CINTAKU BERAKHIR PADAMU

CINTAKU BERAKHIR PADAMU
LEBIH BAIK MENJAUH


__ADS_3

NARITA POV


 


Pagi ini seperti biasa usai menunaikan Shalat Subuh, aku bergegas ke kebun sayur. Memanen apa saja yang bisa dipanen, memberi pupuk, lalu menyiram tanamannya. Lumayan juga hari ini aku bisa memanen singkong dan daunnya juga mau aku bikin sayur lodeh.


Saat aku berbalik dan hendak kembali ke pavilliun 101, dari suatu tempat yang lumayan masih gelap dan sedikit tersembunyi kulihat seseorang sedang memangku laptop. Dari cahaya laptop, aku bisa mengenali siapakah gerangan dia. Sesaat aku masih terpaku di tempat dan memandang lekat padanya. Aku masih merasa bersalah atas kejadian kemaren.


Saat aku mengingat itu semua, pasti penyesalanku berakhir dengan menghela nafas panjang. Hingga sesuatu yang merambat pelan di kaki ku membuatku terkaget dan aku menjerit.


“Aaaaaaa……….” Aku berjingkat-jingkat berusaha melepaskan ulat yang dengan kencangnya menempel di kakiku. Saking takutnya aku pada ulat, hingga aku tak memiliki ide lain selain berteriak dan mengibas-ngibaskan kaki ku. 


Kurasakan seseorang tiba-tiba menahan tubuhku dan tangan yang satunya memegang kakiku, menahannya agar kakiku tak bergerak lalu dengan sigap dia lempar ulat itu. Saking takut dan paniknya tanpa sadar aku memeluknya untuk mengungkapkan rasa terima kasihku yang tak terhingga. Aku menangis di pelukannya mengingat trauma kaki ditempeli ulat. Sebegitu cengengnya aku kalau menyangkut trauma dan ketakutan, meskipun itu hanya pada seekor ulat.


Tiba-tiba aku tersadar saat aku merasakan tepuk-tepukan lembut di punggungku. Aku segera mendorong tubuhnya dan mengurai pelukanku.


Bodoh


Bodoh


Bodoh


Bodoh


Sungguh malunya aku. Aku tak berani menatapnya.


“Maaf” ucapku pendek lalu berlari meninggalkannya begitu saja. Entahlah apa yang dia pikirkan saat ini.


--- Meja Makan---


Pagi ini sangat berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya. Dulu tidak pernah ada atau pun jarang ada aktifitas di ruang makan ini, tapi kini ruang makan nampak rame. Ada Davis dan Jess, ada Dave dan Karen, Teddy. Aku dibantu dua orang chef tengah menata makanan di meja makan. 

__ADS_1


Tanpa sadar aku mencuri pandang ke arah Davis, meskipun yang kulirik masih cuek, tak memperdulikanku, dan asyik bertatap-tatapan dan bersendau gurau mesra dengan tunangannya.


Kulihat mereka duduk bersebelahan, dengan wajah saling berhadapan. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi sesekali terdengar tawa kecil mereka pecah. Dengan lembut, Davis sesekali merapikan rambut Jess ke belakang telinga, begitu pun hal nya Jess membalasnya dengan mengelus-elus rahang Davis dengan mesranya. Bahkan sempat beberapa kali, Jess dengan berani dan tak canggung mengecup bibir Davis. Tatapan mata mereka berdua tak pernah terputus, mereka tak segan memperagakan adegan mesra itu di hadapan semua orang, seolah hanya ada mereka berdua di sana.


Tatapan mata itu,


Senyum manis itu,


Belaian lembut itu,


Dan bibir seksi itu,


Dulu pernah dia berikan untukku.


Ya Tuhan, hatiku masih sedikit perih melihat pemandangan ini. Apakah aku kuat melihat ini setiap hari?


Kalau pun ini isyarat dari Mu agar aku membuka lebar-lebar mata dan hatiku, tolong bantu aku untuk menjadi wanita kuat seperti dulu. Dua kesempatan dia menyatakan cinta padaku dan dua kali pula dia pergi meninggalkanku tanpa kabar berita. Kini, Engkau mempertemukan lagi kami, apakah layak aku menangis hanya untuk melihat kemesraannya dengan wanita lain.


Aku hanya merasa tak menyangka dia akan menjadi seperti itu.


Secepat itukah dia melupakanku?


Secepat itukah dia berpaling dariku?


Secepat itukah dia jatuh cinta dengan yang lainnya?


Menyadari kekonyolanku melamun di situasi sekarang, aku segera mendongak agar air yang sudah mengumpul di pelupuk mataku tak mengalir, aku melempar pandangan ke segala arah sembari menahan sesak di dada.


Tak mudah bagiku untuk jatuh cinta dengan seseorang.


Ketika aku jatuh cinta, tak mudah pula bagiku untuk berpaling darinya.

__ADS_1


“Mr. Dave, ada hal yang akan saya sampaikan, apakah Mr ada waktu?” kedatangan Ali membuat aku kembali tersadar dari lamunan bodoh, membuat mereka yang ada di meja makan yang tengah berbincang dengan pokok pembahasan sendiri-sendiri, terdiam. Kini semua beralih menatap Ali.


“Duduklah Al. Apakah kita perlu berbicara empat mata ataukah cukup kau sampaikan di sini?” Dave memerintahkan Ali duduk dan kemudian dia pun duduk di hadapan Mr. Dave.


“Mr. saya minta ijin untuk kembali pulang ke rumah saya kembali” ucap Ali kemudian.


“Kenapa?”


“Na, ini makanannya sudah tersaji semua ya?” Mr. Dave menatapku lalu kujawab dengan anggukan kepala.


“Ayo silahkan makan! Kau juga Al!” pembicaraan terhenti sejenak karena mereka masih sibuk mengambil makanan.


“Owh ya, kenapa kamu ingin kembali ke rumahmu Al? Katamu kau bahagia dan betah tinggal di sini?” Mr. Dave kembali menanyakan hal itu.


Aku memang masih berdiri di sana, menunggui mereka makan sampai selesai. Tanpa berniat menguping, aku mendengar pembicaraan mereka. Saat tanpa rencana aku mendongakkan wajah, menoleh padanya, ternyata tatapan matanya tengah menatap mataku juga. Untuk beberapa saat mata kami bertemu, diam, seolah menelisik sesuatu. Aku merasa apa yang akan dikatakannya ada sangkut pautnya denganku. ‘Maafkan aku, Ali!’.


Segera aku alihkan pandanganku ke arah lain, dari ekor mataku, dia pun akhirnya memutus tatapannya.


“Ada hal yang tidak bisa saya sampaikan, Mr. Tapi tenanglah Mr, sesekali saya akan datang ke sini untuk tetap melanjutkan pelajaran mengaji.” Mendengar jawabannya yang seperti itu, rasanya aku lega sekali.


“Aku merasa bersalah kalau kau tak nyaman di rumahku. Katakanlah Al! Pasti akan kuminta Drake untuk memperbaikinya!”


“Aku hanya ingin, Little of Al Aqsha semakin ramai dan hidup. Seperti sekarang ini. Ada aku, kau, Davis, 2 orang asisten, Narita, Karen, dan semoga saja Jess menyusul” Dave melirik pada Jess yang tengah sibuk menyuapi Davis. Mendengar namanya disebut, dia hanya menoleh sekilas lalu kembali acuh.


Ahhh ya, bahkan pada saat makan pun Jess memanjakannya. Dia menyuapi Davis. Davis nampak menikmatinya.


“Mr, aku tak mungkin tinggal dengan seseorang yang kucintai sementara dia yang kucintai sama sekali tak pernah mau membalas cintaku” mendengar perkataan Ali, kini semua menghentikan aktifitas makannya dan semua mata menatap Ali, aku pun tersentak mendengarnya dan tanpa sadar melotot memandangnya. Sementara dia kini memandangku dengan ekspresi wajah yang aku sendiri tak bisa menterjemahkannya.


“Jalan satu-satunya untuk kami adalah biarlah saya yang menjauh darinya. Bila kami tetap tinggal bersama, aku takut akan berubah menjadi lelaki yang egois, nekat, dan atau bahkan semakin membuatku menjadi lelaki yang lemah hatinya”


DEG

__ADS_1


Dia mengatakan itu semua masih memandangku. Oh Tuhan, semua orang yang memandangnya saat ini, tiba-tiba perlahan mengikuti arah matanya dan kini beralih mereka semua memandangku. Mereka memandang Ali dan aku secara bergantian. Tatapan mata mereka semua bagaikan anak panah yang menghujani jantungku. Aku berusaha menetralkan debaran jantung mengingat rasa bersalahku. Aku hanya mampu menunduk dan tak mampu berkomentar apapun.


__ADS_2