
DAVIS POV
Aku kaget ketika Narita menanyakan mengenai aku dan Jess. Apalagi dia pernah melihat Jess yang masuk dan keluar dari kamarku. Tak heran jika orang akan berpikir aneh-aneh jika melihatnya. Aku hanya menjelaskan sejujur-jujurnya agar tidak ada lagi yang mengganjal di hati kami berdua.
“Astaghfirullah,,jadi itu yang membuatmu berpikir kami tidur bareng?” tanyaku lagi.
“Maaf mas. Tapi terus terang aku saat itu jijik rasanya aku melihat kalian. Aku bukan penganut pergaulan bebas, jadi aku ilfill sama cowok yang free ***” Narita menjelaskannya dengan ragu-ragu.
DEG
Lagi dan lagi aku dibuatnya malu dan merasa menjadi suami yang hina. Ya Tuhan apa jadinya kalau Narita mengetahui masa laluku?
“Maaf, kalau kata-kataku membuatmu tersinggung, Mas” Narita melempar pandangannya dan mengalihkan diri bermain air dengan tangannya.
Aku menarik nafas dalam dan membuangnya pelan.
“Gak tersinggung, Sayang. Aku akan ceritakan padamu” aku menjeda ucapanku untuk mengatur kata-kata.
“Jadi sewaktu aku dan Jess sedang duduk berdua di pinggir pantai, Grandpa menelpon ke ponsel Jess. Lalu kami ngobrol. Aku gak inget kalau hp yang kupake ngobrol dengan Grandpa itu hp Jess, sampai aku buka pintu kamar dan masuk kamar, ternyata dia mengikutiku. Tapi selesai aku telponan, aku baru ngeh kalau Jess ikut masuk ke kamar. Setelah aku kembalikan hpnya, aku menyuruhnya keluar lagi kok, Sayang. Jadi clear ya, malam itu dia tidak tidur di kamarku.”
“Lalu pas kamu lihat dia pagi-pagi keluar kamarku dengan baju yang sama seperti baju yang dipakainya semalam, itu karena dia malam nya gak balik ke kamar. Dia clubbing dan baru pulang ke villa pagi-pagi buta dalam kondisi mabok dan gedor-gedor pintu kamarku. Karena takut mengganggu, dia kusuruh masuk, dan kubiarkan tidur di kamarku, tapi bener-bener dia tertidur di kasurku ya dan aku tidur di sofa. Kami gak melakukan apapun”
“Terus pernah juga sewaktu kita pergi survey, dia menelponku menanyakan keberadaanku. Sebenernya tanpa aku jawabpun, dia akan dengan mudah menemukanku karena mata-mata Grandpa banyak, tapi aku berusaha membuat dia tetap di villa dengan cara membujuknya agar dia menungguku di kamarku. Akhirnya siang itu dia tidur di kamarku, sementara kita seharian survey. Pas kita sampai villa lagi dia udah gak di kamarku kok, mungkin kecapean nunggu, jadi dia memilih pergi.”
“Itulah kejadian yang sebenernya, Sayang. Kalau kamu percaya ya Alhamdullillah, kalau tidak percaya ya sudah”
Narita masih menunduk dengan sesekali memercikkan air dengan kakinya. Aku tak tau apa yang sedang Narita pikirkan saat ini. Aku sudah berusaha menjelaskan sejujur-jujurnya, meskipun aku belum sepenuhnya terbuka. Aku akhirnya berdiri dan berjalan di bebatuan kecil di sungai itu. Sungai yang kecil dan dangkal sangat nyaman untuk diseberangi. Kulihat dia masih belum mau menatapku, sesekali kulirik dirinya dan aku memilih tak mengganggunya.
Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret kedua kakinya yang tengah memainkan air. Aku bingung bagaimana aku harus mulai bersikap saat ini.
“Mas??”
__ADS_1
“Hmm, iya Sayang. Ada apa?” aku berjalan mendekatinya da menghadap ke wajahnya.
“Selama kamu di luar negeri, apakah kamu pernah memiliki pacar?” pertanyaannya kali ini membuatku sport jantung.
“Apa kamu keberatan jika memiliki suami yang pernah berpacaran sebelumnya?” aku tak menjawab pertanyaannya, malah mengajukan pertanyaan lain.
“Enggak keberatan sama sekali. Tiap orang punya masa lalu” Narita menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu.
“Lalu apakah aku yang pertama untukmu?”
DEG
Kembali aku serasa dikuliti habis-habisan olehnya. Aku tak bermaksud mennutupinya, tapi rasanya kok aku seperti sedang diinterogasi. Jantungku berdebar kencang, aku bingung bagaimana ini.
“Yang pertama, maksudmu?” aku pura-pura bingung padahal aku tau arah pertanyaannya.
“Melakukannya” katanya pelan dan singkat.
Aku menarik kedua tangannya hingga membuatnya berdiri. Kini kami berdiri berhadapan dengan mata yang saling bertatapan dan kedua tanganku memegang kedua tangannya.
“Hallo, Assalamu’alaikum, Bu”
“Di sawah deket sungai.”
“Iya bu. Kami segera pulang”
Lalu Narita segera mematikan ponselnya, memasukkan kembali ke saku celananya, dan berkata “Hayuk pulang. Udah mau Maghrib” dia menarik tanganku.
Aku bersyukur, kali ini belum harus menjawabnya. Sepanjang perjalanan menuju sepeda, kami berdua hanya terdiam meskipun tangan kami saling bertautan. Mengingat pematang yang cukup kecil hanya mampu untuk berjalan 1 orang, Narita berjalan di depanku dan aku dibelakangnya dengan bergandengan tangan.
Sesampainya di rumah, bapak, ibu, dan Arjuna tengah berkumpul.
“Nak Davis mau ikut jamaahan di musholla atau tidak? Kami bertiga biasanya sholat Maghrib dan Isya’ di musholla” tutur Bapak menatapku.
__ADS_1
“Saya ikut ke musholla juga pak. Sayang mau ikut?” tanyaku menatap Narita.
“Iya” jawabnya pelan dengan wajah malas.
“Ehem,,,aroma-aromanya kayanya ada yang lagi ngambeg nie” goda Arjuna.
“Masnya aja udah romantis banget gini, kenapa kok pasang muka jutek sie?”
“Iih,,,want to know aja” Narita berdiri sembari melempar bantal kursi ke arah Arjuna, dan dibalas gelak tawa oleh Arjuna.
Aku merasa wajah jutek dan ngambegnya Narita pasti ada hubungannya denganku dan pertanyaannya yang tadi belum sempet terjawab. Tapi aku juga tak mungkin menjelaskannya di sini, mengingat ini adalah aibku dan otomatis akan menjadi aib keluarga, sedangkan kamar-kamar di sini semuanya tak ada yang menggunakan peredam suara. Pasti akan mudah didengar orang, meskipun tak sengaja mendengarnya.
Kami sekeluarga bersama-sama pergi ke musholla dekat rumah. Di sela-sela menunggu waktu Isya’, ada sebagian jamaah yang menunggu di musholla, dan salah satunya adalah keluarga kami. Percakapan di balik tirai atau di ruangan bagian wanita sangat jelas terdengar ketika suasana musholla sepi.
“Mbak Narita pulang sama calon suaminya ya?” tanya ibu-ibu tetangga Narita (dan aku mendengarnya dengan sangat jelas).
“Kami sudah menikah bu. Kemaren bapak sama ibu dibawa ke Jakarta karena menjadi wali nikah kami” aku tersenyum mendengar jawaban Narita.
“Owh,,lha terus pestanya yang di sini kapan?”
“Belum tau bu, bisa jadi tidak ada bu. Kami belum merencanakannya” nada kecewa dari suara Narita membuatku merasa bersalah tidak atau belum merencanakan dengan matang pesta resepsi kami.
“Suami bulenya ganteng, Mbak. Ketemunya di mana? Kerjanya apa?” tanya ibu-ibu yang lain (karena dari suaranya berbeda).
“Alhamdullillah, Bu. Ketemu di tempat kerja, kebetulan kami satu kerjaan.” Lagi-lagi aku tersenyum.
“Owh,,hebat ya. Saya denger mbak Narita udah jadi manajer ya? Kalau suaminya apa? Gak mungkin dong bule ganteng dan modis kaya gitu cuma jadi kroco?” ledek ibu-ibu yang lain lagi.
“Ahh ibu bisa aja, harta dan tahta hanya titipan dan sementara bu. Saya memilihnya karena keimanan, kebaikan, dan kedewasaannya.” Ahh manis sekali jawaban Narita ini.
“Mbak, kalau ada bule yang sekeren dan seganteng suami mbak Narita, mbok kenalin ke saya!” terdengar sahutan remaja putri dan diiringi dengan gelak tawa ringan ibu-ibu yang lain.
“Tenang saja dik. Kalau jodoh gak kemana” jawab Narita bijak.
__ADS_1
--- TO BE CONTINUED ----