
NARITA POV
Kini semua orang yang ada di ruangan itu berdiri dan bersiap menyambut orang tertinggi di perusahaan ini. Entah kenapa jantungku berdegub kencang, aku merasa grogi. Mungkin karena aku harus tampil di salah satu presentasi atau mungkin karena terbebani karena magang ini juga sebagai salah satu penentu kelancaran studiku, atau mungkin karena takut akan cerita orang-orang bahwa sang CEO orangnya sangat teliti, disiplin, detail, kritis, terkadang berkata keras, dan semua campur aduk jadi satu.
Aku berusaha menguasai kegugupanku, kalau sampai aku tidak tenang bagaimana presentasiku akan lancar. Aku mensugesti diri dengan mengingat apa yang dikatakan pak Adam. Namun memang tak bisa kupungkiri, dari gesture tubuhku, orang akan melihat bahwa aku gugup. Aku masih menundukkan wajahku yang terasa dingin, jari jemariku saling bertautan dan kuremas-remas. Aku bukan lagi anak kemaren sore, sebentar lagi meraih gelar Phd, jadi harus percaya diri.
“Kau terus menunduk, kenapa?” Davis yang berada di sebelahku tiba-tiba berbisik dekat sekali dengan telingaku, mungkin kalau aku tak mengenakan jilbab, hembusan nafasnya akan terasa menambah dinginnya suasana ruangan.
“Gak papa”
“Kau gugup?” tanyanya kemudian.
“Hm”
“Kau presentasi juga?”
“Hm”
“Tenang saja.” Tiba-tiba tangan Davis menangkup tanganku yang sedang saling meremas. Aku kaget dengan tindakannya, spontan aku hempas tangannya.
“Sorry,,,sorry,,,”
“Tanganmu dingin banget.” Bisiknya lagi dan aku sama sekali tak menanggapinya, aku masih menunduk dan sesekali mengangkat wajahku, tapi si penguasa belum juga muncul.
Akhirnya sang penguasa datang lalu orang-orang kembali duduk. Aku masih belum berani mengangkat wajahku. Aku hanya mengikuti insting ketika pak Adam dan Davis yang ada di sampingku duduk, aku pun ikut duduk.
__ADS_1
“Selamat siang” tiba-tiba aku mendengar suara seseorang yang sangat kukenal. Spontan aku mengangkat kepala dan mencari sumber suara.
Betapa terkejutnya aku melihat siapa seseorang yang tengah berbicara. Meskipun jarak kami sangat jauh, dia duduk di ujung paling depan sedangkan aku di bagian berlawanan dari posisinya. Mataku menyipit, dahiku berkerut.
Apa mungkin tuan Dave adalah sang penguasa? –batinku saat ini.
Dia sepertinya belum menyadari keberadaanku, karena dengan postur tubuhku yang kecil dan di kelilingi orang-orang bertubuh tinggi besar, pastilah badanku akan tertutup.
“Kau mengenalnya bukan?” Davis kembali berbisik di telingaku sembari tersenyum smirk.
“Syukurlah” ucapku kemudian dan sedikit tenang. Paling tidak aku mengenalnya.
“Calm down, Baby” entah kenapa sebutan ‘Baby’ dari mulut Davis membuatku tersentak dan langsung menoleh padanya, sementara dia sendiri bersikap biasa saja seolah tidak mengatakan hal yang salah.
Kini rapat telah dimulai, beberapa agenda pembahasan mulai berlangsung. Dan pada menit ke-20 akhirnya aku sudah dapat menenangkan diri. Aku akhirnya mengangkat tangan kananku untuk meminta ijin memberi pendapat. Saat tanganku terangkat, Dave menoleh dan memandangku. Untuk beberapa saat kami saling melempar tatapan mata tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia yang biasanya langsung mengijinkan orang untuk berpendapat, entah kenapa saat aku mengangkat tangan, dia hanya terdiam. Seluruh peserta rapat pun terdiam meskipun ada raut kebingungan di wajah mereka.
“Silahkan” dia mempersilahkanku berbicara dengan disertai gerakan tangan mempersilahkan.
Aku lalu mulai mengemukakan pendapatku. Beberapa point pendapat yang telah aku catat, aku sampaikan di forum ini dengan runtut, teratur, dan sebagian peserta rapat sedikit mengangguk-anggukan kepalanya. Dalam menyampaikan pendapat, aku mengedarkan pandangan ke seluruh peserta rapat secara berurutan, dan pada saat sampai di mata Dave, sepertinya dia sama sekali belum berpaling.
“Narita Prameswari, idemu keren. Aku tak menyangka kau memberikan ide segar yang belum pernah dilakukan perusahaan pesaing kita selama ini. Analisamu juga sangat berdasar. Teddy, tolong dicatat ya!” ucapan Dave sungguh melegakanku.
Semua orang kini menatapku penuh heran. Aku pun berbalik menatap mereka dengan heran. Apa yang salah denganku ya? Apakah karena Dave memuji ideku atau karena hal lain?
Dan aku baru menyadari kalau tadi di perkenalan awal sebelum memulai presentasi, aku mengenalkan diriku hanya menyebut namaku ‘Narita’, tapi tuan Dave menyebutkan nama lengkapku. Jangan-jangan itu yang dianggap aneh oleh mereka.
Aku pun mulai mengedarkan pandangan dan membalas tatapan dingin dan penuh heran mereka dengan senyuman. Aku hanya tidak ingin membuat mereka berpikir macam-macam karena kekhilafan Dave barusan.
__ADS_1
Akhirnya pembahasan materi pertama berlangsung selama 1 jam lamanya, kini memasuki pembahasan materi kedua. Sang pembawa acara menyebut namaku dan mempersilahkanku untuk presentasi di depan. Aku pun dengan langkah lebih percaya diri dan suara yang lantang mulai mempresentasikan analisaku.
Hanya sepuluh menit saja aku diberi waktu presentasi, selebihnya pembahasan. Usai aku presentasi, seluruh peserta rapat bertepuk tangan seolah memberiku penghormatan. Kulihat hanya Dave yang duduk terdiam menatapku tanpa ekspresi. Aku sendiri tak bisa menebak apa yang akan dikatakannya. Usai presentasi, aku ijin untuk kembali ke tempat dudukku. Aku masih merasakan ada seseorang yang terus lekat memandangku hingga aku duduk di kursiku.
“Aku tak menyangka, Na. Kau benar-benar multitalented. Pinter masak, sayang anak, pinter urus anak, urus tanaman, Pendidikan sudah tak perlu dipertanyakan lagi, dan smart. Dengan penampilanmu barusan, orang takkan menyangka kalau kau bekerja sebagai nanny” Davis berbicara panjang lebar saat aku hendak duduk di kursi. Aku hanya terdiam dan tersenyum mendengar komentar dan pujiannya.
“Iya benar tuan Davis. Saya sependapat dengan Anda. Narita itu smart, idenya out of the box, tapi masalahnya dia gampang gugup dan kurang percaya diri. Jadi bawaannya nervous kalau disuruh berbicara dan menjadi pusat perhatian.”
“Owh ya, tadi Anda bilang pinter masak, urus anak, urus tanaman? Maksudnya?” Davis baru menyadari kalau mereka tidak mengetahui bahwa aku adalah salah satu asisten di rumah mereka.
“Kami tinggal bersama!” jawabnya singkat dan mantap.
“Hah?” Pak Adam matanya terbelalak dan mulutnya menganga lebar. Ucapannya pelan namun penuh penekanan.
Mendengar kekagetan pak Adam, Davis hanya tersenyum biasa. Dia tak berusaha meluruskan persepsi yang menyeruak.
“Sepertinya tuan Adam juga sangat memahami Narita” Davis malah membalas Pak Adam sambil menatap penuh kecurigaan padaku lalu bergantian ke Pak Adam. Entah itu hanya acting dia agar pak Adam tidak menelisik lebih jauh lagi atau bagaimana. Sebenarnya kalau aku sendiri akan berkata jujur.
“Karena Beliau atasan yang sangat asyik diajak diskusi. Terima kasih pak Adam sudah mau berbagi ilmu dan berdiskusi dengan seru” aku langsung menyamber dan mengomentarin pernyataan Davis.
Setelah itu, kami bertiga kembali memperhatikan sang penguasa yang tengah berbicara di depan.
Dave melempar analisa dan usulanku ke forum. Kini kami terlibat dalam diskusi yang cukup serius. Sesekali aku melihat ke arah Dave dan entah kenapa pada saat itu, dia pun sedang menatapku. Tentu saja setelah itu aku segera membuang pandangan ke sembarang arah.
Berangsur-angsur kegugupanku mulai menghilang dan berganti kepercayaan diri. Aku turut aktif dalam memberikan pendapat dalam permasalahan materi yang kusampaikan maupun materi yang lainnya yang kebetulan dibahas di dalam rapat ini. Hingga kini jam menunjukkan saatnya untuk ibadah Ashar, Dave segera menutup acara ini. Di samping karena saatnya ibadah, tapi juga sudah terselesaikannya materi yang akan dibahas di rapat kali ini.
Usai Dave menutup rapat, dia segera beranjak dan berjalan. Mataku dan mata semua peserta rapat mengikuti pergerakan tuan Dave hingga kini dia tiba di belakangku. Aku dan beberapa orang di sana membalikkan badan dan tersenyum padanya.
__ADS_1
“Selamat bergabung, Narita!” Dave mengulurkan tangan kanannya memintaku berjabat tangan, aku pun menyambutnya.