
AUTHOR POV
Usai Davis diperkenankan pulang, dia tidak tinggal di rumah Dave, tapi tinggal di rumah orang tuanya. Davis selama beberapa hari ini juga sudah mulai masuk kantor.
Pada hari yang sudah dijadwalkan untuk melakukan donor darah, Davis kini sudah berada di rumah sakit tempat Rafina dirawat. Dokter menyatakan bahwa golongan darahnya cocok untuk Rafina. Bisa dikatakan ini mukjizat, karena bagaimana mungkin mereka yang notabene tidak memiliki hubungan darah tapi memiliki golongan darah langka yang cocok, bahkan ibunya sendiri saja tidak cocok.
Usai mendonorkan darahnya, Davis diperkenankan untuk beristirahat terlebih dahulu di salah satu kamar rawat VVIP di sana. Saat ini dia tengah diberikan makanan ke ruang rawat inapnya.
“Terima kasih, sus. Hmmm, sus, apakah saya boleh menjenguk pasien yang tadi sudah saya berikan darah saya?” Davis bertanya usai suster itu menata makanan di meja.
“Nanti saya sampaikan permintaan tuan ke Dokter terlebih dahulu. Silahkan makanannya Anda makan terlebih dahulu. Dengan makanan itu akan memulihkan kembali tenaga Anda”
“Terima kasih” Davis tersenyum sambil menatap punggung suster sampai dia keluar ruangan.
Setengah jam kemudian, seorang Dokter datang ke ruangan VVIP Davis.
“Hallo tuan, apa kabar?” sapa dokter itu dengan ramah.
“Alhamdullillah baik. Dokter bagaimana kabarnya?”
“Baik juga”
Lalu dokter itu mulai memeriksanya.
“Apa memang seperti inni biasanya prosedur donor darah ya? Diberikan ruang rawat inap, makanan, pengecekan kondisi badan setelah donor?” Dokter itu pun tersenyum, lalu menjawabnya sembari tangannya masih sibuk mencatatkan sesuatu ke sebuah lembaran.
“Tidak tuan. Tuan kan keluarga pemegang saham terbesar di rumah sakit ini, jelas kami perlakukan beda”
“Owh”
“Hmmm, apakah saya boleh bertemu dengan penerima donor darah sayaa, Dok?”
“Boleh. Anda bisa berjalan sendiri atau---”
__ADS_1
“Saya kan bukan pasien dok, saya bisa jalan sendiri” Davis segera berdiri.
Mereka pun kini sudah melangkah berdampingan menuju ke ruangan VVIP di sisi Lorong yang lainnya. Hingga langkah Davis terhenti karena di depan salah satu pintu kamar VVIP dia menjumpai seseorang berusia paruh baya sedang berbicara melalui sambungan handphone. Mata Davis melotot memperhatikan wanita itu dari kejauhan. Dia merasa seperti mimpi ketika dia dipertemukan dengan seseorang yang pernah ada dalam mimpinya.
Dokter itu merasa bahwa Davis menghentikan langkahnya, ia pun balik badan dan bertanya “Tuan?”
Mendengar panggilan dokter itu, Davis kembali melangkahkan kakinya mendekati wanita itu. Sementara wanita itu belum menyadari kedatangan Davis di sana, dia masih sibuk berbicara di telepon.
Saat Davis sudah sangat dekat posisinya dengan ibu itu, dia pun memanggilnya dengan lirih “Ibu….”
Mendengar ada yang memanggil dengan sebutan ‘Ibu’, sontak wanita itu langsung menoleh ke sumber suara, menghentikan obrolannya, lalu sepersekian detik kemudian handphone nya sudah terjatuh di lantai.
Secepat kilat Davis mendekati ibu itu dan mengambilkan handphonenya, sementara ibu itu masih terdiam terpaku di tempatnya.
“Maaf Dokter, Anda duluan saja, saya ada perlu dengan ibu” memperhatikan interaksi antara Davis dan ibu itu, akhirnya dokter mengangguk dan kini mulai memegang knop pintu ruang rawat yang tak jauh dari posisi berdiri ibu tadi.
“Nak?” ibu itu memanggil dengan mata berkaca-kaca, dan tak menunggu waktu lama akhirnya air matanya lolos begitu saja dari sudut matanya.
Davis mendekat lalu merangkul ibu itu. Suara isakan makin terdengar meskipun Davis memeluknya.
Ibu itu membenamkan wajahnya dalam dekapan Davis namun anggukan kepalanya nampak jelas terlihat. Davis turut terharu dan tanpa terasa turut meneteskan air mata. Davis merasakan gemuruh rasa asa di dada. Dia berharap akan segera dipertemukan dengan seseorang yang selama ini hanya ada di dalam mimpi-mimpinya. Dia awalnya berpikir akan sulit menemukan mereka, namun ternyata taqdir Alloh begitu indah. Apa yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin saat ini. Bertemu dengan ‘ibu’ adalah petunjuk nyata untuknya bisa menemui kekasih hati, istri tercinta yang selama ini sangat dirindukannya.
Setelah beberapa saat lamanya, ibu paruh baya yang ternyata adalah mertua Davis itu mengurai pelukannya. Dia masih menatap lekat pemuda yang ada di hadapannya itu. Dia berharap apa yang dilihatnya kali ini benar-benar nyata. Sesekali tangannya mengusap air mata yang masih membasahi wajahnya.
Tak membiarkan wanita itu berdiri terlalu lama, akhirnya Davis membimbingnya untuk duduk di salah satu kursi tunggu di luar ruangan. Davis sepertinya melupakan tujuannya ke sana.
“Ibu bagaimana kabar? Kenapa bisa ada di sini?” Davis dengan lembut menatap wajah ibu yang duduk di sampingnya menggenggam erat kedua tangan ibu mertuanya.
“Ibu baik, Nak. Ibu di Australia karena untuk menemui Narita, istrimu”
“Istriku? Di mana dia sekarang bu?” nada bicara Davis kini nampak antusias lalu hanya dijawab dengan senyum tipis ibu mertuanya.
“Dia sedang di dalam!” ibu menunjukkan ruangan di mana dokternya tadi masuk.
__ADS_1
Dave mengernyitkan dahinya, nampak bingung dan akhirnya bertanya “Istriku di dalam? Siapa yang sakit?”
“Rafina, anak kalian” mendengar jawaban ibu, sontak Davis langsung melotot lalu berdiri.
“Jadi, anak yang menerima donor darahku adalah anakku sendiri?”
“Apa??? Jadi seseorang yang kata dokter tidak ada hubungan kekerabatan yang darahnya cocok dengan cucuku itu, Nak Davis?” kini air mata Davis makin menganak sungai, dia tidak mampu membendung rasa haru bercampur bahagia.
Bagaimana mungkin Tuhan memberinya anugrah yang sangat indah ini? Di saat dia menginginkan bertemu istrinya, yang dalam benaknya pun sangat sulit untuk mencari jejaknya. Kini justru dia mendapati kenyataan bahwa dia tidak hanya akan bertemu dengan istrinya, tapi juga anaknya.
Air mata kebahagiaan, debaran dada yang membuncah, akhirnya tak mampu dia tahan lagi. Secepat kilat dia membuka pintu ruang rawat inap itu dengan sangat keras, hingga siapa pun orang-orang yang ada di dalamnya kaget dan mengarahkan matanya ke Davis semua.
Mata Davis yang berkabut diselimuti air mata, berusaha menyapu dan mengenali tiap orang yang ada di ruangan itu. Meski dia lelaki tapi dia tak bisa menahan untuk menangis karena ternyata semua yang ada di ruangan itu, dikenalnya sebagai seseorang yang selama ini hadir di mimpi-mimpinya.
Menyadari ada seorang wanita yang teramat dicintainya, dirindukannya berdiri terpaku di samping brankar, Davis bergegas mendekatinya dan setelah dekat, dia langsung meraih tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam pelukannya.
Tangan kanan Davis menekan dan membenamkan kepala Narita ke dadanya, sementara tangan kirinya menekan punggung Narita agar semakin menempel ketat di tubuhnya. Davis menangis tergugu seolah meluapkan kebahagiaan yang tiada terkira ini. Dia semakin mengeratkan pelukannya ketika tangan Narita turut membelit punggungnya sebagai tanda penerimaan wanita itu akan dirinya. Kini tidak hanya Davis yang menangis, Narita pun turut menangis tersedu-sedu di dada lelaki yang selama ini ada di depannya namun tak pernah bisa dijangkaunya itu. Narita menyadari bahwa kini lelaki itu mengenalinya sebagai cinta pertamanya, bukan nanny keponakannya.
Pelukan itu seolah menularkan kebahagiaan dua insan manusia itu, meski menangis, tapi keduanya tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur Alhamdullillah di dalam hatinya. Pelukan penuh haru dalam waktu cukup lama itu akhirnya kini terurai dengan keduanya masih saling menatap. Mereka tak menyadari banyak pasang mata yang kini tengah memperhatikan mereka. Meski tanpa berucap, mereka dapat memahami isi hati masing-masing dengan hanya melalui tatapan mata. Tangan kanan Davis menghapus air mata yang membasahhi wajah Narita, sementara itu tangan Narita masih membelit di punggung Davis. Perbedaan tinggi badan antara keduanya, membuat Narita mendongak amat tinggi pada lelaki halalnya itu untuk sekedar bisa membaca pikiran lelaki itu melalui pantulan wajahnya di mata biru lelakinya.
Usai menghapus air mata, Davis membelai lembut pucuk kepala Narita yang tertutup jilbab lalu setelahnya ia mencoba mencium keningnya. Namun sebelum bibirnya menyentuh dahinya, Narita langsung mendorong kedua lengan Davis.
“Kenapa?” Davis masih menatap lekat pada Narita, sementara Narita sudah mulai menengok ke samping kanan dan kiri dan tersenyum nyengir, dia baru menyadari kalau saat ini mereka sedang menjadi bahan tontonan beberapa orang. Dia malu.
------******-------
Beberapa episode lagi akan TAMAT, semoga para readers menikmati novel perdanaku. Maaf yaa, aku selalu telat update, karena kesibukan jadi kurang mendapat inspirasi. Next time mau buat Novel yang sederhana aja, yang tidak sampai 100 episode. Kalau kepanjangan kok kaya capek fokusnya yaaa,,,,
Mohon doanya yaa para readers tercinta, semoga akum akin banyak belajar lagi untuk menulis, biar novelnya makin seru dan asyik dibacanya.
Dan jangan lupa untuk mampir di Novel keduaku dengan judul “ENGKAULAH PELABUHAN TERAKHIRKU”
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya : SUKA, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE
Terima kasih