CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
RAPAT BERSAMA CEO 1


__ADS_3

NARITA POV


 


Sudah dua minggu aku kerja magang. Di sana aku mendapatkan banyak teman, relasi, kenalan, dan suasana sangat menyenangkan. Awalnya memang mereka sedikit menjaga jarak denganku, tapi karena aku terus mendekati mereka dan seolah bersikap bahwa penampilanku bukanlah penghalang untukku dekat dengan orang lain, akhirnya mereka mulai welcome.


Pak Adam sudah memberiku beberapa jenis proyek untuk kuanalisa. Saat mengerjakan proyek yang terkait dengan bagian lain, kami akan berdiskusi dengan bagian lain pula. Sepertinya pekerjaan seperti ini memang ‘aku banget’, aku sangat menikmatinya.


Semakin banyak proyek yang kuanalisa, semakin banyak ilmu dan hal yang bisa kudapatkan dan ide yang  kusumbangkan. Karena pekerjaanku menyangkut banyak pihak jadi aku mengenal cukup banyak orang di perusahaan ini.


“Na, kau sudah siapkan Analisa yang terakhir?” tiba-tiba Pak Adam mendekati kubikel ku.


“Sudah, Pak. Baru saja saya kirim ke email bapak. Bisa Bapak cek, kurangnya apa” jawabku.


“Oke aku cek dulu. Jangan lupa, nanti kau yang mempresentasikan analisamu di depan CEO ya!”


“CEO? Memangnya rapat nanti siang jam 2 akan dihadiri CEO, Pak?” tanyaku, walau bagaimana pun juga aku merasa gugup bertemu orang paling tinggi kedudukannya di perusahaan ini.


“Iya. Lho, kamu baru tau? Aku sudah berpesan pada sekretarisku untuk menginfokan ke kamu” lalu entah kenapa pak Adam menatapku dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.


“Aku tak perlu menghawatirkan penampilanmu. CEO itu seseorang yang sangat membenci penampilan terbuka, dia menyukai wanita anggun yang mengenakan rok dengan sopan. Jadi kalau ada yang presentasi mengenakan baju seksi, sudah pasti sebelum mulai aja udah langsung disuruh keluar rapat”


“Owh ya?” aku tak percaya denga napa yang dikatakan Pak Adam. Sebegitu kerasnya kah CEO mereka?


“Iya. Percaya dirilah di hadapannya ya Na. Ini mungkin pertama kalinya kau bertemu dengan CEO, tapi sepanjang kita percaya diri, tidak banyak membantah perintahnya, dia tidak akan banyak membentak”


“Searogan itukah CEO kita?”


“Sssssttttt….hati-hati kalau mau komentar soal dia. Dia banyak informannya, kalau sampai terdengar di telinganya kau mengatainya, tidak ada ampun untukmu Na!” Pak Adam menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, aku pun kembali mengangguk dan berharap tidak ada yang mendengar perkataanku yang terakhir.


 


--- Ruang rapat ---

__ADS_1


15 menit sebelum rapat dimulai, aku dan beberapa staf telah bersiap di ruang rapat. Di sini terbiasa on time, jadi persiapannya pasti sudah ready beberapa menit sebelum rapat dimulai. Aku telah menyerahkan data ke para staf dan aku cek tampilannya sudah oke. Semua layar ipad di ruang rapat juga sudah dipastikan terkoneksi dengan layar besar, jadi bagi peserta yang tidak dapat melihat dengan jelas di layar depan bisa melihat dari layar ipad yang tersedia di masing-masing meja.


Rapat kali ini melibatkan banyak divisi, jadi ruangan menggunakan aula berukuran medium yang berkapasitas maksimal 60 orang. Aku sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin semoga saja nanti tidak ada drama grogi atau sebagainya.


Beberapa peserta rapat sudah berdatangan. Aku memilih untuk ke toilet sebelum acara benar-benar dimulai. Aku membawa pouch kosmetik. 


Aku menatap cermin besar yang dengan jelas dan terang memperlihatkan wajahku dengan riasan yang sudah memudar. Tadi setelah Sholat Dhuhur aku belum sempat memperbaiki riasanku. Kukeluarkan bedak dari pouchku. Aku tak suka riasan tebal jadi aku hanya memperbaiki bedak agar kembali rata warnanya. Lalu setelah itu aku keluarkan blush on. Aku kuas tipis-tipis blush on ke kedua pipiku, yah tujuanku hanya ingin memberikan kesan segar saja. Setelah itu lanjut dengan lipstik. Aku memang menggunakan lipstik semi matte, jadi kalau sudah dipakai makan, sebagian pasti akan memudar. Aku hapus semua dulu baru kupoles ulang dengan warna yang baru.


Aku memandangi kembali wajahku. Yah hanya itu yang biasanya aku pake. Untuk alis dan maskara aku cukup menggunakannya pagi saja, kalau siang tak perlu touch up. Riasan tipis, sederhana, namun memberi kesan segar kupikir sudah selesai, aku masukkan bedak, lipstick dan blush on kembali ke dalam pouch. Sebentar aku perbaiki tatanan jilbabku agar lebih rapi.


Setelah dirasa cukup, kini aku bersiap keluar dari ruang toilet. Saat aku memegang handle pintu dan menariknya ke dalam, tiba-tiba seseorang mendorongnya dari luar.


“Ups, sorry” ucapnya.


“Tidak apa-apa” aku masih menundukkan wajah tapi sesaat kuberpikir, sepertinya aku familiar dengan suara itu. Segera aku mengangkat wajahku dan kami sama-sama terkejut. 


“Kau?” ucap kami bersamaan.


“Untuk apa kau di sini?” tanya dia yang tak lain adalah Jess.


“What? Jadi perusahaan tempatmu magang itu di sini?” tanyanya lagi dan aku jawab dengan anggukan kepala.


Aku mengangkat tangan kiriku dan kulirik jam tangan yang melingkar di sana.


“Sorry aku duluan” dia masih menatapku heran, dan aku pun pergi meskipun belum menjawab pertanyaannya. Pikirku jangan sampai aku terlambat hanya karena mengobrol di toilet.


“Narita” baru saja aku keluar dari toilet wanita, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak memanggilku. Lagi-lagi aku sangat familiar dengan suara itu. Segera aku menoleh ke sumber suara. Mataku membulat melihat Davis ada di sana.


Pikirku kok Davis dan Jess bisa ada di sini? Jangan-jangan ini perusahaan-----.


“Apa kau magang di sini?” tanyanya setelah dia ada disampingku, dan aku jawab dengan anggukan kepala.


“Kau ikut rapat ini juga?”

__ADS_1


“Iya” jawabku pendek karena aku lebih memilih melangkahkan kakiku dengan cepat. 


“Kau buru-buru sekali?”


“Iya, maaf aku duluan!”


“Wait me, Na!” Davis kembali mengejar langkahku. Kami berdua sama-sama memasuki ruang rapat yang sudah riuh karena sudah banyak peserta rapat yang datang.


Aku langsung melangkahkan kaki ku ke meja yang bertuliskan namaku. Tiba-tiba Davis duduk di sampingku. Secepat kilat dia menyuruh seseorang untuk memindahkan papan nama yang ada di meja itu ke meja dia yang sebelumnya sedangkan dia segera meletakkan papan namanya sendiri di depannya. Dia tersenyum karena aku memperhatikan gerak geriknya. 


“Kau mengacaukan posisi, tuan!” 


“Jangan panggil, tuan. Panggil namaku saja”


“Tapi itu tidak sopan. Meskipun kau lebih muda tapi sepertinya jabatanmu di sini lumayan!” tanpa dia kasih tau, aku tau kalau dia pasti salah satu petinggi di sini. Di Indonesia saja posisinya Direktur.


“Aku bukan siapa-siapa, Na. Owh ya, aku tidak suka kau menyinggung masalah usia. Panggil aku Davis!” tumben dia bernada serius kali ini, akhirnya aku pun memilih mengalah dan menurutinya.


“Kau di sini di Divisi apa?”


Davis masih sibuk seperti mencari seseorang hingga dia sepertinya tak mendengar pertanyaanku.


“Jess juga kerja di sini?” tanyaku lagi.


“Iya. Tadi dia bilang ikut rapat. Di mana dia?” Davis mulai menoleh ke sana kemari untuk mencari Jess.


“Tadi aku ketemu di toilet, mungkin masih di sana!” kataku, lalu dia memandangku dan tersenyum.


Tiba-tiba orang-orang berduyun-duyun menempati tempat duduknya masing-masing. Pak Adam pun duduk di samping kiriku sedangkan Davis di samping kananku.


Suara pembawa acara menggunakan speaker menginformasikan bahwa CEO segera memasuki ruangan. Semua yang ada di ruang rapat diharapkan berdiri.


Semua nampak teratur dan patuh terhadap instruksi. Meski banyak orang di dalam ruangan ini, namun terasa sepi. Lantai yang dilapisi karpet sehingga suara langkah kaki pun tak akan terdengar. Mereka disuruh berdiri, ya berdiri tanpa bersuara sedikitpun.

__ADS_1


Betapa terkejutnya aku ketika melihat siapa yang memasuki ruang rapat.


__ADS_2