CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
OWH TERNYATA BEGITU….


__ADS_3

AUTHOR POV


 


--- Gazebo dekat kolam renang---


Kini Ali dan Narita tengah berada di sana. Berdua saja.


“Duh mana nie Mr. Davis?” wajah Narita menampakkan kegelisahannya karena hanya berduaan saja di sana.


“Kamu takut berduaan sama aku?” Ali tersenyum-senyum melihat ekspresi gelisah Narita dan hanya dibalas bibir monyong tanda kesal dari Narita.


“Hahahhaha,,,,,” melihat Narita memonyongkan bibirnya, Ali makin tertawa gemas.


Sementara itu, Dave yang menyaksikan interaksi Narita dan Ali dari dalam rumah utama memasang tampang dingin.


“Tuan” panggil Drake mengagetkan Dave.


“Astaghfirullah, kau bikin aku kaget saja! Ada apa Drake?” tanya Dave menatap sebel pada Drake.


“Narita dan Ali di sana karena menunggu tuan muda Davis, tuan” Drake menunjuk Narita dan Ali menggunakan dagunya.


“Owh. Cepatlah ke sana, sampaikan kalau Davis udah pergi, jadi jangan ditunggu lagi. Bilang ke mereka, aku tidak suka ada yang pacaran di lingkungan rumah ini!” Dave bergegas pergi dan Drake hanya menatap dengan muka sedikit bingung melihat keanehan sikapnya.


Tanpa menunggu waktu lama, Drake segera menyampaikan hal itu pada Ali dan Narita. Akhirnya mereka pun bergegas pergi dari sana.


Narita segera masuk ke rumah utama dan langsung masuk ke kamar Karen, niatnya untuk mengecek apakah Karen sudah benar-benar nyaman tidurnya.


Setelah memegang handle pintu kamar Karen, dia segera mendorongnya lalu masuk. Narita memperbaiki posisi selimut yang sedikit berantakan, mengecup dahi Karen, lalu berdiri dan hendak keluar dari sana.


“Kamu mengenal adikku, Davis?” spontan Narita terkaget mendengar seseorang bersuara di kamar Karen yang dia pikir tidak ada siapa pun.

__ADS_1


“Astaghfirullah. Anda mengagetkan saya, tuan!” Narita memandang sumber suara sembari memegang dada kirinya.


“Kamu mengenal Davis?” tanyanya lagi dengan nada dan tatapan dinginnya di bawah cahaya remang-remang kamar itu.


“Maaf tuan, sebaiknya kita bicara di luar!” Narita mengatakan hal itu karena dia selalu berusaha menghindari fitnah.


“Kamu takut hanya berdua denganku di sini? Kamu lupa ada Karen?” mendengar argumen Dave, Narita hanya menghela nafas kasar tanda kesal padanya.


“Maaf saya permisi!” Narita bergegas keluar tanpa menghiraukan pertanyaan Dave.


Namun tiba-tiba tangan Narita ditarik secara kasar oleh Dave, karena kalah kekuatan, akhirnya justru tubuh Narita membentur tubuh Dave dengan cukup keras.


“Astaghfirullahaladzim! Anda tau apa yang Anda lakukan sudah melebihi batas!” dengan berani, Narita menatap penuh amarah pada mata Dave, sekuat tenaga dia berusaha melepas cengkraman tangan Dave dan akhirnya terlepas juga, lalu dia pergi berlalu dari sana tanpa menghiraukan bagaimana ekspresi marahnya Dave.


Narita benar-benar tidak suka dengan sikap sewenang-wenang Dave. Bukan berarti dia hanya nanny di sana terus bisa diperlakukan seenaknya. Bagi Narita, sungguh perbuatan yang tidak sopan jika berani menyentuh kulit Narita jika dia bukan mahram, apalagi ini jelas-jelas bukan karena alasan penyelamatan atau yang sejenisnya.


Semakin Narita mengenal Dave, semakin dia tidak respek dengannya. Mau bagaimana pun nasibnya ke depannya, sudah tak dirisaukan olehnya. Narita punya prinsip yang kuat. Semakin bertambah usia, pemikiran dan prinsipnya semakin kuat.


Pagi telah tiba, Narita melakukan semua kewajibannya seperti biasa. Kemarahannya semalam pada Dave tak membuatnya melupakan kewajibannya. Dia tetap memasakkan masakan untuk Dave dan Karen. Usai itu, dia bergegas masuk ke kamarnya dan mandi. Kalau biasanya dia akan melakukan lebih santai tapi tidak untuk hari ini karena mulai hari ini dia harus melayani Dave di meja makan sebagaimana hukuman yang harus diterimanya.


Drake yang masih sungkan dengan situasi ini, hanya mempersilahkan Narita untuk duduk. Demikian pula halnya dengan Drake, Narita juga sungkan. Dia menggelengkan kepala tanda menolak.


“Kalian tak perlu sungkan. Duduklah! Aku tak akan mulai makan jika kalian belum duduk.” nada suara Dave sudah tak menampakkan kemarahan seperti semalam. Sepertinya dia sudah tidak marah, atau hanya menutupi kemarahannya, entahlah.


Kini Narita sibuk mengeluarkan menu-menu masakannya. Karena ini sarapan, jadi dia membuat menu simple. Usai dia melakukannya, dia bergegas menyusul duduk di samping Drake.


“Drake, kamu tak perlu memaksakan diri makan menu Indonesia, kalau tidak sesuai seleramu!” mendengar ucapan tuannya, Drake mengangguk dan mengambil akhirnya sandwich.


Untuk beberapa saat, mereka makan dalam diam.


“Pertanyaanku semalam belum kamu jawab, Na!” ucap Dave pada Narita tanpa melihat yang diajak bicara, namun saat namanya disebut spontan Narita menengok pada Dave.

__ADS_1


“Per pertanyaan yang mana tuan?” Narita tergagap karena dia pikir Dave melupakan pembahasan mereka semalem yang belum usai.


“Apa kamu mengenal adikku?” Dave lagi-lagi sama sekali tak melihat yang diajak bicara.


Nie orang gak sopan banget sie. Bener-bener arogan banget! Ngomong aja gak mau ngeliat yang diajak ngomong! – batin Narita kesal.


“Saya punya teman di Indonesia yang wajahnya mirip dengannya!” tak berniat bohong, akhirnya hanya itu kalimat yang terlontar.


“Masa’? Untuk apa kalian bertiga mau ketemu?” tanyanya lagi.


“Saya tidak tau. Kan kami tidak jadi ngobrol, tuan!” Narita masih berusaha melembutkan suaranya.


“Adikku udah punya tunangan. Kamu harus berhati-hati kalau mau ngobrol dengan lelaki yang sudah terikat!” suara Dave tegas.


Iiiiiiihhhhh nie orang emang ngeselin banget ya! Dipikirnya aku mau godain adiknya apa?


Hufh,,,,jadi itu ternyata alasan dia tak kembali ke Indonesia!


Oke. Memang sebaiknya aku tak perlu mengatakan kebenarannya! Sudah cukup kesabaranku selama ini. Bagiku, dia telah lama tiada. – Narita nampak melamun. Hatinya berkecamuk.


“Apa maksud tuan? Saya pun tak mau menemuinya hanya berdua, makanya saya minta ditemani Ali. Saya selalu menjaga martabat saya sebagai seorang muslimin. Saya selalu berusaha bertingkah laku yang menghindari fitnah. Anda tidak perlu khawatir, tuan. Saya tau kapan saya harus menempatkan diri.” Dengan berani Narita berbicara tegas, mantap, dan menatap pada Dave. Dave pun yang merasa dirinya ditatap, segera menatap balik pada Narita.


Merasa risih karena tatapan Dave, Narita kembali menunduk seolah sedang memperhatikan makanannya.


“Davis adikku sangat mencintai tunangannya. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan melangsungkan pernikahan” ujar Dave kemudian masih lekat menatap Narita, seolah memperingatkannya.


Iiiiihhhh apalagi maksudnya sie? Pagi-pagi sudah bikin emosi aja – batin Narita. Dia sedikit menoleh pada Dave lalu kembali menunduk. Dia sama sekali tak berminat untuk menanggapi perkataan Dave.


 


----TO BE CONTINUED----

__ADS_1


 


PLEASE KLIK : LIKE, FAVORIT, HADIAH, DAN VOTE YAAAA!!!!!


__ADS_2