
DAVE POV
Baru selesai berdiskusi dengan Teddy, tiba-tiba ponselku kembali berdering. Kulihat di layar telpon, Mommy menelpon.
“Iya, Mom”
“Dave, gimana? Kau bisa menghandlenya kan?”
“Iya Mom. Secepatnya Dave akan konferensi pers”
“Hmm, Mommy percaya padamu, Dave. Apa kau sudah menemukan orang yang menfitnahmu?”
“Sudah” jawabku singkat.
“Siapa?”
“Sudahlah Mom, dia sudah mengakuinya, dan aku juga sudah memaafkannya”
“Tenang saja Dave, mungkin bentar lagi Opa atau Daddy mu akan menemukan siapa dalang di balik fitnah ini!”
“Rumor ini memang kejam, tapi setelah aku mengetahui alasan si pelakunya, aku memakluminya, Mom. Jadi aku memilih untuk memaafkannya”
“Mulia sekali hatimu, Nak. Sejak kau hijrah, kau benar-benar menjadi pribadi yang dewasa, Nak”
“Owh ya, apa perlu Mommy datang ke sana, Nak?”
“Mom, Dave ingin Mommy mendampingi Dave pada saat konferensi pers nanti. Boleh kan Mom?”
“Tentu saja, Nak! Sepertinya kali ini Mommy harus tinggal lebih lama di Aussie. Mommy capek bolak balik Inggris Aussie”
__ADS_1
“Maafin Dave, Mom”
“Mommy yang seharusnya minta maaf sayang. Mommy sudah meninggalkan kalian sendiri selama ini, makanya Mommy kali ini ingin menemani kalian saat kalian menghadapi masalah. Kau menghadapi fitnah dan Davis melanjutkan terapinya”
“No, Mom. Mommy tak pernah meninggalkan kami. Mommy justru yang selalu ada untuk kami. Luv you, Mom”
“Love you too, Nak!”
“Besok Mommy akan terbang dari Inggris, segera kau adakah konferensi persnya ya, Nak!”
“Iya Mom. Makasih atas support dan kepercayaannya. Bye”
“Bye”
NARITA POV
--- meja kerjaku---
Usai mendampingiku hingga aku telah duduk di kursi kerjaku, Davis segera meletakkan tasku di atas meja, lalu dia berpamitan. Ternyata Davis tidak langsung keluar ruangan tapi malah masuk ke ruangan pak Adam.
Setelah Davis masuk ke dalam ruangan, beberapa orang rekan kerjaku langsung berduyun-duyun mendekat.
“Kenapa kau bisa bersama tuan Davis, Na?”
“Tadi aku terjebak di antara orang-orang bule yang tinggi besar, hingga aku pingsan. Untungnya tuan Davis menolongku dan membawaku ke ruangannya” mendengar penjelasanku, mereka pun hanya manggut-manggut saja lalu membubarkan diri.
Tanpa terasa, hari telah gelap, sebagian besar karyawan telah meninggalkan ruangan kantor. Aku segera memberesi semua barang-barang yang ada di meja. Usai itu, aku pun bergegas keluar ruangan. Tubuhku yang belum fit betul, sangat terasa sedikit tak bertenaga ketika harus menarik koper berukuran besar yang penuh dengan baju-baju beserta handbag yang kuslempang.
Sesampainya di lobby kantor, aku segera meminta salah satu petugas untuk memanggilkan taxy. Tak berapa lama, datanglah taxy yang kupesan.
Sesampainya di rumah, aku segera masuk ke dalam rumah. Ah iya, aku masih lemas begini, sepertinya hari ini aku belum bisa memasakkan untuk orang rumah. Usai masuk ke kamarku dan membersihkan diri, sejenak aku menelpon keluarga dan anak-anakku di Indonesia. Setelahnya, ketika aku bersiap untuk melaksanakan ibadah berjamaah, aku membatalkannya. Aku kedatangan tamu bulanan. Ahh,,mungkin juga karena efek ini pula lah, makanya membuat kondisi badanku menjadi sedikit tidak fit.
__ADS_1
Setelah itu, aku keluar kamar dan hendak menemui Karen di kamarnya. Setelah aku masuk ke kamar Karen, ternyata Karen tidak ada di kamarnya. Aku pun keluar dan bermaksud menuruni tangga hendak menemui Mr. Drake.
“Mr, maaf saya mau bicara” ketika aku melihar Mr. Drake sedang menyiapkan makan malam, aku segera menghampirinya dan mencoba membuat kalimat obrolan pembuka.
“Kamu tenang aja, Na. Hari ini kau istirahat saja! Masakan untuk makan malam sudah ready kok” sepertinya Mr. Drake memang mengetahui betul apa yang hendak aku katakan padanya.
“Terima kasih”
“Iya sama-sama. Lebih baik kau temui Karen, beberapa hari terakhir ini dia menanyakanmu terus menerus” ucap Drake kemudian.
“Baik. Permisi” aku segera pergi menuju pavilliun 101
Sesampainya aku di ruang berkumpul di pavilliun 101, kulihat Karena sedang memainkan balok susun ditemani oleh beberapa asisten rumah tangga.
“Karen, liat itu siapa yang datang!” Karen mengikuti arah jari telunjuk seorang asisten, sontak Karen berteriak kegirangan dan berlari menuju ke arahku.
Aku segera berjongkok dan merentangkan kedua tanganku untuk menerima pelukan Karen.
“Nanny Na, aku merindukanmu. Kenapa kau pergi lama sekali? Aku pikir kau takkan kembali, Nan?” Karen menangis tersedu di pelukanku.
“Mana mungkin Nan meninggalkanmu tanpa ijin, Sayang”
“Nan, please jangan pergi lagi ya! Janji!” Karen segera mengurai pelukannya dan memberikan jari kelingkingnya untuk memintaku berjanji.
“Setidaknya kalau Nan pergi dan takkan kembali, Nan pasti ijin Karen dan semua yang ada di rumah ini” aku tak menyambut uluran jari kelingking Karen. Wajahnya nampak sendu ketika aku seolah tak mau diajaknya berjanji.
“Tak bisakah kau selamanya berada di sisiku, Nan? Please!” aku yang tak tega melihat buliran air yang mulai membasahi pipi mulus dan gembulnya, segera kuhapus tetesan itu dan kemudian menarik kembali badan mungilnya untuk kupeluk.
“Nan, tak bisakah kau menjadi Mommy ku dan menemaniku di sini selamanya?” sontak kini semua mata melotot memandangku yang sedang dipeluk Karen. Sepertinya mereka kaget dengan permintaan dari seorang anak kecil secerdas Karen.
Aku makin mengeratkan pelukanku. Karen pun menangis dengan suara yang lirih dan hampir tak terdengar.
__ADS_1