di keluarga ini. Selama ini beliau yang selalu mengambil keputusan di keluarga ini, tak heran dia sangat berhati-hati dalam mengambil sikap. Jadi aku sendiri kini yang harus lebih menjaga hati dan diri ini. Nyaliku mulai menciut. Aku takut tak diterima di keluarga ini. Meskipun Davis selalu meyakinkanku bahwa kami akan kembali bersama, tapi aku tak mungkin bersama jika itu tanpa restu.
“Kalian pulanglah! Nanti Daddy akan bicarakan kembali dengan Opa kalian!” begitulah kata bijak Daddy yang juga diangguki oleh Mommy.
Terlihat Mommy iba dengan kondisiku. Dia yang duduk di sampingku mengusap lembut punggung tanganku. Mommy adalah orang pertama di keluarga ini yang dengan lapang dada menerima kebenaran ini. Usapan tangannya adalah kekuatan yang sangat berarti untukku. Terima kasih Mom….
***
Sesampainya di apartemen, Arjuna mengatakan bahwa tadi ada dua orang yang datang dan meminta ijin untuk mengambil rambut si kembar. Davis mengatakan bahwa itu adalah orang-orangnya Opanya, jadi tak perlu khawatir.
Raut wajahku yang sedang tidak bersahabat, membuat semua orang yang tengah menungguku hanya bisa terdiam menatapku berlalu.
“Di mana Raffa dan Rafina, Bu?” tanyaku pada ibu setelah salim takzim padanya. Lalu ibu menuntunku ke kamar beliau.
Di kamar itu, kulihat Raffa dan Rafina tidur dengan tenangnya. Keduanya tidur bersisihan dengan guling diletakkan di tengahnya sebagai pembatas. Aku mendekati keduanya, lalu menciumi wajah keduanya. Sejenak aku merebahkan tubuhku di samping mereka. Lalu mengubahnya menjadi miring menghadap ke Rafina.
“Bu, bolehkah aku tidur di sini?” ucapku pelan sembari tanganku sibuk mengusap lembut tubuh Rafina yang tepat di sampingku sementara mataku lekat memandang kedua buah hatiku ini.
“Lalu Nak Davis?” tanya ibu sembari dia mendudukkan tubuhnya di ujung kasur yang lain.
__ADS_1
Kasur ini berukuran king size jadi bisa muat 4 orang sekaligus. Aku di ujung kanan, sedangkan ibu bisa di ujung kiri, tepat di samping Raffa.
“Aku belum siap kembali bersamanya sebelum mendapatkan restu” jawabku lirih.
“Hufh, apa Nak Davis sudah tau keputusanmu ini?” aku menggelengkan kepala menjawab bertanyaan ibu.
“Setidaknya sampaikan dulu niatanmu ini ke nak Davis, Nduk! Walau bagaimana pun juga dia adalah suamimu! Yahh walaupun beberapa tahun dia tidak menafkahimu, tapi itu bukan sepenuhnya kesalahannya!” nasehat ibu membuatku kembali pusing dan akhirnya terisak kembali. Sebenernya aku sudah capek, air mataku sudah terasa kering, tapi setiap kali mendengar hal yang terasa begitu membuat hati ringkih, pasti air mata akan kembali berdesakan keluar.
Aku hanya memejamkan mata dan tak menghiraukan nasehatnya. Ibu kemudian berdiri dan meninggalkan kamar.
Jujur aku masih tidak ingin bertemu dengan Davis. Entah kenapa aku membenci keadaan kami. Aku membencinya yang dulu terkesan menutupi pernikahan kami dari keluarganya. Coba dulu dia meminta ijin Opanya, setidaknya biarkan dia tau kalau memang kala itu Daddy dan Mommynya sedang sakit, mungkin kalau Opa tau, kejadian saat ini takkan serumit ini.
“Sudah ibu sampaikan ke nak Davis, Nduk. Istirahatlah!” ucap ibu setelah masuk kamar kembali. Kini dia mulai mematikan lampu yang menerangi kamar ini.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
__ADS_1
Terima kasih