CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
DIAKAH?_2


__ADS_3

NARITA POV


 


Beberapa hari ini aku menemami professor dan Darren untuk mengambil data primer di beberapa kota. Cukup melelahkan memang, tapi ini adalah pengalaman yang sangat berharga untukku. Hari ini kami pulang bersama-sama. Berangkat dan pulang sama-sama menggunakan 1 mobil saja. Setelah mengantar professor, kini giliran Darren mengantarku pulang.


Sampailah di depan rumah Karen, Darren segera turun dari kursi kemudi, mengeluarkan koperku.


“Terima kasih, Darren” ucapku seraya meraih koperku.


“Sama-sama. Kamu gak mengajakku mampir!” godanya dengan sedikit mengedipkan 1 matanya dan tersenyum tipis.


Aku membalasnya dengan senyuman.


“Tenang aja, gak usah merasa sungkan begitu. Oke see you tomorrow!” ucapnya kemudian, lalu segera masuk ke mobil.


Aku melambaikan tanganku dan begitu pun halnya dengannya. Kini aku mulai memasuki rumah itu. Aku sengaja masuk lewat pintu samping, yang nantinya akan tembus ke area kolam renang.


Seperti biasa, rumah ini terlihat sepi. Aku menatap beberapa bunga yang mulai bermekaran dengan cantiknya. Sesekali aku mengulas senyum membayangkan memoto si cantik Karen di taman yang dipenuhi tanaman dan bunga-bunga itu, pasti makin cantik.


Sesaat mendekati area kolam renang, sekilas aku melihat seorang pria dewasa yang belum pernah aku liat sebelumnya tengah menggerak-gerakkan kedua tangannya dan kakinya, sepertinya dia hendak berenang dan kini sedang melakukan pemanasan.


Rasanya kepalang tanggung mau mundur, tapi kalau pun aku terus maju jujur aku sungkan melihat penampilannya yang hanya menggunakan celana berenang.


Awalnya mata kami sempat beradu, tapi karena aku kaget melihat penampilannya, aku segera membuang muka ke arah lain. Langkah kakiku sengaja kugerakkan lebih cepat, hingga melalui dan berpapasan dengannya.


“Excuse me!”


Hanya itu ucapan yang dapat aku lontarkan. Meskipun mataku tak menatapnya, namun dari sudut mataku aku meyakini bahwa dia tengah menatapku saat ini.


DEG

__ADS_1


Entahlah apa yang kurasakan. Aku merasa sungkan, segan, dan malu sendiri dengan penampilannya. Yah, walaupun hal itu biasa dipake bagi orang yang berenang.


Aku tak mendengar dia menjawab atau berujar apapun. Dia pun hanya terdiam meskipun tangannya masih digerak-gerakkan. Rasanya gak nyaman melihat pria yang bukan mahram berpenampilan seperti itu. Aku pun makin mempercepat langkahku hingga tanpa sadar aku malah justru memasuki pavilliun 101. 


“Haduw gimana ini? Sebenernya aku capek, tapi aku sungkan masuk rumah utama, nanti bakal berpapasan dengan orang asing lagi, gimana?" aku berucap sendirian.


"Hai, Na! Sudah pulang?" sapa salah satu asisten sesama penghuni pavilliun 101.


“Iya. Baru aja.” Jawabku sembari mengambil gelas dan menuang air minum.


“Kamu kok masuk ke pavilliun 101? Gak langsung ke kamarmu?” tanyanya sembari duduk di seberangku.


“Tadi aku liat seorang pria di kolam renang, awalnya mau masuk ke rumah utama tapi akhirnya malah masuk ke sini. Aku numpang duduk di sini dulu ya!”


“Owh, kamu berpapasan dengan tuan besar? Gimana tampangnya melihatmu yang lalu lalang di hadapannya?” tanyanya kemudian.


“Tuan besar?” dahiku mengkerut.


“Aku gak merhatiin wajahnya, aku menyapanya tanpa menatap mukanya.” Jawabku dan langsung disambut gelak tawa olehnya.


“Mana berani aku melihatnya, dia hanya menggunakan celana berenang” jawabku spontan.


“Waahhh,,,,liat besok atau nanti sore ya. Kalau kamu dipanggil tuan Drake, siap-siap aja! Kamu siapin jawabannya dari mulai sekarang!”


“Memangnya dia semengerikan itu ya?” aku kembali meneguk minuman dalam gelasku.


“Dari beberapa orang yang tidak berkepentingan dan berpapasan dengannya, pasti akan kena marah Drake!” ujarnya.


“Yasudah, mau gimana lagi. Makasih ya sudah diingetin jadi aku harus sudah memikirkan jawabannya dari sekarang.”


“By the way, aku numpang duduk di sini dulu ya! Menunggu beliau selesai dan kembali ke kamar beliau dulu. Jangan sampai aku papasan dengannya lagi!” ucapku kemudian. 

__ADS_1


“Silahkan! Aku tinggal dulu ya!” dia pun berlalu dari meja makan.


Aku akhirnya duduk di sofa ruang tamu pavilliun 101 seorang diri. Sampai dengan 1.5 jam aku menunggu situasi aman, akhirnya aku berdiri dan hendak menuju ke rumah utama.


Dengan sedikit waspada, aku mengamati terlebih dahulu situasi rumah utama. Orang yang melihat gerak gerikku, pastilah berpikir aku adalah maling. Tapi aku harus waspada, seandainya bisa menghindar, tentu aku akan menghindar untuk berpapasan dengan tuan besar.


Aku merasa sedikit tenang karena suasana rumah benar-benar sepi dan memang tak seperti ada orang di sana. 


“Kamu?” tiba-tiba suara berat seseorang membuatku tubuhku bergetar. Spontan aku menghentikan langkahku, aku masih dengan jelas mendengar suara kaki melangkah mendekatiku.


“Apakah kamu yang bernama Narita?” dia kini tiba-tiba berada di depanku. Aku yang masih menunduk akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahku dan bersitatap dengannya.


“I I I iya tuan. Ma ma ma maaf, saya tidak bermaksud mengganggu anda!” jawabku terbata masih menatap wajahnya.


Pria dewasa dengan wajah tegas, tampan, dan di sekitarnya ditumbuhi rambut-rambut halus berwarna blonde. Tubuh tinggi, besar, kekar, kulit putih dibalut oleh jubah mandi. Rambutnya yang sedikit basah sudah bisa dipastikan bahwa dialah yang tadi aku temui di kolam renang.


Tubuhku tiba-tiba terasa ringan, kepala ku sedikit berputar-putar. Tatapannya yang tajam menusuk relung hati membuatku terasa lemas.


Tak segera mendapat respon perkataan, aku pun kembali menundukkan wajahku dan berniat hendak pergi meninggalkannya.


“Maaf tuan, permisi!” aku memberanikan diri melangkah, namun baru beberapa langkah, tiba-tiba suaranya menghentikanku.


“Tunggu!” nada perintahnya yang sangat tegas membuatku langsung menghentikan langkah dan balik badan.


“Hubungi Drake! Kalian temui aku di ruang kerjaku ½ jam lagi!” ucapnya lalu segera berlalu begitu saja dari hadapanku.


Duh kena deh gue. Udah berusaha menghindar tapi kenapa masih tetep apes juga ya? Baru mau nyiapin jawaban, udah disuruh ngadep langsung. Aduh, kira-kira beliau mau protes apa yaaa? – gerutu ku dalam hati sembari melangkahkan kaki secepat mungkin meninggalkan tempat itu.


 


----TO BE CONTINUED----

__ADS_1


 


PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!


__ADS_2